“Marilah kita memuliakan Santa Perawan Maria bunda Allah.
Marilah kita menyembah Putera-nya, Kristus, Tuhan kita.”
(Antifon Pembukaan Ibadat Harian)

Sejak tahun 1969 Gereja menetapkan tanggal 1 Januari sebagai HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH. Suatu hari raya gerejawi yang begitu penting, namun seringkali terlupakan karena pelbagai kesibukan perayaan tahun baru. Dalam penanggalan liturgi Gereja, hari Tahun Baru jatuh pada pertengahan Masa Natal. Dalam kesempatan ini Gereja mengajak umat untuk melihat kepada dua orang pribadi, yaitu Yesus dan Maria. Perayaan Maria sebagai Bunda Allah sebenarnya memusatkan perhatian pada Putera-nya. Dari antifon di atas terlihat, bahwa penghormatan istimewa (hyperdulia) kepada Maria tidak menghilangkan penyembahan (latria) kepada Putera-nya. Gereja Katolik selalu konsisten dalam hal ini. Pada hari yang sama Gereja juga ikut memperingati Hari Perdamaian Sedunia. Suatu hal yang cocok sekali, karena Maria juga adalah ibunda dari sang ‘Raja Damai’ (Yes 9:5). Oleh karena itu Maria juga diberi gelar ‘Ratu Dama’.

Bacaan Misa Kudus untuk hari raya ini adalah Bil 6:22-17; Gal 4:4-7 dan Luk 2:16-21, sedangkan Mazmur antar-bacaan diambil dari Mzm 67:2-3,5,6,8. Dalam doa pembukaan I kita dapat melihat peranan Maria sebagai pengantara, karena dia adalah ibunda dari sang pemberi hidup, yaitu Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara satu-satunya dengan Bapa (lihat 1Yoh 2:1; Ibr 7:25; 9:15).     

“YHWH menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera”(Bil 6:26). Kita dapat membayangkan betapa sering Maria telah mendengar imam-imam di Bait Suci atau di sinagoga memberkati jemaat Yahudi dengan kata-kata ini yang dipercayai sebagai firman Allah sendiri. Maria menerima ‘damai sejahtera’ ke dalam hidupnya secara khusus. Sebagai Bunda Allah, Maria membawa sang ‘Raja Damai’ dalam rahimnya dan membawa Dia ke dalam dunia. Dalam konsili Efesus (431) gelar Maria sebagai Theotokos (bahasa Yunani untuk ‘Pembawa Allah’; Theos = Allah dan tokos = setiap makhluk yang melahirkan) memperoleh legitimasinya. Di Gereja Barat, kata Yunani Theotokos ini diterjemahkan sebagai ‘Bunda Allah’. Keputusan ini dibuat oleh Konsili Efesus sebagai suatu cara pendeklarasian dan pembelaan atas keilahian Kristus. Jadi sebenarnya pernyataan konsili ini menyangkut masalah Kristologi (teologi tentang Kristus) dan bukan Mariologi (teologi Marial). Gelar Theotokos ini sekaligus mendeklarasikan kebenaran yang paling penting tentang diri Maria, yaitu sebagai Bunda Allah.

Nestorius, patriarkh Konstantinopel, menentang keputusan ini. Dia hanya mau menamakan Maria sebagai Christotokos, tetapi tidak Theotokos. Pandangan Nestorius bertentangan dengan pandangan Gereja yang ortodoks (benar), yaitu bahwa Kristus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Menurut pandangan Nestorius, Kristus memiliki dua pribadi: satu pribadi yang ilahi dan satu lagi pribadi yang insani. Pribadi insani Kristus sudah mati di kayu salib! Nestorius dan bidaah Nestorianisme ini banyak memperoleh dukungan dari uskup-uskup gereja Timur. Para misionaris Nestorian berhasil menyebarkan ajaran mereka ke negeri Persia, Irak, Mesir, India dan bahkan sampai ke China. Oleh karena posisinya yang berlawanan dengan pandangan Gereja, pada tahun 436 Nestorius pun dikucilkan ke Mesir bagian utara dan mati beberapa tahun kemudian. Dalam konsili Kalsedon (451) Nestorianisme dikutuk lagi.  Lawan gigih dari Nestorius dalam konsili Efesus adalah sejumlah petinggi Gereja yang dipimpin oleh Santo Sirilus (Cyril; 380-444), teolog termasyhur dan Patriarkh Alexandria di Mesir.

Melalui “YA” (fiat)-nya Maria,  rencana Allah untuk menyelamatkan umat manusia bergerak maju secara pasti. “…… setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Gal 4:4). Maria “unggul di tengah umat Tuhan yang rendah dan miskin, yang penuh kepercayaan mendambakan serta menerima keselamatan dari pada-nya” (Lumen Gentium, 55).Sebagai Puteri Sion yang setia, Maria bekerja sama dengan Allah dan rencana-Nya terpenuhi melalui buah tubuhnya yang ada dalam rahimnya. Dia menjadi Bunda Allah dan menjadi manusia pertama yang ditebus oleh-Nya.

Sebagai ibunda sang ‘Raja Damai, Maria memainkan peranan penting sebagai pembawa damai. Dalam Yesus, damai sejahtera menjadi suatu realitas; karena dengan mengalahkan dosa, Yesus berjaya atas segala sesuatu yang merusak perdamaian. Damai sejahtera yang mulai dirintis oleh sang ‘Raja Damai’ tidak akan menjadi universal sampai saat kedatangan-Nya kembali untuk kedua kali kelak. Mengapa? Karena selama manusia masih terlibat dalam kedosaan, damai sejahtera secara universal hanyalah merupakan harapan di masa depan.

Selagi kita menghormati Maria pada Hari Raya gerejawi yang sangat istimewa ini, maka marilah kita mohon doa-doa pengantaraannya untuk perdamaian dunia. Kita mohon agar damai-sejahtera Allah dapat memerintah dalam hati semua orang di mana saja. Kita percaya, bahwa “dengan cinta kasih keibuannya ia memperhatikan saudara-saudara Putera-nya, yang masih dalam peziarahan dan menghadapi bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran, sampai mereka mencapai tanah air yang penuh kebahagiaan” (Lumen Gentium, 62).Kita akan diberkati dengan damai sejahtera kalau kita menolak dosa dan mempraktekkan perdamaian. Semoga kita semua yang dengan tulus menyembah sang ‘Raja Damai’ sebagai Tuhan dan Juruselamat, bergabung juga dengan sang ‘Ratu Damai’, dan bersama-sama menjadi ‘umat pencinta damai.

Cilandak, 24 Desember 2009
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments

11/05/2010 17:49

Books are by far the most lasting products of human effort.

Reply



Leave a Reply