(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa II, 17-1-10)

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya, “Mereka kehabisan anggur.”  Kata Yesus kepadanya, “Mau apakah engkau dari Aku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya kira-kira seratus liter. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu, “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Mereka pun mengisinya sampai penuh. Sesudah itu, kata Yesus kepada mereka, “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mencicipi air yang telah menjadi anggur itu – dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya – ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya, “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dilakukan Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya (Yoh 2:1-11).

Bacaan pertama: Yes 62:1-5

‘Tanda pertama’ Yesus ini mengawali karya-Nya. Ini adalah suatu tanda masuknya kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaan dan kehadiran Allah di dunia dalam diri Putera-Nya, Yesus. Apa yang dinyatakan Yesus di Kana tidak sekadar menunjuk pada pesta perkawinan itu, akan tetapi menunjuk pada karya yang akan dimulai dan dicapai Allah melalui Yesus, dalam kematian, kebangkitan sampai kedatangan-Nya kembali nanti apabila semua sudah dilengkapi.

Yesaya 62 memberikan konteks bagi pandangan yang lebih luas perihal mukjizat di Kana ini.  Yesaya mengharapkan akan kedatangan masa Mesias, di mana perjanjian antara Allah dan umat-Nya akan dirayakan sebagai suatu perkawinan. Umat Allah, mempelai-Nya tidak lagi akan disia-siakan atau menderita kesusahan karena efek dosa, tetapi akan berkenan kepada Allah karena efek penyelamatan. Kebaharuan ini dirayakan sebagai suatu pesta perkawinan, di mana pengantin perempuan disiapkan untuk menyambut pengantin laki-laki dan sukacita merekapun akan dirasakan oleh semua orang.

Perjamuan mesianis, di mana semua hal akan dipenuhi dalam Kristus dan umat Allah yang setia akan berpartisipasi dalam kepenuhannya, seringkali digambarkan sebagai suatu pesta perkawinan. Kita mulai ikut ambil bagian dalam perjamuan ini (yang dibuka resmi dengan inkarnasi, kematian dan kebangkitan Yesus) bahkan sekarang juga, tetapi hanya akan tahu kepenuhannya pada saat Yesus mengumpulkan semua orang bersama-sama pada kedatangan-Nya untuk kedua kalinya kelak. Kepenuhan ini digambarkan dalam Kitab Wahyu, di mana pada perkawinan Anak Domba, Yerusalem baru diibaratkan sebagai mempelai perempuan yang diserahkan kepada suaminya (Why 19:7; 21:2).

Yesus menyatakan kemuliaan Allah melalui mukjizat di Kana karena hal itu menunjuk kepada Perjanjian Baru di mana Allah – melalui Yesus – akan mengerjakan sesuatu hal baru yang indah sekali. Yesus menggunakan tempayan-tempayan air yang biasa dipakai orang Yahudi untuk upacara pembersihan (suatu tanda Perjanjian Lama) dan mengubahnya menjadi bejana-bejana “anggur terbaik” (suatu tanda Perjanjian Baru). Mukjizat ini, yang dilakukan Yesus “pada hari ketiga” (Yoh 2:1), menunjuk pada transformasi yang akan terjadi ketika saat-Nya memuliakan Allah telah tiba.

Sebagai orang-orang yang telah diperkenankan ikut ambil bagian dalam hidup baru lewat pembaptisan, marilah kita terus mengusahakan perubahan batiniah yang membawa kita ke dalam hidup Allah.

DOA: Allah yang Mahamurah, bentuklah kami selalu menjadi murid-murid Kristus yang baik, sehingga pada kedatangan-Nya kembali kelak, kami Gereja-Mu diperkenankan untuk ikut ambil bagian dalam pesta surgawi. Amin.  

Cilandak, 5 Januari 2010
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply