Sdr. F.X. Indrapradja, OFS *)

Dalam TAHUN IMAM 19 Juni 2009 – 19 Juni 2010 ini, marilah kita memusatkan perhatian kita pada para imam Gereja Katolik yang kita cintai ini, termasuk para uskup yang adalah imam-imam juga. Sambil diiringi doa-doa syafaat bagi para imam tersebut, kita pun seyogianya mendalami hakekat martabat imamat dalam Gereja kita, dengan demikian – berkat rahmat Allah – kita pun akan mau dan mampu menghargai, menghormati, mengasihi serta mendukung para imam kita dengan lebih intens lagi. Kita akan dapat lebih dekat lagi dengan mereka, namun dalam arti yang sehat.

Lewat tulisan ini saya mengajak para pembaca untuk lebih mengenal imam-imam kita dengan menggunakan bacaan-bacaan Kitab Suci sebagai pegangan, khususnya Perjanjian Baru. Mengapa? Karena Kitab Suci Perjanjian Baru merupakan bukti paling awal tentang pengalaman Gereja dalam hal pelayanan khusus para imam. Tulisan ini banyak mengandalkan kerangka pemikiran Walter J. Burghardt SJ[1] di salah satu bagian artikelnya, WHAT IS A PRIEST? yang terdapat dalam Michael J. Taylor SJ (Editor), THE SACRAMENTS – READINGS IN CONTEMPORARY SACRAMENTAL THEOLOGY, New York: Alba House, 1981, hal. 157-170. Kalau tidak disebut secara eksplisit, maka yang dimaksudkan dengan imamat dalam tulisan ini adalah imamat khusus, bukan imamat umum. 

MENIMBA DARI KITAB SUCI PERJANJIAN BARU
Perjanjian Baru mengedepankan 4 (empat) dimensi pelayanan Kristiani yang menurut pandangan Gereja secara mendasar melekat pada diri para imamnya. 

Pertama-tama, seorang imam dalam Gereja kita adalah seorang murid (Inggris: disciple; Yunani: mathētēs) Yesus – dan selalu seorang murid. Menjadi seorang murid Yesus berarti dipanggil seperti murid-murid-Nya yang pertama, seperti Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes yang dipanggil sendiri oleh sang Guru. Ia berkata kepada Lewi si pemungkut cukai: “Ikutlah Aku” [Mat 5:27]. Bagi seorang imam Gereja Katolik – seperti juga halnya dengan para murid Yesus yang awal – hanya ada seorang Guru, yaitu Yesus sendiri. 

Undangan atau panggilan Yesus tidak main-main dan harus ditanggapi secara total: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka” [Mat 8:21-22]. “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah” [Luk 9:62]. Menjadi murid-Nya berarti melakukan karya pelayanan secara purna-waktu, sepanjang hidup sang imam: tidak ada hal-hal lainnya dan juga tidak ada pribadi-pribadi lain. Ada pula kata-kata keras lainnya dari Yesus bagi seseorang yang mau menanggapi panggilan-Nya: “Jikalau seorang datang kepada-ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” [Luk 14:26]. Memang beberapa sabda Yesus ini terkesan keras-berlebihan. Masa sih seseorang tidak boleh menguburkan ayahnya sendiri? Masa sih dia tidak boleh pamitan dengan keluarganya? Masa sih dia harus membenci sanak keluarga dan bahkan nyawanya sendiri? Memang kita seharusnya tidak menjadi fundamentalistis dalam mengartikan pesan Yesus ini. Pesan Yesus sesungguhnya adalah: Siapa pun tidak dapat menjadi seorang murid Yesus kalau Yesus tidak menjadi keseluruhan hidupnya.

Menjadi seorang murid Yesus juga berarti dipanggil kepada kesusahan-kesusahan hidup yang terasa kejam bagi kebanyakan orang: meninggalkan segalanya dan memeluk salib, tidak memiliki apa-apa kecuali Yesus. Ia bersabda,  “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” [Luk 9:23]. Menjadi seorang murid adalah meneladan sang Guru dalam arti sesungguhnya, dan Ia adalah seorang Guru yang berlimbah darah dan tersalib; Ia yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani [Mat 20:28; Mrk 10:45].    

Kedua, seorang imam adalah seorang rasul. Menjadi seorang rasul berarti diutus, seperti halnya para rasul Yesus diutus untuk melayani orang-orang lain. Kata kuncinya di sini adalah “melayani”. Santo Paulus menulis, “... aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu” [2Kor 12:15]. Yang dibawa oleh seorang imam adalah selalu Yesus – tidak hanya pesan-Nya, melainkan juga kehadiran-Nya. Paulus menulis: “... bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” [2Kor 4:5]. Memang Yesus-lah yang harus selalu diberitakan oleh seorang imam! Bagaimana? Lewat kata dan karya, lewat penata-laksanaan sakramen-sakramen dan pengorbanan, terutama lewat kehidupan doa dan penderitaannya sebagai pribadi. Seorang imam yang sudah lupa bagaimana berdoa adalah seorang imam yang tidak dapat memberitakan Yesus meskipun dia dapat mewartakan hal-hal lainnya. Seorang imam pengkhotbah ulung atau menonjol dalam pelayanan-pelayanan tertentu yang berbangga-diri karena disanjung-sanjung umat,  sesungguhnya sudah berada dekat sekali dengan jebakan si Jahat. Ia harus selalu waspada [bacalah 1Ptr 5:8-9].

Seorang imam – seperti Paulus – akan menghadirkan Yesus bagi orang-orang lain secara efektif, hanya apabila dia mempunyai tanda-tanda kepedihan dari kematian Yesus dalam tubuhnya sendiri. Juga hanya apabila dia terus-menerus gelisah karena – seperti Paulus – dia “tidak beroleh ketenangan bagi tubuhnya; di mana-mana mengalami kesusahan: pertengkaran dari luar dan ketakutan dari dalam” [2Kor 7:5]. Ketakutan dari dalam atau lebih tepatnya “rasa was-was/cemas”, yang dimaksudkan di sini adalah rasa kesepian yang pada dirinya bukanlah alasan untuk meninggalkan kehidupan imamat; ketiadaan penghargaan, rasa sedih yang mendalam karena dia sadar betapa rapuh dan rentan dirinya dan betapa kuatnya kejahatan yang ada di sekelilingnya, kata-katanya terasa hilang lenyap tertiup oleh angin sebab kelihatannya begitu sedikit umat yang sungguh memperhatikan.

Ketiga, seorang imam adalah apa yang disebut dalam Perjanjian Baru sebagai presbiter (Yunani: presbytes) atau pengawas jemaat Allah, yaitu pribadi-pribadi yang bertanggung-jawab dalam hal pembinaan-pemeliharaan pastoral gereja-gereja (pengatur rumah Allah). Ia harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya [Tit 1:7-9]. Tugas seorang imam mensyaratkan kewibawaan namun tanpa sikap dominan, juga kehangatan dalam hubungan interpersonal dengan siapa saja yang ditemuinya.

Yang penting untuk dipahami adalah kenyataan, bahwa seorang imam mewakili sebuah lembaga yang bernama Jemaat atau Gereja. Betapa pun karismatiknya dia, bagaimana pun profetisnya dia, bahkan kalau dia dipanggil untuk menyerukan protes terhadap dosa-dosa dan korupsi dalam Gereja sendiri, seorang imam harus mewakili lebih dari sekadar wawasan-wawasan pribadinya. Seorang imam tidak dapat berada di luar Gereja karena dia adalah bagian dari Gereja. Hal ini bukan berarti bahwa Gereja selalu benar atau tidak dapat dikritisi, melainkan karena Gereja adalah tempat di mana iman-kepercayaan itu lahir dan bertumbuh. Gereja merupakan tempat dan pusat kebaktian. Gereja merupakan komunitas cintakasih. Gereja inilah yang diwakili oleh imam.

Keempat, seorang imam memimpin perayaan Ekaristi. Ekaristi memang bukanlah merupakan keseluruhan tugasnya, namun merupakan kegiatannya yang sentral. Dalam kegiatannya yang menyangkut Ekaristi inilah seorang imam melakukan apa yang ditekankan oleh Santo Paulus untuk dilakukan, yaitu “memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” [1Kor 11:26]. Seorang imam melaksanakan suatu pelayanan sakramental yang berpusat di sekitar roti kehidupan dan cawan/piala Perjanjian Baru. Di sekitar liturgi ini Gereja telah membangun akses manusia kepada kehidupan yang adalah Kristus: dari air baptisan melalui abu pertobatan sampai kepada minyak urapan yang terakhir. Dalam proses kehidupan ini imam memainkan suatu peran yang unik – suatu peran yang menjadi fokus setiap kali dia memproklamasikan “Terimalah dan makanlah: Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu. ...... Terimalah dan minumlah! Inilah piala Darah-Ku, Darah Perjanjian Baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku”.

Di sinilah, dalam Ekaristi, dalam arti yang sesungguhnya, terletak jantung imamat. Seorang imam dapat saja melakukan tugas-tugas pelayanan lain, seperti mengajar, terlibat dalam kegiatan karya sosial, konseling umat dan lain sebagainya, namun pada titik tertentu dia mengumpulkan umat di sekitar sebuah altar, di sekeliling sebuah meja perjamuan, untuk berbagi dengan mereka suatu pengungkapan rasa syukur di mana karya penebusan terlaksana secara tuntas dan manusia dibuat menjadi satu dengan Allahnya dengan cara yang tak ada bandingannya.

CATATAN PENUTUP
Yesus membuat umat-Nya berpartisipasi dalam imamat-Nya. Inilah yang dimaksudkan dengan imamat umum, seperti diuraikan dalam “Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium [LG] tentang Gereja” [lihat LG 10-11.34].  Namun baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, imamat umat Allah hanya dapat dilaksanakan secara konkrit melalui para pelayan khusus yang dipanggil oleh Allah (imamat khusus). Adalah kenyataan, bahwa Yesus memanggil ke duabelas murid-Nya dan mempercayakan kepada mereka tanggung-jawab atas Gereja-Nya. Dia mempersiapkan mereka untuk pelayanan Sabda; Dia memberikan kepada mereka sebagian dari kuasa-Nya [Mat 10:8.40; 18:18]; dan sebelum wafat-Nya Dia makan Paskah bersama mereka [Luk 22:14-20]. Ini menyangkut partisipasi dalam imamat-Nya secara spefisik. 

Para rasul memahami hal ini dan pada gilirannya mereka membentuk sekelompok orang yang bertanggung-jawab untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan imamat khusus mereka tersebut. Mereka disebut “panatua” yang merupakan cikal-bakal nama yang digunakan sekarang, yaitu presbiter [Kis 14:23; 20:17; Tit 1:5]. Santo Paulus memberikan nama “hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah” [1Kor 4:1], juga “pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru” [2Kor 3:6]. Imam dalam Gereja kita bukanlah anggota sebuah “kasta” tertentu yang terdiri dari orang-orang istimewa. Imamat khusus ini juga tidak mengurangi imamat Yesus yang unik atau imamat umum umat beriman. 

Para imam melayani keduanya, dalam arti mediasi yang menjamin pelayanan bagi seluruh umat Allah . Namun, seperti dicatat di atas, dalam hal Ekaristi-lah peran seorang imam menjadi sangat istimewa. Dalam artikelnya yang berjudul Restoration of the priesthood, Romo Frederick Heuser menulis: The Holy Eucharist is the very raison d’être of the ordained priest (Homiletic & Pastoral Review, January 1995, hal. 11). Ekaristi memang merupakan jantung imamat!

Semoga Allah Tritunggal Mahakudus selalu memberkati para imam kita. Amin!

Cilandak, 4 Juli 2009
Peringatan Santa Elisabet dari Portugal,
Ratu dan anggota Ordo Ketiga Sekular S. Fransiskus

*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

[1] Walter J. Burghardt SJ adalah salah seorang pengkhotbah Katolik terkemuka di Amerika Serikat. Beliau pernah menjabat sebagai Theologian-in-residence di Georgetown University, Washington D.C. Selama 45 tahun beliau bekerja sebagai managing editor & editor-in-chief dari jurnal Theological Studies, dan juga jabatan-jabatan lain.

 


Comments




Leave a Reply