(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Hari biasa sesudah Penampakan Tuhan, Rabu 6-1-10)

Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah demikian mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.
Demikianlah kita ketahui bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan dia di dalam kita, karena Ia telah mengaruniakan Roh-Nya kepada kita. Dan kami telah melihat dan bersaksi bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Siapa yang mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih (1Yoh 4:11-18).

Bacaan Injil: Mrk 6:45-52.

“Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita” (1Yoh 4:12). Alangkah indahnya ayat ini! Yesus telah memberikan kepada kita satu cara untuk mengukur setiap saat apakah kita tetap berada di dalam Allah. Kita dimaksudkan untuk saling mengasihi secara penuh dan tanpa syarat, seperti Dia sendiri telah mengasihi kita. Saling mengasihi merupakan rahasianya untuk tetap berada di dalam Allah, bahkan hal itu memberikan janji yang lebih besar lagi. Apabila kita memfokuskan hari-hari kita pada pengenalan akan kasih Allah dan mensyeringkan kasih itu dengan orang-orang lain, maka kita dapat menghadapi hari penghakiman dengan penuh kepercayaan. Mengapa? Karena kita menghayati hidup seturut yang diinginkan Kristus sendiri (lihat 1Yoh 4:17).

Secara praktis apakah yang dimaksudkan di sini? Mengasihi Allah dan umat-Nya melibatkan komitmen harian, bahkan dari jam ke jam. Seorang kudus pernah menyatakan bahwa dia tidak dapat membayangkan menjalani hidup lebih dari satu menit tanpa bercakap-cakap dengan Tuhan. Hal yang menakjubkan adalah, bahwa semakin kita membuka hati kita bagi kehadiran-Nya, semakin mungkin pula hubungan akrab seperti itu menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. Dan semakin kita menjadi familiar dengan Allah, semakin besar pula dorongan yang kita alami untuk mencurahkan orang-orang lain dengan kasih yang telah diberikan secara bebas oleh Allah kepada kita.

Akan tetapi, mengapa segala perjuangan kita sehari-hari tidak jarang dihinggapi oleh rasa takut? Rasa takut ini benar-benar dapat melumpuhkan kita. Bagian surat Yohanes yang kita baca di atas dengan jelas menyatakan, bahwa “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1Yoh 4:18). Allah ingin agar kita mengetahui bahwa segala ketakutan berasal dari suatu pandangan terbatas tentang kasih-Nya. Ingatlah akan bacaan Injil hari ini tentang para murid yang ketakutan di tengah-tengah mengamuknya angin sakal (bacalah Mrk 6:45-52). Melihat para murid berjuang dengan susah payah melawan badai, Yesus mendatangi mereka dengan berjalan di atas air. Ketika mereka melihat-Nya, mereka menjadi takut karena mengira Dia hantu … dan mereka takut mati. Jelas di sini, bahwa mereka tidak memahami siapa Yesus itu. Seperti para murid, kita juga mempunyai rasa takut. Misalnya kita semua menghadapi rasa takut akan kematian, penderitaan, kemiskinan, kegagalan dan sejenisnya. Kita juga merasa takut bahwa dosa-dosa, kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita di masa lampau dapat menyebabkan Allah berhenti mengasihi kita. Pada akar banyak ketakutan kita terletaklah pengandaian-pengandaian yang menjadi dasar dari nilai dan martabat tentang apa yang kita lakukan, bukan siapa kita dalam Kristus. Inilah filsafat dunia. Lain halnya dengan Roh Kudus, yang ingin mengembangkan iman kita dan menunjukkan kepada kita kasih sempurna dan berkelimpahan dari Allah kepada kita. Dalam Dia kita aman, maka kita tidak perlu takut. Bapa surgawi telah memberikan kepada kita  Anak-Nya, Yesus, untuk keselamatan kekal kita (lihat 1Yoh 4:14). Ia berdiam dalam diri kita melalui Roh Kudus-Nya, memberikan kepada kita rasa percaya, sukacita dan kekuatan untuk menghadapi perjuangan-perjuangan hidup. Ia ingin memperlengkapi kita dengan karunia-karunia-Nya agar kita tidak merasa takut, melainkan dengan penuh sukacita menanggapi panggilan-Nya.

Manakala ketakutan mengancam kita, baiklah untuk mengingat bahwa Allah adalah kekal dan sempurna. Dia baik, sumber segala kebaikan. Kehendak-Nya bagi kita dapat memenuhi diri kita dan memberikan damai-sejahtera kepada kita, tidak seperti kekosongan yang ditawarkan oleh penekanan dunia atas kekuasaan, kekayaan dan apa saja yang berhasil dicapai. Allah dapat dan patut dipercaya. Rencana-rencana-Nya bagi kita sungguh agung. Kasih-Nya dapat memenuhi segala kebutuhan kita, baik kebutuhan fisik maupun spiritual, sementara kita belajar menyerahkan hati kita kepada-Nya.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku untuk tetap berdiam dalam kasih-Mu dan hidup di jalan yang menyenangkan-Mu. Amin.

Cilandak, 31 Desember 2009
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply