(Bacaan Injil Misa Kudus, Pekan Biasa I, Kamis 14-1-10)

Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru (Mrk 1:40-45).

Kita dapat saja berspekulasi mengenai apa yang dipikirkan oleh orang kusta itu ketika Yesus menyembuhkannya tetapi memberinya peringatan keras untuk tidak ‘membocorkan info’ sehubungan dengan peristiwa mukjizat ini (lihat Mrk 1:44). Barangkali orang kusta yang baru disembuhkan itu tidak tahan lagi menahan entusiasme yang melanda dirinya, lalu dia pun pergi ke mana-mana menceritakan peristiwa yang baru dialaminya. Mungkin saja dia berpikir, dengan menyebarkan informasi ini ke mana-mana, dia melakukan sesuatu yang baik bagi Yesus. Markus menggunakan kisah ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan terlihat sepanjang Injil, yakni pertama: Yesus meminta dengan tegas dipegangnya “rahasia mesianis” dan kedua: ketegangan yang segera akan mengelilingi-Nya.

Dalam seluruh Injil-nya, Markus menggambarkan Yesus yang ‘enggan’ menyandang gelar ‘Mesias’ (lihat Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan ‘keengganan’ Yesus ini untuk mengajar para pembaca, bahwa bukan segala mukjizat itulah yang mewahyukan diri-Nya sebagai Mesias. Mukjizat-mukjizat itu menunjuk kepada suatu perwahyuan yang lebih penuh, yakni: Dia yang diurapi Allah akan membebaskan kita dari dosa oleh kematian-Nya di kayu salib. Oleh karena itu siapa saja yang mau menjadi murid sang Mesias ini harus memanggul salib-Nya dan mengikuti-Nya (lihat Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Orang kusta yang disembuhkan itu mengabaikan perintah Yesus, namun – seperti diterangkan di atas – bisa saja atas dasar ‘maksud baik’ manusiawi. Tetapi dengan demikian dia membawa masuk segala ketegangan yang akan mempengaruhi pelayanan-pelayanan Yesus selanjutnya. Sebelum itu semuanya berjalan lancar dan fantastis: mukjizat-mukjizat, pengusiran setan dsb. Akan tetapi tiba-tiba muncul kerumitan: “…Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota”  (Mrk 1:45). Perubahan suasana ini memberi petunjuk mengenai konfrontasi yang akan dialami Yesus dengan orang-orang Farisi dll. – suatu konfrontasi yang akhirnya akan membawanya ke kayu salib (lihat Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus mengetahui benar bahwa pelayanan-Nya akan menyebabkan timbulnya konflik. Orang kusta yang disembuhkan itu tidak kooperatif, dia mengabaikan perintah Yesus atau mungkin juga berpikir untuk ‘memperbaiki’ rencana Allah. Serupa halnya dengan kodrat manusia pada sisi buruknya, mau tidak mau akan berkonflik dengan Kerajaan Allah. Namun Yesus tidak pernah membiarkan konflik ini menjadi penghalang bagi-Nya untuk memanggil orang-orang datang kepada-Nya. Yesus menerima biaya/harga dari konflik, meski maut sekali pun, guna membebaskan kita.

Marilah kita mengikuti Mesias kita yang dengan rendah hati begitu taat kepada Bapa surgawi dalam segala hal. Janganlah kita dengan ‘seenak perut’ mengambil dan memilih apa yang mau kita taati saja (artinya ada yang kita tidak ambil dan tidak pilih untuk ditaati). Sebaliknya berikanlah kepada Yesus keseluruhan hati kita. Hanya dengan demikian kita akan mengalami sukacita sesungguhnya dari suatu relasi yang lebih mendalam dengan-Nya.

Betapa pun catatan negatif yang ada pada kita tentang orang kusta itu, kita harus sangat menghargai imannya yang begitu kuat, seperti tercermin dalam kata-kata permohonannya kepada Yesus: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku” (Mrk 1:40). Permohonan penuh iman inilah yang menggerakkan hati Yesus oleh belas kasihan, dan Yesus pun menyembuhkan orang itu (lihat Mrk 1:41-42). Sungguh patut kita teladani!

DOA: Ya Tuhan Yesus, melakukan kehendak-Mu adalah sukacitaku. Terima kasih Tuhan, Engkau membebaskan aku sehingga dapat melayani-Mu. Amin.

Cilandak, 4 Januari 2010
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply