(Bacaan Injil Misa, Pesta Kanak-kanak Suci, Martir, Oktaf Natal Senin 28-12-09)

Setelah orang-orang majus itu berangkat, tampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Yusuf pun bangun, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya digenapi apa yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku” (bdk. Hos 11:1).
Ketika Herodes tahu bahwa ia telah diperdaya oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang ditanyakannya dengan teliti kepada orang-orang majus itu. Dengan demikian digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yeremia, “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi (lihat Yer 31:15)” (Mat 2:13-18).

Mengapa reaksi Herodes Agung terhadap raja orang Yahudi yang baru lahir dikatakan ‘terkejut’ dan dipenuhi kegusaran? (lihat Mat 2:1-3.16). Herodes tentu saja tahu bahwa seluruh bangsa Israel merindukan penggenapan atas nubuat-nubuat mesianis. Allah telah menjanjikan seorang Mesias yang akan membebaskan umat-Nya dari tirani dan penindasan. Berabad-abad lamanya para kudus dan juga para ahli membandingkan kemurkaan Herodes yang disebutkan di atas (diungkapkan dalam tindakan pembunuhan anak-anak di Betlehem) dengan kemurkaan Iblis terhadap anak-anak Allah. Herodes memandang Yesus sebagai seorang raja saingan yang mengancam dirinya, demikian pula Iblis memandang kita sebagai ancaman atas pengaruhnya dalam dunia. Bayangkanlah ketakutan Iblis seandainya anak-anak Allah dalam setiap negara/bangsa yang ada di dunia dipenuhi rahmat dan kuasa Roh Kudus. Itulah sebabnya Iblis berupaya terus untuk menghancurkan iman-kepercayaan kita kepada Yesus! 

Raja Herodes bergelar ‘agung’ karena dia telah mampu memperjuangkan mahkotanya, meluaskan kerajaan, membangun kembali Bait Suci, membuat jalan-jalan yang indah dan mendirikan istana-istana yang cemerlang. Dengan demikian Herodes itu besar dalam pandangan manusia. Sebaliknya kecillah Herodes di mata Allah. Sebagai penguasa resmi di Yudea, Herodes lebih berminat untuk memajukan kekuasaan dan prestisenya sendiri daripada memikirkan kesejahteraan rakyat. Herodes adalah seorang tiran kejam yang penuh rasa curiga dan seorang kolaborator dengan penjajah Romawi: bosnya adalah Kaisar di Roma. Maka tidak mengherankanlah apabila Herodes merasa terancam oleh kelahiran seorang bayi yang diisukan sebagai raja orang Yahudi yang baru (Mat 2:2). Herodes takut kehilangan ‘kerajaannya’, takut diambil-oper oleh seorang raja lain! 

Sayang raja tua ini begitu terobsesi dengan hal-hal yang menyangkut kekuasaan politik dan harta kekayaan, sehingga tidak mampu lagi melihat nilai dari sesuatu yang jauh lebih tinggi – janji mendapat bagian dalam kehidupan ilahi Allah. Herodes sibuk mencari kehormatan dan keagungannya sendiri, bukan kehormatan dan keagungan Allah. Ia telah dicengkeram oleh ‘aku’-nya yang kecil dan melupakan Allah yang agung dalam arti sesungguhnya. Di balik kebesaran lahiriah yang ditampilkannya tersembunyilah kekerdilan jiwanya. Nafsu Herodes akan kekuasaan, kehormatan dan kenikmatan duniawi telah ‘merusak’ hatinya dan membuat dirinya ‘dingin’ terhadap Allah dan sesamanya. Karena rasa curiga, dia bahkan membunuh istrinya sendiri dan beberapa orang anaknya. Oleh karena itu tidak mengherankanlah kalau dia tega untuk memerintahkan orang-orangnya  membunuh semua anak laki-laki yang berumur dua tahun ke bawah di Betlehem dan sekitarnya. Herodes tidak menunjukkan toleransi sedikit pun terhadap para ‘pesaing’-nya yang bakal ‘merebut’ takhta kerajaannya atau takhta hatinya.

Tak usah diragukan lagi, pasti raja tua ini memandang dirinya sebagai seorang raja yang penuh kuasa dan kaya. Demikian juga kiranya pandangan kebanyakan orang. Namun pada kenyataannya Herodes tidaklah lebih dari seorang budak dari segala hasrat penuh dosa dan seorang korban rasa takut dan egosentrisme. Herodes tidak dapat menerima apa yang Allah ingin berikan kepadanya melalui kedatangan Putera-Nya, karena raja tua ini tidak dapat memikirkan kehilangan apa saja yang dimilikinya (kekuasaan, harta kekayaan, kenikmatan duniawi dll.).

Yesus datang ke dunia untuk membebaskan kita dari cengkeraman dosa dan hasrat-hasrat yang buruk di mata Allah. Yesus menawarkan kita suatu kerajaan kekal-abadi yang hakekatnya adalah kebenaran, damai-sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus. Untuk dapat menerima kerajaan itu, kita harus melepaskan apa saja yang menghalangi kita untuk menyerahkan hidup kita kepada-Nya, Raja kita yang sejati. Harta-kekayaan yang ditawarkan-Nya kepada kita jauh lebih berharga daripada harta-kekayaan apa pun dan mana pun juga di dunia ini.

DOA: Roh Kudus Allah, aku berketetapan hati untuk menyerahkan hidupku kepada Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Tunjukkanlah kepadaku segala kelekatanku pada hal-hal yang dapat menghalangi jalan yang kutempuh untuk menyerahkan diriku kepada-Nya. Bebaskanlah aku dari setiap hasrat yang akan membutakan mataku dalam memandang Tuhanku, Yesus Kristus. Jadikanlah Dia Raja hatiku, Penguasa segala pikiran dan tindakanku. Amin.

Cilandak, 22 Desember 2009
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply