(Bacaan Misa, Peringatan S. Thomas Aquinas, Imam & Pujangga Gereja, Kamis 28-1-10) 

Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Mungkinkah orang membawa pelita supaya ditempatkan di bawah tempayan atau di bawah tempat tidur? Bukankah supaya ditaruh di atas kaki pelita? Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Lalu Ia berkata lagi, “Perhatikanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanyalah akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa  pun juga yang ada padanya akan diambil” (Mrk 4:21-25). 

Perumpamaan Yesus tentang seorang penabur telah sungguh menyentuh hati sejumlah pendengar-Nya sehingga mereka tetap bersama Yesus untuk beberapa waktu dan meminta kepada-Nya agar diberikan lebih banyak lagi pengajaran (lihat Mrk 4:10-11). Yesus menangkap adanya hasrat besar mereka untuk memperoleh pengajaran yang lebih mendalam, maka Dia pun dengan gembira menyediakan waktu ekstra bagi mereka. Kita hanya bisa membayangkan Dia minta kepada Roh Kudus agar menunjukkan kepada-Nya cara terbaik untuk membuka hati orang-orang ini bagi lebih banyak lagi kebenaran-Nya. Melalui perumpamaan-perumpamaan seperti ‘perumpamaan seorang penabur’, ‘perumpamaan tentang pelita’ dan ‘perumpamaan tentang ukuran’, Yesus mengibaratkan Kerajaan Allah dengan kegiatan-kegiatan sehari-hari, sehingga orang-orang dapat lebih siap menangkap pengajaran-Nya. 

Yesus sangat senang apabila orang meminta kepada-Nya untuk diajar secara lebih mendalam lagi. Dia juga senang menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dan memberikan kepada mereka hikmat-Nya. Kesenangan luarbiasa inilah yang berada di belakang kata-kata-Nya: “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu: (Mrk 4:24). Orang-orang yang lebih banyak menyediakan waktu pada kaki Yesus mengalami lebih banyak kasih Allah serta berkat-berkat-Nya; mereka pun lebih siap untuk mengikuti jejak-Nya. “Ukuran yang kita pakai” adalah cara kita memperhatikan sabda Yesus. “Ukuran yang kita pakai” berurusan dengan kebebasan dan kehidupan yang kita terima ketika mendengar sabda-Nya dan mengikuti jejak-Nya.  

Hari ini pun tetap Yesus berkeinginan untuk terus mengajar kita. Begitu banyak hal yang dapat diajarkan-Nya kepada kita, kalau saja setiap hari kita setia menyediakan waktu untuk membaca sabda-Nya dalam Kitab Suci dan merenungkannya, dalam suasana doa. Dalam ‘suasana doa’ berarti kita beristirahat di hadapan hadirat Allah selagi kita masukkan satu atau dua ayat saja dari bacaan kita ke dalam pikiran kita. Hal ini berarti menanti di hadapan-Nya dalam keheningan sampai Dia berbicara kepada kita. Dengan demikian kita memperkenankan sabda-Nya mengendap dalam hati kita. Secara pribadi kita juga dapat melakukan studi Alkitab dengan melakukan riset kecil-kecilan, misalnya mencari tahu tentang sejarah atau latar-belakang teks yang sedang kita baca lewat pembacaan keterangan dalam buku tafsir ringan dan/atau kamus Alkitab yang tersedia, atau dengan memanfaatkan berbagai cross-reference yang terdapat dalam catatan kaki Alkitab. Dalam hal ini pun doa tak boleh pernah dilupakan. Kalau kita melakukan studi Alkitab ini secara regular – misalnya seminggu sekali – maka upaya ini akan membantu membuka pikiran kita terhadap kepenuhan dan kekayaan isi Kitab Suci. 

Merenungkan dan mempelajari sabda Allah dalam Kitab Suci seperti diuraikan di atas adalah sesuai dengan kehendak Allah, apabila kita mempercayakan upaya-upaya kita pada pertolongan Roh Kudus yang pada akhirnya akan membawa kita kepada kebenaran sejati. Dia adalah Parakletos: pendamping, pengacara, pembela kita. Dia bersama kita setiap kali kita membuka Alkitab. Apabila kita bertekun dalam melakukan upaya-upaya seperti diuraikan di atas, maka kita sebenarnya  memberikan kepada Allah  segenap perhatian kita sehingga Dia pun dapat membuat ‘mukjizat’ dalam diri kita. Kata-kata sang pemazmur tetap memiliki nilai kebenaran pada hari ini juga: “Taurat YHWH itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan YHWH itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah YHWH itu tepat, menyukakan hati; perintah YHWH itu murni, membuat mata mata bercahaya” (Mzm 119:8-9). 

Marilah kita mohon lebih lagi dari Allah dengan menyediakan lebih banyak lagi waktu setiap harinya untuk membaca, merenungkan dan mempelajari sabda-Nya. Setiap kali kita memutuskan untuk mohon lebih lagi dari Allah, maka sebenarnya kita mengetuk pintu surga; dan Allah telah berjanji untuk selalu menjawab kita (Mat 7:7-8). 

DOA: Yesus yang baik, ucapkanlah sabda kehidupan-Mu kepadaku. Perkenankanlah sabda-Mu menerangi jalanku setiap hari sehingga aku dapat mengikuti jejak-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat untuk memberikan kepada-Mu suatu ‘ukuran diriku yang penuh’ selama waktu-waktu doa serta penyembahanku, dan pelayananku kepada orang-orang lain. Amin. 

Cilandak, 25 Januari 2010 (Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rasul [Penutupan Doa Sedunia])
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply