(Bacaan Injil Misa Kudus, Pekan Biasa I, Sabtu 16-1-10)

Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”  Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”  Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa”  (Mrk 2:13-17).

Yesus datang untuk menyelamatkan semua orang berdosa. Yesus datang sebagai Sang Terang di tengah-tengah kegelapan (lihat Yoh 1:5) dan Ia menyingkapkan dosa dan ketidakpercayaan manusia sebagai alasan adanya kegelapan itu. Lewi si pemungut cukai hanyalah salah seorang dari banyak orang yang menanggapi panggilan Yesus. Namun demikian, karena Lewi dikenal sebagai seorang ‘pendosa’, banyak orang dalam lembaga keagamaan Yahudi merasakan sesuatu yang memalukan bahwa Yesus koq mau menyediakan waktu untuk seorang manusia seperti Lewi. Akan tetapi, Yesus tahu bahwa Dia diutus Bapa teristimewa bagi orang-orang seperti Lewi ini, yang tahu kebutuhan mereka dan dengan penuh kemauan menerima-Nya.

Ada seorang kudus yang kurang dikenal namanya, yakni Joseph Cafasso – seorang imam praja anggota Ordo Ketiga (Sekular) S. Fransiskus. Orang kudus ini memberikan kepada kita sebuah contoh luarbiasa dari seseorang yang dipenuhi hasrat untuk membawa orang-orang kepada keselamatan. Santo Yohanes Bosco menulis tentang Santo Joseph Cafasso ini, yaitu bahwa hatinya “seperti tungku perapian yang dipenuhi dengan api cintakasih ilahi, iman yang hidup, harapan yang teguh dan cintakasih yang berapi-api” (Pidato puji-pujian kedua tentang S. Joseph Cafasso). Joseph Cafasso lahir pada tahun 1811 dekat Turino, Italia. Dia dikenal kesuciannya sejak masih anak-anak. Hasratnya akan kekudusan dan komitmennya untuk keselamatan orang-orang lain semakin kuat sejalan dengan pertumbuhan kematangannya sebagai seorang pribadi. Setelah pentahbisannya sebagai seorang imam, dia diundang untuk berkhotbah, membimbing retret-retret dan melayani dalam sakramen rekonsiliasi di banyak tempat yang berbeda-beda. Akan tetapi pelayanannya yang paling besar adalah di tengah-tengah para napi, terutama mereka yang sudah divonis hukuman mati.

Tidak seperti kebanyakan orang, Cafasso tidak merasa terganggu dengan kondisi buruk rutan (=penjara) yang merupakan sesuatu yang khas pada zamannya. Cafasso juga cepat mengenali bahwa kondisi para napi disebabkan adanya kebutuhan mereka akan evangelisasi. Oleh karena itu Cafasso berbicara kepada para napi itu tentang Allah. Seringkali secara ajaib, mereka mendengarkan dan memberi tanggapan. S. Yohanes Bosco menulis bahwa dengan cepat rumah penjara yang tadinya seperti neraka itu berubah menjadi sebuah habitasi orang-orang yang sudah belajar menjadi orang-orang Kristiani, dan karenanya mulai mengasihi dan melayani Allah pencipta mereka serta menyanyikan madah-madah pujian suci bagi nama Yesus yang terkudus. 

Joseph Cafasso melayani para napi yang sudah siap dihukum mati. Dia mendampingi lebih dari 60 napi pada waktu mereka menjalani hukuman mati. Puji Tuhan, Allah memakai Cafasso untuk mempertobatkan semua napi yang didampinginya sebelum kematian mereka. Seperti banyak sekali pendahulunya dari abad ke abad, Cafasso telah menanggapi ajakan Yesus, “Ikutlah Aku!”, dengan baik. Romo Joseph Cafasso sendiri wafat pada tanggal 23 Juni 1860, pada usia 49 tahun.[1]

DOA: Bapa surgawi, ajarlah kami semua untuk menghayati hidup kami seperti yang telah lakukan oleh Yesus, yakni di tengah-tengah orang-orang yang paling membutuhkan, dan untuk berbagi Kabar Baik  dengan mereka. Tolonglah kami untuk memiliki hasrat agar setiap orang dapat datang dan mengenal Yesus. Amin.  

Cilandak, 5 Januari 2010
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

[1] Marion A. Habig OFM, THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS, Chicago, Illinois: Franciscan Herald Press, hal. 458.
 


Comments




Leave a Reply