Sdr. F.X. Indrapradja, OFS *) 

Tema MediaPASS edisi khusus Natal ini adalah BINTANG DI ATAS CEMARA. Langsung yang terbayang di mata saya adalah Pohon Natal (Pohon Terang) dengan sebuah bintang pada puncaknya. Apa yang dilambangkan oleh bintang itu sebenarnya ? Bagi saya bintang di puncak Pohon Natal itu adalah bintang yang menjadi petunjuk bagi para majus dalam perjalanan mereka mencari raja yang baru lahir. Bintang inilah yang membimbing para majus dari Timur sampai bertemu dengan bayi Yesus yang terbaring di palungan dalam sebuah kandang-gua; sang Bintang keturunan Yakub.

Mesori dan Rumah Roti. Kita tidak pernah tahu bintang terang mana yang dilihat para majus. Banyak saran telah dibuat. Sekitar tahun 11 SM Komet Halley tampak dengan terang benderang di angkasa. Sekitar tahun 7 SM terjadi pendekatan antara Saturnus dan Yupiter. Antara tahun 5 – 2 SM terjadi fenomena astronomi yang tidak biasa. Di tahun-tahun itu, pada hari pertama bulan Mesir, Mesori, Sirius, bintang anjing, pada waktu matahari terbit, memancarkan sinar yang terang sekali. Mesori berarti ‘kelahiran seorang pangeran’. Bagi para ahli astrologi bintang seperti itu berarti kelahiran seorang raja besar. Kita sungguh tidak tahu bintang mana yang dilihat oleh para majus, tetapi profesi mereka adalah memang mengamati angkasa, dan bintang yang tidak biasa-biasanya memancarkan cahaya secara cemerlang merupakan tanda kedatangan seorang raja ke dalam dunia. Dan, bintang yang satu itu berhenti di atas kandang-gua di Betlehem. 

Betlehem berarti ‘Rumah Roti’ dan terletak di daerah subur tidak jauh dari kota Yerusalem, sekitar 9-10 km. Betlehem sendiri mempunyai sebuah sejarah panjang yang menarik dan mengharukan, namun tidak akan diuraikan dalam tulisan ini karena keterbatasan ruang (bacalah Kej 48:7; 35:20; Rut 1:22; 1Sam 16:1; 17:12; 20:6; 2Sam 23:14.15; 2Taw 11:6). Akan tetapi dalam sejarah Israel dan dalam benak orang-orang Israel, Betlehem itu secara unik merupakan Kota Daud. Dari garis keturunan Daud inilah Allah akan mengutus seorang Penyelamat, seorang pembebas bagi umat-Nya. Nabi Mikha bernubuat: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mi 5:1). Di Betlehem – Kota Daud inilah, orang-orang Yahudi mengharapkan kedatangan sang Mesias …… sang Kristus! Natal adalah peristiwa yang terjadi di mana Mesori berhenti atas sebuah gua di Rumah Roti dan meneranginya dengan sinar cemerlang!

Orang-orang majus. Matius menampilkan orang-orang majus sebagai pelopor, perintis atau para pembuka jalan. Dalam Injil Matius, para majus ini adalah orang-orang pertama yang melakukan penyembahan kepada Yesus, suatu adorasi yang hanya diperuntukkan bagi Allah, suatu penyembahan yang akan dilakukan oleh para murid-Nya setelah kebangkitan-Nya (lihat Mat 28:9.17). Kalau kita perhatikan lebih lanjut, orang-orang majus berada di barisan terdepan orang-orang non-Yahudi yang percaya kepada Yesus, misalnya perwira Romawi di Kapernaum (Mat 8:5); kepala pasukan Romawi pada waktu Yesus wafat di kayu salib (Mat 27:54); perempuan Kanaan yang anak- perempuannya kerasukan setan (Mat 15:22); dan kebanyakan dari kita. Santo Augustinus mengatakan bahwa orang-orang majus adalah “buah-buah sulung dari orang-orang non-Yahudi,”  yang pertama dari orang banyak seperti dikatakan Yesus: “Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga” (Mat 8:11).

Ikatan batin kita dengan orang majus. Sudah sejak hampir 2.000 tahun silam mayoritas pengikut Kristus adalah non-Yahudi. Berlebihankah apabila kita – umat Kristiani – merasa adanya ikatan batin dengan para majus tersebut? Gambaran-gambaran ‘penyembahan orang majus’ sudah menghiasi dinding-dinding bawah-tanah katakombe-katakombe sejak awal abad kedua. Pada masa itu Gereja masih merupakan gereja di bawah tanah, masih dikejar-kejar dan dianiaya oleh penguasa Romawi. Berabad-abad lamanya ‘penyembahan orang majus’ merupakan gambaran Natal yang populer dalam kesenian Kristiani, jauh di atas popularitas gambaran dari Injil Lukas: gambaran bayi Yesus di dalam palungan yang dikunjungi para gembala (lihat Luk 2:16-20). Hari ini pun kita menghormati secara khusus para majus. Dalam ‘Korona Fransiskan’ (semacam rosario dengan 72 butir untuk ‘Salam Maria’ dan tujuh peristiwa yang biasa didoakan oleh anggota keluarga besar Fransiskan), sukacita Bunda Maria pada saat menghunjukkan bayi Yesus untuk disembah oleh para majus ini merupakan peristiwa keempat yang didoakan dengan penuh syukur, setelah peristiwa ‘kelahiran Yesus’ dan sebelum peristiwa ‘Yesus ditemukan dalam Bait Allah’.

Kita mengenang orang-orang majus pada hari Natal, dan teristimewa pada HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (EPIFANI), pada saat mana kita merayakan manifestasi kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus. Natal di Gereja Timur malah dirayakan pada hari Epifani ini. Sepanjang pengetahuan saya, nama lain yang biasa digunakan di Amerika Serikat untuk ‘Hari Raya Tiga Raja’ ini adalah the twelfth day of Christmas yang ditandai dengan saling-memberi hadiah dan kegiatan-kegiatan silaturahmi lainnya. Di New York City,  misalnya, setiap tanggal 6 Januari para anggota komunitas Latino menyelenggarakan pawai sangat meriah. Kita dapat melihat ‘tiga raja’ dalam ukuran raksasa memimpin pawai yang juga diikuti oleh unta-unta dari kebun binatang di sana, juga anak-anak sekolah yang mengenakan baju orang majus. Pawai ini sesungguhnya merupakan gambaran bersifat grafis yang menunjukkan bahwa para majus adalah ‘model’ bagi kita semua dalam melakukan perjalanan batin kita sendiri untuk sampai kepada Allah. Kita patut meniru iman, ketekunan, keberanian dan teristimewa kerendahan hati mereka yang jauh-jauh melakukan perjalanan dari Timur sampai ke Betlehem

Apa yang dikatakan Kitab Suci tentang orang Majus? Kitab Suci tidak banyak berbicara tentang keberadaan orang majus. Kisah orang-orang majus dari Timur terdapat dalam Mat 2:1-12. Permenungan atas ke dua belas ayat itu dapat saja menimbulkan dalam batin kita rasa berhutang kepada para majus itu. Hal itu sah-sah saja. Mereka seakan-akan orang-orang asing yang melakukan tindakan lebih daripada yang dituntut dari mereka, yang menolong seseorang yang anda kasihi ketika anda sendiri tidak berada di TKP. Mereka menggantikan anda!

Siapa orang-orang majus itu? Mereka adalah ahli ilmu falak/astronomi (Mat 2:2) yang melakukan perjalanan dari Timur (Mat 2:1), Mereka mempersembahkan kepada Yesus tiga benda berharga, yaitu emas, dupa dan mur (Mat 2:12). Orang-orang Kristiani pada umumnya memberi julukan ‘Tiga Raja’ kepada para majus yang datang menyembah bayi Yesus di dalam gua di Betlehem. Kita perlu mencatat bahwa Injil Matius tidak pernah menamakan mereka raja. Juga karena para majus yang datang menyembah bayi Yesus itu menghaturkan tiga buah persembahan, maka ada asumsi bahwa yang hadir adalah tiga orang … jadilah istilah ‘Tiga Raja’; padahal Injil Matius tidak juga tidak pernah menyebut jumlah mereka. Ada tradisi yang mengatakan ada dua, empat, delapan, bahkan dua belas orang majus yang datang ke Betlehem. Sebutan ‘raja’ muncul sebagai akibat permenungan Kristiani atas nas-nas dalam Kitab Yesaya dan Mazmur: “Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur YHWH” (Yes 60:6). “… kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya! … Hiduplah ia! Kiranya dipersembahkan kepadanya emas Syeba! Kiranya ia didoakan senantiasa, dan diberkati sepanjang hari!”(Mzm 72:10-11.15).

Ada banyak tradisi sehubungan dengan orang-orang majus dari Timur ini. Salah satunya adalah penjelajah/petualang Venezia yang terkenal, Marco Polo (1254-1324), yang menyatakan bahwa orang-orang majus berasal dari Persia dan dia telah mengunjungi makam-makam mereka, 80 km sebelah barat-daya kota Teheran. Tradisi Eropa yang lebih luas menyatakan bahwa makam para majus ini malah ada di Katedral Köln (Cologne), Jerman.

