(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup, Selasa 26-1-10) 

Dari Paulus, rasul Kristus Yesus atas kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus. Kepada Timotius, anakku yang terkasih: Anugerah, rahmat dan  damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.

Aku mengucap syukur kepada Allah yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan aku selalu mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. Apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan aku yakin hidup juga di dalam dirimu. Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu melalui penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi, janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah (2Tim 1:1-8).

Bacaan Injil: Mrk 3:31-35. 

Pada hari ini Gereja memperingati secara khusus Timotius dan Titus, dua orang rekan-kerja Paulus dalam mewartakan dan menyebarkan Injil. Timotius adalah putera dari seorang ayah Yunani dan ibu Yahudi yang soleha. Para penulis biasanya melihat Timotius sebagai seseorang yang jauh lebih muda dari Paulus. Ia bergabung dengan Paulus pada perjalanan misionernya yang kedua, menolong sang rasul mendirikan gereja di Filipi dan menjadi seorang pemimpin gereja di Efesus (Kis 16:1-5; 1Tim 1:3). Di sisi lain Titus adalah seorang tangan-kanan Paulus yang paling dipercaya; peranannya instrumental dalam gereja-gereja Korintus dan Kreta (2Kor 8:16.23; Titus 1:5). 

Kedua orang ini menjadi orang kudus bukan karena mereka adalah manusia-manusia sempurna.  Misalnya saja Timotius; dia belum berpengalaman dan tidak yakin kepada dirinya sendiri dalam berurusan dengan orang-orang lain. Paulus harus mengingatkan Timotius bahwa Yesus telah menganugerahkan kepadanya suatu roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban yang lebih dari cukup untuk mengatasi kelemahan alamiah seseorang (2Tim 1:7). Kelihatannya Timotius juga memiliki perut (pencernaan) yang sering lemah (1Tim 5:23). Namun di sisi lain Timotius juga memiliki hati yang mengasihi Yesus. Dalam menempatkan kepentingan Yesus Kristus di atas segalanya, Paulus memandang tinggi sekali Timotius, seperti ditulisnya kepada jemaat di Filipi: “… tidak ada seorang pun padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia” (Flp 2:20). 

Apakah anda memiliki hati yang sungguh mengasihi Yesus? Apabila anda dapat menjawab “ya”. Maka sesungguhnya anda dapat membawa Kristus kepada orang-orang lain, seperti yang telah dilakukan oleh Timotius dan Titus. Kita semua tidak perlu menjadi orator atau pengkhotbah ulung untuk mewartakan Kabar Baik-Nya. Kita tidak perlu secara sempurna membersihkan diri dari segala dosa atau masalah dalam kehidupan kita, meski pun pertobatan batiniah tetap merupakan syarat utama. Yang kita perlukan adalah hati yang dapat diajar, hati yang mengasihi Yesus dan ingin melayani Dia dan orang-orang lain yang kita hadapi. 

Sayangnya, ada begitu banyak orang yang memandang diri mereka masing-masing tidak dalam suatu terang yang positif, melainkan dalam terang yang negatif. Orang-orang itu memusatkan perhatian mereka pada segala hal yang menurut pandangan mereka adalah penghalang-penghalang dalam hidup Kristiani mereka. Apabila hal yang begitu merupakan kecenderungan pada diri kita, maka pantaslah kita mohon kepada Yesus agar kita mampu memandang diri kita sendiri seperti Dia memandang kita. Ingatlah selalu bahwa Yesus sangat mengasihi kita masing-masing – Dia menebus kita, membersihkan kita oleh darah-Nya, memenuhi diri kita dengan Roh-Nya dan melengkapi kita semua sebagai agen-agen yang dinamis bagi kerajaan-Nya. Pesan Paulus tetap relevan sampai hari ini: “Janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita” (2Tim 1:8). 

Oleh karena itu marilah kita memberi kesempatan kepada Yesus agar bekerja lewat diri kita hari ini juga. Lupakan dulu segala keterbatasan kita dan pikirkanlah apa yang dapat dilakukan-Nya melalui diri kita. Kita masing-masing mohon kepada-Nya agar diberikan kesempatan untuk bertemu atau berada dalam suatu situasi, dimana kita dapat mensyeringkan kasih-Nya dengan orang lain. Kita boleh yakin bahwa apa yang kita lakukan itu menyenangkan hati-Nya. 

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban, sama seperti yang telah Dikau anugerahkan kepada Timotius dan Titus. Berikanlah kepadaku keberanian untuk mengatasi keraguan apa saja yang ada dalam diriku untuk menjadi pelayan-Mu. Amin. 

Cilandak, 20 Januari 2010 (Peringatan S. Jean-BaptisteTriquerie, Imam Martir (+1794), OFMConv.) 
Sdr. F.X. Indrapradja. OFS
 


Comments




Leave a Reply