Dominikus Agus GoenawanDecember 30, 2009
Lebih baik berbicara dari hati yang penuh dan kepala yang kosong daripada dengan kepala penuh tetapi hati kosong (kutipan dr Dublin Opinion)

Segala yang ada dalam pikiran kita pada umumnya akan keluar dalam bentuk perkataan melalui mulut. Nah seringkali kata-kata yang keluar dari mulut kita itu tidak memikirkan perasaan orang yang mendengarkan atau menerima kata-kata tersebut, artinya kita seringkali berbicara tanpa hati, walaupun penuh dengan kata-kata dari pikiran kita.

Kata-kata yang keluar dari mulut kita makin tidak terkendali saat kita sedang emosional (marah, sedih, dll.). Untuk itu marilah kita menahan diri saat emosi tersentuh, agar kata-kata (dan juga tindakan) yang kita ungkapkan tidak berdampak negatip bagi orang lain. Janganlah membuat diri kita dikendalikan oleh emosi atau perasaan, tetapi kendalikanlah emosi dengan pikiran kita. Salah satu cara adalah dengan berpikir “bagaimana nanti’; apa dampak yang terjadi bila kita mengeluarkan kata-kata atau melakukan tindakan tersebut?

Marilah kita berbicara dengan hati, sehingga kita memiliki empati untuk melihat posisi lawan bicara kita, dan biarkan pikiran (kepala) kita kosong dari berbagai asumsi dan pengalaman masa lalu mengenai lawan bicara. Misalnya ketika kita bertemu dengan orang hitam, gondrong, berewokan, maka dalam pikiran kita muncul “pasti dia seorang penjahat”. Apakah betul dia penjahat? Jelas belum tentu. Semua persepsi tersebut muncul dari buku, sinetron, film bahwa tokoh antagonis berpenampilan demikian.
 


Comments




Leave a Reply