Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Akhir tahun 2009 bagi bangsa Indonesia ditandai dengan kematian dua orang Putera Bangsa yang besar, Gus Dur dan Frans Seda. Mereka juga dekat satu sama lain. Ada persamaan dan tentunya ada perbedaan antara kedua pribadi ini. Namun ada satu kesamaan yang cukup terlihat, yaitu kesederhanaan hidup mereka masing-masing. Dewasa ini di negara kita tercinta ini, kesederhanaan adalah  suatu keutamaan yang langka, teristimewa di kalangan orang-orang yang memiliki kekuasaan dan uang.  Pada Hari Raya Penampakan Tuhan ini kita diingatkan akan keberadaan orang majus (suka disebut tiga raja) yang membawa tiga macam persembahan bagi Yesus. Meski mereka adalah orang-orang pintar, terasa adanya kesederhanaan dalam diri mereka, paling sedikit kesederhanaan iman. 

Di awal tahun ini kita dapat menghaturkan permohonan kepada Allah agar diberikan keutamaan kesederhanaan dalam menghayati kehidupan kita sehari-hari sepanjang tahun 2010 ini: kesederhanaan dalam berpikir, kesederhanaan dalam bersikap, kesederhanaan dalam berperilaku, kesederhanaan dalam beriman termasuk dalam berdoa, kesederhanaan dalam berpenampilan dan lain sebagainya.

Putera Allah hidup di dunia sebagai seorang pribadi yang sederhana. Dia menjadi anak dari kedua orangtua-Nya yang sederhana. Dia bekerja dengan tangan-tangan-Nya sendiri dan selama pelayanan-Nya di masyarakat Ia “tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). Ia menerima derma dari para perempuan yang menemani-Nya di sepanjang perjalanan-Nya mewartakan Kabar Baik. Ia lahir di gua/kandang; Ia mati di kayu salib. Perilaku Yesus juga sederhana. Dia berbicaraj dengan cara yang mudah dipahami oleh orang kebanyakan; Ia memilih mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang diambil dari kehidupan orang-orang sederhana. Dia mencoba menyembunyikan mukjizat-mukjizat-Nya dari mata orang banyak, dan pada waktu orang-orang ingin mengelu-elukan-Nya, Dia mengundurkan diri ke tempat yang sunyi/terpencil. Dia memilih orang-orang sederhana untuk menjadi pilar-pilar Gereja-Nya dan Ia melatih dan membina mereka dalam suatu cara hidup yang sederhana. Mereka harus datang ke hadapan orang-orang lain sebagai orang miskin. ‘Tanda-tanda luar’ yang digunakan dalam sakramen-sakramen-Nya adalah realitas-realitas sederhana: roti dan anggur, air dan minyak. Sakramen-sakramen mencakup kegiatan makan dan minum, pencucian dan pengurapan, yang diiringi dengan kata-kata sederhana.

Kita bertanya kepada diri kita sendiri: Mengapa Yesus menginginkan kesederhanaan menjadi tanda dari diri-Nya dan Gereja-Nya? Apakah yang ada di dunia ini yang dapat mengungkapkan kekayaan dan kelimpahan yang dibawa Kristus bagi kita dari Bapa surgawi? Realitas-realitas dunia yang paling ‘hebat’ sekali pun seakan sampah apabila dibandingkan dengan Allah yang hidup; hikmat-kebijaksanaan dunia adalah kebodohan apabila dibandingkan dengan perintah Yesus, bahwa kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati kita, dan mengasihi satu sama lain seperti Yesus mengasihi kita. Allah ingin selalu hadir di dunia dengan berpakaian sederhana. Kesederhanaan adalah yang terbaik untuk menyembunyikan dan pada saat sama mengungkapkan yang Ilahi. Dengan demikian gaya-hidup sederhana juga yang paling cocok bagi mereka yang hidup dalam Kristus.

Kalau kita mencari dulu kerajaan Allah dan memandang yang lain-lainnya hanya sebagai sebuah karunia atau anugerah (lihat Mat 6:33), maka Dia menghadirkan diri kepada kita atas kemauan-Nya sendiri. Hidup enak, mewah, makmur dan sesuai dengan standar kehidupan orang-orang lain at any price (at all cost): ini semua bukan tujuan-tujuan hidup yang layak dikejar-kejar. Karena Yesus bersama kita selalu, maka kita akan mampu menerima suatu hidup serba-kekurangan yang sungguh terasa, dan penolakan dari orang-orang di sekeliling kita.

Kesederhanaan ini meluas kepada urusan-urusan kita dengan orang-orang lain. Kita semua menjadi saudara dan saudari. Kesederhanaan hidup membawa kita lebih dekat kepada mayoritas manusia di atas bumi, yang terpaksa hidup sederhana atau dalam kemiskinan yang primitif. Kesederhanaan hidup kita seharusnya menguntungkan orang-orang lain, karena kita hanya menipu diri sendiri kalau kita menolak banyak hal tetapi di sisi lain mengeluarkan banyak uang untuk kenikmatan diri kita sendiri. Suatu cara hidup yang sederhana membuat kita tergantung pada orang-orang lain. Kita tidak lagi bermanja-manja dalam kemewahan hidup berdikari dalam sebanyak mungkin bidang kehidupan kita. Misalnya kita pergi ke orang-orang lain untuk mohon pertolongan mereka apabila kita tidak dapat mendapatkan sesuatu keperluan dengan upaya sendiri. Di lain pihak kita juga selalu siap untuk menolong orang lain. Dengan demikian kesederhanaan membantu perkembangan hidup kita bersama Kristus dan sesama, sementara kekayaan justru merupakan suatu rintangan yang menghalangi hidup seperti itu.

Semoga dengan rahmat-Nya Allah mengatasi rintangan-rintangan yang disebabkan ‘kemakmuran’ yang kita miliki, sehingga meskipun kita memiliki harta benda dan pengetahuan yang relatif cukup, kita tetap dapat menjadi miskin di hadapan Allah dan menjadi saudara-saudari bagi semua orang.

Salam persaudaraan,
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments

08/11/2010 20:27

Love is the greatest refreshment in life.

Reply



Leave a Reply