(Bacaan Injil Misa Kudus, Pekan Biasa I, Jumat 15-1-10)

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu -, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan pertama: 1Sam 8:4-7.10-22a.
Pernyataan mana yang menurut pendapat anda lebih mengesankan pada pendengar kata-kata Yesus tadi? “Dosa-dosamu sudah diampuni” atau “Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah” (Mrk 2:9)? Markus menceritakan kepada kita bahwa ketika mereka melihat orang lumpuh itu berjalan, kerumunan orang banyak itu “semua takjub lalu memuliakan Allah”  (Mrk 2:12). Seringkali orang-orang dibuat lebih terkesan dengan tanda-tanda lahiriah, pelbagai ‘tanda heran’ (signs and wonders) ….. daripada perubahan-perubahan batiniah yang sesungguhnya dapat jauh lebih mengandung arti. Orang lumpuh itu barangkali dipengaruhi dengan sangat mendalam oleh pengalamannya akan pengampunan Allah. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menandingi kebebasan dan sukacita yang datang dari kenyataan bahwa Yesus mengatakan kepada kita secara pribadi bahwa kita sudah diampuni.

Dinamika serupa dapat kita lihat dalam cerita mengenai hasrat orang-orang Israel untuk mempunyai seorang raja di dunia ini, seperti bangsa-bangsa tetangganya (1 Sam 8:4-7, 10-22a). Gagasan untuk mendirikan sebuah kerajaan dirasakan lebih memikat, dengan kata lain mempunyai daya tarik yang lebih besar daripada diperintah oleh Allah yang tak kelihatan.

Melalui Samuel, Allah memperingatkan orang-orang Israel mengenai berbagai perangkap atau kesukaran tersembunyi yang kelak akan dialami mereka apabila diperintah oleh seorang penguasa-manusia. Akan tetapi orang-orang Israel mengambil sikap ‘ngotot’ – mereka mendesak terus – maka Allah pun memberikan kepada mereka seorang raja. Allah menggunakan situasi ini untuk mengajar bahwa status mereka di antara bangsa-bangsa tetangga tidak ada artinya dibandingkan dengan peranan mereka sebagai suatu umat yang dipilih dan dikasihi oleh-Nya.

Dalam hikmat-kebijaksanaan-Nya yang tanpa batas, Allah menggunakan insiden-insiden sejarah ini untuk menunjukkan kepada kita sekalian apa sebenarnya yang ada bagi kita di pusat kedalaman hati-Nya. Allah tidak begitu berprihatin atas penampilan lahiriah kita ketimbang hati kita. Yesus menyembuhkan orang lumpuh untuk menunjukkan kepada orang-orang yang suka mencela-Nya, bahwa “Anak Manusia berkuasa  mengampuni dosa di bumi ini” (Mrk 2:10). Kemampuan baru orang lumpuh itu untuk berjalan adalah suatu tanda dari kebebasan batinnya, yakni kebebasan dari ikatan dosa dan maut. Tidak saja tubuhnya dibuat utuh, yang lebih penting adalah bahwa hatinya juga dibuat utuh.

Allah sungguh menghendaki untuk menyembuhkan kita dan membuat kita utuh, akan tetapi Dia melakukannya sedemikian agar kita lebih bebas untuk mengasihi-Nya dan melayani umat-Nya. Allah ingin menyingkirkan apa saja yang menghalangi kemampuan kita untuk memberikan kesaksian atas kehadiran-Nya dan melakukan kehendak-Nya di bumi ini. Allah menyembuhkan kita secara fisik dan rohani sehingga kita mencerminkan kesempurnaan dari kemuliaan dan kuasa-Nya. Marilah kita membuka hati kita kepada Yesus dan memperkenankan pengampunan-Nya dan penyembuhan-Nya menjamah roh dan tubuh kita.

DOA: Tuhan Yesus, dalam iman kami mohon penyembuhan dari-Mu. Engkau tahu kebutuhan-kebutuhan kami. Engkau juga tahu kelemahan-kelemahan kami, ya Tuhan. Datanglah ya Tuhan dan buatlah kami utuh. Amin.  

Cilandak, 5 Januari 2010
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply