Sdr. F.X. Indrapradja, OFS *)

“……… supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku” (Yoh 17: 21-23). 

Dalam bulan Januari setiap tahun (tanggal 18-25) kita merayakan ‘Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani’. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengingatkan kita semua akan peristiwa ‘Pekan Doa’ ini, dan juga perihal penting dan perlunya mendoakan persatuan dan kesatuan umat Kristiani selama kita masih hidup di dunia ini. 

Menurut Paus Yohanes Paulus II, “kesatuan Tubuh Kristus didasarkan pada kegiatan Roh” (Surat Apostolik Tertio Millennio Adveniente [Kedatangan Milenium Ketiga; 10-11-1994], 47). Oleh karena itu selagi kita berdoa untuk terciptanya Gereja yang satu, marilah kita mengkomit diri kita pada Roh Kudus. Apabila kita mempersembahkan keluarga-keluarga kita dan seluruh Gereja kepada Roh Kudus, maka kita pun akan melihat perubahan-perubahan menuju persatuan dan kesatuan. Bersama-sama, marilah kita berdoa: “Datanglah, ya Roh Kudus! Buatlah umat-Mu satu.” 

Dari sejak awal Yesus selalu memiliki hasrat agar Gereja-Nya itu satu adanya. Hal ini dapat kita lihat dari isi doa Yesus untuk murid-murid-Nya (Yoh 17:1-26). Petikan dari Injil Yohanes di atas adalah sebagian dari doa-Nya tersebut. Dalam doa-Nya ini Yesus berdoa untuk persatuan para pengikut-Nya (Gereja-Nya). Permohonan-Nya kepada Bapa ini disampaikan-Nya sampai beberapa kali dengan penekanan yang semakin meningkat:

1.    “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka ……, supaya mereka menjadi satu sama seperti kita”  (Yoh 17:11);

2.    “… supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh 17:21);

3.    “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku”  (Yoh 17: 22-23);

4.     “supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku” (Yoh 17:23).

Yesus  menghaturkan doa untuk persatuan ini dengan ketulusan hati yang tidak diragukan lagi. Dia tidak pernah berbicara secara lebih serius dan Dia belum pernah juga menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Doa Yesus ini begitu unik, begitu penuh empati, begitu konstruktif. Ia adalah Tuhan dan Guru kita, oleh karena itu kita harus mengikuti jejak-Nya, termasuk berdoa untuk persatuan dan kesatuan umat Kristiani.

 

Yesus menghendaki agar kesatuan Gereja harus dapat dilihat oleh dunia (lihat butir 2 & 4), bahkan dunia yang membencinya. Mengapa? Karena Gereja mengemban satu misi agung, yaitu menunjukkan dalam dirinya keilahian Kristus. Di daerah Kaisarea Filipi, Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Engkau adalah Petrus (Kefas; Kepha = batu karang) dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat (gereja)-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18). Gereja dapat saja kelihatannya seperti monumen bisu, namun tetap harus menjadi saksi keilahian Kristus di depan mata dunia. Bagaimana? Dengan menunjukkan kesatuan, ……… kesatuan yang sempurna (lihat butir 4).

Perpecahan. Sejarah menunjukkan bahwa dari sejak awal tubuh Kristus telah mengalami sakitnya perpecahan yang disebabkan oleh gerakan-gerakan bid’ah dan skisma. Dalam Perjanjian Baru ada catatan mengenai adu argumentasi antara kaum Helenis dan kaum Yahudi eks Farisi (lihat Kis 15:1-5). Dalam tulisan-tulisan selanjutnya terdapat juga catatan-catatan cukup terinci tentang perpecahan-perpecahan yang disebabkan kaum bid’ah seperti aliran Gnostisisme, Nestorianisme dan Arianisme dan lain sebagainya. Namun perpecahan-perpecahan yang besar dan paling menyakitkan adalah perpecahan-perpecahan yang terjadi setelah milenium pertama dilalui. Yang pertama adalah Gereja Ortodoks (tahun 1054); dan yang kedua adalah bermunculannya berbagai gereja Kristen Protestan dalam abad ke-16 sebagai akibat Reformasi yang diprakarsai oleh Martin Luther di Jerman. Sebagai akibat kedua peristiwa tersebut jutaan umat Kristiani memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma.

Angka-angka statistik beberapa saat sebelum tahun 2000 menunjukkan bahwa 33% penduduk dunia adalah pemeluk agama Kristiani, dan dari jumlah ini 18% beragama Katolik. Sisanya yang 82% terdiri dari pemeluk agama Kristiani Lutheran, Methodist, Ortodoks Rusia, Baptis, Anglikan dan banyak lagi denominasi lainnya. Angka-angka statistik ini saja menunjukkan kenyataan yang menyedihkan bahwa umat yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat masih terpecah-belah. Namun di sisi lain angka-angka statistik ini seharusnya menyadarkan kita semua akan sangat pentingnya gerakan ekumenis yang bertujuan untuk mempersatukan (kembali) secara penuh semua umat beriman yang telah dibaptis dalam nama-Nya.

EKUMENISME. Ekumenisme  adalah upaya untuk menyembuhkan luka-luka dalam Gereja Universal dan membantu perkembangan persatuan dan kesatuan semua orang-orang Kristiani. Dalam Ensikliknya yang berjudul Ut Unum Sint (Semoga Mereka Bersatu; 25-5-1995), Paus Yohanes Paulus II menulis, “Tujuan akhir gerakan ekumenis ialah memulihkan kesatuan penuh yang nampak antara semua orang yang dibaptis” (Ut Unum Sint, 77). Dengan menyebut sebuah proyek jangka panjang sebagai suatu ‘perjalanan’, Sri Paus sebenarnya mengakui bahwa diperlukan rahmat Allah yang berkelimpahan dan upaya manusia yang serius serta tidak sedikit, sebelum umat Katolik Roma, Ortodoks, Protestan, Anglikan dan yang lain-lainnya mencapai kesepakatan bersama di bidang doktrin. 

Berabad-abad lamanya umat Kristiani terpecah-pecah dan hanya menunjukkan sedikit kemajuan saja dalam hal ekumenisme. Konsili Vatikan II menerima kenyataan ini, ketika menyatakan:
“Dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu sejak awal mula telah timbul berbagai perpecahan [lihat 1Kor 11:18-19; Gal 1:6-9; 1Yoh 2:18-19], yang oleh Rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang layak dihukum [lihat 1Kor 1:11 dsj.; 11:22]. Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja Katolik, kadang-kadang bukannya tanpa kesalahan kedua pihak” (Dekrit Unitatis Redintegratio tentang Ekumenisme; 21-11-1964; 3).

Baru pada abad ke-20 kita melihat perkembangan positif dalam gerakan ekumenisme, baik melalui pengaruh pihak gereja-gereja Kristen Protestan maupun Katolik.

Kristen Protestan. Pada paruhan pertama abad ke-20, di kalangan umat Kristen Protestan mulai dirasakan adanya kesadaran akan perpecahan di antara mereka sendiri. Oleh karenanya mereka mengembangkan keprihatinan besar akan kesatuan. Sebagai akibatnya, ada empat peristiwa yang terjadi – semua terlaksana tanpa keterlibatan pihak Katolik:

1.    Pada tahun 1910, sekelompok misionaris Kristen Protestan yang bernaung di bawah World Missionary Conference mengadakan pertemuan di Edinburgh untuk saling berbagi dalam hal metode evangelisasi;

2.    Pada tahun 1925, the Life and Work Movement untuk pertama kalinya berkumpul di Stockholm dengan menggunakan motto, praktis namun tidak benar secara teologis, yang berbunyi “Service unites, but doctrine divides.”  Namun demikian, sejumlah saudara Kristen Protestan merasakan bahwa waktunya sudah sampai untuk berkonfrontasi dengan isu-isu doktrin dan struktur yang sulit-sulit. Mereka membentuk gerakan berikut ini:

3.    the Faith  and Order Movement, sebuah gerakan yang bertemu untuk pertama kalinya pada tahun 1927 di Lausanne, Switzerland. Masing-masing dari ketiga organisasi ini terus melakukan pertemuan secara teratur sampai tahun 1948, ketika bersama-sama mereka memutuskan untuk mendirikan organisasi sebagai wadah bersama. Maka lahirlah organisasi berikut:

4.    the World Council of Churches (WCC)yang berkedudukan di Geneva.

WCC tidak mengklaim dirinya sebagai sebuah super-church, melainkan sebagai sebuah organisasi pelayanan yang diciptakan untuk membantu para anggotanya dalam mencapai tujuan bersama, yaitu kesatuan Kristiani. Ada sekitar 300 gereja yang menjadi anggota WCC, yaitu sebagian besar komunitas Kristiani besar dengan beberapa pengecualian. Gereja Katolik Roma, misalnya bukanlah anggota resmi WCC, meskipun ada orang-orang Katolik yang menjadi anggota Faith and Order Commission. WCC dan Takhta Suci di Vatikan seringkali juga turut serta dalam proyek-proyek ekumenis gabungan.

Gereja Katolik.  Seperti gereja-gereja Kristen Protestan, sikap Gereja Katolik sehubungan dengan ekumenisme juga banyak mengalami perubahan positif dalam abad ke-20. Dalam ensikliknya di tahun 1928, Paus Pius XI melarang orang Katolik berpartisipasi dalam pertemuan ekumenis, karena takut kegiatan itu akan memberikan kesan bahwa semua agama sama dan doktrin hanya memiliki kebenaran relatif. Namun demikian, pada tahun 1949 (pada masa pontifikat Paus Pius XII) Vatikan mengeluarkan sebuah instruksi yang lebih positif, yang mendorong studi tentang persatuan dan kesatuan Kristiani. Instruksi itu juga memperkenankan orang-orang Katolik – dengan izin uskup mereka – untuk menghadiri pertemuan-pertemuan ekumenis. Sebagai akibatnya, para pengamat Katolik mulai berpartisipasi dalam Faith and Order Conferences yang diselenggarakan oleh WCC.

Selama paruhan pertama abad ke-20 beberapa lembaga ekumenis didirikan di Belgia, Perancis, Jerman dan negeri Belanda. Para pakar Katolik menggunakan lembaga-lembaga ini untuk melakukan studi tentang Skisma Timur dan Reformasi Protestan dengan menggunakan suatu pendekatan yang lebih positif. Demikian pula halnya dengan para pakar Kristen Protestan yang bekerja dengan serius untuk memahami posisi-posisi doktrinal dalam ajaran Katolik. Sebagai akibatnya, bertumbuh-kembanglah sikap saling respek dan keterbukaan di antara orang-orang Kristiani yang menaruh minat dalam ekumenisme.

Ada beberapa pribadi yang telah memberikan kontribusi sangat besar kepada ekumenisme dalam periode tersebut. Di Perancis ada seorang teolog Dominikan, Pater Yves Congar OP yang menulis tentang subjek ini dengan brilian. Juga ada seorang imam praja dari Lyons, Perancis, Pater Paul Couturier yang secara luas mempromosikan ‘ekumenisme spiritual’. Pada tahun 1937 dia membantu mendirikan Groupe des Dombes, suatu pertemuan tahunan para imam dan pastor Perancis dan Swiss, guna mendiskusikan topik-topik ekumenis. Pater Yves Congar mengatakan bahwa Pater Paul Couturier –lah yang memberikan kepada gerakan ekumenis “its heart and prayer”.  Selanjutnya Pater Yves Congar mengatakan: “It was {Couturier) who, spiritually, founded that immense movement which, today, bears the ecumenical hope of the world” (Jeanne Kun, The Life and Work of Fr. Paul Couturier).

Di Jerman ada Pater Max Josef Metzger – yang seruan perdamaiannya membuat dirinya sampai dihukum mati oleh pihak Nazi pada tahun 1944 – mendirikan gerakan Una Sancta. Di Paderborn, Jerman, Uskup Agung Lorenz Jaeger merancang pertemuan para pakar Protestan Lutheran dan Katolik untuk mendiskusikan isu-isu teologis dan sejarah. Pada tahun 1960, Yesuit dari Jerman Kardinal Augustinus Bea – yang dikenal sebagai ‘duta persatuan’ menjadi Ketua/Presiden pertama dari Sekretariat untuk Promosi Kesatuan Kristiani dari Vatikan. Kardinal Bea merupakan seorang tokoh Konsili Vatikan II dan penasihat terpercaya dari Paus Yohanes XXIII. Seorang tokoh penting lagi adalah imam dari Amerika, Pater Paul Watson SA, pendiri dari Society of the Atonement, yang meresmikan Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristiani pada tahun 1937.

Konsili Vatikan II dan masa-masa setelah itu. Konsili Vatikan II (1962-1965) yang dimulai oleh Paus Yohanes XXIII merupakan peristiwa ekumenis besar abad ke-20, bahkan ‘terbesar’ menurut pandangan saya pribadi. Sri Paus memiliki keyakinan kuat tentang pentingnya dan perlunya ekumenisme dan panggilan untuk mengasihi saudara-saudari kita dari gereja-gereja Ortodoks, Kristen Protestan dan Kristiani non-Katolik lainnya. Pada sambutan pembukaannya, Sri Paus mengambil satu langkah berani, ketika beliau berkata: “Apa yang memisahkan kita sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus jauh lebih sedikit daripada apa yang mempersatukan kita”, dengan kata lain “Apa yang menyatukan kita jauh lebih besar dari apa yang memecah-belah kita” (lihat Ut Unum Sint, 20). Setelah 1000 tahun lamanya mengalami ketegangan dan rivalitas, kata-kata Paus Yohanes XXIII ini dan Konsili Vatikan II (yang dimulai olehnya) mulai membuka pintu-pintu gerbang yang selama itu tertutup serta menghalang-halangi berbagai macam gereja dan komunitas-komunitas Kristiani untuk saling berbagi kekayaan masing-masing. Dari sejak awalnya, Konsili Vatikan II ini memang mempunyai dwi-tujuan, yaitu reformasi dan reuni (persatuan kembali). Untuk tujuan inilah Sri Paus mengundang gereja-gereja Ortodoks, Anglikan, Kristen Protestan dan lainnya dari seluruh duniauntuk mengutus para pengamat ke sidang-sidang konsili. Tanggapan terhadap undangan ini sungguh luarbiasa, ada sekitar seratus orang pengamat dari berbagai denominasi Kristiani non-Katolik yang datang ke Roma.

Sejak kematian Paus Yohanes XXIII pada tahun 1963, para penggantinya melanjutkan komitmen bagi persatuan dan kesatuan umat Kristiani ini. Misalnya, Paus Paulus VI dalam surat wasiat dan testamennya yang terakhir mendesak agar “kerja untuk semakin dekat dengan para saudara kita yang terpisah harus dilanjutkan dengan pengertian yang besar, dengan kesabaran yang besar, dan dengan kasih yang besar”.  Sri Paus juga menambahkan bahwa dialog ekumenis harus dilakukan “tanpa menyimpang dari pemahaman Katolik yang benar.” 

Paus Yohanes Paulus II juga telah menunjukkan dukungan gigih kepada upaya ekumenisme. Dalam ensikliknya Ut Unum Sint, Sri Paus menyatakan bahwa tugas pastoral spesifik dari Uskup Roma (=Paus) adalah untuk bekerja demi kesatuan: “Kristus memanggil semua murid-Nya supaya bersatu …… umat yang beriman akan Kristus …… tidak boleh tetap terpecah” (Ut Unum Sint, 1).  Dalam ensiklik yang sama Sri Paus juga menulis:
“Keprihatinan untuk memulihkan kesatuan melibatkan segenap Gereja, baik umat beriman, maupun para gembala dan siapa pun juga seturut kemampuannya, dalam hidup Kristiani sehari-hari, pun dalam penelitian-penelitian teologis dan historis” (Ut Unum Sint, 19).
Semuanya itu relevan sekali dan mempunyai makna mendasar  bagi kegiatan ekumenis. Jadi jelas sama sekali bahwa ekumenisme, yakni gerakan memajukan kesatuan Kristiani, bukan semacam “embel-embel” yang ditambahkan pada kegiatan tradisional Gereja. Melainkan ekumenisme merupakan bagian organis hidup dan karya Gereja, oleh karena itu harus merasuki seluruh kenyataannya dan segala sesuatu yang dilakukannya. Ekumenisme seharusnya ibarat buah yang ditumbuhkan oleh pohon yang sehat dan subur, yang berkembang menuju kepenuhannya (Ut Unum Sint, 20).

Dalam begitu banyak ‘perjalanan dinasnya’, Paulus Yohanes Paulus II selalu berhasrat untuk bertemu dan berdoa bersama wakil-wakil dari gereja-gereja Kristiani yang berbeda-beda. Dalam sejumlah kesempatan beliau juga mengakui dosa-dosa masa lampau yang dapat memperburuk perpecahan yang sudah ada.

Ikatan batiniah yang tidak pernah mati. Hasil pengamatan Paus Yohanes XXIII yang penuh hikmat-kebijaksanaan, bahwa “Apa yang menyatukan kita jauh lebih besar dari apa yang memecah-belah kita”, menunjukkan bahwa gereja-gereja di luar Gereja Katolik juga memiliki banyak unsur pengudusan dan kekudusan. Jadi sebenarnya sepanjang masa sejak Skisma Timur (tahun 1054), ikatan communio (Yunani: koinonia = persekutuan) antara Gereja Katolik dan gereja-gereja Kristiani yang bukan Katolik tetap terjalin meskipun tidak kasat mata, misalnya lewat pembaptisan yang sesungguhnya merupakan fondasi dari persatuan dan kesatuan umat Kristiani. Konsili Vatikan II menyatakan: “… karena mereka dalam Baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disaturagakan dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama Kristen/Kristiani, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja Katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan” (Unitatis Redintegratio, 3). 

Ada juga ikatan lain yang mampu menghimpun umat Kristiani, yaitu Alkitab (Kitab Suci), karena kita semua percaya bahwa Kitab Suci memuat Firman Allah. Kerja sama antara Lembaga Alkitab Indonesia dan Lembaga  Biblika Indonesia di bidang perkitab-sucian yang dirintis sekitar pertengahan abad lalu merupakan contoh praktek ekumenisme yang pantas dihargai. Pihak Katolik menerima terjemahan LAI (setelah diperiksa tentunya) dan LAI menyetujui memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika terjemahan pihak Katolik. Patut dicatat bahwa pada saat kesepakatan itu dibuat, pihak Katolik sebenarnya telah menyelesaikan/menerbitkan Kitab Perjanjian Baru secara lengkap (P. Jozef Boumans SVD)[1] dan juga terjemahan kitab-kitab Perjanjian Lama (P. Cletus Groenen OFM), namun dengan tulus melakukan kesepakatan tadi. Kerja sama ekumenis yang dirintis itu dilanjutkan secara lebih intens dalam bentuk keterlibatan para pakar Katolik dalam berbagai usaha penerjemahan teks-teks Kitab Suci di LAI, kemudian melibatkan awam Katolik dalam kepengurusan dan keanggotaan dalam berbagai komisi/pokja LAI.

Ikatan-ikatan lainnya adalah keutamaan iman, pengharapan dan kasih; hidup rahmat, dan karunia/anugerah Roh Kudus. Umat Kristiani juga mempunyai misi yang sama, untuk menyembah dan taat kepada Tuhan, untuk mendorong keadilan dan damai-sejahtera, untuk membuat Kristus hadir bagi dunia, dan untuk memproklamasikan kerajaan Allah. Santo Paulus memberikan kepada kita suatu ringkasan perihal ikatan-ikatan persatuan di antara umat Kristiani: “… berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera: Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua” (Ef 4:3-6).

Di sisi lain, secara realistis kita semua harus mengakui bahwa masih ada beberapa ciri gerejawi dalam gereja-gereja Kristiani non-Katolik yang merupakan hambatan terhadap terciptanya communio secara lengkap dengan Gereja Katolik. Oleh karena itu dialog-dialog dalam-kasih masih tetap diperlukan untuk tercapainya ‘konsensus iman’ (kalau saya boleh menggunakan istilah itu). Isu-isu penting yang ada antara lain adalah hubungan antara Kitab Suci dan tradisi; Ekaristi Kudus; sakramen imamat; peranan Paus dan para uskup dan tempat Bunda Maria dalam keseluruhan karya penyelamatan. Paus Yohanes Paulus II menyatakan: “Ekumenisme justru dimaksudkan untuk menumbuhkan persekutuan yang sudah mulai ada antara umat Kristiani ke arah persekutuan sepenuhnya dalam kebenaran dan cintakasih” (Ut Unum Sint, 14). Sampai hari ini terlihat banyak kemajuan yang telah dicapai sebagai hasil dari berbagai pembicaraan teratur sejak Konsili Vatikan II, khususnya antara Gereja Katolik dengan Gereja Ortodoks, Gereja Lutheran, Gereja Anglikan. 

Pertempuran rohani. Kita harus mengakui dengan jujur bahwa perpecahan dalam gereja-gereja Kristiani non-Katolik terjadi dalam tempo relatif cepat. Ada yang memperkirakan bahwa sekarang terdapat dua puluh ribuan denominasi gereja Kristiani non-Katolik. Perpecahan ini seringkali dijelaskan sebagai suatu pertumbuhan … suatu perkembangan Gereja Kristus. Apabila kita merujuk pada ‘Doa Yesus’ (Yoh 17:1-16) yang sedikit disinggung di atas,  maka kita dapat menyimpulkan bahwa perpecahan pada dasarnya adalah sebuah skandal. Yesus samasekali tidak menginginkan terjadinya perpecahan di antara para pengikut-Nya.

Kita juga harus menyadari bahwa perpecahan-perpecahan bukan hanya datang dari hati manusia, melainkan juga dari kuasa kegelapan … dari si Jahat. Santo Paulus menulis: “… perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan … kuasa-kuasa dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef 6:12). Iblis sangat senang melihat kalau kita saling terpecah. Ia tahu benar bahwa sebuah kerajaan yang terpecah-pecah tidak akan mampu bertahan, oleh karena itu dia memanipulasi rasa takut kita, prasangka-prasangka buruk kita dan cinta-diri kita yang merupakan bagian dari kodrat manusiawi kita yang cenderung untuk berdosa. Iblis tahu benar bahwa apabila kita membiarkan kecenderungan-kecenderungan buruk ini menang, maka kita  akan menabur benih perpecahan dan hubungan yang semakin retak. Oleh karena itu Santo Petrus mengingatkan kita (paling sedikit setiap hari Selasa malam): “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr 5:8).

Iblis tahu benar bahwa kita rentan terhadap tipu-dayanya hanya apabila posisi kita semakin jauh dari Roh Kudus dan bersikap dingin terhadap-Nya. Mengapa demikian? Karena semakin jauh kita dari Roh Kudus, semakin kuat pula segala kecenderungan-kecenderungan buruk menguasai diri kita. Yang perlu sekali kita yakini adalah, bahwa persatuan umat Kristiani – dan persatuan dalam hati kita masing-masing dengan Yesus – hanya akan terwujud apabila kita mematikan kecenderungan-kecenderungan buruk kita dan kemudian menghayati hidup dalam Roh.

Fondasi dari persatuan Kristiani yang sejati bersifat ilahi, kasih agapé, kasih yang tetap ada bahkan ketika kita didzalimi oleh orang lain. Ini adalah kasih yang dicurahkan oleh Roh Kudus ke dalam hati kita masing-masing (lihat Rm 5:5), kasih yang mendesak kita untuk mengasihi orang-orang lain, betapa pun pandangan mereka berbeda dengan pandangan kita sendiri. Kasih agapé ini menggerakkan kita untuk mematikan pikiran-pikiran kita yang menghakimi orang lain, perasaan lebih hebat atau lebih superior ketimbang orang-orang Kristiani lain yang berbeda gereja dengan kita. Mungkin pemikiran-pemikiran ini membuat kita senang dalam jangka pendek, namun Allah menginginkan kita untuk mengakui bahwa karena  semua itu berasal dari kodrat manusiawi kita yang cenderung untuk berdosa, maka ujung-ujungnya hanya akan menjauhkan kita dari Roh Kudus.

“Tidak ada ekumenisme yang sejati tanpa pertobatan batin” (Ut Unum Sint, 15). Menjelang datangnya milenium ketiga, Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Pada tahun 2000 kita perlu lebih bersatu, lebih berkeinginan untuk maju di jalan menuju persatuan untuk hal mana Kristus berdoa pada malam sebelum sengsara-Nya. Kesatuan ini sangatlah berharga. Dalam artian tertentu, masa depan dunia dipertaruhkan” (Crossing the Threshold of Hope, hal. 151).

Urgency seperti ini adalah suatu pencerminan betapa mendalamnya Allah merindukan untuk melihat anak-anak-Nya saling mengampuni dan saling mengasihi.  Karena segala perpecahan adalah akibat dosa  (relasi dengan Allah yang dirusak), maka persatuan dan kesatuan hanya dapat tercipta bilamana hidup kita ditranformasikan oleh kasih Allah dan oleh iman yang lebih mendalam kepada Yesus: “… setiap anggota harus bertobat secara lebih radikal kepada Injil” (Ut Unum Sint, 15). Kita ingat bahwa ketika Yesus memulai karya pelayanan-Nya dalam masyarakat, Ia berseru: “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15). Sesungguhnya, setiap permulaan-segar dalam kehidupan kita menyangkut juga tindakan meninggalkan segala sikap dan kebiasaan lama. Hal ini paling jelas nyata dalam kasus persatuan umat Kristiani, di mana kebutuhan untuk pertobatan batin sangat ditekankan sejak Konsili Vatikan II: “Tidak ada ekumenisme yang sejati tanpa pertobatan batin” (Unitatis Redintegratio, 7).

Pertobatan batin ini akan memampukan kita untuk mengatasi dosa-dosa yang melawan cintakasih persaudaraan, mengampuni satu sama lain, dan untuk menolak kesombongan dan perpecahan-perpecahan “yang sampai derajat tertentu banyak diakibatkan oleh ide bahwa seseorang dapat memiliki suatu monopoli atas kebenaran” (Crossing the Threshold of Hope, hal. 147). Dalam pertobatan dan ‘kepercayaan mutlak kepada kuasa rekonsiliasi  kebenaran yang adalah Kristus’ kita akan menemukan kesatuan yang dirindukan Allah. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk membuat hubungan kita dengan saudara-saudara Kristiani lainnya menjadi sesuatu yang “akan melebihi pengertian hangat atau persaudaraan lahiriah melulu” (Ut Unum Sint, 82).

Catatan Penutup. Kita harus mengakui bahwa persatuan umat Kristiani pada akhirnya adalah suatu karunia dari Allah. Dengan demikian DOA adalah suatu unsur yang hakiki. Di atas telah dipetik dari dua dokumen Gereja sebuah dalil yang menyatakan, bahwa “tidak ada ekumenisme yang sejati tanpa pertobatan batin” (Unitatis Redintegratio, 7 dan Ut Unum Sint, 15).

Pertobatan batin dan kesucian hidup itu, disertai doa-doa permohonan perorangan maupun bersama untuk kesatuan umat Kristiani, harus dipandang sebagai jiwa seluruh gerakan ekumenis, dan memang tepat juga disebut ekumenisme rohani (Unitatis Redintegratio, 8). Sebagai penutup dapatlah dikatakan, bahwa model doa kita yang paling sederhana dalam ‘Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani’ adalah doa Yesus sendiri (Yoh 17:1-16). 

JANGANLAH BERLAMBAT, YA ROH KUDUS
SEBUAH DOA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI


Ya Allah, bukalah hati kami agar dapat menerima Roh-Mu.
Bukalah hati kami agar dapat berdoa bersama dengan Roh-Mu,
supaya kehendak-Mu terjadi, kehendak-Mu bagi kami,
bagi dunia dan bagi Gereja-Mu.
Dengan pertolongan Roh-Mu lah kami menaruh harapan
untuk mampu  mengasihi Dikau secara sempurna.
Dengan pertolongan Roh-Mu lah
kami menaruh harapan untuk disatukan dengan Dikau.
Dengan pertolongan Roh-Mu lah kami menaruh harapan
untuk menjadi satu dalam Gereja-Mu.
Datanglah ya Roh Kudus, janganlah berlambat!

Sumber: “Biblical Reflections and Prayers for the Week of Prayer for Christian Unity,” prepared jointly by the World Council of Churches and the Pontifical Council on Promoting Christian Unity.

Cilandak, 8 Januari 2010

*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.
[1] Judul lengkapnya: INDJIL – KABAR GEMBIRA JESUS KRISTUS – KITAB KUDUS PERJANJIAN BARU – diterdjemahkan menurut naskah-naskah Junani (1965).

This is your new blog post. Click here and start typing, or drag in elements from the top bar.
 


Comments

11/05/2010 17:53

Books are by far the most lasting products of human effort.

Reply



Leave a Reply