Apa yang dapat kita pelajari dari orang-orang majus? Injil menamakan mereka majus, atau magoi dalam bahasa Yunani, sepatah kata kuno yang mungkin merujuk pada sebuah suku imam di Persia barat. Pada zaman Yesus istilah ‘majus’ itu cukup lentur. Dapat berarti tukang sihir, dukun dan sejenisnya (lihat Kis 8:9-24 dab 13:6-11), namun juga para ilmuwan sejati, ahli ilmu falak dan pencari hikmat-kebijaksanaan. Orang-orang majus dalam Injil Matius adalah mereka yang termasuk golongan yang disebut belakangan (yang baik-baik). Tidak seperti Raja Herodes, para majus dalam Injil Matius ini tidak memiliki perwahyuan yang terdapat dalam Kitab Suci Yahudi (lihat Mat 2:4-6). Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang haus akan kebenaran. Allah bertemu dengan mereka ketika mereka mempelajari astrologi yang pada zaman itu tidak dibedakan dengan astronomi. Selagi mereka menyelidiki angkasa di malam hari, mereka mulai memusatkan perhatian pada sebuah bintang yang penuh tanda tanya. Apakah itu supernova? Komet Halley? Pendekatan yang jarang sekali terjadi antara Yupiter, Saturnus atau Mars? Atau gejala perbintangan lainnya? Para ahli astronomi sekarang pun masih menghadapi teka-teki yang sama. Kerinduan para majus akan kebenaran diungkapkan dengan melakukan suatu perjalanan panjang yang sangat sulit ‘dari Timur’. Apakah yang dimaksud di sini Babel yang dikenal sebagai pusat studi astronomi? Ataukah mereka berasal dari Persia (sekarang: Iran) karena kata ‘majus’ itu sendiri, dan seperti juga pandangan banyak para Bapa Gereja? Dalam kesenian Kristiani awal, para majus digambarkan berbusana sebagai orang Persia. Namun para sejarawan kesenian mengatakan bahwa ini adalah hal yang standar untuk menggambarkan siapa saja yang datang dari Timur, apakah Persia atau bukan.

Tulisan paling awal adalah dari Santo Yustinus Martir yang sekitar tahun 160 mengatakan, bahwa para majus itu datang dari Arabia. Yustinus mengemukakan hal tersebut sebanyak sembilan kali dalam risalat yang ditulisnya. Yustinus mungkin mempunyai akses langsung kepada orang-orang Yahudi Kristiani di Palestina yang memiliki tradisi-tradisi tertulis, karena dia tinggal di Nablus. Seorang ahli Kitab Suci zaman modern, almarhum Pater Raymond Brown SS, mengatakan bahwa kalau Perjanjian Baru berbicara mengenai ‘orang-orang dari Timur’, maka pada umumnya sebutan itu merujuk kepada padang gurun Arab yang memiliki reputasi baik dalam bidang hikmat-kebijaksanaan. Kita tahu juga bahwa tiga buah benda yang dipersembahkan kepada Yesus, semuanya adalah produk-produk Arabia. Sangat menariklah kalau benar orang-orang Arab yang pertama-tama menyembah Mesias orang Yahudi.

Dari mana pun mereka berasal, ketekunan dan kesungguhan hati mereka dalam melakukan penyelidikan, membuat para majus sebagai ‘cambuk’ bagi kita semua untuk terus bergerak menuju Yesus. Contoh yang mereka tunjukkan merupakan tantangan bagi kita dalam membuat pilihan. Apakah kita mau terjebak dalam rutinitas, paradigma lama, kenyamanan/kenikmatan pribadi dalam perjalanan kita menuju Allah? Sebaliknya, apakah kita tetap siap dan mau untuk memanggul salib kita sehari-hari dan berjalan di jalan sempit menuju kehidupan? Injil Matius mengindikasikan bahwa orang-orang majus mencari kebenaran dengan berbagai cara – melalui tanda-tanda alam, konsultasi dengan orang-orang lain dan juga Kitab Suci – bahwa Allah akan memampukan mereka untuk mengenali Dia yang mereka cari ketika menemukan-Nya. Santo Bernardus dari Clairvaux menggambarkan penemuan penuh sukacita para majus itu sebagai berikut: “Mereka tersungkur untuk bersembah sujud, mereka menghormati-Nya sebagai seorang raja, mereka menyembah-Nya sebagai Allah. Ia yang memimpin sampai ke tempat bayi Yesus itu telah menginstruksikan mereka untuk berlaku seperti itu. Dia yang mendorong mereka dengan menggunakan sebuah bintang sebagai sarana, Dia sendiri pula yang mengajar mereka dalam batin mereka.”  Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita terbuka bagi bimbingan Roh Allah? Apakah kita siap untuk membuat komitmen seperti saudara-saudara kita para majus?

Benda-benda yang dipersembahkan kepada Yesus adalah persembahan yang terbaik pada zaman itu. Dalam permenungan mereka atas ketiga persembahan para majus itu, para Bapa Gereja seringkali menafsirkan benda-benda itu sebagai simbol-simbol dari apa yang seharusnya dipersembahkan setiap orang Kristiani kepada Allah: emas cintakasih dan pekerjaan-pekerjaan baik, kemenyan dari doa dan iman, mur dari penderitaan yang memurnikan dan percaya akan kebangkitan. Emas adalah tanda yang menyangkut martabat seorang raja, sebuah penyeimbang terhadap makhkota duri yang akan dikenakan pada kepala-Nya kelak; kemenyan adalah lambang pujian-pujian kepada Yang Ilahi, sebuah penyeimbang segala cemoohan dan olok-olok keji yang akan diterima-Nya kelak; mur untuk menyembuhkan dan menyejukkan mengingatkan kita pada kematian-Nya kelak.

Dalam masa Adven/Natal ini, baiklah kita membuat pertimbangan-pertimbangan untuk mempersembahkan hal-hal yang sama. Memang tidaklah salah bagi kita untuk datang kepada Allah dan menghaturkan permohonan-permohonan kita. Namun dalam kesempatan langka pada masa yang penuh berkat ini, baiklah kita pertimbangkan untuk memberikan apa yang terbaik yang kita miliki … untuk Allah.

Waktu Yesus datang ke dunia, para majus ini adalah wakil-wakil kita, karena kita belum lahir. Sekarang tergantung kepada kita semua. Setiap hari kita dapat menyambut-Nya, menghormati-Nya, dan melayani Yesus dalam diri orang-orang lain yang kita temui. Dengan meneladan para majus, kita dapat melakukan hal-hal lebih daripada yang dituntut dari diri kita, kita mencari Dia terus dengan penuh sukacita, dan dengan sepenuh hati kita merangkul peran kita dalam rencana Allah untuk menyelamatkan dunia ini. 

Catatan Penutup. Yesus datang pada waktu yang tidak disangka-sangka dan di tempat yang tidak disangka-sangka pula. Hal ini benar tatkala Dia dilahirkan di sebuah kandang-gua di Betlehem,  dan juga benar pada hari ini. Mengikuti pemikiran Uskup Agung New York, Mgr. Fulton J. Sheen (The Life of Christ), saya berani mengatakan bahwa  hanya ada dua jenis manusia yang dapat menemukan bayi Yesus, yaitu para gembala dan para majus; orang-orang sederhana dan bersahaja dan mereka yang memiliki ilmu; orang-orang yang mengerti bahwa mereka tidak tahu apa-apa dan orang-orang yang mengerti bahwa mereka tidak mengetahui segala sesuatu. Orang bodoh tidak akan pernah melihat Dia, juga orang-orang yang menganggap diri mereka tahu segalanya. Bahkan Allah pun tidak dapat mengajarkan sesuatu kepada orang yang congkak. Hanya orang yang rendah hati saja yang dapat menemukan-Nya. Jadi penyebut yang sama (common denominator) antara para gembala dan para majus adalah kerendahan hati.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi kalau orang-orang majus itu tidak mau turun dari unta mereka masing-masing dan juga tidak mau menundukkan kepala ketika memasuki kandang-gua di mana bayi Yesus itu terbaring di dalam palungan. Banyak dari kita sudah tidak seperti gembala lagi, karena banyak dari kita sudah menyandang begitu banyak gelar akademis, misalnya S1 di bidang ekonomi, S2 di bidang bisnis, S3 di bidang humaniora, dan seterusnya. Oleh karena itu para majuslah yang harus menjadi paradigma kita. Kalau kita tidak mau turun dari ‘unta’ yang kita tunggangi dan kalau kita tidak mau menundukkan kepala kita, maka kita tetap tidak akan dapat menemukan Dia. Oleh karena itu, marilah kita belajar dari para majus yang mengandalkan diri pada bimbingan Allah lewat bintang-Nya. 

Di bawah bimbingan Roh-Nya, kita sendiri pada zaman sekarang dapat berpegang pada Dia yang adalah terang itu, seperti ada tertulis: “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1:4-5). Yesus juga berfirman, “Akulah terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan” (Yoh 8:12). Janganlah sampai kita berpisah dari diri-Nya! Selamat Natal tahun 2009 dan Tahun Baru 2010!

Cilandak, 16 Desember 2009

*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

 


Comments




Leave a Reply