Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Hari Natal baru saja berlalu meskipun untuk lebih dari seminggu ke depan kita masih dapat menikmati masa Natal. Semoga Natal kali ini sungguh membawa berkat berkelimpahan bagi kita semua.

Hari ini Gereja merayakan ‘Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf’. Pesta ini tentunya mengingatkan kita semua (teristimewa yang menghayati hidup perkawinan) akan perlunya meneladani keluarga ideal, yaitu keluarga kudus Nazaret. Kalau kita berbicara mengenai hidup berkeluarga, maka tentunya kita tidak harus membahas makna hidup perkawinan. Saya ambil beberapa petikan (saja) dari dokumen-dokumen Gereja, sekadar untuk mengingatkan kita semua:

§           Para suami-istri Kristiani dengan sakramen perkawinan menandakan misteri kesatuan dan cintakasih yang subur antara Kristus dan Gereja, dan ikut serta menghayati misteri itu (lihat Ef 5:32); atas kekuatan sakramen mereka itu dalam hidup berkeluarga maupun dalam menerima serta mendidik anak saling membantu untuk menjadi suci; dengan demikian dalam status hidup dan kedudukannya mereka mempunyai karunia yang khas di tengah Umat Allah (lihat 1Kor 7:7). Sebab dari persatuan suami istri itu tumbuhlah keluarga, tempat lahirnya warga-warga baru masyrakat manusia, yang berkat rahmat Roh Kudus karena baptis diangkat menjadi anak-anak Allah, untuk melestarikan Umat Allah dari abad ke abad. Dalam gereja-keluarga itu hendaknya orangtua dengan perkataan maupun teladan menjadi pewarta iman pertama bagi anak-anak mereka; orangtua wajib memelihara panggilan mereka masing-masing, secara istimewa panggilan rohani (Lumen Gentium, 11; 21-11-1964).

§           Allah sendirilah Pencipta perkawinan … Kasih sejati suami-istri ditampung dalam cinta ilahi, dan dibimbing serta diperkaya berkat daya penebusan Kristus serta kegiatan Gereja yang menyelamatkan, supaya suami-istri secara nyata diantar menuju Allah, lagi pula dibantu dan diteguhkan dalam tugas mereka yang luhur sebagai ayah dan ibu. Oleh karena itu suami-istri Kristiani dikuatkan dan bagaikan dikuduskan untuk tugas-kewajiban maupun martabat status hidup mereka dengan sakramen yang khas. Berkat kekuatannyalah mereka menunaikan tugas mereka sebagai suami-istri dalam keluarga; mereka dijiwai semangat Kristus, yang meresapi seluruh hidup mereka dengan iman, harapan dan cintakasih; mereka makin mendekati kesempurnaan mereka dan makin saling menguduskan, dan dengan demikian bersama-sama makin memuliakan Allah.  

Maka dari itu, mengikuti teladan orangtua dan berkat doa keluarga, anak-anak, bahkan semua yang hidup di lingkungan keluarga, akan lebih mudah menemukan jalan perikemanusiaan, keselamatan dan kesucian. Suami-istri, yang mengemban martabat serta tugas kebapaan dan keibuan, akan melaksanakan dengan tekun kewajiban memberi pendidikan terutama di bidang keagamaan, yang memang pertama-tama termasuk tugas mereka.

Anak-anak, selaku anggota keluarga yang hidup, dengan cara mereka sendiri ikut serta menguduskan orangtua mereka. Sebab mereka akan membalas budi kepada orangtua dengan rasa syukur terima kasih, cinta mesra serta kepercayaan mereka, dan seperti layaknya bagi anak-anak akan membantu orangtua di saat-saat kesukaran dan dalam kesunyian usia lanjut. ……. Hendaknya keluarga dengan kebesaran jiwa berbagi kekayaan rohani juga dengan keluarga-keluarga lain. Maka dari itu keluarga Kristiani, karena berasal dari pernikahan, yang merupakan gambar dan partisipasi perjanjian cintakasih antara Kristus dan Gereja (lihat Ef 5:32), akan menampakkan kepada semua orang kehadiran Sang Penyelamat yang sungguh nyata di dunia dan hakekat Gereja yang sesungguhnya, baik melalui kasih suami-istri, melalui kesuburan yang dijiwai semangat berkorban, melalui kesatuan dan kesetiaan, maupun melalui kerja sama yang penuh kasih antara semua anggotanya (Gaudium et Spes,48; 7-12-65).

§           “… hakekat dan peranan keluarga pada intinya dikonkritkan oleh cintakasih. Oleh karena itu keluarga mengemban misi untuk menjaga, mengungkapkan serta menyalurkan cintakasih. Dan cintakasih itu merupakan pantulan hidup serta partisipasi nyata dalam cintakasih Allah terhadap umat manusia, begitu pula cintakasih Kristus Tuhan terhadap Gereja Mempelai-Nya (Familiaris Consortio, 17; 22-11-1981).

Seandainya ada ujian teori dan praktek tentang Hidup Perkawinan dan Keluarga ini, maka mungkin saya lulus dalam ujian teori tetapi rasanya sih belum mampu lulus ujian prakteknya, padahal sudah menjalani hidup berkeluarga lebih dari 40 tahun lamanya. Saya masih berjuang terus, dan Insya Allah dapat mempertanggung-jawabkan semuanya dengan baik dalam ‘ujian akhir’ kelak di hadapan sang Hakim Agung; ‘lulus dengan pertimbangan’ (tidak perlu cum laude, summa cum laude atau magna cum laude) saja akan membuat diriku berseru: Terpujilah Allah selama-lamanya!” Oleh karena itu saudara-saudariku yang terkasih, marilah kita berjuang terus!

Dalam kesempatan ini saya menyampaikan dua bahan renungan Alkitabiah, yaitu untuk hari Rabu tanggal 30 dan hari Kamis tanggal 31 Desember 2009. Semoga membawa berkat kepada anda sekalian.

Salam persaudaraan, 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply