(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Hari biasa sesudah Penampakan Tuhan, Kamis 7-1-10)

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seseorang berkata, “Aku mengasihi Allah,” tetapi ia membenci saudara seimannya, maka ia adalah pendusta, karena siapa yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya. Inilah perintah yang kita terima dari Dia: Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudara seimannya.
Setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir Allah. Dengan inilah kita ketahui bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: Iman kita (1Yoh 4:19-5:4).

“Inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya” (1Yoh 5:3). Berkat pencerahan dan dorongan Roh Kudus kita mulai dengan langkah-langkah serius untuk mewujud-nyatakan firman ini: secara teratur kita berdoa dengan sepenuh hati agar Yesus mengubah hidup kita. Yesus mendengar doa-doa kita dan mengubah hidup kita. Kita begitu bersyukur dan berjuang terus untuk melakukan apa yang diperintahkan Allah. Namun demikian, setelah selang beberapa waktu kita mulai tidak konsisten dalam kegiatan membaca Kitab Suci dan berdoa, kadang-kadang karena alasan tertentu kegiatan seperti itu sengaja kita lewatkan. Di sisi lain ada  suara yang mendesak kita untuk tetap setia, dan kita pun mulai berupaya keras lagi. Pada suatu hari kita melakukan lagi sesuatu hal yang salah. Kita merasa malu untuk mengecewakan Tuhan, maka kita mencoba lebih keras lagi untuk melakukan hal-hal yang benar. Kemudian kita berdosa lagi dan seterusnya. Skenario seperti ini biasa terjadi atas mereka yang bertekad untuk berjalan bersama Kristus. Proses yang melibatkan pergumulan pribadi ini berlangsung terus, sampai pada suatu saat kita disadarkan pada apa yang tertulis dalam surat Yohanes ini, “Perintah-perintah-Nya itu tidak berat” (1Yoh 5:3). Memang begitulah. Allah tidak memberikan kepada kita agar dengan demikian Ia dapat memerintah di atas kita semua dengan tangan besi, layaknya seorang ayah yang kejam. Allah memberikan perintah-perintah-Nya justru karena Dia mengasihi kita dan Dia tahu sekali bahwa hanya kalau kita mentaati perintah-perintah-Nya, maka kita akan menjadi bebas dalam arti sesungguhnya.

Pikirkanlah bagaimana para orangtua yang baik memelihara anak-anak mereka. Para orangtua itu memberikan berbagai peraturan dan panduan bagaimana anak-anak mereka harus bersikap dan berperilaku. Hampir semua peraturan, pembatasan dan panduan tersebut tidak menyenangkan anak-anak mereka, namun kelak setelah lebih dewasa anak-anak itupun berterima kasih kepada para orangtua mereka. Hal yang sama juga berlaku pada diri kita. Kita dapat saja pada awalnya merasakan bahwa perintah-perintah Allah itu membatasi kebebasan kita, namun sesungguhnya kebalikannyalah yang benar. Semakin matang iman kita, kita pun semakin menghargai tangan-tangan Allah yang penuh kasih dalam perintah-perintah yang telah diberikan-Nya kepada kita; dan dengan sepenuh hati kita mau mengikuti setiap perintah-Nya itu.

Kita manusia memang memiliki kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan cara kita sendiri. Kita tidak ingin diperintah ini atau disuruh melakukan itu. Dengan demikian ide bahwa kita menempatkan keputusan-keputusan kita di bawah kehendak Allah memang tidak mudah untuk diterima oleh pikiran manusia. Puji Tuhan sekarang kita telah disadarkan bahwa perintah-perintah-Nya samasekali tidak dimaksudkan untuk menjadi beban atas hidup kita, malah dimaksudkan untuk membawa kita kepada kebebasan yang penuh. Berapa banyak dari kita yang merasa tertekan oleh banyaknya tuntutan hidup sebagai orang Kristiani? Kalau begitu, ingatlah hal ini: Bukankah Yesus datang untuk mengambil beban-beban kita? Oleh karena itu janganlah kita menghakimi firman Allah dengan pengalaman kita sendiri, sebaliknya kita harus mengevaluasi pengalaman kita dalam terang firman Allah itu. 

Apakah anda merasa begitu berat menanggung beban? Perasaan seperti ini samasekali tidak datang dari Allah. Apakah anda merasa tidak pernah akan memenuhi ‘tuntutan’ dari Allah? Perasaan seperti ini bukanlah datang dari bisikan Roh Kudus, karena Dia bukanlah roh penuduh, melainkan Roh Penghibur. Meskipun Roh Kudus menunjukkan dosa-dosa dalam hidup kita, Dia melakukan hal itu dengan lembah lembut sehingga mendorong kita untuk menggantungkan diri lebih lagi pada kuasa dan rahmat-Nya – bukannya kekuatan kita sendiri. Melalui rahmat Allah, baiklah kita mengklaim janji yang tersirat dalam firman berikut ini: “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita” (Gal 5:1). Lewat kebangkitan-Nya, Yesus telah memberikan kepada kita suatu warisan yang indah. Marilah kita mengklaim warisan kita sebagai anak-anak Allah. Marilah kita dengan setia melakukan pekerjaan-pekerjaan baik seturut firman-Nya, oleh kuasa Roh Kudus, bukannya dengan kekuatan kita sendiri.

DOA:Tuhan Yesus, Engkau mengetahui sekali segala kelemahan kami. Namun demikian Engkau masih begitu mengasihi kami sehingga mengambil setiap dosa itu selagi Engkau memanggul salib itu. Terima kasih Tuhan karena Engkau telah membebaskan kami dari berbagai beban kami. Kami berketetapan hati untuk mengasihi-Mu dengan mentaati segala perintah-Mu. Amin.

Cilandak, 2 Januari 2010
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply