(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven, Kamis 24-12-09)

Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia datang untuk menyelamatkan umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu,  – seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus – untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapak leluhur kita bahwa ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di dihadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, yang dengannya Ia akan datang untuk menyelamatkan kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera” (Luk 1:67-79; teks dari Alkitab TB, LAI).

Bacaan pertama: 2Sam 7:1-5.8b-12.16.
Besok kita akan merayakan Natal: sebuah hari yang menggenapi janji-janji Allah yang dibuat-Nya melalui para nabi-Nya untuk memuaskan kerinduan-kerinduan umat yang sudah terpendam berabad-abad lamanya, sejak zaman Abraham. 

‘Kidung Zakharia’ adalah sebuah nyanyian pujian dan syukur yang dipanjatkan kepada Allah untuk kasih setia-Nya. Dalam kidung ini Tuhan digambarkan sebagai ‘fajar cemerlang’ atau ‘surya pagi dari tempat yang tinggi’; ‘terang’ yang datang untuk menyinari orang yang meringkuk dalam kegelapan maut. Sesungguhnya, Natal adalah sebuah pesta ‘terang’. Di tengah malam, pada bacaan pertama Misa malam Natal, kita mendengar kata-kata yang diucapkan nabi Yesaya: “Bangsa  yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelamanan, atasnya terang telah bersinar” (Yes 9:1). Berjalan dalam kegelapan membuat orang tersandung dan terjatuh, sedangkan berjalan dalam terang akan menjamin orang berjalan dalam jalan yang benar. Sebagai umat peziarah kita tahu bahwa kita berada dalam jalan yang benar menuju rumah Bapa, karena kita memiliki Kristus sebagai Terang yang membimbing kita. 

Kidung Zakharia yang dikenal dengan nama Latinnya, Benedictus, adalah kidung yang merupakan bagian dari Ibadat Pagi yang sepanjang tahun didoakan oleh Gereja. Apakah kita mendoakan Ofisi Ilahi (Ibadat Harian) atau pun tidak, kita harus menyadari, bahwa setiap pagi tidak ubahnya dengan hari Natal, bahwa fajar adalah lambang kedatangan  Kristus. Kita harus memanjatkan syukur dan puji-pujian kita kepada Allah untuk karunia-Nya yang paling agung bagi kita, yaitu Yesus, Putera-Nya yang tunggal; tidak hanya pada hari Natal, tetapi setiap hari sepanjang tahun.

Raja Daud ingin mendirikan sebuah rumah bagi YHWH untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas apa saja yang dilakukan YHWH bagi dirinya. Nabi Natan menanggapi keinginan Daud itu, sampai YHWH mengatakan kepadanya bahwa Dia tidak memerlukan dan juga tidak menginginkan sebuah rumah untuk tinggal. Sebaliknya, YHWH berjanji untuk mendirikan sebuah ‘rumah Daud’, artinya sebuah dinasti dan kerajaan, yang akan berdiri selamanya. Janji ini menjadi dasar pengharapan-pengharapan bangsa Yahudi akan kedatangan seorang Raja Mesias, Putera Daud. Kita menjadi orang-orang Kristiani karena Allah telah menggenapi janji-Nya ini. Pada bacaan Injil Misa Malam Natal kita akan mendengar, bahwa Yusuf membawa Maria dari Nazaret ke Kota Daud, Betlehem. Di tempat ini Yesus lahir dan malaikat Tuhan memproklamasikan kepada para gembala: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11).

DOA: Roh Kudus Allah, siapkanlah hatiku agar bilamana aku memandang ‘patung bayi Yesus’ di kandang Natal, aku Kauingatkan bahwa Yesus Kristus adalah lebih daripada seorang keturunan Daud: Ia adalah Putera Allah sendiri yang datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia. Amin.

Cilandak, 20 Desember 2009
Hari Minggu Adven IV
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply