(Bacaan Kitab Suci dalam Misa, Hari kelima dalam Oktaf Natal, Selasa 29-12-09)

Inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Siapa yang berkata, “Aku mengenal Dia,” tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi siapa yang menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Dia. Siapa yang mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Saudara-saudara yang terkasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu sejak semula. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun kutuliskan kepada kamu perintah baru juga, yang benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Siapa yang berkata bahwa berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudara seimannya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Siapa yang mengasihi saudara seimannya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi siapa yang membenci saudara seimannya, ia berada di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya (1Yoh 2:3-11).

Bacaan Injil: Luk 2:22-35.
Bapa surgawi menciptakan kita karena kasih dan memanggil kita untuk menanggapi kasih-Nya itu. Bagaimana? Dengan hidup taat pada perintah-perintah-Nya serta menjunjung tinggi satu sama lain dalam kasih. Ini adalah ‘perintah lama’ yang dikatakan Yohanes sudah ada pada kita sejak semula. Perintah lama itu ialah firman yang telah kita dengar (1Yoh 2:7). 

Kalau begitu, apa yang berubah setelah Yesus – sang Firman yang telah menjadi manusia – mati untuk kita? Bapa surgawi tetap menginginkan kita memberi tanggapan terhadap kasih-Nya dan hidup di bawah otoritas ilahi-Nya. Namun, melalui Yesus, Ia telah memberikan kepada kita kuasa untuk menghayati hidup ini. Dia telah menebus kita oleh darah Yesus, dan telah mengutus Roh Kudus-Nya untuk memberdayakan kita. Dengan demikian kita tidak lagi terjebak dalam lingkaran dosa dan kegagalan. Kita tidak perlu lagi berjalan dalam kegelapan; Yesus adalah sang Terang dan kita dapat diam dalam Dia.

Jadi inilah ‘perintah baru’ (1Yoh 2:8): Dalam Yesus, kita adalah ciptaan baru. Sekarang kita mampu untuk memenuhi hasrat Allah bagi kita dengan cara yang melampaui kemampuan manusiawi kita. Kita dapat mengasihi saudara-saudari kita dengan kasih Kristus – kasih yang mempunyai kuasa untuk mencerahkan dan mentransformasikan. Kita dapat mengampuni musuh-musuh kita dengan belaskasih Kristus. Kita dapat menjadi taat seturut contoh yang diberikan Yesus sendiri, dengan kekuatan yang belum pernah kita miliki sebelumnya. Dengan demikian kita mencerminkan Kristus bagi orang-orang lain; menjadi alter Christus, another Christ, mirror of Christ. Orang-orang kudus seperti Fransiskus dari  Assisi, Thomas More, Ignatius dari Loyola, Yohanes Maria Vianney, Maximilian Kolbe, Padre Pio dan banyak lagi telah membuktikan bahwa yang baru diuraikan tadi bukanlah isapan jempol belaka. Kita pun mendapat kesempatan yang sama untuk memenuhi panggilan Allah kepada kekudusan … untuk hidup suci. Paulus menulis, “Karena inilah kehendak Allah: Pengudusanmu, ……… Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus” (1Tes 4:4.7).

Bagaimana kita menginternalisasikan kebenaran-kebenaran Injili ke dalam kehidupan kita? Bagaimana kita dapat menjadi ciptaan baru? Setiap hari kita kita harus menyediakan waktu untuk bersama dengan Tuhan, mohon kepada-Nya untuk membuka diri kita bagi kuasa Roh Kudus-Nya. Selagi kita tetap setia kepada-Nya dalam doa-doa harian, selagi kita menerima sakramen-sakramen, selagi kita membaca dan merenungkan firman Allah dalam Kitab Suci, kita pun akan mulai berubah. Tuhan mempunyai karya besar untuk dilakukan-Nya dalam diri kita masing-masing. Kita harus sabar dalam mengalami jatuh-bangunnya perjalanan iman kita. Pada waktu kita jatuh ke dalam dosa, dengan rendah hati kita harus kembali kepada Yesus dan mohon pengampunan dan rahmat-Nya. Setiap hari memberikan kepada kita kesempatan untuk memuliakan Tuhan dan untuk diubah menjadi lebih serupa lagi dengan Dia.

DOA: Bapa surgawi, hasrat-Mu bagi kami tanpa batas. Karena begitu mengasihi dunia dan seisinya, Engkau mengutus Putera-Mu yang tunggal. Dia menebus kami dan Roh Kudus-Mu menguduskan kami. Meskipun kami tidak pantas, kami mohon agar dibentuk menjadi ciptaan baru. Kami ingin berdiam di dalam Engkau selamanya. Amin.

Cilandak, 22 Desember 2009
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply