(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Hari biasa sesudah Penampakan Tuhan, Selasa 5-1-10)

Saudara-saudaraku yang terkasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita (1Yoh 4:7-10).

Dari kasih-Nya yang berlimpah Allah menciptakan kita dan berjanji bahwa Dia tidak akan berhenti mengasihi kita. Setiap hari Dia memanggil kita untuk mencerminkan karakter-Nya sendiri dengan saling mengasihi antara kita. Namun dalam upaya kita untuk mentaati panggilan-Nya, kita menjadi berhadap-hadapan dengan ketidakmampuan kita sendiri untuk mengasihi. Harapan kita satu-satunya adalah untuk memperkenankan kasih Yesus bagi kita bekerja lewat diri kita selagi kita keluar untuk bertemu dengan orang-orang lain. Kasih Allah dapat memenuhi diri kita dengan kuasa untuk mengasihi, jauh melampaui keterbatasan manusiawi kita. Sungguh merupakan sukacita luarbiasa bila kita dapat melihat apa yang dapat dicapai oleh kasih-Nya melalui diri kita.

Pada masa Perang Dunia II, di negeri Belanda hidup seorang perempuan yang bernama Corrie ten Boom. Corrie merasa terdorong oleh kasih Allah untuk menyembunyikan orang-orang Yahudi yang dikejar-kejar Jerman Nazi. Dia menyembunyikan mereka dalam rumahnya sampai mereka dengan aman dapat diangkut ke luar negeri. Setelah menolong ratusan orang Yahudi, Corrie didekati oleh seorang laki-laki yang minta bantuan uang guna menolong istrinya melarikan diri. Corrie, keluarganya dan teman-temannya berbuat semampu mereka untuk membantu, namun sayang sekali laki-laki itu malah mengkhianatinya. Pasukan Jerman Nazi menangkap mereka semua dan semuanya menemui ajal karena penderitaan yang berat di kamp konsentrasi, kecuali Corrie.

Setelah dibebaskan, Corrie menjadi seorang pengkhotbah yang populer. Setelah berbicara pada sebuah pertemuan besar, Corrie dikonfrontir oleh orang yang telah mengkhianati dia dan rekan-rekannya. Mula-mula hatinya dipenuhi dengan kebencian, namun setelah dia berpaling kepada Yesus, dirinya dipenuhi dengan kasih kepada orang itu, kasih yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Corrie tidak hanya mengalami damai-sejahtera, dia juga dimampukan untuk mengampuni orang yang telah menyebabkan kematian orang-orang yang sungguh dikasihinya.

Pada akhirnya, Corrie menulis surat kepada laki-laki itu dan mengatakan kepadanya bahwa dia telah mengampuninya karena kasih Yesus sendiri. Orang itu menulis surat juga sebagai jawaban terhadap surat Corrie. Dia menulis, bahwa apabila Yesus dapat memampukan para pengikut-Nya untuk mengasihi sampai titik pengampunan sedemikian, maka tentunya ada pengharapan juga untuk dirinya. Pada hari itu orang tersebut memberikan hidupnya kepada Yesus. Belakangan, dengan rasa takjub Corrie menulis, “Allah memilih aku yang telah membenci orang ini, untuk membawanya kepada Yesus!”

Para kudus dari abad ke abad dan pribadi-pribadi seperti Corrie ten Boom adalah saksi-saksi keindahan kasih Allah, seperti rangkaian bunga yang menghiasi sejarah Kekristenan sepanjang masa. Masih ingatkah anda pada peristiwa almarhum Paus Yohanes Paulus II mengampuni Mehmet Ali Agca, orang yang mencoba membunuhnya?  Kita sendiri pasti sudah, sedang, atau akan mengalami peristiwa serupa, misalnya ‘dikhianati’ oleh orang yang kita tolong dan lain sebagainya. Kita pasti akan mengalami moments of truth untuk dapat bertindak sebagai saksi Kristus yang sejati.

DOA: Tuhan Yesus, cintakasih kami lemah dan hati kami kecil. Namun sebelum kami mengasihi-Mu, Engkau telah mengasihi kami dan memberikan hidup-Mu bagi kami. Bukalah hati kami lebar-lebar dan biarlah kasih-Mu memenuhi diri kami secara berlimpah. Kami ingin menunjukkan kepada dunia apa yang dapat dilakukan oleh kasih-Mu. Amin.

Cilandak, 30 Desember 2009
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply