Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Kebanyakan kita memandang tahun baru sebagai waktu tepat untuk memulai suatu awal yang baru – suatu waktu untuk berbalik dari cara hidup dan kebiasaan yang lama untuk mulai dengan cara hidup dan kebiasaan yang baru. Sesungguhnya setiap tahun kita mempunyai banyak kesempatan untuk mulai dengan suatu hidup yang baru. Masa-masa dalam liturgi Gereja, seperti Adven, Natal, Prapaskah dan Paskah adalah masa-masa istimewa penuh rahmat. Peristiwa-peristiwa penting dalam hidup kita, misalnya peringatan pernikahan, pengucapan profesi religius, atau perayaan ulang tahun, semuanya memberi kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru. Apabila kita memikirkan hal tersebut, setiap hari sebenarnya memberi kesempatan kepada kita untuk membuat langkah awal memasuki hidup baru tersebut. Bahkan, setiap jam dan menit dalam kehidupan kita menyediakan kemungkinan sedemikian. Masalah yang seringkali kita hadapi adalah, bahwa meskipun kita mempunyai niat yang baik, seringkali kita tidak memiliki ketetapan hati untuk mewujud-nyatakan niat-niat yang telah kita buat sendiri untuk mulai dengan hidup yang baru itu. Yesus sendiri bersabda kepada para murid-Nya di taman Getsemani: “…roh memang berniat baik, tetapi tabiat manusia lemah” (Mat 26:41). 

Agar supaya kita tetap teguh dalam melangkah maju ke dalam hidup yang baru dan meninggalkan hidup lama kita, marilah berpegang teguh pada pribadi Yesus dan janji-janji-Nya sendiri. Siapa Yesus dan apa janji-janji-Nya? Berikut ini adalah beberapa (saja) firman-Nya:

1.      “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6).
2.      “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu” (Yoh 14:18).
3.      “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20).
4.      “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5).
5.      “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11:28-30).

Yesus berjanji, bahwa setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, Dia akan mengutus Roh Kudus, Penolong (lihat Yoh 14:15 dsj.): “… kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8). Melalui karunia Roh Kudus inilah para murid mampu berdiam dalam kasih-Nya (lihat Yoh 15:5; butir 4 di atas) dan berpaling kepada-Nya untuk dikuatkan dan disegarkan kembali (lihat Mat 11:28-30; butir 5 di atas). Melalui kuasa Roh Kudus, semua yang dijanjikan Yesus kepada para murid-Nya yang awal pada akhirnya menjadi kenyataan. Kita pun dengan penuh syukur percaya bahwa semua yang dijanjikan Yesus itu akan menjadi kenyataan bagi diri kita, artinya menjadi pengalaman iman kita pula. Seperti Petrus, Yakobus, Yohanes, Maria dan lain-lainnya, kita pun yakin akan mengalami kehadiran Allah setiap saat. Kita dapat mengalami penghiburan, menerima pengarahan dan memiliki pengharapan teguh, sementara kita menempatkan hati kita di tangan-Nya. Pengalaman kita akan Dia akan terus bertumbuh-kembang dan menjadi semakin mendalam manakala kita  semakin teratur dalam kehidupan doa kita, berjumpa dengan Dia dalam sakramen-sakramen – teristimewa Ekaristi Kudus, dan juga dalam pembacaan dan permenungan Kitab Suci. 

Selagi kita membuka diri bagi Roh Kudus, kita akan melihat bahwa tidak hanya cintakasih kita kepada Allah Tritunggal menjadi semakin mendalam, tetapi juga cintakasih kita kepada sesama. Pada zaman penuh perpecahan dan saling tidak percaya satu sama lain, – dalam keluarga, antara golongan etnis yang satu dengan yang lain, agama yang satu dengan yang lain, bahkan antara kita yang sama-sama mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat – maka cintakasih ini memiliki kuasa untuk menyembuhkan dan mempersatukan. Bayangkanlah kesaksian mahadahsyat yang dapat diberikan oleh ‘Gereja Kristus’ yang bersatu di tengah-tengah dunia yang penuh derita karena sudah sekian lama berada di bawah pengaruh kuasa kegelapan.

Seperti biasanya dalam Gereja Katolik, tanggal 18-25 Januari adalah ‘Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani.’ Dalam pekan ini seluruh umat berdoa untuk ujud persatuan ini (lihat Yoh 17:1-26). Yesus berdoa kepada Bapa-Nya: “Aku berdoa … untuk mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. … Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti kita” (Yoh 17:9-11). Menurut almarhum Paus Yohanes Paulus II, “Kesatuan Tubuh Kristus didasarkan pada kegiatan Roh, dijamin oleh Pelayanan Apostolik, dan ditopang oleh cintakasih timbal balik (lihat 1Kor 13:1-8) (Tertio Millennio Adveniente, 47). Sementara kita berdoa untuk kesatuan Gereja, baiklah kita mengkomit diri kita kepada Roh Kudus. Baiklah kita mencari penghiburan dan kekuatan dari Roh Kudus setiap hari dalam doa kita. Anda mohon kepada-Nya untuk membuka hatimu dan membawamu ke hadapan hadirat Yesus. Lakukanlah pertobatan dan ampunilah mereka yang telah menyakitimu. Apabila kita mempersembahkan keluarga kita dan seluruh Gereja kepada Roh Kudus, maka kita akan melihat lahirnya kesatuan. Bersama-sama kita berdoa: “Datanglah, Roh Kudus! Jadikanlah umat-Mu satu!

Salam persaudaraan,
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply