(Bacaan Injil Misa Kudus, Pekan Biasa I, Selasa 12-1-10)

Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”  Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!”  Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua  takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea (Mrk 1:21-28).

Pelayanan Yesus telah dimulai. Tidak pernah kelihatan yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang heran dan bertanya-tanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  (Mrk 1:27). Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekedar khotbah. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa”  (1 Kor 2:4).

Setiap kebenaran Injil dapat dipilah-pilah dan dianalisis dengan kekuatan intelek dan hal itu samasekali tidak salah, asal saja tidak jadi membingungkan kita atau malah membuat kita tertipu oleh si Jahat. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dan lebih memiliki kuasa, yang diberikan oleh Yesus kepada kita. Dia datang untuk memproklamasikan kebenaran sedemikian sehingga akan memerdekakan kita. Yesus berfirman:

“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32).

Kata-kata Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebaskan kita. Kata-kata Yesus mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja.

Apakah kita mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa sehingga kita dapat mengalami kuasanya untuk memerdekakan kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari kita mendengarkan firman-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada pada pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis.   Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada firman-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita.

Yesus merindukan kita masing-masing untuk mengundang Dia ke dalam hati kita – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain” (Katekismus Gereja Katolik, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau saja yang mengetahui hati kami dan hasrat yang ada dalam hati kami itu. Pada saat ini kami mengundang-Mu untuk memasuki bagian terdalam dari keberadaan kami dan mengikat kami pada hati-Mu. Bebaskanlah kami, ya Tuhan, dari segala kejahatan dan ajarlah kami bagaimana hidup untuk-Mu. Amin.  

Cilandak, 4 Januari 2010
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
-----------------------------------------------------------------------------

Stefan Leks: 12 Januari 2010 - Mrk 1:21b-28
AJARAN DISERTAI KUASA

1. Beberapa tahun yang silam, agak sering terdengar penilaian tentang “pewarta” tertentu. “Kalau si A berkhotbah, sangat terasa "power"nya. Pada waktu Yesus mengajar, para pendengar-Nya bicara serupa, “Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa!”

2. Dalam tahap awalnya, Yesus memang suka mengajar di rumah ibadat. Ketika Ia mengajar di Kapernaum, para pendengar “takjub mendengar pengajaran-Nya”, justru karena kata-kata-Nya didukung kuasa yang tidak dirasakan dalam khotbah orang lain. Tentu saja, Yesus bukan manusia saja. Sabda-Nya adalah sabda Allah sendiri, sehingga selalu “berkuasa”.

Namun, jangan salah paham! Sabda itu terasa “penuh kuasa” bukan karena Allah itu Mahakuasa. Ini kuasa kasih dan kuasa kebenaran yang tidak pernah ada di bumi ini dalam bentuk lengkap. Jadi, kata-kata yang mengalir dari mulut Yesus, begitu penuh kasih dan kebenaran sehingga roh jahat pun tidak tahan mendengarnya, sedangkan manusia dibuat takjub olehnya.

Dapatkah para “pewarta” masa kini memberitakan Injil Allah seperti Kristus dulu? Dapat, walaupun mungkin tak pernah secara sungguh memuaskan. Jurusnya apa? “Pewarta” harus hidup dalam kasih dan kebenaran. Kalau itu terjadi, roh-roh jahat akan tunduk kepadanya seperti dulu mereka tunduk pada Yesus.

“Pewarta” harus banyak berdoa sebab di bumi ini hanya inilah cara untuk menghirup “udara surga”. Semakin “pewarta” berdoa, semakin manjurlah kata-kata yang diucapkannya. Perkataannya mungkin akan sederhana, sesederhana sabda Yesus, namun akan berpengaruh luar biasa.

3. Apa yang kulakukan supaya diri dan hidupku memancarkan kuasa kasih dan kebenaran?

DOA HARI INI:
Tuhan, ajarlah aku mewartakan Injil
dengan kasih dan penuh kebenaran!

 


Comments




Leave a Reply