Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Kita akan merayakan ‘Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani’ (18-25 Januari), suatu perayaan doa ekumenis yang sangat penting bagi kita semua yang menamakan diri pengikut Yesus Kristus. Sesungguhnya, yang didoakan – persatuan Umat Kristiani – adalah suatu pokok yang sangat urgent bagi semua orang Kristiani.

Perpecahan dalam umat Kristiani bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh Yesus Kristus. Namun demikian, kita boleh saja terkejut ketika melihat bahwa hanya sekitar dua puluh tahun setelah Pentakosta yang pertama, Gereja yang masih bayi itu telah menghadapi ancaman perpecahan. Di Korintus, umat Kristiani sudah mulai terbagi ke dalam kelompok-kelompok yang saling berhadapan dan berselisih satu sama lain. Ada yang mengatakan: “Aku dari golongan Paulus.” Ada pula yang mengatakan: “Aku dari golongan Apolos” (1Kor 1:12). Di Kolose orang-orang Kristiani yang mengklaim telah mendapat penglihatan istimewa tentang malaikat-malaikat mulai memandang rendah anggota jemaat lain yang tidak mempunyai pengalaman seperti mereka (Kol 2:18). Di Galatia, orang-orang Kristiani keturunan Yahudi mencoba memaksa saudara-saudari mereka yang non-Yahudi untuk memeluk semua aspek Yudaisme (a.l. penyunatan) agar dapat dipertimbangkan sebagai anggota penuh Gereja (Gal 5:2-4). Setelah  itu perpecahan yang satu disusul oleh perpecahan yang lain, sampai pada zaman modern ini. Bagaimana sebuah Gereja yang dimulai dengan penuh harapan menjadi terpecah-belah sedemikian cepatnya? 

Masih segar dalam ingatan saya sebuah tantangan yang dilontarkan oleh Bung Karno dalam Perayaan Natal Oikumene di Senayan pada akhir tahun 1965. Beliau mengkritisi bagaimana umat Kristiani Indonesia dapat menampilkan diri sebagai agama yang pantas dihargai oleh anggota mayoritas dalam masyarakat, kalau lagu ‘Stille Nacht, Heilige Nacht’ saja berbeda-beda terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia: ada versi Kristen Katolik, ada versi Kristen Protestan (Katolik: ‘Malam Terang’ dan Kristen Protestan: ‘Malam Kudus’). Seperti biasanya kita orang Indonesia, tidak lama setelah perayaan itu dibentuklah panitia bersama untuk menerjemahkan lagu dalam bahasa Jerman itu; sebuah terjemahan tunggal. Bayangkanlah bagaimana Roh Kudus bekerja. Lewat seorang Presiden yang berpengetahuan luas dan nota bene seorang Muslim, umat Kristiani ditantang untuk sedikitnya menunjukkan persatuan dan kesatuan dalam sebuah lagu ‘Malam Kudus’.

‘Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristiani’ ini adalah kesempatan emas bagi kita semua untuk mendoakan persatuan/kesatuan umat Kristiani, a.l. mendoakan saudara-saudari kita yang Kristiani, namun tidak sama gerejanya dengan kita sendiri. Doa Yesus dalam Yoh 17:1-26 menunjukkan bahwa persatuan/kesatuan para pengikut-Nya adalah dambaan-Nya. Sikap dan perilaku Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita bersama, dalam menghaturkan permohonan-Nya kepada Bapa surgawi, harus kita tiru dan praktekkan. Bayangkan betapa dahsyatnya kesaksian dari sebuah Gereja Kristus yang satu – bukan yang terpecah-belah – dalam masyarakat plural seperti negeri kita tercinta ini. Sulitkah? Tidak mudah tentunya, namun berkat rahmat Allah yang disertai kemauan baik dari semua pihak akan dapat menjadi kenyataan, karena “bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:38).

Salam persaudaraan,
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Lampiran: “BERJALAN BERSAMA MENUJU PERSATUAN UMAT KRISTIANI” (6 hal.)

This is your new blog post. Click here and start typing, or drag in elements from the top bar.
 


Comments




Leave a Reply