(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Santa Agnes, Pekan Biasa II, Kamis 21-1-10) 
(Hari Keempat Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani) 

Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya, juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon. Mereka semua datang kepada-Nya, karena mendengar segala hal yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menyentuh-Nya. Setiap kali roh-roh jahat melihat Dia, mereka sujud di hadapan-Nya dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia  (Mrk 3:7-12). 

Di tengah-tengah serangkaian cerita yang penuh dengan tindakan nyata tentang siapa Yesus sesungguhnya dan apa artinya menjadi murid-Nya, Markus berhenti sejenak untuk memberikan waktu bagi para pembaca guna melakukan refleksi. Markus menggunakan kesempatan ini untuk membuat ringkasan tentang apa yang selama ini telah dikatakannya mengenai Yesus: kedaulatan-Nya, kuasa-Nya atas roh-roh jahat, dan identitas-Nya sebagai Putera (Anak) Allah. Markus ingin menunjukkan bahwa Yesus pada waktu itu (dan sampai sekarang juga) sungguh memikat sehingga menarik banyak orang dari seluruh muka bumi untuk datang kepada-Nya. 

Yesus tidak dapat pergi ke mana saja tanpa diikuti banyak orang. Apa yang dilakukan oleh-Nya hanyalah meninggalkan sinagoga dan menuju danau dengan para murid-Nya, dan dengan cepat orang banyak sudah berkumpul di sekeliling-Nya. Ada yang datang dari daerah yang jauh jaraknya, mereka melakukan perjalanan beratus-ratus kilometer jauhnya karena telah mendengar tentang berbagai mukjizat dan penyembuhan yang telah dilakukan oleh Yesus. Mereka semua ingin agar Yesus menjamah mereka. Mereka tidak dapat menunggu agar dapat dekat dengan-Nya, sehingga mereka mulai berdesak-desakan. Rasa lapar dan haus mereka akan cintakasih Allah begitu intens sehingga mereka memang harus berada bersama Yesus. 

Apakah kita memiliki rasa lapar dan haus yang sama akan Allah? Apakah kita rindu untuk mengenal cintakasih-Nya dan kehadiran-Nya sedemikian rupa, sehingga kita tidak akan membiarkan apa pun yang menghalangi kita untuk datang kepada-Nya? Marilah kita tidak memperkenankan penghalang-penghalang seperti perasaan tak layak atau perasaan gagal merintangi kita untuk dapat datang kepada-Nya. Sebaliknya, marilah kita mengambil contoh orang banyak dalam bacaan di atas, baiklah kita berdesak-desakan mendekati-Nya. Santo Paulus menulis, “Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”  (Rm 8:38-39). 

Orang Kudus yang kita peringati hari ini, Santa Agnes, adalah seseorang yang mengimani bahwa siapa dan apapun saja tidak akan dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah yang ada dalam Yesus Kristus. Ketika masih gadis berumur 13 tahun, Agnes berani memilih dipenjarakan oleh penguasa Romawi dan dihukum berat daripada mengkhianati iman-kepercayaannya kepada Kristus. Di dalam penjara dia dirayu oleh beberapa orang pemuda sahabat Kaisar dan salah seorang mengajaknya nikah agar dapat diselamatkan, dan  tentunya sementara itu untuk menyangkal imannya juga. Jawaban Agnes: “Maaf, saya sudah mempunyai kekasih. Ia mengasihiku dan saya pun mengasihi-Nya. Dia adalah Yesus Kristus”. Agnes menjadi saksi Kristus dalam bentuk tindakan nyata dan pernyataan iman yang begitu singkat-jelas, bukannya ulasan teologis rumit dan ‘ribet’, bukan pula khotbah yang panjang-panjang dan ‘ngalor-ngidul’ dari atas mimbar. Agnes wafat sebagai seorang martir (+ 304), mati ditusuk pedang ketika dibakar hidup-hidup. Ini adalah martyria (kesaksian) dalam arti sesungguh-sungguhnya. 

Karena kita mempunyai Allah yang penuh kasih, yang tidak akan pernah menolak siapa pun, marilah kita pergi menghadap-Nya dengan hati yang terbuka lebar agar dapat menerima anugerah apa saja yang ingin diberikan-Nya kepada kita. Dia rindu untuk memberikan kepada kita masing-masing setiap berkat dan rahmat-Nya. Dia rindu untuk menarik orang-orang dari keempat penjuru dunia dan membawa mereka ke hadapan hadirat-Nya, dan untuk memberkati mereka dengan cintakasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami tidak menginginkan apa pun juga kecuali Dikau. Tak ada sesuatu pun yang dapat memuaskan rasa dahaga dan lapar kami, kecuali Dikau sendiri. Ajarlah kami untuk mendekati-Mu dengan berdesak-desakan bersama saudara-saudari kami yang lain, guna menerima cintakasih-Mu dan kuasa penyembuhan-Mu dalam hidup kami. Tuhan peluklah kami erat-erat di dekat hati-Mu yang mahakudus. Amin.

 Cilandak, 10 Januari 2010 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 


Comments




Leave a Reply