Kata malaikat itu kepada para gembala: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud”  (Luk 2:10-11).

Natal adalah sebuah perayaan penuh sukacita. Sukacita Natal ini sendiri berpusat pada diri seorang Anak yang dalam pribadi-Nya, baik misteri Allah maupun makna Allah terkombinasikan. Tidak ada waktu atau peristiwa lain di mana umat Kristiani begitu berbahagia dalam suasana yang dipenuhi kegembiraan musik dan lagu serta gelak-tawa. Suatu masa di mana umat Kristiani relatif lebih bermurah-hati dalam memberikan derma dan sedekah kepada sesama yang miskin dan sungguh membutuhkan bantuan. Sesungguhnya Natal memang adalah suatu festival sukacita. Namun pertanyaannya adalah sukacita yang seperti apa, sukacita yang bagaimana?

Pengalaman hidup manusia menunjukkan adanya beberapa macam sukacita. Para orangtua tentu sangat senang melihat wajah penuh sukacita anak-anak mereka pada waktu membuka ‘kado Natal’ mereka masing-masing di pagi hari Natal. Pada waktu saya masih duduk di SMP Bruderan Budi Mulia dulu, kakak lelaki saya yang sudah bekerja di Bank Indonesia, menghadiahkan sebuah sepeda baru bikinan Surabaya (sport model namanya pada waktu itu) kepada saya. Saya yakin dia juga senang sekali ketika melihat betapa bersukacitanya saya mendapat hadiah tersebut. Dalam situasi-situasi yang berbeda, ‘sepeda’ dapat berganti dengan ‘Honda CRV’, ‘berlian-permata’, ‘sebuah apartemen di kawasan elit’ kota Jakarta dan seterusnya. Inilah sukacita yang timbul karena memiliki sesuatu. Tidak jarang sukacita karena kepemilikan ini, baik harta-milik yang bernilai tinggi maupun biasa-biasa saja – dapat menimbulkan kecemasan dalam batin, ketakutan kehilangan apa yang dimiliki. Ada dalil yang berbunyi: “Kalau kita memiliki hal-hal tertentu, maka hal-hal tertentu itu memiliki kita.”  Harta-milik memang dapat menguasai kita.

Ada juga sukacita karena sesuatu yang berhasil dicapai, hasrat yang dipenuhi, kerinduan yang terpuaskan, tujuan-tujuan yang tercapai lewat kerja keras dan sejenisnya. Namun kodrat manusia adalah sedemikian, sehingga apabila satu hasrat dipenuhi, maka hasrat lain akan menggantikannya. Semua itu seperti siklus yang tidak pernah akan selesai, yang praktis memenjarakan kehidupan seorang insan dalam suatu rangkaian hasrat dan berbagai upaya yang tak henti-henti untuk memenuhi hasrat termaksud.

Sukacita dalam Alkitab. Alkitab berbicara mengenai jenis sukacita yang lain: (1) sukacita karena panenan dan (2) sukacita karena kemenangan atas musuh. Panenan mendatangkan bahan makanan yang berkelimpahan dan kemenangan atas musuh mendatangkan kebebasan dari penindasan. Keterikatan perbudakan mungkin berlangsung untuk jangka waktu yang lama, tetapi pembebasan merupakan sesuatu yang pasti, karena Allah selalu setia. Seperti dikatakan sang pemazmur: “…… sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai” (Mzm 30:6). Nabi Yesaya bernubuat mengenai kedatangan seorang pembebas ke tengah-tengah Israel: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkian orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya” (Yes 9:5-6).

Ada satu lagi sukacita yang digambarkan oleh Alkitab, yaitu sukacita karena dibebaskan dari segala kejahatan yang mengungkung kehidupan manusia. Pesan Natal di sini adalah, bahwa dalam kelahiran Anak ini suatu proses pembebasan  telah dimulai. Seperti dikatakan malaikat Tuhan kepada Yusuf: “Ia (Maria) akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka” (Mat 1:21).

Dua dimensi pembebasan. Ada dua dimensi pembebasan; yang satu bersifat pribadi dan yang lainnya bersifat sosial. Pembebasan yang bersifat pribadi itu masuk ke relung-relung hati kita yang terdalam, sedangkan pembebasan yang bersifat sosial menyerap ke dalam struktur-struktur masyarakat. Dua pembebasan itu berhubungan erat satu sama lain, dan setiap upaya untuk memisahkan keduanya akan membawa bencana atas segala kehidupan rohani. Dalam kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus, dimensi individual dan sosial dari keselamatan selalu berada bersama, saling bergandengan tangan.

Setiap orang mempunyai perasaan-perasaan batiniah seperti kekhawatiran, rasa takut, mungkin juga rasa bersalah dan berbagai macam ganjalan lainnya. Di dalam diri kita yang terdalam ada kekuatan-kekuatan tak dikenal yang kerapkali mengganggu kita. Kalau kita belum dimerdekakan dari itu semua, maka tidak akan ada damai-sejahtera dan sukacita dalam kehidupan kita dalam arti sesungguhnya. Orang Kristiani berbicara mengenai pengampunan dosa. Dosa adalah suatu keterpisahan dari Allah melalui ketidak-taatan manusia. Dosa adalah keterpisahan, rahmat adalah ‘bersatu kembali’ dengan Dia. Diperdamaikan dengan Allah dalam Yesus Kristus berarti mengalami suatu kelahiran baru. Damai-sejahtera dan sukacita adalah buah-buah dari pengalaman tersebut.

Alkitab juga menekankan dimensi sosial dari pembebasan. Nyanyian penuh sukacita pertama adalah kidung umat Israel. Seluruh umat Israel, di pimpin oleh Musa menyanyikan puji-pujian kepada Allah karena mereka telah dibebaskan-Nya dari perbudakan di Mesir (Kel 15:1-18). Ketika kuda Firaun dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk kelaut, maka YHWH membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut. Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari. Dan menyanyilah Miryam memimpin mereka: “Menyanyilah bagi YHWH, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut” (Kel 15:19-21). 

Pembebasan sosial bukanlah sekadar pembebasan dari kungkungan politik dan penindasan ekonomis. Tujuan pembebasan cukup jelas. Lewat mulut Musa, YHWH berfirman kepada Firaun: “Biarlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku di padang gurun” (Kel 7:16). Sungguh sayang, tuntutan untuk ‘beribadah kepada Allah di padang gurun’ seringkali terlupakan manakala pembebasan dari penindasan sudah menjadi suatu realitas. Sukacita datang bukan melalui upaya kita untuk melayani/memuaskan diri sendiri, melainkan melalui pelayanan kepada Allah ‘di padang gurun’. Bahkan ketika sang Anak masih berada dalam kandungan, Maria menyanyikan kidungnya (Magnificat), “Jiwaku memuliakan Tuhan” ……”Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” (Luk 1:46.52). Dalam khotbah-Nya yang pertama di sebuah sinagoga di Nazaret, Yesusmenekankan dimensi sosial dari penyelamatan (bacalah Luk 2:16-20).

Sukacita di tengah-tengah kesusahan dan penderitaan? Bagaimana seseorang dapat bersukacita kalau dia dikelilingi oleh berbagai macam kesusahan, penderitaan dan segala hal yang menyedihkan? Bencana alam yang tak putus-putusnya, penghancuran lingkungan hidup akibat ulah manusia sendiri, bahaya terorisme yang tak hentinya mengancam kehidupan masyarakat, perlakuan tidak adil oleh orang yang berkuasa dan kaya atas rakyat yang tak berdaya. Jiwa orang itu berteriak: “Bagaimana aku dapat bersukacita, kalau masih begitu banyak orang menderita di tengah lumpur Lapindo, begitu banyak orang menderita karena gempa bumi, banjir dan bencana alam lainnya, begitu banyak anak muda (masa depan bangsa) yang menderita karena narkoba, karena HIV-AIDS?”  Banyak orang di sekeliling kita yang sungguh menderita karena keserakahan segelintir manusia. Masih banyak orang di sekeliling kita yang tak berdaya melawan kekuatan-kekuatan dalam masyarakat yang melakukan eksploitasi, penindasan dan ketidak-adilan. Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi semua ini? Dalam hal ini janganlah cepat-cepat kita membuka Alkitab dan kemudian ‘mencomot’ ayat-ayat tertentu yang terdapat di dalamnya. Lalu kita memberikan jawaban simplistis yang beraroma rohani berdasarkan ayat-ayat yang kita petik dari Alkitab tadi.  Persoalan-persoalan  dalam masyarakat yang umumnya bersifat kompleks tidak dapat sekadar dijawab secara simplistis.
                                                         
Menjadi peka dan memberi. Nah, dalam peristiwa Natal yang kita rayakan ini terdapat dua hal yang harus kita pikirkan dan renungkan. Yang pertama, kita masing-masing harus menginternalisasi Natal agar hati kita menjadi peka terhadap kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain. Yang kedua adalah memberikan diri kita sendiri untuk suatu bentuk pelayanan aktif sebagai tanggapan terhadap apa yang kita terima dalam Yesus Kristus. Menginternalisasi Natal berarti membuat hati kita menjadi sebuah ‘palungan’, sehingga sang Anak Ilahi secara tetap dapat dilahirkan dalam diri kita masing-masing, untuk mencerahkan pikiran kita, memurnikan hati kita dan menguatkan kehendak kita untuk melayani Allah dan sesama. Sang Anak harus diberikan makanan sehingga Dia dapat bertumbuh – tidak hanya menjadi bayi terus – dalam diri kita sepanjang waktu. Sang Anak harus bertumbuh menjadi dewasa dalam diri kita, mengubah/mentransformasikan diri kita dan memimpin kita kepada tindakan-tindakan yang bertanggung-jawab. Kita cenderung untuk menjadi para gembala yang ber-adorasi di depan sang Anak yang sedang terbaring di palungan dan stop di situ. Sebenarnya kita harus menjadi peziarah-peziarah yang melakukan perjalanan dari Betlehem menuju Golgota dan dilanjutkan ke tempat kebangkitan Kristus.

Pemberian seorang Kristiani kepada orang-orang lain seharusnya merupakan tanggapannya terhadap pemberian  Allah kepada dirinya dalam Yesus Kristus. Seseorang tidak dapat mengalami sukacita yang sejati kalau sukacita itu tidak disyeringkan kepada orang-orang lain. Pesan Natal adalah bahwa, Yesus Kristus – sungguh Allah sungguh manusia – mensyeringkan hidup-Nya dengan kita. Natal berarti bahwa Allah yang kudus, kekal dan transenden telah memilih menjadi manusia untuk ikut ambil bagian dalam kesusahan dan penderitaan umat-Nya agar dapat membawa damai-sejahtera dan sukacita kepada mereka. Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010 !!!

F.X. Indrapradja, OFS  Seorang Fransiskan sekular,  tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.
 


Comments

12/10/2010 09:04

AIDS is a problem that is growing day by day, is a fatal disease that is preventable with information on how to avoid and how is this bad. I really think they need a lot of information on this subject with young people.

Reply



Leave a Reply