(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Adven IV, 20-12-09)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:39-45). 

Kita semua tentu kenal gambaran yang dilukiskan oleh Lukas: “Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya …..” (Luk 1:39-41). Para pelukis, sutradara dan seniman teater maupun perfilman dari pelbagai generasi telah mencoba untuk menggambarkan kunjungan Maria kepada Elisabet ini, mereka mencoba untuk   menyampaikan harapan penuh sukacita serta meluap-luap yang ditimbulkan, ketika Elisabet menyuarakan seruan kemanusiaan kepada Santa Perawan Maria dari zaman ke zaman: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42).

Pada pertemuan ini, hukum memberi jalan kepada janji, nubuatan kuno bertemu dengan pemenuhan ilahi, dan busur yang lama dengan yang baru. Elisabet yang mandul, yang tidak mampu memberi kehidupan, dikasihi dan diberkati Allah. Elisabet membalas kasih Allah dengan mengasihi-Nya dan membuat dirinya selalu terbuka bagi Sang Pemberi Kehidupan. Jadi dia pun “penuh dengan Roh Kudus” (Luk 1:41) dan mengenali Maria sebagai bejana penyelamatan Allah. Tidak dengan kepahitan atau rasa iri, tetapi dengan penuh sukacita, dia menyetujui tempat yang lebih tinggi bagi Maria, “ibu Tuhan-ku” (Luk 1:43). Laksana bayangan Perjanjian Lama yang digantikan oleh hal-hal baik dari Perjanjian Baru, Elisabet pun rela untuk mundur. Dia pun memberkati Maria dan semua umat beriman: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana”  (Luk 1:45).

Maria yang pendiam dan masih muda usia itu berkunjung kepada Elisabet saudaranya yang sudah tua namun penuh iman, guna mensyeringkan hal baru yang dilakukan Allah atas dirinya. Kedatangannya ke rumah Zakharia di Ain Karem, di pegunungan Yehuda, menegaskan kewaspadaan penuh doa dari para pelayan setia YHWH. Dalam kunjungannya guna merayakan ‘keberuntungan’ saudaranya, Maria membawa rahmat dan sukacita yang berlimpah. Dengan rendah hati Maria menerima kehormatan yang diberikan kepadanya oleh Elisabet dan dia pun langsung mengembalikan kehormatan itu kepada Tuhan yang diagungkan jiwanya, lewat kidungnya yang sangat indah, yang kita kenal sebagai Magnificat  (Luk 1:46-55).

Pada setiap masa Adven kita semua diundang untuk memberi kesaksian atas peristiwa yang dramatis ini. Kita datang dengan luka-luka dan dosa-dosa sepanjang tahun ini. Maukah kita menahan diri agar tidak merangkul luka-luka dan dosa-dosa yang baru, agar tidak takut akan kekecewaan dan frustrasi? Atau, maukah kita meniru Elisabet dan dengan penuh sukacita menyambut kedatangan Sang Juruselamat Yesus yang telah datang ke tengah-tengah kita?

DOA: Tuhan Yesus, kami meletakkan semua ketakutan, kesedihan dan dosa kami di hadapan-Mu. Dengan hati yang tulus dan rendah hati kami menyesali segala dosa kami, baik lewat pikiran, perkataan, perbuatan maupun kelalaian kami. Dengan keterbukaan hati kami menyambut kedatangan hidup baru yang Engkau tawarkan. “Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat”  (Mzm 80:3). Amin.   

Cilandak,   Desember 2009
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply