Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Dalam suratnya kepada jemaat (gereja) di Galatia, Santo Paulus menulis: “Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging” (Gal 5:16). Kalau kita berbicara mengenai ‘persatuan umat Kristiani’ yang kita akan doakan secara khusus dalam ‘Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani’ (18-25 Januari), maka pernyataan Rasul Paulus ini sangatlah penting untuk kita hayati. 
 
Persatuan pada hakekatnya adalah persatuan dalam Roh. Gereja di Galatia merupakan sebuah gambaran yang sangat jelas akan kebenaran hal ini. Ketika Paulus melihat bagaimana perselisihan doktrinal telah memecah-belah umat Galatia, dia melontarkan satu pertanyaan sederhana: “Kamu telah mulai dengan Roh, apakah sekarang kamu mau mengakhirinya di dalam daging?” (Gal 3:3). Bagi Paulus, terdapat perbedaan yang jelas antara hidup dalam Roh dan hidup seturut kodrat manusiawi yang cenderung berdosa (kedagingan). Apabila orang-orang Kristiani hidup dalam Roh, mereka menghasilkan buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22-23). Pada hakekatnya buah Roh menarik umat untuk bersatu. Sebaliknya, hidup dalam daging mengakibatkan perpecahan: “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, percekcokan, perpecahan, kedengkian, bermabuk-mabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal 5:20-21).

Kita hidup dalam Roh apabila kita mengarahkan hati dan pikiran kita sepenuhnya kepada Tuhan Yesus dan mohon agar Roh-Nya memberikan kepada kita rahmat untuk taat kepada kehendak Allah. Roh-Nya menyalakan api kasih-Nya di dalam hati kita dan memberdayakan kehendak kita agar mampu menolak godaan untuk menanam kebencian, juga berprasangka buruk. Kita hidup dalam Roh apabila kita mati terhadap hasrat-hasrat dan penilaian-penilaian yang berasal dari kodrat manusiawi kita yang cenderung berdosa, kemudian mengklaim dalam iman bahwa hidup lama kita dalam kedosaan  telah ‘disalibkan dengan Kristus’. Ingat apa yang dikatakan Paulus: “Aku telah disalibkan dengan Kristus” (Gal 2:19). Kita hidup dalam Roh apabila kita mempertaruhkan hidup kita di atas janji, bahwa melalui kebangkitan Yesus, kita  dapat diberdayakan untuk hidup dalam kasih dan persatuan satu sama lain. Paulus begitu yakin mengenai kuat-kuasa Roh untuk membawa persatuan. Oleh karena itu dia memberikan resep sederhana kepada jemaat Galatia seperti tersurat dalam Gal 5:16 yang sudah dikutip di atas. Paulus yakin benar bahwa semakin umat Galatia mencari hikmat-kebijaksanaan, kekuatan dan bimbingan dari Roh Kudus, maka semakin lunak pula hati mereka jadinya, semakin pula mereka memiliki keinginan untuk menghormati dan mengampuni satu sama lain.

Percayakah kita sekarang bahwa Allah tidak meninggalkan Gereja kita sebagai anak yatim-piatu? (lihat Yoh 14:18). Ia telah memberikan kepada kita Roh Kristus sendiri, agar kita dapat sungguh mengasihi dan mengampuni satu sama lain. Akhirnya, hanya kasih Kristiani sajalah yang dapat mengikat kita bersama – dan hanya melalui Roh saja kita akan mampu membuka diri bagi kasih ini. Pada tingkat pelaksanaan akar-rumput, bagaimana kita (orang biasa-biasa saja yang bukan petinggi gereja) dapat bekerja sama dengan Roh Kudus yang berhasrat membawa anak-anak Allah kembali menjadi satu? Ingatlah bahwa kita mempunyai senjata ampuh yang bernama ‘doa’ dan juga mempunyai Kitab Suci yang memuat firman Allah sendiri. Berikut ini adalah usulan tentang hal yang dapat anda praktekkan: Dalam suasana doa baiklah anda membaca dan merenungkan salah satu dari nas-nas berikut ini: Flp 2:1-11; Mat 5:21-26; Ef 4:1-16; 1Yoh 4:7-16; Mzm 133. Selagi anda membaca dan berdoa, tanyakanlah yang berikut ini: Bagaimana sebuah Gereja Kristus yang bersatu dapat memajukan kerajaan Allah dengan kuat-kuasa yang jauh lebih besar daripada sebuah ‘G’ereja yang terpecah-belah?  Bagaimana kita sebagai individu-individu dan keluarga-keluarga dapat menjadi kekuatan-kekuatan yang turut serta dalam dinamika proses persatuan umat Kristiani?

Selanjutnya mohonlah kepada Roh Kudus agar menolong anda meninjau-ulang sikap-sikap anda selama ini terhadap saudara-saudari Kristiani dari denominasi lain. Berdasarkan ‘pemeriksaan batin’ ini, baiklah anda melakukan pertobatan atas berbagai prasangka buruk, rasa curiga atau sikap menghakimi yang selama ini ada dalam diri anda. Adakah secercah pikiran saja dalam diri anda yang merendahkan orang Kristiani dari denominasi lain sebagai ‘kurang Kristiani’ dibandingkan dengan diri anda sendiri? Apakah anda menghargai liturgi orang Kristiani dari denominasi lain ketika berkesempatan berada di tengah-tengah mereka, misalnya pada saat perayaan ekumenis, upacara pemakaman dan lain-lainnya?  Secara istimewa dalam Pekan Doa ini, kita dapat mempersembahkan setiap gereja Kristiani kepada Tuhan Yesus. Kita mendoakan kesembuhan atas luka-luka lama yang disebabkan oleh perpecahan; untuk berakhirnya saling curiga, saling menuduh, saling menghakimi; untuk terwujudnya kehendak Allah dalam setiap denominasi. Kita juga mendoakan para tetangga di sekitar kita yang beragama Kristiani, namun yang berbeda gereja dengan kita.

Ingatlah bahwa persatuan sejati datang melalui hidup dalam Roh Kudus. Apabila kita hidup dalam daging, hidup kita akan ditandai oleh perselisihan paham, perbantahan, yang ujung-ujungnya adalah perpecahan. Akan tetapi, apabila kita hidup dalam Roh, maka kasih dan belarasa begitu mudah akan mengalir dari diri kita ke saudara-saudari Kristiani dari gereja yang lain. Paulus menulis bahwa kerajaan Allah adalah “kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus” (Rm 14:17). Khusus dalam ‘Pekan Doa’  ini, biarkanlah Roh Kudus mendirikan kerajaan Allah dalam diri kita masing-masing, karena tidak mungkin ada damai-sejahtera di antara kita sampai ada damai sejahtera dalam diri kita sendiri.

Salam persaudaraan,  
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply