(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Hari biasa sesudah Penampakan Tuhan, Sabtu 9-1-10)

Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.
Kalau seseorang melihat saudara seimannya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: Tentang itu tidak kukatakan bahwa ia harus berdoa. Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut. Kita tahu bahwa  bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menyentuhnya. Kita tahu bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat. Akan tetapi, kita tahu bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dialah Allah yang benar dan hidup yang kekal. Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala (1Yoh 5:14-21).

Yohanes penulis surat ini menulis kepada sebuah komunitas yang baru saja mengalami exodus para anggotanya yang telah memilih untuk mengikuti ajaran-ajaran sesat. Para anggota yang tetap berada dalam komunitas dapat saja mengalami keraguan: Apakah mereka tetap memegang Injil yang benar? Ada juga yang merasa ragu mengenai relasi mereka dengan Kristus: Apakah mereka sungguh mengenal-Nya atau apakah mereka tertipu? Karena cintakasihnya kepada komunitasnya, Yohanes berupaya untuk menyalakan kembali api cintakasih dalam diri para anggota komunitas, untuk saling mengasihi dan mengasihi kebenaran perihal Kristus.

Menjelang penutupan suratnya, Yohanes mengingatkan komunitasnya bahwa Putera Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian tentang kebenaran Injil kepada mereka. Penulis surat juga berupaya untuk meyakinkan mereka bahwa mereka berada dalam Bapa dan dalam Kristus. Penulis surat juga menjelaskan bahwa karena mereka lahir dari Allah, maka mereka diselamatkan dari dunia yang memang berada dalam kekuasaan si Jahat. Penulis mengatakan bahwa mereka dapat hidup di dalam dunia, namun tidak merupakan subjek kekuasaan dunia karena mereka mengasihi Allah dan menikmati perlindungan daripada-Nya.

Yohanes menulis suratnya di bawah inspirasi Roh Kudus. Sampai hari ini Roh Kudus masih berbicara kepada kita lewat kata-kata yang ditulis dalam suratnya ini. Sekarang, apakah kita memandang diri kita sebagai para pendosa yang berjuang terus untuk mengasihi Allah (seperti komunitas dalam suratnya ini), atau sebagai para pencinta Allah yang terus berjuang melawan dosa? Segalanya tergantung pada jawaban kita atas pertanyaan ini. Keterlibatan dalam dosa memang berkaitan dengan pertumbuhan relasi kita dengan Allah. Semakin relasi kita dengan Allah bertumbuh, dosa pun akan menyusut sampai akhirnya pergi dari kehidupan kita.

Allah ingin memberikan kepada kita pengharapan dan rasa percaya; Dia ingin berada dekat dengan kita. Marilah kita saling mendoakan. Kita semua terus berjuang melawan dosa, namun Allah ingin meyakinkan kita bahwa kita adalah suatu ciptaan baru dalam Kristus dan kita telah mengalahkan dunia. Marilah kita mohon kepada Allah agar menyalakan kembali api cintakasih dalam keluarga dan komunitas kita masing-masing. Kita lahir dari Allah, oleh karena itu kita lahir dari kasih. Melalui rahmat-Nya yang tanpa batas, kita dapat menjadi pencinta Allah dan sesama yang lebih baik lagi.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk Roh Kudus-Mu yang telah memberi inspirasi kepada mereka yang telah mendorong kami dalam penghayatan iman Kristiani kami, berbicara tentang kebenaran kepada kami dan menyalakan api cintakasih dalam diri kami. Perkenankanlah Roh Kudus memperbaiki Gereja-Mu dalam kasih. Amin.

Cilandak, 4 Januari 2010
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply