(Bacaan Injil Misa pada Hari Raya SP Maria Bunda Allah, Oktaf Natal, Jumat 1-1-10)

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Ketika melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkataan itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Kemudian kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya (Luk 2:16-21).

Selagi masa Natal berjalan dari hari demi hari, Roh Kudus terus mengundang kita untuk merenungkan peristiwa-peristiwa di sekitar kelahiran Yesus. Pesta yang dirayakan Gereja hari ini secara khusus penting karena memusatkan perhatian kita pada kenyataan bahwa Maria mengandung Putera Allah dalam rahimnya. Sejak saat dikandung, Yesus dari Nazaret – dalam pribadi-Nya – memegang segala kepenuhan kasih Allah, rahmat-Nya dan kuasa-Nya. 

Tidak lama setelah melahirkan Yesus, para gembala berdatangan ke tempat di mana Yesus, Maria dan Yusuf berada. Mereka memberikan sebuah laporan (secara lisan tentunya) tentang malaikat yang mengumumkan kelahiran Mesias. Maria mendengarkan dengan penuh perhatian segala yang dikatakan para gembala itu. Bagi dirinya semua ini adalah sebuah misteri tentunya: segala perkataan itu  disimpan Maria di dalam hatinya dan direnungkannya (lihat Luk 2:19). Maria tidak rewel tentang bahaya-bahaya yang akan dihadapi oleh keluarga kecilnya. Dia juga tidak merasa cemas tentang apa yang kiranya akan terjadi di masa depan, atau menyesali apa yang seharusnya terjadi di masa lampau seandainya dia dan Yusuf tidak diminta memelihara Putera Allah. Sebaliknya, Maria dengan penuh perhatian mengamati segala cara kerja Allah sementara dia mengandung, melahirkan Yesus dan membesarkan-Nya. Maria tidak membiarkan firman dan tindakan Allah menjadi sekadar sekumpulan kenangan yang secara perlahan akan hilang; dia menyimpan semua itu tetap hidup dalam hatinya.

Demikian pula, Allah tidak ingin kebenaran-kebenaran-Nya menghilang dari pikiran kita. Allah menginginkan agar kita meniru Maria dengan memegang janji-janji-Nya dalam hati kita masing-masing sepanjang tahun. Sesungguhnya Allah memberikan tahun baru ini sebagai suatu kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam pengenalan kita akan kasih-Nya. Tentu saja Maria tidak hanya mempunyai kenangan akan peristiwa-peristiwa di masa lalu. Yesus selalu berada bersama Yesus, hari demi hari. Sekarang, lewat kuasa Roh Kudus kita pun dapat mengalami kehadiran Yesus dari hari ke hari. Ini adalah bagian dari janji Injil: Semakin banyak kita merenungkan dalam suasana doa siapa Yesus itu dan apa yang telah dilakukan-Nya, semakin dekat pula Dia menarik kita kepada diri-Nya.

Dalam tahun baru ini, marilah kita membangun niat dalam resolusi khusus, yaitu untuk menyisihkan waktu yang lebih banyak lagi setiap hari untuk kegiatan doa dan pembacaan/renungan Kitab Suci. Selagi anda berupaya dengan serius, anda pun akan mengalami bahwa firman Yesus menjadi firman hidup yang bekerja dalam dirimu dan mentransformasikan dirimu menjadi lebih serupa lagi dengan diri-Nya. Perkenankanlah hal itu terjadi. Biarlah tahun 2010 ini menjadi tahun bagi anda untuk merenungkan Yesus, sang Putera Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku agar kudapat memusatkan perhatianku pada Tuhan Yesus pada tahun 2010 ini. Jadikanlah Yesus hidup dalam hatiku sementara aku menyimpan firman-Nya dalam hati dan merenungkannya. Amin.

Cilandak, 27 Desember 2009
Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply