Sdr. F.X. Indrapradja, OFS *)

Tiga fungsi imam selalu diungkapkan dalam dokumen-dokumen Gereja yang menyangkut Imam dan martabat Imamatnya, bahkan juga dalam Liturgi. Misalnya, dalam Instruksi “Imam, Gembala dan Pemimpin Paroki”  [IGPP] yang diterbitkan oleh Kongregasi Klerus (4 Agustus 2002), dinyatakan bahwa Imam, alter Christus, di dalam Gereja adalah pelayanan karya keselamatan hakiki. Dengan kuasanya atas Tubuh dan Darah Penebus, dengan kuasanya mewartakan Injil, mengatasi kejahatan dosa melalui pengampunan sakramental, ia – in persona Chirsti capitis – adalah sumber kehidupan dan daya kehidupan dalam Gereja dan parokinya. Imam bukanlah sumber kehidupan rohani ini, melainkan Kristuslah sumber aslinya, imam hanya membagikannya kepada seluruh umat Allah [IBPP # 8]. 

Kalau kita berbicara mengenai Liturgi, maka kita dapat melihat bahwa fungsi-fungsi imam ini tercermin juga dalam prefasi Misa Tahbisan Imam: “… Putera-Mu menganugerahkan martabat imam dan raja kepada seluruh umat pilihan-Nya. Dengan penumpangan tangan Ia-pun telah memilih sekelompok orang menjadi sahabat-Nya yang istimewa, untuk bersama Dia melayani umat Allah. Atas nama Putera-Mu itu mereka memperbaharui kurban demi keselamatan umat manusia dengan menghidangkan perjamuan Paskah bagi putera-puteri-Mu. Dengan penuh kasih, mereka memimpin umat-Mu yang kudus, mendampinginya dengan pewartaan sabda, dan menyegarkannya dengan perayaan sakramen”.

Tulisan ini menyoroti fungsi imam sebagai pelayan (pewarta) Sabda Allah, dan merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Imam sebagai Pelayan Sabda Allah (1). 

IMAM DAN MILENIUM KETIGA

Beberapa bulan menjelang penutupan milenium kedua, Congregation for the Clergy (Kongregasi Klerus) di Roma menerbitkan sebuah dokumen yang berjudul “THE PRIEST and the Third Christian Millennium – Teacher of the Word, Minister of the Sacraments and Leader of the Community”  [PRIEST; 19 Maret 1999]. Dokumen yang sangat padat-berisi ini sampai hari ini belum (selesai) diterjemahkan oleh KWI. Dari judul dokumen ini kita dapat melihat, bahwa isinya menyangkut tiga fungsi imam seperti disebut dalam awal tulisan ini. Kongregasi Klerus memaksudkan agar “surat edaran” ini disampaikan kepada para uskup dan disebarkan kepada para imamnya masing-masing. Dokumen ini sendiri dirancang untuk membimbing para imam untuk sampai  pada pemeriksaan batin, dengan mengingat bahwa secara konkrit, cinta-kasih adalah kesetiaan. Dokumen ini menekankan kembali ajaran-ajaran Konsili Vatikan II, ajaran Sri Paus dan mengacu pada dokumen-dokumen yang telah disebutkan oleh Bapa Suci. Tercatat pula, bahwa dokumen-dokumen tersebut bersifat fundamental bagi tanggapan yang otentik terhadap tuntutan-tuntutan zaman kita dan bagi suatu misi evangelisasi yang efektif.

Berikut ini adalah beberapa pokok sehubungan dengan fungsi imam sebagai pelayan Sabda, seperti termuat dalam PRIEST # II.1:

a.   Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Injil yang diwartakan bukanlah sekadar sebuah pesan, melainkan sebuah pengalaman ilahi dan pemberian-hidup bagi mereka yang percaya, mendengar, menerima dan mematuhi pesan tersebut. Pewartaan Injil bukanlah sekadar penyampaian suatu pesan yang bersifat intelektual, “karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya …” [Rm 1:16].

b.   Pewartaan Injil oleh imam sebagai pelayan suci Gereja, dalam artian tertentu, merupakan partisipasi dalam sifat penyelamatan Sabda itu sendiri, bukan hanya karena mereka berbicara tentang Kristus, melainkan karena mereka mewartakan Injil kepada para pendengar dengan kuasa untuk memanggil; kuasa mana datang dari partisipasi mereka dalam pengudusan dan misi “Sabda Allah yang menjadi daging”. Sabda Tuhan seharusnya masih tetap bergema di telinga para pelayan-Nya: “Siapa yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan siapa saja yang menolak kamu, ia menolak Aku; dan siapa saja yang menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku” [Luk 10:16].

c.   Pelayanan Sabda menuntut dedikasi dari pihak imam. Seluruh kegiatan pastoral seorang imam harus dicirikan oleh pemberian pelayanan. Seperti pelayanan-pelayanannya yang lain, pelayanan Sabda seorang imam juga menuntut suatu dedikasi pribadi sang imam kepada Sabda yang diwartakan olehnya. Pada akhirnya dedikasi ini ditujukan kepada Allah sendiri [lihat Rm 1:9]. Apa yang disebutkan dalam butir 4 pada tulisan sebelumnya, dielaborasi lebih lanjut: Dalam pewartaan Sabda seorang pelayan (imam) tidak boleh menyimpang dari misinya, atau mengandalkan diri pada hikmat manusia, atau dengan mempromosikan pengalaman-pengalaman subyektif yang dapat mengaburkan pesan Injil itu sendiri. Sabda Allah tidak dapat dimanipulasikan. Imam sebagai pewarta Sabda pertama-tama harus familiar secara pribadi dengan Sabda Allah … dan dia “harus menjadi insan pertama yang percaya” akan Sabda, dengan kesadaran penuh bahwa sabda-sabda dalam pewartaannya bukanlah miliknya sendiri, melainkan milik Dia yang mengutusnya.

d.   Doa pribadi imam.  Antara doa pribadi seorang imam dan pewartaan Sabda terdapat hubungan yang bersifat hakiki. Pewartaan Sabda yang efektif adalah satu lagi buah dari doa pribadi. Doa pribadi memberikan dukungan dan dorongan bagi para imam untuk pelayanan mereka, panggilan hidup mereka, dan untuk iman mereka yang hidup serta bersifat apostolik. Dari doa pribadi mereka menimba semangat untuk melakukan evangelisasi sehari-harinya. Sekali yakin akan hal ini, maka semua itu diterjemahkan ke dalam khotbah-khotbah yang persuasif, memiliki urut-urutan logis (tidak melompat ke sana ke mari tanpa arah) serta meyakinkan. Dengan demikian bagi seorang imam, mendoakan “Ibadat Harian” (Ofisi Ilahi) bukanlah sekadar persoalan kesalehan pribadi, juga bukan masalah totalitas doa Gereja yang bersifat publik. Kegunaan atau manfaat pastoral doa “Ibadat Harian” besar, karena doa “Ibadat Harian” ini merupakan peluang istimewa bagi seorang imam untuk membuat dirinya akrab dengan ajaran alkitabiah, ajaran para bapa Gereja, ajaran teologis dan ajaran magisterium (kuasa mengajar Gereja), yang pada gilirannya dapat “dikembalikan” kepada Umat Allah melalui khotbah/pewartaan.

Untuk mencapai pewartaan Sabda yang efektif [PRIEST # II.2], seorang imam harus menyadari akan pentingnya beberapa hal yang disebutkan berikut ini:

e.   Evangelisasi Baru harus membawa umat beriman sampai pada kesadaran, bahwa mereka telah dipanggil oleh Allah untuk mengikuti jejak Kristus dan untuk bekerja-sama dalam misi Gereja.  Dengan demikian, tugas pewartaan imam adalah untuk menghadirkan Kristus kepada semua orang karena Dia sendirilah ‘Adam yang baru’, yang “dalam perwahyuan misteri Bapa serta cinta kasih-Nya sendiri, sepenuhnya menampilkan manusia bagi manusia, dan membeberkan kepadanya panggilannya yang amat luhur” [‘Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes [GS] tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini (7 Desember 1965)’ # 22; bdk Rm 5:14].

f.    Evangelisasi Baru adalah perjuangan  melawan kuasa-kuasa jahat. Bagi seorang Kristiani, Evangelisasi Baru tidak dapat dipisahkan dari kesadaran akan panggilan masing-masing. Pewartaan Kabar Baik tidak dapat direduksi menyangkut kebaikannya dan tuntutan-tuntutan terhadap pencapaiannya. Pewartaan Sabda adalah perjuangan melawan kuasa-kuasa jahat yang tidak pernah absen mengganggu. Konsili Vatikan II menyatakan: “Pastilah kebutuhan dan tugas mendesak orang Kristiani untuk melalui banyak duka-derita berjuang melawan kejahatan dan menanggung maut; akan tetapi ia tergabungkan dengan misteri Paskah, menyerupai wafat Kristus, dan diteguhkan oleh harapan akan melaju menuju kebangkitan [GS # 22; lihat Flp 3:10; Rm 8:17].

g.   Evangelisasi Baru menuntut suatu pelayanan Sabda yang penuh semangat.  Pelayanan Sabda yang penuh semangat ini harus lengkap dan bertumpu pada dasar yang kuat. Pewartaan seorang imam harus mengandung isi teologis, spiritual, liturgis dan moral yang jelas, dan pada saat yang sama mempertimbangkan berbagai kebutuhan orang-orang yang menjadi sasaran pelayanan Sabda termaksud. Hal ini bukan berarti mengalah terhadap godaan intelektualisme yang dapat mengaburkan pikiran umat Kristiani, melainkan memerlukan cinta-kasih intelektual sejati melalui katekese penuh kesabaran dan berkesinambungan tentang fundamental-fundamental iman serta moral Katolik dan tentang pengaruhnya atas kehidupan spiritual. Pengajaran Kristiani merupakan yang terutama dari karya-karya belas-kasih spiritual: keselamatan datang oleh pengetahuan akan Kristus, “sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” [Kis 4:12].

h.   Pewartaan kateketik tidak dapat dicapai tanpa penggunaan suatu teologi yang teguh, karena hal ini memerlukan tidak hanya penyajian doktrin, melainkan juga pembinaan inteligensia dan hati-nurani umat beriman dengan menggunakan sarana doktrin yang diwahyukan, sehingga mereka dapat secara otentik menghayati tuntutan-tuntutan panggilan baptis mereka. Evangelisasi Baru akan dicapai tidak hanya dalam arti Gereja secara keseluruhan dan lembaga-lembaganya, melainkan masing-masing dan setiap orang Kristiani menghayati imannya secara otentik, sehingga memberikan kesaksian-iman yang credible bagi dunia sekelilingnya.

i.    Penginjilan atau evangelisasi berarti mengumumkan dan menyebarkan isi dari kebenaran yang diwahyukan dengan menggunakan sarana yang pas (iman Kristologis dan Triniter; makna dogma penciptaan; kebenaran-kebenaran eskatologis; doktrin-doktrin yang menyangkut Gereja, manusia, sakramen-sakramen dan sarana-sarana keselamatan lainnya). Juga penting untuk mengajar umat bagaimana secara konkrit menerjemahkan kebenaran-kebenaran ke dalam kehidupan dengan menggunakan sarana-sarana pembinaan spiritual dan moral, sehingga mereka menjadi saksi-saksi atas kehidupan dan komitmen misioner.

j.    Pelayanan Sabda dan para pelayannya harus mampu menanggapi keadaan-keadaan masa kini. Keefektifan pelayanan Sabda pada hakekatnya tergantung pada pertolongan Allah, namun tetap memerlukan upaya manusia untuk menghasilkan sesuatu yang sesempurna mungkin. Sasaran dari pewartaan pesan Kristiani yang diperbaharui dalam aspek-aspek doktrinal, teologis dan spiritual,  adalah terutama untuk menimbulkan entusiasme dan memurnikan hati-nurani orang-orang yang telah dibaptis. Hal ini tidak dapat dicapai kalau dilakukan melalui improvisasi yang tak bertanggung-jawab atau lamban. Lebih parah lagi kalau para imam tidak mau secara langsung memikul tanggung-jawab mereka untuk mewartakan Injil – teristimewa yang berhubungan dengan pelayanan homili yang sesungguhnya tidak dapat didelegasikan kepada mereka yang tidak ditahbiskan atau dengan mudah saja dipercayakan kepada mereka yang  belum membuat persiapan yang diperlukan. Semua yang diuraikan ini menggaris-bawahi sangat penting dan perlunya pembinaan spiritual dan teologis dan pembinaan permanen para imam, diakon dan umat awam.

k.   Untuk pewartaannya, imam membutuhkan persiapan-persiapan yang memadai. Persiapan di sini mencakup studi dan mengejar hal-hal yang dapat menolongnya membuat persiapan-persiapan yang diperlukan. Ia harus terus mempertajam kepekaan pastoralnya, antara lain untuk mampu menjawab masalah-masalah masa kini. Untuk itu dia harus akrab dengan pernyataan-pernyataan dari magisterium (kuasa mengajar) Gereja, terutama dokumen-dokumen Konsili, ensiklik dan/atau surat apostolik dari para Paus. Dia juga harus jangan enggan untuk mempelajari tulisan para teolog terbaik dalam Gereja, juga Katekismus Gereja Katolik [bdk PO # 19]. Semua persiapan yang disebutkan ini memang tidak langsung berkaitan dengan tugas-tugas pelayanan yang ada di depan mata, dari sebab itu disebut remote preparation. Persiapan-persiapan ini akan membuahkan hasil. Di sisi lain imam itu juga harus mempersiapkan dengan serius tugas pelayanan yang ada di depan matanya (proximate preparation),  misalnya membawakan homili di Misa Kudus pada hari Minggu yang tinggal beberapa hari lagi. Dalam hal ini kerendahan hati dan tingkat kerajinan sang imam mensyaratkan – paling sedikit – adanya sebuah rencana yang disusun dengan hati-hati mengenai apa yang ingin dikhotbahkan/diwartakannya.

l.    Sumber dasar untuk pewartaan adalah Kitab Suci, yang dimeditasikan oleh sang imam dalam doa pribadinya dan diasimilasikan melalui studi serta kontaknya yang memadai dengan tulisan-tulisan bermutu yang cocok [lihat PDV #  26 dan 47]. Pengalaman pastoral menunjukkan kuat-kuasa teks Kitab Suci untuk menggerakkan hati mereka yang mendengarnya. Para Bapa Gereja dan penulis-penulis besar lainnya dalam tradisi Katolik mengajarkan kita bagaimana kita sampai pada arti/makna dari Sabda yang diwahyukan dan bagaimana mengkomunikasikannya kepada orang-orang lain. Ini berarti bahwa sang imam sebagai pewarta tidak pernah boleh menganut “fundamentalisme alkitabiah” yang suka melakukan ‘mutilasi’ atas pesan-pesan ilahi, artinya yang suka memetik ayat dari sana-sini di luar konteks. Pedagogi yang digunakan oleh Gereja sehubungan dengan Sabda Allah seperti tersusun dalam bacaan-bacaan (lectionarium) sepanjang masa-masa liturgi juga harus menjadi titik-acuan bagi seorang imam yang bertugas dalam pelayanan Sabda. Demikian pula riwayat-riwayat para kudus, perjuangan dan heroisme mereka, selalu menghasilkan efek-efek positif dalam hati umat beriman. Umat beriman sekarang mempunyai kebutuhan istimewa akan teladan-heroik dari para kudus dalam dedikasi-diri mereka terhadap kasih Allah, dan melalui Allah – kepada orang-orang lain.

m.  Sebagai seorang komunikator sosial, mau tidak mau imam harus bersaing dengan para pembicara/penceramah lain yang tampil dalam media massa. Dengan demikian pesannya harus disampaikan secara menarik. Semangat apostoliknya harus menggerakkan dia untuk meraih kompetensi dalam menggunakan berbagai sarana yang disediakan oleh komunikasi modern.

n.   Seperti khotbah Kristus sendiri, khotbah seorang imam harus positif, memberi stimulans dan menarik orang-orang kepada kebaikan, keindahan dan kebenaran Allah. Seorang Kristiani bertugas untuk membuat orang-orang lain mengenal “kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus” [2Kor 4:6] dan menghadirkan kebenaran-yang-diwahyukan secara memikat hati. Sejak awal Gereja sudah memproklamasikan, bahwa Yesus Kristus adalah “jalan, kebenaran dan hidup” [Yoh 14:6].

o.   Bahasa yang digunakan dalam pewartaan sang imam seyogianya akurat dan elegant, dapat dimengerti oleh umat dari semua latar-belakang sosial. Teori-teori dan generalisasi yang abstrak harus selalu dihindari. Maka sang imam harus mengenal umatnya dan menggunakan gaya yang menarik. Meski diharapkan suaranya menyenangkan orang yang mendengar, gaya berbicaranya harus apa adanya tanpa dibuat-buat. Ia tidak boleh menyakiti hati umat lewat khotbahnya. Yang jelas dia harus tahu apa tujuan khotbah/pewartaannya dan memiliki pemahaman yang baik mengenai realitas – eksistensial dan kultural – dari jemaatnya.

p.   Para imam yang bergerak dalam tugas-tugas pastoral berbeda-beda harus  saling menolong dengan pemberian nasihat satu-sama-lain sebagai pribadi-pribadi bersaudara. Dalam hal pewartaan/khotbah, pemberian nasihat ini dapat mencakup isi dari pewartaan/khotbah tersebut dan kualitas teologis dan linguistiknya, gaya, durasi/lamanya homili, penggunaan mimbar yang layak dan seterusnya. Yang penting adalah, bahwa perlulah bagi seorang imam untuk ditolong oleh con-fraternya, dan secara tidak langsung oleh umat yang bekerja sama dalam kegiatan-kegiatan pastoralnya. No man is an island!  Pernyataan ini juga berlaku bagi para imam.

CATATAN PENUTUP

Dalam menjalankan fungsi-fungsinya, setiap imam dituntut untuk menjadi ‘ikon’ Kristus,  termasuk fungsinya untuk mewartakan Sabda Allah. Kalau setelah membaca tulisan ini penghargaan seseorang terhadap imam Gereja Katolik menjadi meningkat, maka kiranya tulisan ini telah berhasil mencapai tujuannya. Semoga berkat Allah Tritunggal selalu menyertai uskup-uskup Indonesia dan para imamnya, terutama para pastor di paroki kita masing-masing.

Cilandak, 15 Juli 2009
Pesta Santo Bonaventura, Fransiskan, Uskup-Kardinal dan Pujangga Gereja
*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

 


Comments




Leave a Reply