(Bacaan Injil Misa Kudus, Pekan Biasa II, Sabtu 23-1-10) 
(Hari Keenam Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani) 

Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Orang banyak datang lagi berkerumun, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi  (Mrk 3:20-21). 

Tentunya sangat sulit bagi keluarga Yesus dan para sahabat untuk memahami perilaku-Nya. Dia hampir selalu dikerumuni oleh kumpulan orang banyak, terlibat konflik dengan para pemuka agama Yahudi dan bekerja serta berdoa lama sampai tengah malam. Bacaan kali ini memberikan kepada kita satu contoh lagi betapa keras Yesus bekerja. Sementara Dia kembali dari atas bukit bersama para rasul yang baru ditunjuk-Nya, Yesus menuju sebuah rumah, dan yang didapati-Nya adalah kerumunan orang banyak lagi yang sedang menunggu Dia. Tergerak oleh belarasa, Yesus melayani orang banyak ini sampai membuat diri-Nya dan para rasul-Nya juga begitu sibuk, sehingga untuk makan pun kelihatannya mereka tak mempunyai waktu. 

Keluarga Yesus dan para sahabat, yang selama ini mengamati gerak-gerik Yesus, mulai menjadi prihatin jangan-jangan Yesus bekerja tanpa menggunakan akal sehat. Mungkin saja Dia juga sudah tidak waras. Akan tetapi, meski keluarga-Nya kuatir dan takut  bahwa Yesus tidak berkarya seperti para rabi lainnya, Yesus memiliki keprihatinan tak tergoyahkan sehubungan dengan Kerajaan Allah. Yesus dengan penuh kemauan mengambil risiko menantang berbagai rutinitas dan tradisi orang-orang Yahudi demi Kerajaan Allah ini. Hati-Nya berkobar-kobar dengan suatu hasrat untuk melakukan kehendak Bapa dengan menolong siapa saja yang datang kepada-Nya dengan berbagai macam kebutuhan. 

Cerita semacam ini mengungkapkan betapa dalam Allah mengasihi kita semua. Yesus tidak malu melayani orang banyak yang berkerumun di luar rumah. Demikian pula, Dia tidak akan malu melayani kita apabila kita datang kepada-Nya dengan segala kelemahan kita. Yesus adalah ‘Sang Sabda yang menjadi Daging’, ‘Firman yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita’ (Yoh 1:14), sehingga dengan demikian Dia dapat menyembuhkan kita. Dalam cintakasih, Dia tidak menolak kita, tetapi merangkul kelemahan-kelemahan kita. Keluarga-Nya yang sejati adalah semua orang yang datang kepada-Nya dengan iman, yang percaya bahwa Dia telah datang dari Bapa surgawi untuk menyelamatkan kita dari semua dosa dan kegelapan. 

Sebagai contoh, harapan kita untuk bersatu dengan saudara-saudari Kristiani yang lain kelihatannya meragukan – malah terasa tidak mungkin – kalau semua dilihat, dipikirkan dan diikhtiarkan secara manusiawi belaka. Namun kita akan memperoleh jawabannya kalau kita memandang dengan mendalam kepada hati Kristus dan memperkenankan Dia membebaskan kita dari sikap-sikap dan pandangan-pandangan yang menyebabkan kita – orang-orang Kristiani – terpisah satu sama lain selama ini. 

Hanya apabila kita mau datang menghadap Yesus seperti orang banyak yang diceritakan dalam Injil di atas, kita dapat bertumbuh dalam pemahaman kita akan niat-niat-Nya sehingga dengan demikian kita semua dapat dipimpin oleh-Nya menuju persatuan dan kesatuan yang lebih mendalam lagi, teristimewa karena Dia sendiri sangat mendambakan persatuan dan kesatuan di antara para pengikut-Nya (lihat Yoh 17:1-26). 

DOA: Bapa surgawi, ajarlah kami untuk dapat lebih dekat lagi kepada Yesus, Anak Tunggal-Mu,  yang telah menjadi manusia seperti kami. Tolonglah kami untuk berjalan dalam roh belarasa, kesabaran dan persatuan, bersama dengan para saudara-saudari Kristiani lainnya, sampai tiba saatnya  kami dapat bertatap muka dengan-Mu. Amin. 

Cilandak, 10 Januari 2010 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments

10/14/2010 19:29

Wit without learning is like a tree without fruit. We should arm ourselves with knowledge.

Reply



Leave a Reply