Ingatkah Saudara-saudari pada rangkaian misteri baru dalam Doa Rosario yang sejak Oktober 2002 diusulkan oleh almarhum Paus Yohanes Paulus II? Rangkaian peristiwa atau misteri yang baru adalah peristiwa atau misteri Cahaya (Terang) yang didoakan setiap hari Kamis.[1] Nah, peristiwa atau misteri ketiga dari Peristiwa Terang ini adalah “Yesus mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan”. Memang ada kaitan erat antara pewartaan Kerajaan Allah dan ajakan untuk bertobat. Oleh karena itu, meskipun tulisan ini adalah tentang ‘pertobatan’, dengan singkat akan tetap dijelaskan hubungan antara kedua hal tersebut.

Pewartaan Kerajaan Allah oleh Yesus, para rasul dan Fransiskus
Sesungguhnya, memang pewartaan Injil Yesus Kristus harus berarti pemberitaan mengenai Kerajaan atau Pemerintahan Allah. Bukankah dalam Doa Bapa Kami yang kita panjatkan begitu seringnya, selalu terucap dari bibir kita permohonan ini: ‘Datanglah Kerajaan-Mu’? Yesus sendiri bersabda: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” [Mat 6:33].[2] Bagi Yesus, Kerajaan Allah merupakan satu-satunya yang mutlak, yang lainnya adalah tambahan. Paus Paulus VI dalam Evangelii Nuntiandi [EN][3]  juga dengan jelasberbicara tentang sentralitas dari Kerajaan Allah ini: “Hanyalah Kerajaan yang bersifat mutlak, dan menjadikan setiap hal lainnya bersifat relatif” [EN 8].

Meskipun pembahasan mengenai Kerajaan Allah dapat menjadi kompleks, dalam tulisan ini kita akan mendekatinya dengan cara yang sederhana. Kerajaan Allah berarti Allah membuat diri-Nya sendiri hadir bagi kita dalam Yesus. Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar kemuliaan Allah dan gambar keberadaan Allah yang sesungguhnya [Ibr 1:3]. Dengan demikian Kerajaan Allah adalah suatu tindakan Allah yang penuh kasih, kepadanya kita diundang untuk menyerahkan diri kita dalam kepercayaan total, dan dalam penundukan diri itu kita pun dimerdekakan. Allah sungguh menghendaki diri-Nya meraja pada pusat keberadaan kita untuk membebaskan kita dari berhala-berhala yang memperbudak kita, justru pada pusat keberadaan kita. Yesus bersabda, “… apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” [Yoh 8:36]. Pemerintahan Allah bukanlah ‘rahmat’ murahan; melainkan rahmat yang dapat mentransformasikan seorang pribadi. Allah yang dalam kasih menciptakan kita, dalam kasih pula ingin menciptakan kita kembali. Paulus menulis, “… siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” [2 Kor 5:17]. Yesus  menjawab pertanyaan Nikodemus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” [Yoh 3:3].

Tidak hanya Yesus yang mewartakan kabar baik tentang Pemerintahan atau Kerajaan Allah. Ia mempercayai 72 orang murid-Nya untuk mewartakan hal yang sama, ketika mengutus mereka [Luk 10:9.11]. Memang Kerajaan Allah bukanlah tema utama dalam surat-surat Santo Paulus, namun dia menyebutnya beberapa kali, misalnya:

§   Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus [Rm 14:17].
§   Sebab Kerajaan Allah tidak terdiri dari perkataan tetapi dari kuasa [1Kor 4:20].
§   Atau tidak tahukah kamu bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, pezina, laki-laki yang bersetubuh dengan sesama jenisnya, pasangan orang yang berbuat demikian, pencuri, orang tamak, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah [1Kor 6:9-10].
§   Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. … Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mewarisi Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mewarisi apa yang tidak binasa [1Kor 15:24.50].
§   Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, percekcokan, perpecahan, kedengkian, bermabuk-mabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu – seperti yang telah kulakukan dahulu – bahwa siapa saja yang melakukan hal-hal demikian tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah [Gal 5:19-21].
§   Kamu tahu, betapa kami, seperti bapak terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya [1Tes 1:11-12].

Kisah Para Rasul (Kis) juga mencatat beberapa kali tentang Kerajaan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Kerajaaan Allah sungguh merupakan bagian penting dalam khotbah-khotbah pengajaran Santo Paulus:  
§   Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan berbicara dengan berani serta berdebat dengan mereka untuk meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah [Kis 19:8].
§   Sekarang aku tahu bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah [Kis 20:25].
§   Lalu mereka menentukan suatu hari untuk Paulus. Pada hari itu datanglah mereka dalam jumlah besar ke tempat tumpangannya. Ia menerangkan dan bersaksi kepada mereka tentang Kerajaan Allah; dan berdasarkan hukum Musa dan kitab para nabi ia berusaha meyakinkan mereka tentang Yesus. Hal itu berlangsung dari pagi sampai sore [Kis 28:23].
§   Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus [Kis 28:30-31: dua ayat terakhir dalam Kisah Para Rasul].

Tidak perlu diragukan, para rasul yang lain pun juga menempatkan Kerajaan Allah sebagai inti pewartaan mereka, seperti telah diinstruksikan Yesus kepada mereka, pada waktu mengutus mereka untuk pertama kalinya, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat [Mat 10:7 dsj.]. 

Melihat pentingnya Kerajaan Allah dalam pewartaan Yesus dan para rasul, maka tidak mengherankanlah kalau tema yang sama juga mengambil peran yang sentral dalam karya pelayanan Fransiskus dari Assisi dan bagi semua orang yang akan mendengarkan dia. Pada waktu itu komunitas Saudara-saudara dina baru berjumlah delapan orang. Thomas dari Celano menulis, bahwa Fransiskus mengumpulkan para saudaranya, kemudian menceritakan kepada mereka banyak hal tentang Kerajaan Allah,[4] penghinaan dunia, penyangkalan kehendak sendiri dan penundukan tubuh mereka sendiri, kemudian membagi mereka menjadi empat kelompok dari dua orang dan berkata kepada mereka: Pergilah berdua-dua, saudara-saudara terkasih, ke pelbagai penjuru dunia wartakan kepada orang-orang damai dan pertobatan demi pengampunan dosa-dosa … [1Cel 29). Santo Bonaventura juga mencatat, bahwa Fransiskus bersama para saudaranya pergi ke Santa Maria dari Portinciula. Di situ pun dia menjadi bentara Injil. Ia menjelajahi kota-kota dan kampung-kampung dan mewartakan Kerajaan Allah dengan kata-kata, yang bukannya diajarkan oleh hikmat manusia, melainkan oleh kuat-kuasa Roh Kudus [LegMaj IV:5, bdk. 1Cel 36 dan Kisah 3 Sahabat [K3S] 54]. Dalam Aturan untuk Hidup di Pertapaan, Fransiskus menulis, antara lain, “Hendaklah mereka mencari dahulu Kerajaan Allah  dan kebenarannya” (AtPert, 3).

Sekarang, apa kaitan pewartaan Kerajaan Allah dengan pertobatan? Orang bertanya apakah ada relevansinya antara pewartaan Kerajaan Allah dengan pertobatan? Tanggapan yang diminta oleh Yesus dari pewartaan tentang aturan cinta kasih Allah adalah metanoia (pertobatan atau conversio dalam bahasa Latin). Yesus menyerukan pertobatan: “Bertobatlah (Yunani: metanoeite), sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” [Mat 4:17]. Dalam Injil Markus, Yohanes Pembaptis juga menyerukan pertobatan:[5] “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” [Mrk 1:15]. 

Melakukan Pertobatan
Dalam ‘Riwayat Hidup yang Pertama’, Thomas dari Celano menginformasikan kepada kita bahwa pada suatu hari ketika Fransiskus menghadiri Misa di sebuah gereja, dia mendengar pembacaan Injil di mana diceritakan Yesus mengutus para murid-Nya untuk mewartakan Kabar Baik. Ayat-ayat Injil itu hanya ditangkapnya sekadarnya saja (Latin: utqumque) dan setelah Misa dia pun dengan rendah hati mohon kepada imam untuk menjelaskan ayat-ayat itu lebih jauh lagi kepadanya. Imam menjelaskan bahwa Yesus mengutus para murid-Nya untuk suatu misi ‘tanpa emas atau perak atau uang … untuk mewartakan Kerajaan Allah dan pertobatan.’[6] Dipenuhi Roh Kudus, Fransiskus menanggapi penjelasan sang imam, “Inilah yang kucari, inilah yang ingin kulakukan dengan segenap hatiku.” Dengan penuh sukacita Fransiskus lalu bergegas-gegas melaksanakan nasihat yang tersurat dan tersirat dalam ayat-ayat Injil tadi. Sepatu dilepaskannya, tongkat dibuangnya, dan dia pun puas dengan satu jubah saja dan … ikat pinggang kulitnya pun ditukarnya dengan seutas tali. Dan Ia pun mengenakan jubah yang terbuat dari kain kasar dan berbentuk salib[7] agar dengan itu daging dengan cacat-cacat dan nafsu-nafsunya disalibkan ……    [1Cel 22].[8] Dari sini kelihatanlah bahwa mewartakan Kerajaan Allah dan pertobatan[9] berjalan seiring.

Pater Charles V. Finnegan, OFM (CVF)[10], mengatakan, bahwa walau pun kelihatannya aneh bagi kita untuk mengkaitkan pewartaan Kerajaan Allah dengan pertobatan, itu dikarenakan dalam bahasa moderen makna ‘pertobatan’ telah dikecilkan, sehingga makna alkitabiahnya yang begitu kaya dihilangkan. Apabila pertobatan dimengerti dalam arti alkitabiahnya yang kaya, seperti dipahami dengan baik oleh Fransiskus, maka ‘pertobatan’ dilihat sebagai tanggapan satu-satunya yang memadai terhadap pesan Injil sentral tentang Kerajaan Allah [CVF, hal. 292]. Pertama-tama, ‘pertobatan’ adalah suatu perubahan pikiran, suatu perubahan hati. Orang-orang yang melakukan ‘pertobatan’ secara tetap ‘membuang dirinya yang lama’ dan menggantikannya dengan pribadi baru yang diciptakan dalam rupa dan gambaran Allah [lihat Ef 4:23]. Pertobatan membawa seseorang kepada rekonsiliasi dengan Allah, dengan dirinya yang sebenarnya, dengan orang-orang lain dan dengan segala ciptaan. Pertobatan dan rekonsiliasi tak dapat dipisahkan. Bersama-sama kedua hal itu membawa kita untuk menjadi ‘dalam Kristus, suatu ciptaan baru’, seperti ditulis Santo Paulus: “Jadi, siapa saja yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang [2Kor 5:17]. Dengan demikian ‘pertobatan’ dan rekonsiliasi mengakibatkan perubahan-perubahan yang paling radikal dalam diri seseorang. Melalui Nabi Yehezkiel, Allah berfirman kepada umat-Nya:
Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya [Yeh 36:25-27].[11]

Pertobatan Injili berarti berbalik dari suatu kehidupan yang berpusat pada diri sendiri (a self-centered life) kepada suatu kehidupan yang berpusat pada Allah (a God-centered life). Seseorang yang melakukan pertobatan Injili mencari sampai menemukan nilai sebenarnya dari dirinya bukanlah dari nilai kekayaan yang dimilikinya, bukan dari segala talenta yang dimiliknya,  bukan dari segala kekuasaan yang dimiliknya, bukan pula ketenaran atau kenikmatan yang dapat dinikmatinya, melainkan hanya pada karunia bebas dari cinta kasih Allah yang tanpa syarat. Perubahan yang terjadi pada bagian terdalam diri seseorang –  yang dinamakan ‘hati’ dalam Kitab Suci – dapat diungkapkan dalam perubahan sikap dan perilaku, ‘buah-buah pertobatan’. Selagi kita terus menerus melakukan pertobatan, maka sikap dan perilaku kita pun menjadi lebih mengasihi, mengingatkan kita kepada Yohanes Pembaptis yang mewartakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa, dan dia mengatakan, “… hasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan” (Luk 3:8). “Siapa saja yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa saja yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian. … Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu. … Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah diri dengan gajimu” [Luk 3:11.13.14]. Perubahan sikap dan perilaku merupakan arti ‘pertobatan’ yang kedua. Yang ketiga adalah tindakan-tindakan asketisisme atau penyangkalan diri lainnya.

Dengan demikian panggilan Injili untuk melakukan pertobatan sebenarnya lebih daripada sekadar suatu panggilan untuk melakukan tindakan mati raga, ulah tapa atau mempraktekkan kebajikan ini  atau keutamaan itu. Panggilan Injili untuk melakukan pertobatan adalah sebuah ‘undangan untuk memusatkan kembali hidup kita pada Allah dan mendasarkan seluruh keberadaan kita pada karunia bebas dari cinta kasih Allah’. Melakukan pertobatan terdiri dari aversio (menghindarkan diri dari kuasa dosa dan kematian) dan conversio (berpaling kepada Allah). Pertobatan adalah rahmat untuk mentransenden (melampaui) batas-batas suatu keberadaan yang bersifat egosentris yang telah begitu menyesakkan roh manusia, dan kemudian mengulurkan tangan kepada orang-orang lain dalam cinta kasih. 

Pertobatan adalah rahmat yang diberikan kepada seseorang ‘untuk menyangkal diri sendiri’-nya sendiri – khayalan tentang dirinya sendiri yang keliru/salah, terutama khayalan berkenan dengan otonomi mutlak yang dimilikinya – dan kemudian menyerahkan dirinya dengan penuh kepercayaan kepada Allah yang adalah Kasih. Dalam penyerahan diri tersebut orang bersangkutan menemukan kebebasan. Dalam menemukan nilai sejati dari dirinya dalam karunia bebas dari cinta kasih Allah yang tanpa syarat itu, seseorang menemukan damai. Seorang rahib Cistercian terkenal, Thomas Merton, menulis tentang paradoks ini: “Agar aku menjadi diriku sendiri aku harus berhenti menjadi orang yang aku selalu pikir aku mau menjadi dia, dan agar menemukan diriku sendiri aku harus keluar dari diriku, dan agar hidup, aku harus mati” [CVF, hal.293].

Mati raga, ulah tapa, penyangkalan diri, yang begitu berarti bagi Santo Fransiskus, penting terutama karena semua mengungkapkan dan memberi makanan bagi perubahan yang terjadi di dalam, perubahan hati. Pertimbangkanlah, misalnya, tindakan pertobatan tradisional dalam bentuk puasa dan pantang. Puasa dan pantang bukanlah sekadar memperkecil tingkat konsumsi makanan dan minuman. Juga ada perbedaan besar antara puasa dan pantang dengan ber-diet. Aku melakukan diet demi aku sendiri. Di lain pihak aku seharusnya menjalankan puasa dan pantang demi orang-orang lain:
“Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” [Yes 58:6-7].

Berpuasa dan berpantang berarti meninggalkan suatu kehidupan yang kurang berbela rasa dan masuk ke dalam suatu kehidupan yang lebih memiliki bela rasa. Untuk seorang pentobat sejati, seseorang melakukan semua pertobatannya demi pelayanan kasih kepada Allah dan sesama.

Peranan sentral dari Pertobatan
Yesus memusatkan keseluruhan diri-Nya pada Bapa-Nya. Tidak ada ilah lain dalam hidup-Nya. Yesus bersabda, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” [Yoh 4:34]. Walau pun pemusatan diri kita masih salah, Yesus tetap memanggil kita dengan penuh cinta kasih agar memusatkan hidup kita pada Bapa surgawi juga, seperti yang telah ditunjukkan-Nya. Dia mengundang kita untuk mengikuti jejak-Nya. Tidak mengherankanlah kalau khotbah-Nya yang pertama yang tercatat dalam Injil adalah panggilan kepada orang-orang untuk bertobat [Mat 4:17; Mrk 1:15]. Pada suatu kesempatan Yesus bersabda, “… jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian” [Luk 13:5]. Sesungguhnya tidak hidup dalam pertobatan sama artinya dengan mengundang malapetaka ke dalam kehidupan kita, karena pertobatan adalah syarat yang bersifat hakiki untuk memperoleh keselamatan. Perintah Yesus terakhir kepada para rasul adalah amanat untuk mewartakan pertobatan untuk pengampunan dosa kepada segala bangsa [Luk 24:47]. Amanat ini ada padanannya dalam kitab-kitab Injil yang lain: “… pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku …” [Mat 28:19]; “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada semua makhluk.…” [Mrk 16:15]. Sebenarnya ini adalah tiga cara yang berbeda untuk mengatakan hal yang pada hakekatnya sama: mewartakan Injil = mewartakan pertobatan = menjadikan murid-murid.

Sebagai konsekuensinya, pertobatan menjadi sentral dalam pewartaan para rasul. Pada saat diadili di hadapan Raja Agripa, Paulus mengucapkan kata-kata sebagai berikut: “Sebab itu, ya Raja Agripa, kepada penglihatan yang dari surga itu tidak pernah aku tidak taat. Tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan pertobatan itu” [Kis 26:19-20].

Menolak seruan untuk bertobat merupakan tragedi, karena siapa yang tidak menerima panggilan untuk bertobat berarti melawan Yesus dan menolak undangan-Nya untuk menjadi murid-Nya. Inilah juga ‘nasib’ para Farisi dan ahli Taurat. Marilah kita baca dan renungkan satu ayat dalam Injil yang paling tragis, yaitu ayat yang berbunyi seperti berikut: “Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes” [Luk 7:30]. Mengapa baptisan Yohanes begitu pentingnya? Memang penting, karena baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan, seperti berulang-ulang dikatakan dalam Perjanjian Baru [Mat 3:11; Mrk 1:14-15; Luk 3:8; Kis 19:4]. Pesannya jelas: Menolak panggilan untuk bertobat adalah ‘menolak maksud Allah atas kehidupan seseorang’, dan dari perspektif Yesus hal ini berarti tragedi yang paling besar dan menyedihkan. 

Seseorang yang menolak ajakan untuk bertobat berarti dia menghayati suatu kehidupan yang tidak berpusat pada Allah, artinya hidupnya berpusat pada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itulah yang dinamakan ‘berhala’, ‘idola’ atau ‘ilah’. John Shea, seorang imam praja yang banyak menulis buku, dalam salah satu bukunya[12] menyatakan, bahwa menurut suatu tradisi alkitabiah, berhala-berhala melakukan tiga hal kepada mereka yang menyembah berhala-berhala itu: berhala-berhala itu menjadi suatu obsesi, mereka memperbudak, dan dengan berlalu waktunya pada akhirnya mereka merusak para penyembah berhala tersebut. Pemazmur mengatakan: 
“Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya” [Mzm 115:4-8].

Penyembahan berhala merupakan suatu keterikatan pada sesuatu yang akan membawa orang kepada maut. Kitab Suci menyebutkan sejumlah berhala termaksud: ego seseorang, pembenaran diri sendiri, pengejaran kekayaan, kekuasaan, prestise, kenikmatan. Orang melihat nilai dirinya dengan menggunakan ukuran pada apa yang dimiliki, dalam jabatannya (dalam dunia, gereja, komunitas), dalam apa yang dicapainya, dalam talenta yang dimilikinya, bahkan dalam penampilannya.

Apabila kita memusatkan hidup kita pada Allah dan menempatkan diri kita sepenuhnya di hadapan Allah yang mengasihi, yang siap memberikan karunia-karunianya secara bebas kepada kita, maka kita pun akan terbebaskan dari segala pengganti Kasih sejati – berhala-berhala yang begitu menyesakkan roh manusia. Yesus bersabda: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. … Jadi, apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” [Yoh 8:31-32.36].

Dengan demikian pertobatan bukanlah terutama bersifat negatif, malah dapat dikatakan terlebih-lebih sebagai musim semi baru dalam perjalanan spiritual kita, suatu awal baru yang dipenuhi harapan besar. Kata Inggris untuk masa Prapaskah adalah Lent  yang berasal dari kata anglo-saxon yang berarti “musim semi” (spring).  

Contoh dari kehidupan Santo Fransiskus
Fransiskus mengawali Wasiatnya dengan menulis sebagai berikut: 
“Beginilah Tuhan menganugerahkan kepadaku, Saudara Fransiskus, untuk mulai melakukan pertobatan. Ketika aku dalam dosa, aku merasa amat muak melihat orang kusta. Akan tetapi Tuhan sendiri menghantar aku ke tengah mereka dan aku merawat mereka penuh kasihan. Setelah aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa memuakkan, berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan badan; dan sesudahnya aku sebentar menetap, lalu aku meninggalkan dunia” [Was 1-3].

Fransiskus menghayati hidup pertobatan dalam arti alkitabiah. Hidupnya (setelah pertobatannya) jelas berpusat pada Allah. Bagi Fransiskus, doanya, DEUS MEUS ET OMNIA (Allahku dan segalanya-ku), bukanlah suatu ucapan kosong. Setelah menerima stigmata, hidup Fransiskus begitu berpusat pada Allah sehingga dengan polos dan jujurnya dia dapat menuliskan ‘Pujian bagi Allah yang Mahaluhur’ (PujAllah) pada Lembaran Kecil untuk Saudara Leo.

Pada Wasiatnya di atas Fransiskus membagi kehidupannya menjadi dua periode, yaitu ‘ketika aku dalam dosa’ dan ‘ketika Tuhan menganugerahkan (rahmat) kepadaku untuk mulai melakukan pertobatan’ (lihat Was 1).

1.     ‘Ketika aku dalam dosa’ berarti ketika Fransiskus menghayati suatu kehidupan yang berpusat pada diri sendiri (a self-centered life), mengejar ketenaran dan kekayaan, bahkan tega membunuh demi  tercapainya kemuliaan pribadi.[13] 
2.     ‘Ketika Tuhan menganugerahkan (rahmat) kepadaku untuk mulai melakukan pertobatan’ – yang dimaksudkan di sini adalah rahmat kebebasan dari berhala pemusatan pada diri sendiri (idol of self-centeredness), dan karunia dari yang terindah dari semua penemuan, yaitu bahwa pusat sesungguhnya adalah Allah dan pendasaran dari segalanya adalah Allah, yang lain-lainnya adalah pendasaran yang  tidak benar.

Dalam konteks ini baiklah untuk mencatat bahwa baik Fransiskus maupun monastisisme abad pertengahan menggunakan ungkapan ‘meninggalkan dunia’, namun mengartikannya sangat  berbeda satu sama lain. Para rahib (monastisisme) secara harfiah meninggalkan dunia (Latin: fuga mundi) lalu menjalani hidup doa dan kerja (Latin: ora et labora) di dalam biara dan tanah milik biara, seringkali dengan mengucapkan janji untuk menetap (stabilitas loci). Dalam tulisan-tulisannya Fransiskus berbicara lima kali mengenai para saudara (friar, fra, frater)  ‘pergi ke tengah-tengah dunia’; hal ini berarti kebalikan dari stabilitas loci yang dianut para rahib. Dalam Sacrum Commercium [SC], Tuan Puteri Kemiskinan bertanya kepada para saudara dina di mana lokasi biara mereka. Mereka mengajaknya naik ke sebuah bukit dan dari situ menunjukkan kepadanya seluruh dunia, sejauh yang dapat dilihat oleh Sang Tuan Puteri, lalu berkata: “Tuan Puteri, inilah biara kami” [SC 63]. Sementara itu dalam Chronica fratris Jordani, Jordan dari Giano mencatat bagaimana di Erfurt orang bertanya kepadanya apakah dia akan mendirikan sebuah rumah untuk para saudara dina seperti sebuah biara (Inggris: monastery). Jordan, yang belum pernah melihat sebuah biara dalam Ordo Saudara Dina, menjawab: “Aku tidak tahu apa biara itu, oleh karena itu dirikanlah bagi kami sebuah rumah di dekat air/sungai sehingga kami dapat turun untuk mencuci kaki kami” (CVF, hal. 296).

Jadi istilah ‘meninggalkan dunia’-nya para saudara dina sangat berbeda dengan ‘meninggalkan dunia’ menurut para rahib (monastik). Kalau Fransiskus berbicara mengenai ‘meninggalkan dunia’ [Was 3; AngTBul XXII:9], maka yang dimaksudkannya adalah merangkul suatu hidup pertobatan. Sesungguhnya dia memang meninggalkan dunianya yang begitu dicintainya sebelum dia  bertobat, yaitu dunia dari keberadaannya yang dipenuhi dengan pemusatan dirinya sendiri, dunia feodalisme yang membelah masyarakat menjadi maiores dan minores, kemudian memulai suatu hidup baru yang sungguh total; yaitu hidup seturut Injil Yesus Kristus, dalam sebuah persaudaraan di mana anggotanya adalah minores yang semuanya sederajat, yang sapaan satu sama lainnya berbunyi: “Tuhan memberikan damai kepadamu!”  Karena tidak lagi berminat untuk mendirikan sebuah kerajaan untuk dirinya sendiri, Fransiskus pun bebas untuk menjadi ‘bentara sang Raja Agung’ [1Cel 16; LegMaj II:5]. Dalam salah satu riwayat hidupnya diceritakan kepada kita bahwa sejak pertobatannya Fransiskus memutuskan untuk mengenakan ‘jubah pertobatan’ yang terbuat dalam bentuk sebuah salib, sehingga pikirannya dipenuhi dengan kebaktian bagi Kristus yang tersalib, tubuhnya akan ditutupi dengan sesuatu yang menyerupai salib. Jubah Fransiskan adalah’ sebuah jubah pertobatan’ [CVF, hal. 296].

Pada saat-saat menjelang akhir hidupnya di dunia, Fransiskus masih mendorong para saudaranya, “Marilah saudara-saudara, kita mulai mengabdi kepada Tuhan Allah, sebab hingga kini kita hampir tidak atau sedikit saja atau sama sekali tidak mencapai kemajuan” [1Cel 103]. Bagi Fransiskus pertobatan tidak pernah merupakan suatu pencapaian hasil, melainkan sebuah proses. Oleh karena itu dia berkata, “Tuhan menganugerahkan kepadaku (rahmat) untuk mulai melakukan pertobatan” [Was 1], karena melakukan pertobatan akan menjadi karakteristik sisa hidupnya. Baik Thomas dari Celano maupun Bonaventura menceritakan kepada kita bahwa Fransiskus ‘selalu baru’ dan ‘selalu mulai lagi’. Proses pertobatan Fransiskus baru selesai hanya ketika dia merangkul ‘Saudari Maut’. Tetapi perjalanan pertobatannya dimulai 20 tahun sebelumnya dengan suatu rangkulan atau pelukan lain – yaitu ketika dia memeluk seorang kusta. Fransiskus memang melayani orang-orang kusta [Was 1], tetapi jangan dilupakan bahwa sebaliknya juga terjadi … dia, dalam arti tertentu juga dilayani oleh orang kusta. Fransiskus pun berubah, malah pada lubuk hatinya yang terdalam………, “Tuhan sendiri menghantar aku ke tengah mereka (catatan: orang-orang kusta) dan aku merawat mereka penuh kasihan. Setelah aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa memuakkan, berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan  badan … [Was 1]. Jadi tindakan Fransiskus untuk merangkul seorang miskin dan kemudian merawat orang-orang kusta, membuatnya dia meredefinisikan apa yang pahit dan apa yang manis. Suatu pembalikan yang total dan lengkap! Sejak saat itu Fransiskus memulai kerasulan Injilinya, suatu proses cukup panjang dalam rangka pembentukan dirinya menjadi ‘dalam Kristus ciptaan baru’ [lihat 2Kor 5:17].

Pertobatan dalam pelayanan atau karya kerasulan Fransiskus
Pertobatan merupakan tema pokok dalam pelayanan atau karya kerasulan Fransiskus. Fransiskus hanya mengenal dua macam manusia: (1) Mereka yang melakukan pertobatan [1SurBerim I] dan (2) Mereka yang tidak melakukan pertobatan [1SurBerim II].[14] Jadi di satu pihak ada orang-orang yang berjuang untuk menghayati hidup yang berpusat pada Allah, dan di lain pihak terdapat orang-orang yang memilih untuk menjalani kehidupan yang berpusat pada diri mereka sendiri. Tidak melakukan pertobatan berarti menjadi anak setan [1SurBerim II:1-6]. 

Sesungguhnya beban berat dari pelayanan Fransiskus kepada para saudaranya dan kepada semua orang yang mau mendengarkannya adalah mengajak mereka untuk memasuki suatu hidup yang semakin berpusat pada Allah. Dalam peraturan hidup yang awal, Fransiskus menulis, “Akan tetapi kini, setelah kita melepaskan dunia, tidak ada hal lain yang dapat kita perbuat, kecuali mengikuti kehendak Tuhan dan berkenan kepada-Nya saja [AngTBul XXII:9]. Tidak ada hal lain yang dapat kita perbuat! Dalam “Doa dan Ucapan Syukur’ yang terdapat dalam peraturan hidup yang sama, tercatat juga bahwa Fransiskus hanya mengenal pembedaan seperti tadi: 
Kami bersyukur kepada-Mu, karena Putera-Mu itu akan datang lagi dalam semarak keagungan-Nya, untuk mengirim ke dalam api yang kekal orang-orang terkutuk yang belum melakukan pertobatan dan belum mengenal Engkau; dan untuk mengatakan kepada semua orang, yang telah mengenal dan menyembah Engkau serta mengabdi kepada-Mu dalam pertobatan: Marilah kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan [AngTBul XXIII:4].

Mengenal Allah dan melayani (atau mengabdi kepada) Allah berarti hidup dalam pertobatan, maka tidak hidup dalam pertobatan sama saja artinya dengan tidak mengenal Allah. Rahmat terbesar yang diberikan kepada orang adalah ‘untuk mati dalam pertobatan’, karena mereka akan mewarisi Kerajaan Surga, seperti tertulis dalam Peraturan Hidup yang lebih awal: “Berbahagialah mereka yang mati dengan bertobat sebab mereka akan tinggal di dalam kerajaan surga” [AngTBul XXI:7]. 

Pertobatan mengandung arti yang begitu penting bagi Fransiskus dan para saudaranya yang awal dalam pemahaman mereka tentang ‘hidup Injili’, sehingga pada waktu mereka melakukan perjalanan misioner mereka yang pertama di Italia bagian tengah, mereka mengidentifikasikan diri mereka sekadar sebagai ‘para pentobat dari Assisi’ [K3S 37]. Pertobatan juga merupakan topik sentral dan khotbah-khotbah perwartaan Kabar Baik mereka. Pada waktu Fransiskus masih mempunyai sebelas orang saudara,  dia mengutus para saudaranya itu sambil berkata: “Pergilah beserta dengan Tuhan, saudara-saudara; dan sejauh Tuhan mengilhami kamu, wartakanlah pertobatan kepada semua orang” [1Cel 33]. Bahkan sebelumnya, ketika Fransiskus hanya mempunyai enam orang saudara saja, dia mengutus mereka untuk mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus dengan instruksi sebagai berikut: “Saudara-saudara terkasih, marilah kita merenungkan panggilan kita yang dengannya Allah yang berbelaskasih memanggil kita, tidak hanya untuk keselamatan kita sendiri, tetapi juga untuk keselamatan banyak orang. Kita dipanggil untuk pergi ke tengah-tengah dunia untuk mengajak semua orang – lebih dengan teladan daripada dengan kata-kata – untuk melakukan pertobatan karena dosa mereka dan terus mengingat perintah Allah” [K3S 36; 1Cel 29]. AngTBul XXI sesungguhnya merupakan ajakan kepada semua orang untuk melakukan pertobatan. Di sini ditulis, bahwa ajakan ini atau yang serupa boleh diwartakan oleh semua Fransiskan, kapan saja mereka inginkan, di depan siapa pun dengan berkat Allah [lihat AngTBul XXI:1]. Kita baca satu ayat saja yang begitu tegas-jelas: “Lakukanlah pertobatan, hasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan sebab kita akan segera mati” [AngTBul XXI:3]. Dalam Surat Pertama kepada para Kustos, Fransiskus menulis: “Dalam setiap khotbah yang kamu bawakan, hendaknya kamu menasihati umat bahwa mereka mesti bertobat, dan bahwa tidak seorang pun dapat selamat kalau tidak menyambut tubuh dan darah Tuhan yang mahakudus” [1SurKus 6]. Dalam setiap khotbah yang kamu bawakan!

Ada kemungkinan besar bahwa Santo Fransiskus hadir dalam Konsili Lateran IV pada tahun 1215. Pada tanggal 11 November Paus Innocentius III memberikan homili terkenal kepada mereka yang hadir dalam Konsili tersebut. Homili itu berisikan sebuah refleksi atas Yehezkiel 9 yang berbicara mengenai TAU yang harus ditandai pada dahi orang-orang di Yerusalem ‘yang berkeluh kesah karena segala perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan di sana’ [Yeh 9:4]. Paus mengatakan:
TAU … mengambil bentuk sebuah salib, seperti juga salib [Kristus] sebelum dilengkapi dengan papan yang memuat catatan dari Pilatus. Seseorang diberi tanda TAU di dahinya, dan menunjukkan dalam tindakannya kemegahan salib. Kalau orang bertandakan TAU, hal itu berarti dia menyalibkan dagingnya yang mengandung banyak dosa dan kejahatan. Seseorang yang bertandakan TAU memproklamasikan: “Aku tidak menginginkan kemuliaan dalam apa saja kecuali dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus.” Siapa saja yang ditandai dengan TAU akan menemukan belaskasih; ITU ADALAH TANDA DARI HIDUP PENTOBAT YANG DIBAHARUI DALAM KRISTUS.  Oleh karena itu jadilah pejuang TAU  dan salib! [CVF, hal. 298].

 

Semua ini meringkas keseluruhan pendekatan Fransiskus terhadap kehidupan: suatu kehidupan seorang pentobat yang dibaharui dalam Kristus. Menurut Yehezkiel, hanya mereka yang berbalik dari dosa saja yang ditandai dengan TAU. Jadi tidak mengherankanlah kalau TAU begitu berarti bagi Fransiskus, sehingga dia menanda-tangani surat-suratnya dengan TAU dan mendekorasikan tembok-tembok sel-sel para saudara dengan TAU itu [3Cel 3, lihat CVF, hal. 298].[15]

Seperti sangat dimengerti oleh Fransiskus, hidup pertobatan dan conversio yang terus menerus terutama bukanlah hasil kerja kita sendiri, karena semuanya murni rahmat: “Beginilah Tuhan menganugerahkan (rahmat) kepadaku, Saudara Fransiskus, untuk mulai melakukan pertobatan” (Was 1). Kitab Suci seringkali menggaris bawahi bahwa pertobatan, rekonsiliasi dan hidup baru yang menyusulnya adalah karunia dari Allah semata [lihat Ul 8:17 dsj.; Yoh 6:44 dan 15:5; 1Kor 1:26-31; Ef 2:4-10].

Santa Klara
Dalam proses kanonisasinya ada dua puluh orang yang memberi kesaksian, lima belas di antaranya adalah para suster Klaris dari San Damiano. Delapan orang di antaranya mengenal Klara sejak masa kecilnya dan enam orang lagi mengenal dia dengan baik. Para saksi menekankan berulang-ulang, bahwa sejak masa mudanya, selagi hidup bersama orang tuanya, Klara menghayati hidup yang sangat suci yang diisi dengan semangat pertobatan sejati. Dia membaktikan dirinya untuk berdoa, berpuasa dan bermurah hati kepada orang-orang miskin. Klara menulis sesuatu tentang pertobatannya:

Setelah Bapa surgawi yang Mahatinggi atas dasar belas kasihan dan kasih karunia-Nya berkenan menerangi hatiku supaya melakukan pertobatan seturut teladan dan ajaran bapa kita yang tersuci, Fransiskus, tidak lama setelah beliau sendiri bertobat, maka bersama beberapa saudari yang diberikan Tuhan kepadaku tidak lama setelah aku bertobat, aku dengan rela hati menjanjikan ketaatan kepada beliau sebagaimana Tuhan dengan cahaya rahmat-Nya mengilhamkannya kepada kami melalui cara hidup terpuji dan ajaran beliau (Wasiat S. Klara 24-26).

Setelah Bapa surgawi Yang Mahatinggi karena kasih karunia-Nya berkenan menerangi hati saya, supaya saya melakukan pertobatan sesuai dengan teladan dan ajaran bapa kita Santo Fransiskus tidak lama setelah beliau sendiri bertobat, maka saya bersama-sama dengan saudari-saudari saya dengan rela hati menjanjikan ketaatan kepada beliau (Anggaran Dasar Santa Klara VI:1). 

Selama proses kanonisasinya, begitu banyak saksi yang berbicara mengenai praktek-praktek pertobatan yang dilakukan oleh Klara setelah dia masuk biara. Klara memang pengikut Fransiskus yang paling hebat! Hidup pertobatan Ibu pendiri ordo kedua ini diikuti oleh sekian banyak puteri-puteri Gereja yang terbaik, dari segala tingkat dalam masyarakat, sampai hari ini

ORDO KETIGA
Bagaimana dengan ordo ketiga? Pertobatan terus-menerus merupakan bagian yang bersifat hakiki dari kharisma ordo ketiga, baik regular maupun sekular. Sejak akhir abad ke 13 mereka disebut Fransiskan Ordo Ketiga atau Franciscan Tertiaries dalam bahasa Inggris. Namun aslinya, mereka dikenal sekadar sebagai “Para Saudara dan Saudari Pentobat” dan kemudian sebagai “Para pentobat Fransiskus yang terberkati”.[16]

Sebagai catatan penutup, baiklah kita bersama-sama membaca dan merenungkan sejenak sebuah petikan dari AD OFS:
Sebagai Saudara-saudara dan Saudari-saudari Pentobat mereka, karena panggilannya dan terdorong oleh dinamika Injil, hendaknya menyerupakan cara berpikir dan tingkah laku mereka dengan Kristus melalui jalan pertobatan batin yang mendasar dan sempurna, yang oleh Injil sendiri disebut Conversio; karena kelemahan manusiawi, tobat itu perlu mereka jalankan setiap hari. Pada jalan pembaharuan ini, Sakramen Pengakuan merupakan suatu tanda istimewa kerahiman Bapa dan sumber rahmat [AD OFS, Artikel 7].

PERTANYAAN-PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN SECARA PRIBADI ATAU DIDISKUSIKAN DALAM KELOMPOK KECIL:
1.     Dalam Evangelii Nuntiandi (butir 15), Paus Paulus VI berbicara mengenai Gereja sebagai “Umat Allah yang diceburkan dalam dunia ini, dan kerap kali digoda oleh berhala-berhala.” Berhala-berhala apa saja yang paling menggoda kita dan Gereja dewasa ini? Bagaimana contoh Santo Fransiskus dan Santa Klara mendorong kita untuk menolak berhala-berhala ini?
2.     Teks-teks Kitab Suci dan teks-teks Fransiskan yang dipetik di atas menunjuk pada sentralitas pertobatan (conversio yang terus menerus). Sebagai seorang Fransiskan, dalam pengalaman hidup anda sehari-hari  dan juga hidup kerasulan/pelayanan anda, apakah tema sentral ‘pertobatan’ ini memainkan peranan penting? Sampai berapa penting?
3.     Pada masa Prapaskah ini, hampir dapat dipastikan anda menyempatkan diri untuk mengikuti ‘Jalan Salib’, entah di gereja entah di rumah. ‘Jalan Salib’ adalah devosi asli Fransiskan. Apakah dalam ‘Jalan Salib’ anda mampu menghubungkan berbagai penderitaan fisik dan emosional anda dengan penderitaan-penderitaan Yesus seperti yang diungkapkan dalam ‘Jalan Salib’ ?

*) Disusun oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS untuk digunakan dalam pertemuan Persaudaraan OFS Santo Thomas More (Jakarta Selatan), Hari Minggu Palma Memperingati Sengsara Kristus, 16 Maret 2008.

[1] Sebagai konsekuensinya, Peristiwa Gembira yang biasa didoakan pada hari Senin dan Kamis diubah menjadi Senin dan Sabtu. Penulis menganjurkan bahwa dua hari ini kita para Fransiskan awam, mendoakan Korona Fransiskan, karena dari tujuh peristiwanya, lima peristiwa yang pertama praktis identik dengan lima peristiwa gembira. Peristiwa Sedih tetap didoakan pada setiap hari Selasa dan Jumat; sedangkan Peristiwa Mulia didoakan pada setiap hari Minggu dan Rabu (dahulu didoakan pada hari Minggu, Rabu dan Sabtu).
[2] Teks Perjanjian Baru diambil dari PERJANJIAN BARU – TB Edisi 2  (TB 2), Lembaga Alkitab Indonesia, 1998.
[3] Imbauan Apostolik dari Bapa Suci Paulus VI EVANGELII NUNTIANDI tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern 8 Desember 1975 (terjemahan KWI, Maret 1990). Ada juga terjemahan oleh Marcel Beding, PEWARTAAN INJIL KEPADA BANGSA-BANGSA – AMANAT APOSTOLIK EVANGELII NUNTIANDI DARI PAUS PAULUS VI TENTANG EVANGELISASI DI DALAM DUNIA MODERN, Penerbit Nusa Indah, 1977.
[4] Frase tentang Kerajaan Allah ini tak ada dalam terjemahan bahasa Indonesia oleh Pater P.J. Wahyasudibja, OFM, Thomas dari Celano, ST. FRANSISKUS DARI ASISI, Jakarta: Sekafi, Cetakan II 1984 [PJW].
[5] Kata Yunani yang digunakan di sini adalah ‘meta-noeo’ yang berarti ‘perubahan pikiran’. Ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai ‘poenitentiam agere’ lihat (CVF, hal. 292).
[6] Peristiwa ini terjadi pada hari Pesta Rasul Matias, tanggal 24 Februari 1209 (atau 1208) di sebuah gereja kecil di lembah yang letaknya sekitar 2 km di sebelah barat daya kota Assisi. Kini, gereja kecil yang asli dilingkupi dengan kubah besar dan gereja basilika. Pada zaman Fransiskus, gereja kecil ini dikelilingi hutan. Gereja kecil itu pada zaman Fransiskus adalah milik para rahib Benediktin di Monte Subasio, namun dalam keadaan tidak terpakai.
[7] Yaitu huruf Yunani Tau, jika lengan jubah dibentangkan dan kap dipakai di atas kepala.
[8] Baca teks pengutusan para rasul dalam Mat 10:7-15; Mrk 6:7-13; Luk 9:1-6 dan 10:1-16.
[9] ‘Pertobatan’ adalah gagasan pusat dalam spiritualitas Fransiskus (dan juga tentunya para Fransiskan) dan sama artinya dengan metanoia dalam Perjanjian Baru.
[10] Charles V. Finnegan, OFM, THE REIGN OF GOD AND PENANCE (1 Cel 22) dalam The Cord, November, 1992.
[11] Teks Perjanjian Lama diambil dari ALKITAB TERJEMAHAN BARU (TB), Lembaga Alkitab Indonesia, 1974.
[12] THE CHALLENGE OF JESUS, Garden City, N.Y.: A Doubleday Image Book, hal. 66-67.
[13] Pater Charles V. Finnegan, OFM mengingatkan pembaca artikelnya tentang Pertempuran Collestrada pada tahun 1202 yang sangat berdarah itu, di mana Fransiskus turut ambil bagian sebagai seorang anak muda. Ia melontarkan beberapa pertanyaan untuk kita renungkan: Sebelum Fransiskus menjadi tawanan perang, berapa jumlah orang yang dilukai oleh Fransiskus dan berapa orang yang dibunuhnya? (CVF, hal. 296).
[14] Surat Pertama kepada Kaum Beriman (1 SurBerim) juga dimasukkan ke dalam Mukadimah AD OFS.
[15] Lihat misalnya Lembaran Kecil untuk Saudara Leo, khususnya permukaan yang memuat ‘berkat untuk saudara Leo.
[16] Anggota OFS yang ingin mendalami, harap membaca Raffaele Pazzelli, TOR, ST. FRANCIS AND THE THIRD ORDER, Chicago, ILL.: Franciscan Herald Press, 1989 (235 halaman).
 


Comments

08/03/2010 23:59

To do great work a man must be very idle as well as very industrious.

Reply
09/16/2010 18:32

I love waking up in the morning and not knowing what's going to happen, or who I'm going to meet, where I'm going to wind up.《TITANIC》

Reply
10/27/2010 18:04

I find life an exciting business and most exciting when it is lived for others.

Reply
11/28/2010 22:02

De todas maneras te respondo de manera mas detallada en el blog...

Reply
03/22/2012 08:30

good post

Reply
03/27/2012 20:14

THX for info

Reply
09/28/2012 06:15

Appreciate your information

Reply



Leave a Reply