(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregrorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja, Sabtu 2-1-10)

Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias? Inilah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab siapa yang menyangkal Anak, ia tidak memiliki Bapa. Siapa yang mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa. Dan kamu, apa yang telah kamu dengar sejak semula, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar sejak semula itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetapi tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa. Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.
Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu. Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu – dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.
Jadi sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya (1Yoh 2:22-28).

Bacaan Injil: Yoh 1:19-28; Mazmur antar bacaan: Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4.
Dalam menjalani kehidupan ini kadang-kadang kita merasa hampa, kosong. Peristiwa-peristiwa di sekeliling kita dapat menyebabkan kita meragukan iman kita sendiri dan keputusan-keputusan yang telah kita buat berdasarkan iman termaksud. Inilah isu yang diangkat oleh penulis surat ini. Komunitas penerima surat ini telah mengalami perpecahan yang menyakitkan. Sejumlah anggota komunitas yang tetap setia pada Injil (seperti mereka mengenal dan memahaminya) mulai meragukan keputusan-keputusan yang telah mereka buat. Untuk mendorong mereka dan menolong mereka mengatasi kebingungan mereka, maka seorang penatua komunitas menulis surat ini.

Penulis surat ini memproklamasikan bahwa, “Siapa yang mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa” (1Yoh 2:23). Apakah kita sungguh percaya pada Kristus? Apakah kita merangkul keselamatan-Nya, yang oleh iman adalah milik kita? Terang Yesus telah mengalahkan kegelapan dalam hati kita untuk membawa kita kepada Bapa, sungguh bersih tanpa noda. Yang diminta Yesus hanyalah agar kita mengundang Dia ke dalam hati kita. Setiap hari kita dapat mengambil sebuah langkah iman kecil dengan mengatakan, “Aku percaya akan Yesus Kristus.” Semakin kita menghayati pasal kepercayaan ini, Roh Kudus pun akan semakin membuka hati kita untuk menerima keselamatan dari Yesus.

Pengurapan yang kita terima dari Yesus berdiam dalam diri kita dan mengajarkan segalanya kepada kita (1Yoh 2:27). Kuasa kedatangan-Nya sudah lengkap; yang diperlukan adalah rangkulan kita. Kemenangan penuh kejayaan yang telah dimenangkan-Nya untuk kita sebenarnya tersedia bagi kita secara lengkap dan langsung. Yesus telah menaruh kasih-Nya dalam hati kita dan telah memberikan kepada kita Roh hikmat untuk mengajarkan kepada kita segala hal. Melalui Roh Kudus, kita memiliki semuanya yang kita perlukan guna merangkul kasih Bapa surgawi. Pertobatan, pengakuan dosa, dan berbalik kepada Kristus, semuanya ini membawa kemenangan yang langsung, ujung-ujungnya adalah “hidup yang kekal” (lihat 1Yoh 2:25).

Kita dapat berbalik kepada Yesus setiap saat. Ini adalah hak kita sebagai anak-anak Allah, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengambilnya dari kita. Kita harus waspada agar jangan sampai warisan kehadiran Yesus dalam hidup kita dirampas. Kita dapat berseru kepada Allah; pengurapan-Nya meliputi kita dan berdiam dalam diri kita. Yesus adalah ‘sang Sabda yang menjadi daging’ (Firman yang menjadi manusia; lihat Yoh 1:14), artinya sebagai manusia Dia ikut ambil bagian dalam kodrat insani secara lengkap dan “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. …sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Paulus menulis: “Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Sekarang, setelah bangkit dalam kemuliaan, “Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya” (Mzm 98:3). Itulah sebabnya mengapa kita harus tetap tinggal di dalam Kristus, no matter what !!!

Santo Basilios Agung, uskup di Kaisarea (330-379) dan Santo Gregorios, uskup di Nazianze (329-389) yang kita peringati hari ini adalah dua orang sahabat yang merupakan para teolog dan pujangga Gereja yang tersohor. Tugas pelayanan mereka sehari-hari, termasuk membela ajaran-ajaran Gereja terhadap serangan-serangan dari kelompok bid’ah, semua berkenan di mata Allah, karena mereka tetap tinggal di dalam Kristus pada situasi apa pun yang dihadapi. 

DOA:Bapa surgawi, melalui Yesus, Engkau telah memberikan jalan bagi kami untuk datang kepada-Mu. Dalam pembaptisan, kami menerima pengurapan-Mu, dan karunia itu tidak akan pernah meninggalkanku. Tolonglah kami agar dapat membuka hati kami bagi Roh Kudus-Mu, agar kami dapat melihat perubahan-perubahan dan mukjizat-mukjizat dalam kehidupan kami. Amin.

Cilandak, 29 Desember 2009
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply