Sdr. F.X. Indrapradja, OFS *)

Tiga fungsi imam selalu diungkapkan dalam dokumen-dokumen Gereja yang menyangkut Imam dan martabat Imamatnya, bahkan juga dalam Liturgi. Misalnya, dalam Instruksi “Imam, Gembala dan Pemimpin Paroki”  [IGPP] yang diterbitkan oleh Kongregasi Klerus (4 Agustus 2002), dinyatakan bahwa Imam, alter Christus, di dalam Gereja adalah pelayanan karya keselamatan hakiki. Dengan kuasanya atas Tubuh dan Darah Penebus, dengan kuasanya mewartakan Injil, mengatasi kejahatan dosa melalui pengampunan sakramental, ia – in persona Chirsti capitis – adalah sumber kehidupan dan daya kehidupan dalam Gereja dan parokinya. Imam bukanlah sumber kehidupan rohani ini, melainkan Kristuslah sumber aslinya, imam hanya membagikannya kepada seluruh umat Allah [IBPP # 8]. 

Kalau kita berbicara mengenai Liturgi, maka kita dapat melihat bahwa fungsi-fungsi imam ini tercermin juga dalam prefasi Misa Tahbisan Imam: “… Putera-Mu menganugerahkan martabat imam dan raja kepada seluruh umat pilihan-Nya. Dengan penumpangan tangan Ia-pun telah memilih sekelompok orang menjadi sahabat-Nya yang istimewa, untuk bersama Dia melayani umat Allah. Atas nama Putera-Mu itu mereka memperbaharui kurban demi keselamatan umat manusia dengan menghidangkan perjamuan Paskah bagi putera-puteri-Mu. Dengan penuh kasih, mereka memimpin umat-Mu yang kudus, mendampinginya dengan pewartaan sabda, dan menyegarkannya dengan perayaan sakramen”.

Tulisan ini menyoroti fungsi imam sebagai pelayan (pewarta) Sabda Allah, dan merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Imam sebagai Pelayan Sabda Allah (1). 

IMAM DAN MILENIUM KETIGA

Beberapa bulan menjelang penutupan milenium kedua, Congregation for the Clergy (Kongregasi Klerus) di Roma menerbitkan sebuah dokumen yang berjudul “THE PRIEST and the Third Christian Millennium – Teacher of the Word, Minister of the Sacraments and Leader of the Community”  [PRIEST; 19 Maret 1999]. Dokumen yang sangat padat-berisi ini sampai hari ini belum (selesai) diterjemahkan oleh KWI. Dari judul dokumen ini kita dapat melihat, bahwa isinya menyangkut tiga fungsi imam seperti disebut dalam awal tulisan ini. Kongregasi Klerus memaksudkan agar “surat edaran” ini disampaikan kepada para uskup dan disebarkan kepada para imamnya masing-masing. Dokumen ini sendiri dirancang untuk membimbing para imam untuk sampai  pada pemeriksaan batin, dengan mengingat bahwa secara konkrit, cinta-kasih adalah kesetiaan. Dokumen ini menekankan kembali ajaran-ajaran Konsili Vatikan II, ajaran Sri Paus dan mengacu pada dokumen-dokumen yang telah disebutkan oleh Bapa Suci. Tercatat pula, bahwa dokumen-dokumen tersebut bersifat fundamental bagi tanggapan yang otentik terhadap tuntutan-tuntutan zaman kita dan bagi suatu misi evangelisasi yang efektif.

Berikut ini adalah beberapa pokok sehubungan dengan fungsi imam sebagai pelayan Sabda, seperti termuat dalam PRIEST # II.1:

a.   Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Injil yang diwartakan bukanlah sekadar sebuah pesan, melainkan sebuah pengalaman ilahi dan pemberian-hidup bagi mereka yang percaya, mendengar, menerima dan mematuhi pesan tersebut. Pewartaan Injil bukanlah sekadar penyampaian suatu pesan yang bersifat intelektual, “karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya …” [Rm 1:16].

b.   Pewartaan Injil oleh imam sebagai pelayan suci Gereja, dalam artian tertentu, merupakan partisipasi dalam sifat penyelamatan Sabda itu sendiri, bukan hanya karena mereka berbicara tentang Kristus, melainkan karena mereka mewartakan Injil kepada para pendengar dengan kuasa untuk memanggil; kuasa mana datang dari partisipasi mereka dalam pengudusan dan misi “Sabda Allah yang menjadi daging”. Sabda Tuhan seharusnya masih tetap bergema di telinga para pelayan-Nya: “Siapa yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan siapa saja yang menolak kamu, ia menolak Aku; dan siapa saja yang menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku” [Luk 10:16].

c.   Pelayanan Sabda menuntut dedikasi dari pihak imam. Seluruh kegiatan pastoral seorang imam harus dicirikan oleh pemberian pelayanan. Seperti pelayanan-pelayanannya yang lain, pelayanan Sabda seorang imam juga menuntut suatu dedikasi pribadi sang imam kepada Sabda yang diwartakan olehnya. Pada akhirnya dedikasi ini ditujukan kepada Allah sendiri [lihat Rm 1:9]. Apa yang disebutkan dalam butir 4 pada tulisan sebelumnya, dielaborasi lebih lanjut: Dalam pewartaan Sabda seorang pelayan (imam) tidak boleh menyimpang dari misinya, atau mengandalkan diri pada hikmat manusia, atau dengan mempromosikan pengalaman-pengalaman subyektif yang dapat mengaburkan pesan Injil itu sendiri. Sabda Allah tidak dapat dimanipulasikan. Imam sebagai pewarta Sabda pertama-tama harus familiar secara pribadi dengan Sabda Allah … dan dia “harus menjadi insan pertama yang percaya” akan Sabda, dengan kesadaran penuh bahwa sabda-sabda dalam pewartaannya bukanlah miliknya sendiri, melainkan milik Dia yang mengutusnya.

d.   Doa pribadi imam.  Antara doa pribadi seorang imam dan pewartaan Sabda terdapat hubungan yang bersifat hakiki. Pewartaan Sabda yang efektif adalah satu lagi buah dari doa pribadi. Doa pribadi memberikan dukungan dan dorongan bagi para imam untuk pelayanan mereka, panggilan hidup mereka, dan untuk iman mereka yang hidup serta bersifat apostolik. Dari doa pribadi mereka menimba semangat untuk melakukan evangelisasi sehari-harinya. Sekali yakin akan hal ini, maka semua itu diterjemahkan ke dalam khotbah-khotbah yang persuasif, memiliki urut-urutan logis (tidak melompat ke sana ke mari tanpa arah) serta meyakinkan. Dengan demikian bagi seorang imam, mendoakan “Ibadat Harian” (Ofisi Ilahi) bukanlah sekadar persoalan kesalehan pribadi, juga bukan masalah totalitas doa Gereja yang bersifat publik. Kegunaan atau manfaat pastoral doa “Ibadat Harian” besar, karena doa “Ibadat Harian” ini merupakan peluang istimewa bagi seorang imam untuk membuat dirinya akrab dengan ajaran alkitabiah, ajaran para bapa Gereja, ajaran teologis dan ajaran magisterium (kuasa mengajar Gereja), yang pada gilirannya dapat “dikembalikan” kepada Umat Allah melalui khotbah/pewartaan.

Untuk mencapai pewartaan Sabda yang efektif [PRIEST # II.2], seorang imam harus menyadari akan pentingnya beberapa hal yang disebutkan berikut ini:

e.   Evangelisasi Baru harus membawa umat beriman sampai pada kesadaran, bahwa mereka telah dipanggil oleh Allah untuk mengikuti jejak Kristus dan untuk bekerja-sama dalam misi Gereja.  Dengan demikian, tugas pewartaan imam adalah untuk menghadirkan Kristus kepada semua orang karena Dia sendirilah ‘Adam yang baru’, yang “dalam perwahyuan misteri Bapa serta cinta kasih-Nya sendiri, sepenuhnya menampilkan manusia bagi manusia, dan membeberkan kepadanya panggilannya yang amat luhur” [‘Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes [GS] tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini (7 Desember 1965)’ # 22; bdk Rm 5:14].

f.    Evangelisasi Baru adalah perjuangan  melawan kuasa-kuasa jahat. Bagi seorang Kristiani, Evangelisasi Baru tidak dapat dipisahkan dari kesadaran akan panggilan masing-masing. Pewartaan Kabar Baik tidak dapat direduksi menyangkut kebaikannya dan tuntutan-tuntutan terhadap pencapaiannya. Pewartaan Sabda adalah perjuangan melawan kuasa-kuasa jahat yang tidak pernah absen mengganggu. Konsili Vatikan II menyatakan: “Pastilah kebutuhan dan tugas mendesak orang Kristiani untuk melalui banyak duka-derita berjuang melawan kejahatan dan menanggung maut; akan tetapi ia tergabungkan dengan misteri Paskah, menyerupai wafat Kristus, dan diteguhkan oleh harapan akan melaju menuju kebangkitan [GS # 22; lihat Flp 3:10; Rm 8:17].

g.   Evangelisasi Baru menuntut suatu pelayanan Sabda yang penuh semangat.  Pelayanan Sabda yang penuh semangat ini harus lengkap dan bertumpu pada dasar yang kuat. Pewartaan seorang imam harus mengandung isi teologis, spiritual, liturgis dan moral yang jelas, dan pada saat yang sama mempertimbangkan berbagai kebutuhan orang-orang yang menjadi sasaran pelayanan Sabda termaksud. Hal ini bukan berarti mengalah terhadap godaan intelektualisme yang dapat mengaburkan pikiran umat Kristiani, melainkan memerlukan cinta-kasih intelektual sejati melalui katekese penuh kesabaran dan berkesinambungan tentang fundamental-fundamental iman serta moral Katolik dan tentang pengaruhnya atas kehidupan spiritual. Pengajaran Kristiani merupakan yang terutama dari karya-karya belas-kasih spiritual: keselamatan datang oleh pengetahuan akan Kristus, “sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” [Kis 4:12].

h.   Pewartaan kateketik tidak dapat dicapai tanpa penggunaan suatu teologi yang teguh, karena hal ini memerlukan tidak hanya penyajian doktrin, melainkan juga pembinaan inteligensia dan hati-nurani umat beriman dengan menggunakan sarana doktrin yang diwahyukan, sehingga mereka dapat secara otentik menghayati tuntutan-tuntutan panggilan baptis mereka. Evangelisasi Baru akan dicapai tidak hanya dalam arti Gereja secara keseluruhan dan lembaga-lembaganya, melainkan masing-masing dan setiap orang Kristiani menghayati imannya secara otentik, sehingga memberikan kesaksian-iman yang credible bagi dunia sekelilingnya.

i.    Penginjilan atau evangelisasi berarti mengumumkan dan menyebarkan isi dari kebenaran yang diwahyukan dengan menggunakan sarana yang pas (iman Kristologis dan Triniter; makna dogma penciptaan; kebenaran-kebenaran eskatologis; doktrin-doktrin yang menyangkut Gereja, manusia, sakramen-sakramen dan sarana-sarana keselamatan lainnya). Juga penting untuk mengajar umat bagaimana secara konkrit menerjemahkan kebenaran-kebenaran ke dalam kehidupan dengan menggunakan sarana-sarana pembinaan spiritual dan moral, sehingga mereka menjadi saksi-saksi atas kehidupan dan komitmen misioner.

j.    Pelayanan Sabda dan para pelayannya harus mampu menanggapi keadaan-keadaan masa kini. Keefektifan pelayanan Sabda pada hakekatnya tergantung pada pertolongan Allah, namun tetap memerlukan upaya manusia untuk menghasilkan sesuatu yang sesempurna mungkin. Sasaran dari pewartaan pesan Kristiani yang diperbaharui dalam aspek-aspek doktrinal, teologis dan spiritual,  adalah terutama untuk menimbulkan entusiasme dan memurnikan hati-nurani orang-orang yang telah dibaptis. Hal ini tidak dapat dicapai kalau dilakukan melalui improvisasi yang tak bertanggung-jawab atau lamban. Lebih parah lagi kalau para imam tidak mau secara langsung memikul tanggung-jawab mereka untuk mewartakan Injil – teristimewa yang berhubungan dengan pelayanan homili yang sesungguhnya tidak dapat didelegasikan kepada mereka yang tidak ditahbiskan atau dengan mudah saja dipercayakan kepada mereka yang  belum membuat persiapan yang diperlukan. Semua yang diuraikan ini menggaris-bawahi sangat penting dan perlunya pembinaan spiritual dan teologis dan pembinaan permanen para imam, diakon dan umat awam.

k.   Untuk pewartaannya, imam membutuhkan persiapan-persiapan yang memadai. Persiapan di sini mencakup studi dan mengejar hal-hal yang dapat menolongnya membuat persiapan-persiapan yang diperlukan. Ia harus terus mempertajam kepekaan pastoralnya, antara lain untuk mampu menjawab masalah-masalah masa kini. Untuk itu dia harus akrab dengan pernyataan-pernyataan dari magisterium (kuasa mengajar) Gereja, terutama dokumen-dokumen Konsili, ensiklik dan/atau surat apostolik dari para Paus. Dia juga harus jangan enggan untuk mempelajari tulisan para teolog terbaik dalam Gereja, juga Katekismus Gereja Katolik [bdk PO # 19]. Semua persiapan yang disebutkan ini memang tidak langsung berkaitan dengan tugas-tugas pelayanan yang ada di depan mata, dari sebab itu disebut remote preparation. Persiapan-persiapan ini akan membuahkan hasil. Di sisi lain imam itu juga harus mempersiapkan dengan serius tugas pelayanan yang ada di depan matanya (proximate preparation),  misalnya membawakan homili di Misa Kudus pada hari Minggu yang tinggal beberapa hari lagi. Dalam hal ini kerendahan hati dan tingkat kerajinan sang imam mensyaratkan – paling sedikit – adanya sebuah rencana yang disusun dengan hati-hati mengenai apa yang ingin dikhotbahkan/diwartakannya.

l.    Sumber dasar untuk pewartaan adalah Kitab Suci, yang dimeditasikan oleh sang imam dalam doa pribadinya dan diasimilasikan melalui studi serta kontaknya yang memadai dengan tulisan-tulisan bermutu yang cocok [lihat PDV #  26 dan 47]. Pengalaman pastoral menunjukkan kuat-kuasa teks Kitab Suci untuk menggerakkan hati mereka yang mendengarnya. Para Bapa Gereja dan penulis-penulis besar lainnya dalam tradisi Katolik mengajarkan kita bagaimana kita sampai pada arti/makna dari Sabda yang diwahyukan dan bagaimana mengkomunikasikannya kepada orang-orang lain. Ini berarti bahwa sang imam sebagai pewarta tidak pernah boleh menganut “fundamentalisme alkitabiah” yang suka melakukan ‘mutilasi’ atas pesan-pesan ilahi, artinya yang suka memetik ayat dari sana-sini di luar konteks. Pedagogi yang digunakan oleh Gereja sehubungan dengan Sabda Allah seperti tersusun dalam bacaan-bacaan (lectionarium) sepanjang masa-masa liturgi juga harus menjadi titik-acuan bagi seorang imam yang bertugas dalam pelayanan Sabda. Demikian pula riwayat-riwayat para kudus, perjuangan dan heroisme mereka, selalu menghasilkan efek-efek positif dalam hati umat beriman. Umat beriman sekarang mempunyai kebutuhan istimewa akan teladan-heroik dari para kudus dalam dedikasi-diri mereka terhadap kasih Allah, dan melalui Allah – kepada orang-orang lain.

m.  Sebagai seorang komunikator sosial, mau tidak mau imam harus bersaing dengan para pembicara/penceramah lain yang tampil dalam media massa. Dengan demikian pesannya harus disampaikan secara menarik. Semangat apostoliknya harus menggerakkan dia untuk meraih kompetensi dalam menggunakan berbagai sarana yang disediakan oleh komunikasi modern.

n.   Seperti khotbah Kristus sendiri, khotbah seorang imam harus positif, memberi stimulans dan menarik orang-orang kepada kebaikan, keindahan dan kebenaran Allah. Seorang Kristiani bertugas untuk membuat orang-orang lain mengenal “kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus” [2Kor 4:6] dan menghadirkan kebenaran-yang-diwahyukan secara memikat hati. Sejak awal Gereja sudah memproklamasikan, bahwa Yesus Kristus adalah “jalan, kebenaran dan hidup” [Yoh 14:6].

o.   Bahasa yang digunakan dalam pewartaan sang imam seyogianya akurat dan elegant, dapat dimengerti oleh umat dari semua latar-belakang sosial. Teori-teori dan generalisasi yang abstrak harus selalu dihindari. Maka sang imam harus mengenal umatnya dan menggunakan gaya yang menarik. Meski diharapkan suaranya menyenangkan orang yang mendengar, gaya berbicaranya harus apa adanya tanpa dibuat-buat. Ia tidak boleh menyakiti hati umat lewat khotbahnya. Yang jelas dia harus tahu apa tujuan khotbah/pewartaannya dan memiliki pemahaman yang baik mengenai realitas – eksistensial dan kultural – dari jemaatnya.

p.   Para imam yang bergerak dalam tugas-tugas pastoral berbeda-beda harus  saling menolong dengan pemberian nasihat satu-sama-lain sebagai pribadi-pribadi bersaudara. Dalam hal pewartaan/khotbah, pemberian nasihat ini dapat mencakup isi dari pewartaan/khotbah tersebut dan kualitas teologis dan linguistiknya, gaya, durasi/lamanya homili, penggunaan mimbar yang layak dan seterusnya. Yang penting adalah, bahwa perlulah bagi seorang imam untuk ditolong oleh con-fraternya, dan secara tidak langsung oleh umat yang bekerja sama dalam kegiatan-kegiatan pastoralnya. No man is an island!  Pernyataan ini juga berlaku bagi para imam.

CATATAN PENUTUP

Dalam menjalankan fungsi-fungsinya, setiap imam dituntut untuk menjadi ‘ikon’ Kristus,  termasuk fungsinya untuk mewartakan Sabda Allah. Kalau setelah membaca tulisan ini penghargaan seseorang terhadap imam Gereja Katolik menjadi meningkat, maka kiranya tulisan ini telah berhasil mencapai tujuannya. Semoga berkat Allah Tritunggal selalu menyertai uskup-uskup Indonesia dan para imamnya, terutama para pastor di paroki kita masing-masing.

Cilandak, 15 Juli 2009
Pesta Santo Bonaventura, Fransiskan, Uskup-Kardinal dan Pujangga Gereja
*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

 
 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS *)

Dalam TAHUN IMAM 2009-2010 ini, sebagai umat marilah kita berupaya untuk lebih memahami lagi fungsi para imam kita. Semoga dengan semakin benar pemahaman kita tentang hal ini, semakin sadar pulalah kita betapa penting peranan para imam dalam kehidupan Gereja kita. 

Salah satu dokumen Konsili Vatikan II, ‘Dekrit Presbyterorum Ordinis [PO] tentang Pelayanan dan Kehidupan para Imam (7 Desember 1965)’ menyebutkan dan menguraikan secara singkat tiga aspek pelaksanaan pelayanan seorang imam [PO # 4-6.13]. Ketiga aspek itu adalah: (1) Imam sebagai pelayan Sabda Allah; (2) Imam sebagai pelayan Ekaristi dan Sakramen-sakramen lainnya; dan (3) Imam sebagai pemimpin Umat Allah. 

Dalam tulisan ini akan disoroti fungsi imam sebagai seorang pelayan Sabda Allah, sepanjang yang perlu diketahui oleh umat kebanyakan. Dua fungsi para imam yang lain akan dibahas dalam tulisan-tulisan tersendiri. Tulisan ini menggunakan Kitab Suci dan beberapa dokumen Gereja sebagai sumber-sumber inspirasi yang utama.

PERINTAH TUHAN UNTUK MEMBERITAKAN KABAR BAIK 

Perintah Yesus sendiri. Berikut ini adalah perintah Yesus kepada para rasul/murid-Nya (yang tinggal sebelas orang itu) sebelum Ia diangkat ke surga: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” [Mrk 16:15; bdk Mat 28:19; Kis 1:8]. Perintah ini ditujukan bagi kita semua, namun secara istimewa tugas pelayanan sabda ini harus diemban oleh para uskup yang bekerja sama dengan para imam. ‘Imbauan Apostolik Bapa Suci Paulus VI Evangelii Nuntiandi [EN] tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern (8 Desember 1975)’, dengan jelas menyatakan: 
     Dalam kesatuan dengan Pengganti Petrus, para Uskup, yang merupakan pengganti para Rasul, melalui kuasa tahbisan mereka menerima kewibawaan untuk mengajarkan kebenaran yang diwahyukan dalam Gereja. Mereka adalah guru-guru iman.
     Bersatu dengan para Uskup dalam pelayanan penginjilan dan bertanggung-jawab karena suatu gelar khusus, ialah mereka yang karena tahbisan imamatnya “bertindak dalam pribadi Kristus”. Mereka adalah pendidik-pendidik Umat Allah dalam iman dan pengkhotbah-pengkhotbah, pada saat yang sama sekaligus juga menjadi pelayan-pelayan Ekaristi dan Sakramen-sakramen lainnya.
     Kita para Gembala oleh karenanya diajak untuk memperhatikan kewajiban ini, lebih daripada anggota-anggota lain dalam Gereja. Yang memberikan identitas pada pengabdian kita selaku imam, yang memberikan kesatuan mendalam terhadap seribu satu macam tugas yang menuntut perhatian kita hari demi hari dan sepanjang hidup kita, dan memberikan suatu ciri khas pada kegiatan-kegiatan kita, ialah tujuan ini, yang selalu ada dalam segala perbuatan kita: Untuk mewartakan Injil Allah.
     Salah satu tanda identitas kita yang tak boleh terhambat karena keragu-raguan dan tak boleh dikaburkan karena ada pertentangan, ialah ini: sebagai pastor-pastor, kita telah dipilih oleh belas-kasih Gembala Tertinggi, kendati kita tidak layak, untuk mewartakan Sabda Allah dengan kewibawaan. Juga kita telah dipilih untuk mengumpulkan Umat Allah yang tercerai berai untuk memberi makan Umat dengan tanda-tanda karya Kristus yang adalah Sakramen-sakramen, untuk memberitahu Umat jalan menuju keselamatan.
     Kita juga telah dipilih untuk menjaga Umat dalam kesatuannya, di mana kita termasuk di dalamnya, pada berbagai tingkatan, sebagai alat-alat yang aktip dan hidup, dan tak henti-hentinya menjaga jemaat tadi, yang berkumpul di seputar Kristus agar supaya setia pada panggilannya yang terdalam….
[EN # 68].

Dari petikan bacaan ini kita dapat melihat, bahwa para imam adalah rekan-rekan kerja para uskup dan kewajiban mereka adalah pertama-tama mewartakan Injil Allah. “Gereja ada untuk mewartakan Injil, yakni untuk berkhotbah dan mengajar …” [EN # 14]. Dengan melaksanakan perintah Tuhan Yesus di atas [lihat Mrk 16:15], para imam membentuk dan mengembangkan umat Allah. Sebab oleh Sabda penyelamat iman dibangkitkan dalam hati mereka yang tidak percaya, dan dipupuk dalam hati mereka yang percaya [PO # 4]. Maka seorang imam ditahbiskan serta diutus untuk mewartakan Kabar Baik tentang Kerajaan Allah kepada semua orang, untuk memanggil setiap pribadi kepada ketaatan iman, dan untuk membimbing umat beriman kepada pengertian kian mendalam akan misteri Allah yang diwahyukan dan disampaikan kepada kita dalam Kristus, dan kepada persekutuan yang semakin erat di dalam misteri itu [lihat ‘Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II Pastores Dabo Vobis [PDV] tentang Pembinaan Imam dalam Situasi Zaman Sekarang (25 Maret 1992)’ # 26]. Santo Paulus mengingatkan kita semua: “Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus [Rm 10:17]. Jadi harus ada pribadi-pribadi yang melakukan pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus; harus ada pelayan-pelayan Sabda. Karena keikut-sertaan mereka dalam imamat Kristus sendiri, maka Uskup dan para imamnya berada digaris terdepan dalam tugas pelayanan yang mulia ini.

Aneka cara pewartaan sabda. Kewajiban para imam adalah menyampaikan kebenaran Injil [Gal 2:5] kepada semua orang, sehingga mereka bergembira dalam Tuhan. Dalam menanggapi pelbagai kebutuhan para pendengar dan menurut kharisma para pewarta sendiri, maka pewartaan Sabda dilaksanakan dengan aneka cara: (1) Lewat cara hidup mereka yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa, para imam mengajak orang-orang untuk memuliakan Allah [1Ptr 2:12]; (2) dengan pewartaan yang terbuka menyiarkan misteri Kristus kepada kaum tak beriman;  (3) dengan memberikan katekese Kristiani; (4) dengan menguraikan ajaran Gereja; (5) dengan berusaha mengkaji masalah-persoalan aktual dalam terang Kristus. Tugas pelayanan Sabda apapun yang mereka lakukan, para imam harus mengajarkan bukan kebijaksanaan mereka sendiri, melainkan Sabda Allah. Mereka juga harus dengan tidak jemu-jemunya mengundang semua orang untuk bertobat dan menuju kepada kesucian [PO # 4]. Singkatnya, seperti yang dilakukan Yesus sendiri, seperti yang kita renungkan dalam doa rosario peristiwa terang yang ketiga.

Terutama bagi umat yang agak kurang memahami atau kurang mengimani apa yang sering mereka terima, diperlukan pewartaan sabda untuk pelayanan Sakramen-sakramen, sebab itu merupakan Sakramen-sakramen iman, yang timbul dari dari sabda dan dipupuk dengannya [PO # 4]. “Konstitusi Sacrosanctum Concilium [SC] tentang Liturgi Suci (4 Desember 1963)“ menyatakan: “…pelayanan pewartaan hendaknya dilaksanakan dengan amat tekun dan saksama. Bahannya terutama hendaklah bersumber pada Kitab Suci dan Liturgi, sebab khotbah merupakan pewartaan keajaiban-keajaiban Allah dalam sejarah keselamatan atau misteri Kristus, yang selalu hadir dan berkarya di tengah kita, teristimewa dalam perayaan-perayaan Liturgi” [SC # 35.2]. Ini berlaku terutama bagi Liturgi Sabda dalam perayaan Ekaristi, sebab di situ berpadulah secara tak-terpisah pewartaan wafat dan kebangkitan Tuhan, jawaban umat yang mendengarkannya, dan persembahan sendiri, saat Kristus mengukuhkan Perjanjian Baru dalam Darah-Nya, serta keikut-sertaan umat beriman dalam persembahan itu, melalui kerinduan mereka dan penerimaan Sakramen [PO # 4; lihat SC# 33, 35, 48 dan 52].

Beberapa persyaratan mendasar. Ada beberapa persyaratan mendasar yang harus dipenuhi agar fungsi pelayanan sabda seorang imam dapat efektif:

1.     Agar pewartaan imam lebih mengena menggerakkan hati para pendengarnya, hendaknya dia tidak menguraikan sabda Allah secara umum dan abstrak saja, melainkan dengan menerapkan kebenaran Injil yang kekal pada situasi hidup yang konkrit [PO # 4].

2.     Karena seorang imam diutus untuk mewartakan Kabar Baik tentang Kerajaan Allah kepada semua orang, untuk memanggil setiap pribadi kepada ketaatan iman, dan untuk membimbing umat beriman kepada pengertian kian mendalam akan misteri Allah yang diwahyukan dan disampaikan kepada kita dalam Kristus, dan kepada persekutuan yang semakin erat di dalam misteri itu, maka dia sendiri terutama wajib mengembangkan keakraban yang sangat pribadi dengan Sabda Allah. Dalam hal itu tentu saja dibutuhkan pengetahuan tentang segi-segi bahasa atau tafsirnya. Imam juga hendaklah mendekati sabda Allah dengan hati yang sungguh terbuka dan dalam sikap doa, sehingga Sabda itu secara mendalam meresapi pikiran maupun perasaannya, dan menciptakan wawasan baru padanya – “pikiran Kristus” [1Kor 2:15]. Dengan demikian kata-kata, pilihan-pilihan dan sikap-sikapnya akan makin menjadi refleksi, pewartaan dan kesaksian tentang Injil. Hanya kalau imam “tinggal” dalam Sabda, ia akan menjadi murid Tuhan yang sempurna. Hanya begitulah ia akan mengenal kebenaran dan sungguh dimerdekakan, mengatasi setiap persyaratan yang bertentangan dengan Injil atau asing terhadapnya [bdk Yoh 8:31-32; PDV # 26].

3.     Dalam khotbahnya seorang imam seharusnya mewartakan Yesus Kristus, bukan dirinya sendiri! “Tidak ada penginjilan yang sejati, apabila Nama, ajaran, hidup dan janji-janji, Kerajaan Allah dan misteri Yesus dari Nazaret, Putera Allah tidak diwartakan” [EN # 22]. Imam itu juga tidak pernah boleh “mencuri” kemuliaan Tuhan! Seperti dicatat di atas, dalam tugas pelayanan Sabda apapun yang mereka lakukan, para imam harus mengajarkan bukan kebijaksanaan mereka sendiri, melainkan Sabda Allah [PO # 4]. Gereja mengutus para pewarta Injil untuk mewartakan bukan diri mereka sendiri atau gagasan-gagasan pribadi mereka (EN # 15]. Santo Paulus menulis: “… bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” [2Kor 4:5].

4.     Seseorang tidak dapat memberikan kepada orang lain apa yang tidak dimilikinya sendiri. Bagaimana dia dapat memberikan Yesus kepada orang lain, apabila dia sendiri tidak/belum memiliki-Nya? Demikian pula dengan imam: Imam harus menjadi “insan pertama yang percaya” akan Sabda Allah, sementara menyadari sepenuhnya, bahwa kata-kata dalam pelayanannya bukanlah “miliknya sendiri”, melainkan  Sabda dari Dia yang mengutusnya. Bukan dialah yang menguasai Sabda; dia sekadar pelayan Sabda. Bukan dialah “pemilik” tunggal Sabda Allah; dalam hal ini dia  berhutang kepada Umat Allah [PDV # 26].

5.     Justru karena imam dapat dan memang mewartakan Injil, maka dia – seperti setiap anggota Gereja lainnya – harus kian menyadari, bahwa dirinya sendiri terus-menerus perlu mengalami evangelisasi [EN 15; PDV # 26].

6.     Seorang imam mewartakan Sabda sebagai “pelayan”, yang ikut mengemban kewibawaan kenabian Kristus dan Gereja. Oleh karena itu, supaya dia sendiri memiliki dan memberi jaminan kepada kaum beriman, bahwa dia menyampaikan Injil sepenuhnya, imam dipanggil untuk mengembangkan kepekaan, cintakasih dan sikap terbuka yang khusus terhadap Tradisi yang hidup dalam Gereja dan terhadap Magisterium (kewenangan mengajar)-nya. Itu semua bukannya asing bagi sabda, melainkan mendukung penafsiran yang semestinya, dan tetap melestarikan maknanya yang otentik [PDV # 26; bdk ‘Konstitusi Dogmatis Dei Verbum tentang Wahyu Ilahi (18 November 1965)’ # 8, 10].

7.     Seorang imam harus menyulut lagi dalam dirinya semangat pendorong sejak awalnya, dan membiarkan dirinya dipenuhi dengan semangat bernyala dari pewartaan rasuli sebagai tindak-lanjut Pentakosta. Hendaklah dalam dirinya seorang imam senantiasa membangkitkan-ulang keyakinan yang bernyala seperti Paulus, yang berseru: “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!” [1Kor 9:16; ‘Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte (Pada Awal Milenium Baru), 6 Januari 2001’ # 40].

CATATAN PENUTUP

Beberapa bulan menjelang penutupan milenium kedua, Congregation for the Clergy (Kongregasi Klerus) di Roma menerbitkan sebuah dokumen yang berjudul ‘THE PRIEST and the Third Christian Millennium – Teacher of the Word, Minister of the Sacraments and Leader of the Community  (19 Maret 1999)’. Sampai hari ini dokumen ini belum (selesai) diterjemahkan oleh KWI. Beberapa pokok penting dari ‘surat edaran’ Kongregasi Klerus ini akan kita bahas bersama dalam kelanjutan tulisan ini yang berjudul: “Imam sebagai Pelayan Sabda Allah -2”.

Dalam percakapan-percakapan saya dengan saudara-saudari Katolik beberapa tahun terakhir ini, tidak jarang saya mendengar keluhan-keluhan yang berkaitan dengan khotbah/homili para pastor kita yang dirasakan kurang hidup, kurang menarik, sering ngalor-ngidul dan sering membuat orang mengantuk. Lalu mereka membanding-bandingkannya dengan khotbah-khotbah yang ‘penuh-kuasa’ dari para penginjil dan/atau pendeta dari gereja-gereja non-Katolik. Saya mencoba untuk menanggapi komentar-komentar seperti itu dengan mencoba menjelaskan perbedaan antara homili dan khotbah, dan lain sebagainya, biasanya berujung pada pembicaraan yang tidak tuntas. Dari berbagai catatan dan uraian di atas ternyata fungsi seorang imam sebagai seorang pelayan Sabda Allah tidaklah sesederhana seperti sangkaan banyak orang. Belum lagi fungsi-fungsi imam lainnya yang harus ditekuni oleh sang imam. Menjadi seorang imam bukanlah sekedar harus pandai berkhotbah. Pendidikan untuk menjadi imam juga tidak sekadar menekankan pada keterampilan atau kemahiran berkhotbah. Seorang imam seharusnya menjadi ‘ikon’ Kristus secara total (artinya tidak hanya terbatas pada ‘Yesus yang berkhotbah’). Konformasi dengan Yesus Kristus secara penuh! Itulah sebabnya, antara lain, mengapa seorang imam mengucapkan janji/kaul kemurnian yang diungkapkan lewat penghayatan hidup selibat, hal mana tidak ada dalam ‘karir’ seorang penginjil dan/atau pendeta dari gereja-gereja non-Katolik. 

Tulisan ini membatasi diri pada fungsi imam sebagai pelayan Sabda saja, dan dalam hal ini saja sudah ditunjukkan betapa kompleksnya fungsi ini dan tidak mudahlah untuk melaksanakannya. 

Satu hal yang perlu sekali untuk selalu ditekankan adalah, bahwa tugas pelayanan seorang imam hanya dapat efektif kalau dilandasi oleh spiritualitas dari imam itu yang solid, yang tercermin antara lain oleh hidup doanya. Tetapi imam itu tidak dapat berjuang sendiri, dia membutuhkan dukungan dari para con-fraternya. Dukungan doa dari kita semua (umat) juga senantiasa dibutuhkan agar dibawa-Nya selalu para pastor/gembala kita “menempuh jalan yang lurus” [Mzm 107:7; bdk Yes 26:7].

Cilandak, 14 Juli 2009
Peringatan Santo Fransiskus Solanus OFM, Imam.
*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.
 
 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS *)

Gereja universal menetapkan “Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus”, yang jatuh pada hari Jumat tanggal 19 Juni 2009 lalu, sebagai awal dari TAHUN IMAM. Selama TAHUN IMAM ini, seyogianyalah kita sebagai umat memusatkan perhatian kita sehari-hari pada para uskup dan imam, antara lain dengan mendoakan mereka secara istimewa dalam doa-doa harian kita, terutama bagi para imam yang paling sering berhubungan dengan kita, yaitu mereka yang berkarya di paroki kita sendiri dan mereka yang masing-masing kita kenal secara pribadi.

EKARISTI KUDUS DAN IMAM
Dokumen resmi pertama dari Konsili Vatikan II adalah ‘Konstitusi Sacrosanctum Concilium [SC] tentang Konstitusi Liturgi Suci (4 Desember 1963)’. Mengenai misteri suci ini (Ekaristi), dokumen ini menyatakan: “Pada perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan Kurban Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan demikian Ia mengabadikan Kurban Salib untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja Mempelai-Nya yang terkasih kenangan Wafat dan Kebangkitan-Nya: sakramen cintakasih, lambang kesatuan, ikatan cintakasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang” [SC # 47]. Aspek-aspek Ekaristi yang tidak sedikit dan berbeda-beda itu, serta kaya dan indah itu, terungkap secara padat dalam pernyataan para Bapa Konsili ini. Pada awal tulisan ini saya mengajak para pembaca untuk menerima kenyataan bahwa Ekaristi ini tidak dapat menjadi kenyataan, tanpa adanya imam.

Paus Yohanes Paulus II dalam ‘Surat Ensiklik Eccelesia de Eucharistia [EE] tentang Ekaristi dan Hubungannya dengan Gereja (17 April 2003)’ menulis, bahwa Yesus-lah yang dalam kewibawaan-Nya mengenakan kepada pelayan Ekaristi sakramen tahbisan imam, yang memungkinkan terjadinya konsekrasi. Justru Yesus-lah, yang dengan kuasa beramanat kepada pelayan Ekaristi di Ruang Perjamuan: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu. Inilah piala darah-Ku yang dicurahkan bagimu …”  Imam mengulangi kata-kata ini, atau lebih tepat, menaruh kata-kata ini dalam Dia, yang mengucapkannya pada Ruang Perjamuan, dan yang menghendaki agar kata-kata ini diulangi sepanjang masa oleh semua orang, yang ambil-bagian pelayanan dalam imamat-Nya (EE # 5).  Pernyataan Sri Paus ini menggaris-bawahi pentingnya peranan imam dalam kurban Ekaristi, yang menurut Konsili Vatikan II adalah sumber dan puncak setiap hidup Kristiani [Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja (21 November 1964)’ # 11]. 

Dalam tulisan ini kita akan melihat bersama, bahwa penghormatan umat kepada para imam terkait erat dengan Ekaristi Kudus. Sikap hormat kita kepada para imam seharusnya terutama bersumberkan pada penghormatan kita pada Ekaristi Kudus. Pertimbangan-pertimbangan lainnya bersifat sekunder.

EKARISTI KUDUS SEBAGAI SUMBER SIKAP HORMAT KEPADA PARA IMAM
Dalam tulisan ini, saya bertumpu pada spiritualitas Fransiskan yang saya hayati. Dalam spiritualitas Fransiskan, sikap hormat kepada para imam sangat ditekankan. Hal ini terlihat jelas dalam berbagai tulisan Santo Fransiskus dari Assisi sendiri dan juga beberapa riwayat hidupnya (hagiografi) yang awal. Iman dan cintanya akan Ekaristi Kudus memberikan inspirasi kepada Fransiskus untuk  sangat menghormati para imam, martabat imamat dan gereja-gereja. Seorang penulis riwayat hidupnya yang awal, Beato Thomas dari Celano menulis: 

Ia menginginkan rasa hormat yang besar ditunjukkan bagi tangan-tangan para imam, karena kepada tangan-tangan itu diberikan secara ilahi wewenang untuk melaksanakan misteri ini. Dia sering berkata; “Seandainya aku bertemu dengan orang kudus mana saja yang datang dari surga dan pada saat yang sama bertemu dengan seorang imam miskin yang kecil, maka pertama-tama aku menunjukkan rasa hormatku kepada sang imam dan bergegas lebih cepat untuk mencium tangan-tangannya. Karena aku akan berkata kepada orang kudus itu: ‘Hai, Santo Laurensius,  tunggu! Tangan imam itu dapat memegang  Sabda Kehidupan, dan memiliki sesuatu yang lebih daripada sekedar hal-hal yang bersifat manusiawi!’ ” [Riwayat Hidup Kedua  201].

Sekadar sebuah catatan: Santo Laurensius (+258) adalah seorang diakon dan martir Roma.
Penulis Kisah Ketiga Sahabat (K3S) juga membuat catatan yang berkaitan dengan penghormatan istimewa Fransiskus kepada para imam seperti berikut:

Fransiskus dengan cermat mengajak para saudara, agar mereka teguh menepati Injil Suci dan anggaran dasar yang telah mereka janjikan, khususnya mereka mesti menaruh rasa hormat dan berkhidmat kepada ibadah ilahi dan peraturan gerejawi, mendengar Misa, dan dengan amat khusyuknya menyembah Tubuh Tuhan. Ia juga menghendaki bahwa para saudara secara istimewa menghormati para imam yang menangani sakramen-sakramen yang amat luhur dan terhormat. Di mana pun mereka berjumpa dengan seorang imam hendaknya mereka menundukkan kepala dan mencium tangan mereka. Ia menghendaki bahwa para saudara, jika berjumpa dengan imam yang sedang naik kuda, tidak hanya mencium tangan imam tersebut, tetapi juga kuku kuda yang mereka tunggangi oleh karena rasa hormat kepada kuasa para imam (K3S 57).

Kualitas para klerus pada zaman Fransiskus memang sangat rendah. Kaum bidaah Kathari dan Waldensi mendeklarasikan secara blak-blakan, bahwa para imam yang hidup dalam dosa telah kehilangan kuasa-imamat mereka. Dari hari ke hari gerakan-gerakan bidaah itu semakin berkembang, malah sampai menjadi ancaman bagi Gereja. Fransiskus melawan kaum bidaah ini dengan iman-kepercayaan yang tak tergoyahkan akan Firman Allah dan Ekaristi Kudus, dua hal yang dipercayakan kepada para imam.

Seorang imam Dominikan, Stefanus dari Bourbon OP (1261) membuat catatan bagaimana Fransiskus sangat menghormati para imam: Pada suatu hari, dalam perjalanannya Fransiskus melintas di daerah Lombardy. Para penduduk sebuah desa tertentu, terdiri dari klerus dan awam, Katolik dan penganut bidaah, ramai-ramai mendatanginya. Sejumlah kaum Kathari berhasil mendekati Fransiskus, kemudian menunjuk sang pastor desa seraya berkata kepada Fransiskus: “Katakanlah kepada kami, hai orang baik, bagaimana mungkin gembala jiwa ini dapat dipercayai dan dihormati, karena dia mempunyai gundik dan melakukan dosa yang diketahui orang-orang?” Apa tanggapan Fransiskus? Dia pergi menemui imam itu, berlutut di hadapannya dan mencium tangan-tangannya, lalu berkata: “Aku tidak tahu apakah tangan-tangan ini kotor atau tidak, namun demikian kuasa sakramen yang ditata-laksanakan oleh tangan-tangan ini tidak hilang karenanya. Tangan-tangan ini telah menyentuh Tuhanku. Karena rasa hormatku kepada Tuhan, maka aku menghormati wakil-Nya; bagi dirinya sendiri mungkin dia buruk; tetapi bagiku dia baik”.

Tindakan Fransiskus yang penuh hormat kepada pastor desa tersebut sepenuhnya sesuai dengan petuahnya (Pth) kepada para saudara:
Berbahagialah hamba, yang menaruh kepercayaan kepada para rohaniwan, yang hidup tepat menurut peraturan Gereja Roma. Akan tetapi celakalah orang yang meremehkan mereka. Sebab sekalipun mereka itu pendosa, namun tidak seorang pun boleh menghakimi mereka, karena semata-mata Tuhanlah yang mengkhususkan mereka bagi diri-Nya untuk dihakimi.

Sebab semakin luhur tugas pelayanan mereka berkenaan dengan tubuh dan darah mahakudus Tuhan kita Yesus Kristus, yang mereka sambut dan hanya mereka sendiri boleh menghidangkannya kepada orang lain, maka semakin berat pulalah dosa yang dibuat orang terhadap mereka, lebih berat daripada dosa yang dibuat terhadap semua orang lainnya di dunia ini (Pth XXVI:1-4).

Tidak lama sebelum hari kematiannya, dari pembaringannya Fransiskus menyuruh tulis dalam Wasiat-nya (Was) apa yang paling berharga dalam hatinya dan paling suci di muka bumi ini:
Lalu Tuhan menganugerahkan dan masih menganugerahkan kepadaku kepercayaan yang sedemikian besar juga kepada para imam, yang hidup menurut peraturan Gereja Roma yang kudus, karena tahbisan mereka, sehingga kalaupun mereka mengejar-ngejar aku, aku tetap mau minta perlindungan pada mereka. Kalaupun aku begitu bijaksana seperti Salomo dan menjumpai imam-imam yang amat malang di dunia ini, aku tidak mau berkhotbah di paroki tempat mereka tinggal kalau mereka tidak menghendakinya. Aku menyegani mereka dan semua lainnya, mau mengasihi dan menghormati mereka sebagai tuanku. Aku tidak mau tahu tentang dosa di dalam diri mereka sebab di dalam diri mereka aku dengan jelas melihat Putera Allah, dan mereka itu adalah tuanku. Aku berbuat demikian karena di dunia ini aku sekali-kali tidak melihat Putera Allah Yang Mahatinggi itu secara jasmaniah, selain  tubuh dan darah-Nya yang mahakudus, yang mereka sambut dan yang hanya mereka sendiri boleh menghidangkan-Nya kepada orang lain. Aku menghendaki, agar misteri yang mahakudus itu dihormati melampaui segala-galanya, disembah dan disimpan di tempat yang berharga (Was 6-11). 

Apa yang menjadi alasan atau motif Fransiskus? Dalam “Surat Kedua kepada Kaum Beriman” (2SurBerim), Fransiskus menulis: “Kita ……… harus menaruh rasa hormat dan takzim kepada para rohaniwan; bukan pertama-tama karena orangnya sendiri – sebab bisa jadi mereka itu pendosa – tetapi karena tugas dan pelayanan tubuh dan darah Kristus Yang Mahakudus, yang mereka kurbankan di altar dan mereka sambut serta mereka bagikan kepada orang-orang lain (2SurBerim 33). Karena hanya para imam sajalah yang dapat menerima misteri Ekaristi ini dalam tangan-tangan mereka dan untuk menata-laksanakannya, maka Fransiskus sangat menghormati mereka. Jadi dapat dikatakan, bahwa penghormatan Fransiskus kepada para imam adalah semacam “derivatif” daripada penghormatannya terhadap Ekaristi Kudus. Dengan demikian, Ekaristi Kudus adalah sumber dari sikap hormat Fransiskus terhadap para imam. 

CATATAN PENUTUP
Fransiskus dari Assisi bukanlah seorang imam. Ia adalah seorang diakon. Sebagai umat kebanyakan, kita semua dapat meneladan apa yang telah ditunjukkan oleh orang kudus ini selama hidupnya di dunia. Seorang imam janganlah sampai disanjung-sanjung hanya karena khotbah-khotbahnya yang bagus, penuh humor, berasal dari etnis yang sama dan lain sebagainya. Semua imam harus dihormati, dikasihi, didukung, justru karena anugerah istimewa yang diberikan Tuhan kepada mereka: “hanya oleh tangan merekalah roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Kristus”. Seperti dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II di atas, konsekrasi dalam Kurban Ekaristi hanya dimungkinkan karena adanya Sakramen Tahbisan Imam. Perintah Yesus bagi kita semua para murid-Nya untuk merayakan Ekaristi, “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” [1Kor 11:24-25; bdk Luk 22:19], tidak akan terwujud sepanjang sejarah manusia kalau tidak ada para imam. Di sisi lain umat juga harus realistis dan penuh pengertian, karena seorang imam juga bukan seorang superman. Dia juga seorang manusia biasa dengan segala kelemahannya, di samping kekuatan-kekuatan yang dimilikinya, artinya dia juga dapat berpikir salah, bersikap salah dan berperilaku salah dalam situasi tertentu. 

Penghormatan kepada para imam yang didasarkan pada motif Ekaristi seperti diuraikan di atas tidak akan berakibat buruk dalam bentuk kultus-individu yang sangat tidak diinginkan, terutama dalam kehidupan sebuah paroki. Penghormatan yang bermotifkan Ekaristi tidak akan menghalangi seseorang untuk berani misalnya melontarkan kritik-positifnya terhadap pastor parokinya, seandainya terdapat sesuatu yang perlu dikoreksi dalam pelaksanaan salah satu atau beberapa aspek fungsi penggembalaan pastor paroki tersebut. Ia tidak akan merasa takut. Mengapa? Karena bagi orang itu, di belakang sang pastor paroki ada figur yang jauh lebih besar dan agung: Kristus sendiri! 

Yang diharapkan Bapak Uskup KAJ dari para imamnya dapat dibaca dalam “Surat Gembala menghantar Tahun Imam” (13/14 Juni 2009), khususnya yang termuat dalam butir 7. Sebagai penutup saya kutip apa yang ditulis oleh Bapak Uskup Agung KAJ pada bagian akhir surat gembalanya: “Seluruh umat saya undang untuk ikut menjaga dan memelihara keagungan Imamat Kristus yang diemban oleh para uskup dan imam”. 

Semoga berkat Allah Tritunggal dan doa-doa pengantaraan Bunda Maria selalu menyertai para uskup dan imam Gereja di negara kita yang tercinta ini. Amin!

Cilandak, 22 Juni 2009
Peringatan dua martir Inggris: S. John Fisher, Uskup & S. Thomas More, negarawan/ Fransiskan sekular.

*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

 
 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS *)

Dalam TAHUN IMAM 19 Juni 2009 – 19 Juni 2010 ini, marilah kita memusatkan perhatian kita pada para imam Gereja Katolik yang kita cintai ini, termasuk para uskup yang adalah imam-imam juga. Sambil diiringi doa-doa syafaat bagi para imam tersebut, kita pun seyogianya mendalami hakekat martabat imamat dalam Gereja kita, dengan demikian – berkat rahmat Allah – kita pun akan mau dan mampu menghargai, menghormati, mengasihi serta mendukung para imam kita dengan lebih intens lagi. Kita akan dapat lebih dekat lagi dengan mereka, namun dalam arti yang sehat.

Lewat tulisan ini saya mengajak para pembaca untuk lebih mengenal imam-imam kita dengan menggunakan bacaan-bacaan Kitab Suci sebagai pegangan, khususnya Perjanjian Baru. Mengapa? Karena Kitab Suci Perjanjian Baru merupakan bukti paling awal tentang pengalaman Gereja dalam hal pelayanan khusus para imam. Tulisan ini banyak mengandalkan kerangka pemikiran Walter J. Burghardt SJ[1] di salah satu bagian artikelnya, WHAT IS A PRIEST? yang terdapat dalam Michael J. Taylor SJ (Editor), THE SACRAMENTS – READINGS IN CONTEMPORARY SACRAMENTAL THEOLOGY, New York: Alba House, 1981, hal. 157-170. Kalau tidak disebut secara eksplisit, maka yang dimaksudkan dengan imamat dalam tulisan ini adalah imamat khusus, bukan imamat umum. 

MENIMBA DARI KITAB SUCI PERJANJIAN BARU
Perjanjian Baru mengedepankan 4 (empat) dimensi pelayanan Kristiani yang menurut pandangan Gereja secara mendasar melekat pada diri para imamnya. 

Pertama-tama, seorang imam dalam Gereja kita adalah seorang murid (Inggris: disciple; Yunani: mathētēs) Yesus – dan selalu seorang murid. Menjadi seorang murid Yesus berarti dipanggil seperti murid-murid-Nya yang pertama, seperti Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes yang dipanggil sendiri oleh sang Guru. Ia berkata kepada Lewi si pemungkut cukai: “Ikutlah Aku” [Mat 5:27]. Bagi seorang imam Gereja Katolik – seperti juga halnya dengan para murid Yesus yang awal – hanya ada seorang Guru, yaitu Yesus sendiri. 

Undangan atau panggilan Yesus tidak main-main dan harus ditanggapi secara total: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka” [Mat 8:21-22]. “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah” [Luk 9:62]. Menjadi murid-Nya berarti melakukan karya pelayanan secara purna-waktu, sepanjang hidup sang imam: tidak ada hal-hal lainnya dan juga tidak ada pribadi-pribadi lain. Ada pula kata-kata keras lainnya dari Yesus bagi seseorang yang mau menanggapi panggilan-Nya: “Jikalau seorang datang kepada-ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” [Luk 14:26]. Memang beberapa sabda Yesus ini terkesan keras-berlebihan. Masa sih seseorang tidak boleh menguburkan ayahnya sendiri? Masa sih dia tidak boleh pamitan dengan keluarganya? Masa sih dia harus membenci sanak keluarga dan bahkan nyawanya sendiri? Memang kita seharusnya tidak menjadi fundamentalistis dalam mengartikan pesan Yesus ini. Pesan Yesus sesungguhnya adalah: Siapa pun tidak dapat menjadi seorang murid Yesus kalau Yesus tidak menjadi keseluruhan hidupnya.

Menjadi seorang murid Yesus juga berarti dipanggil kepada kesusahan-kesusahan hidup yang terasa kejam bagi kebanyakan orang: meninggalkan segalanya dan memeluk salib, tidak memiliki apa-apa kecuali Yesus. Ia bersabda,  “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” [Luk 9:23]. Menjadi seorang murid adalah meneladan sang Guru dalam arti sesungguhnya, dan Ia adalah seorang Guru yang berlimbah darah dan tersalib; Ia yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani [Mat 20:28; Mrk 10:45].    

Kedua, seorang imam adalah seorang rasul. Menjadi seorang rasul berarti diutus, seperti halnya para rasul Yesus diutus untuk melayani orang-orang lain. Kata kuncinya di sini adalah “melayani”. Santo Paulus menulis, “... aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu” [2Kor 12:15]. Yang dibawa oleh seorang imam adalah selalu Yesus – tidak hanya pesan-Nya, melainkan juga kehadiran-Nya. Paulus menulis: “... bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” [2Kor 4:5]. Memang Yesus-lah yang harus selalu diberitakan oleh seorang imam! Bagaimana? Lewat kata dan karya, lewat penata-laksanaan sakramen-sakramen dan pengorbanan, terutama lewat kehidupan doa dan penderitaannya sebagai pribadi. Seorang imam yang sudah lupa bagaimana berdoa adalah seorang imam yang tidak dapat memberitakan Yesus meskipun dia dapat mewartakan hal-hal lainnya. Seorang imam pengkhotbah ulung atau menonjol dalam pelayanan-pelayanan tertentu yang berbangga-diri karena disanjung-sanjung umat,  sesungguhnya sudah berada dekat sekali dengan jebakan si Jahat. Ia harus selalu waspada [bacalah 1Ptr 5:8-9].

Seorang imam – seperti Paulus – akan menghadirkan Yesus bagi orang-orang lain secara efektif, hanya apabila dia mempunyai tanda-tanda kepedihan dari kematian Yesus dalam tubuhnya sendiri. Juga hanya apabila dia terus-menerus gelisah karena – seperti Paulus – dia “tidak beroleh ketenangan bagi tubuhnya; di mana-mana mengalami kesusahan: pertengkaran dari luar dan ketakutan dari dalam” [2Kor 7:5]. Ketakutan dari dalam atau lebih tepatnya “rasa was-was/cemas”, yang dimaksudkan di sini adalah rasa kesepian yang pada dirinya bukanlah alasan untuk meninggalkan kehidupan imamat; ketiadaan penghargaan, rasa sedih yang mendalam karena dia sadar betapa rapuh dan rentan dirinya dan betapa kuatnya kejahatan yang ada di sekelilingnya, kata-katanya terasa hilang lenyap tertiup oleh angin sebab kelihatannya begitu sedikit umat yang sungguh memperhatikan.

Ketiga, seorang imam adalah apa yang disebut dalam Perjanjian Baru sebagai presbiter (Yunani: presbytes) atau pengawas jemaat Allah, yaitu pribadi-pribadi yang bertanggung-jawab dalam hal pembinaan-pemeliharaan pastoral gereja-gereja (pengatur rumah Allah). Ia harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya [Tit 1:7-9]. Tugas seorang imam mensyaratkan kewibawaan namun tanpa sikap dominan, juga kehangatan dalam hubungan interpersonal dengan siapa saja yang ditemuinya.

Yang penting untuk dipahami adalah kenyataan, bahwa seorang imam mewakili sebuah lembaga yang bernama Jemaat atau Gereja. Betapa pun karismatiknya dia, bagaimana pun profetisnya dia, bahkan kalau dia dipanggil untuk menyerukan protes terhadap dosa-dosa dan korupsi dalam Gereja sendiri, seorang imam harus mewakili lebih dari sekadar wawasan-wawasan pribadinya. Seorang imam tidak dapat berada di luar Gereja karena dia adalah bagian dari Gereja. Hal ini bukan berarti bahwa Gereja selalu benar atau tidak dapat dikritisi, melainkan karena Gereja adalah tempat di mana iman-kepercayaan itu lahir dan bertumbuh. Gereja merupakan tempat dan pusat kebaktian. Gereja merupakan komunitas cintakasih. Gereja inilah yang diwakili oleh imam.

Keempat, seorang imam memimpin perayaan Ekaristi. Ekaristi memang bukanlah merupakan keseluruhan tugasnya, namun merupakan kegiatannya yang sentral. Dalam kegiatannya yang menyangkut Ekaristi inilah seorang imam melakukan apa yang ditekankan oleh Santo Paulus untuk dilakukan, yaitu “memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” [1Kor 11:26]. Seorang imam melaksanakan suatu pelayanan sakramental yang berpusat di sekitar roti kehidupan dan cawan/piala Perjanjian Baru. Di sekitar liturgi ini Gereja telah membangun akses manusia kepada kehidupan yang adalah Kristus: dari air baptisan melalui abu pertobatan sampai kepada minyak urapan yang terakhir. Dalam proses kehidupan ini imam memainkan suatu peran yang unik – suatu peran yang menjadi fokus setiap kali dia memproklamasikan “Terimalah dan makanlah: Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu. ...... Terimalah dan minumlah! Inilah piala Darah-Ku, Darah Perjanjian Baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku”.

Di sinilah, dalam Ekaristi, dalam arti yang sesungguhnya, terletak jantung imamat. Seorang imam dapat saja melakukan tugas-tugas pelayanan lain, seperti mengajar, terlibat dalam kegiatan karya sosial, konseling umat dan lain sebagainya, namun pada titik tertentu dia mengumpulkan umat di sekitar sebuah altar, di sekeliling sebuah meja perjamuan, untuk berbagi dengan mereka suatu pengungkapan rasa syukur di mana karya penebusan terlaksana secara tuntas dan manusia dibuat menjadi satu dengan Allahnya dengan cara yang tak ada bandingannya.

CATATAN PENUTUP
Yesus membuat umat-Nya berpartisipasi dalam imamat-Nya. Inilah yang dimaksudkan dengan imamat umum, seperti diuraikan dalam “Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium [LG] tentang Gereja” [lihat LG 10-11.34].  Namun baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, imamat umat Allah hanya dapat dilaksanakan secara konkrit melalui para pelayan khusus yang dipanggil oleh Allah (imamat khusus). Adalah kenyataan, bahwa Yesus memanggil ke duabelas murid-Nya dan mempercayakan kepada mereka tanggung-jawab atas Gereja-Nya. Dia mempersiapkan mereka untuk pelayanan Sabda; Dia memberikan kepada mereka sebagian dari kuasa-Nya [Mat 10:8.40; 18:18]; dan sebelum wafat-Nya Dia makan Paskah bersama mereka [Luk 22:14-20]. Ini menyangkut partisipasi dalam imamat-Nya secara spefisik. 

Para rasul memahami hal ini dan pada gilirannya mereka membentuk sekelompok orang yang bertanggung-jawab untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan imamat khusus mereka tersebut. Mereka disebut “panatua” yang merupakan cikal-bakal nama yang digunakan sekarang, yaitu presbiter [Kis 14:23; 20:17; Tit 1:5]. Santo Paulus memberikan nama “hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah” [1Kor 4:1], juga “pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru” [2Kor 3:6]. Imam dalam Gereja kita bukanlah anggota sebuah “kasta” tertentu yang terdiri dari orang-orang istimewa. Imamat khusus ini juga tidak mengurangi imamat Yesus yang unik atau imamat umum umat beriman. 

Para imam melayani keduanya, dalam arti mediasi yang menjamin pelayanan bagi seluruh umat Allah . Namun, seperti dicatat di atas, dalam hal Ekaristi-lah peran seorang imam menjadi sangat istimewa. Dalam artikelnya yang berjudul Restoration of the priesthood, Romo Frederick Heuser menulis: The Holy Eucharist is the very raison d’être of the ordained priest (Homiletic & Pastoral Review, January 1995, hal. 11). Ekaristi memang merupakan jantung imamat!

Semoga Allah Tritunggal Mahakudus selalu memberkati para imam kita. Amin!

Cilandak, 4 Juli 2009
Peringatan Santa Elisabet dari Portugal,
Ratu dan anggota Ordo Ketiga Sekular S. Fransiskus

*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

[1] Walter J. Burghardt SJ adalah salah seorang pengkhotbah Katolik terkemuka di Amerika Serikat. Beliau pernah menjabat sebagai Theologian-in-residence di Georgetown University, Washington D.C. Selama 45 tahun beliau bekerja sebagai managing editor & editor-in-chief dari jurnal Theological Studies, dan juga jabatan-jabatan lain.

 
 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS *) 

Tema MediaPASS edisi khusus Natal ini adalah BINTANG DI ATAS CEMARA. Langsung yang terbayang di mata saya adalah Pohon Natal (Pohon Terang) dengan sebuah bintang pada puncaknya. Apa yang dilambangkan oleh bintang itu sebenarnya ? Bagi saya bintang di puncak Pohon Natal itu adalah bintang yang menjadi petunjuk bagi para majus dalam perjalanan mereka mencari raja yang baru lahir. Bintang inilah yang membimbing para majus dari Timur sampai bertemu dengan bayi Yesus yang terbaring di palungan dalam sebuah kandang-gua; sang Bintang keturunan Yakub.

Mesori dan Rumah Roti. Kita tidak pernah tahu bintang terang mana yang dilihat para majus. Banyak saran telah dibuat. Sekitar tahun 11 SM Komet Halley tampak dengan terang benderang di angkasa. Sekitar tahun 7 SM terjadi pendekatan antara Saturnus dan Yupiter. Antara tahun 5 – 2 SM terjadi fenomena astronomi yang tidak biasa. Di tahun-tahun itu, pada hari pertama bulan Mesir, Mesori, Sirius, bintang anjing, pada waktu matahari terbit, memancarkan sinar yang terang sekali. Mesori berarti ‘kelahiran seorang pangeran’. Bagi para ahli astrologi bintang seperti itu berarti kelahiran seorang raja besar. Kita sungguh tidak tahu bintang mana yang dilihat oleh para majus, tetapi profesi mereka adalah memang mengamati angkasa, dan bintang yang tidak biasa-biasanya memancarkan cahaya secara cemerlang merupakan tanda kedatangan seorang raja ke dalam dunia. Dan, bintang yang satu itu berhenti di atas kandang-gua di Betlehem. 

Betlehem berarti ‘Rumah Roti’ dan terletak di daerah subur tidak jauh dari kota Yerusalem, sekitar 9-10 km. Betlehem sendiri mempunyai sebuah sejarah panjang yang menarik dan mengharukan, namun tidak akan diuraikan dalam tulisan ini karena keterbatasan ruang (bacalah Kej 48:7; 35:20; Rut 1:22; 1Sam 16:1; 17:12; 20:6; 2Sam 23:14.15; 2Taw 11:6). Akan tetapi dalam sejarah Israel dan dalam benak orang-orang Israel, Betlehem itu secara unik merupakan Kota Daud. Dari garis keturunan Daud inilah Allah akan mengutus seorang Penyelamat, seorang pembebas bagi umat-Nya. Nabi Mikha bernubuat: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mi 5:1). Di Betlehem – Kota Daud inilah, orang-orang Yahudi mengharapkan kedatangan sang Mesias …… sang Kristus! Natal adalah peristiwa yang terjadi di mana Mesori berhenti atas sebuah gua di Rumah Roti dan meneranginya dengan sinar cemerlang!

Orang-orang majus. Matius menampilkan orang-orang majus sebagai pelopor, perintis atau para pembuka jalan. Dalam Injil Matius, para majus ini adalah orang-orang pertama yang melakukan penyembahan kepada Yesus, suatu adorasi yang hanya diperuntukkan bagi Allah, suatu penyembahan yang akan dilakukan oleh para murid-Nya setelah kebangkitan-Nya (lihat Mat 28:9.17). Kalau kita perhatikan lebih lanjut, orang-orang majus berada di barisan terdepan orang-orang non-Yahudi yang percaya kepada Yesus, misalnya perwira Romawi di Kapernaum (Mat 8:5); kepala pasukan Romawi pada waktu Yesus wafat di kayu salib (Mat 27:54); perempuan Kanaan yang anak- perempuannya kerasukan setan (Mat 15:22); dan kebanyakan dari kita. Santo Augustinus mengatakan bahwa orang-orang majus adalah “buah-buah sulung dari orang-orang non-Yahudi,”  yang pertama dari orang banyak seperti dikatakan Yesus: “Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga” (Mat 8:11).

Ikatan batin kita dengan orang majus. Sudah sejak hampir 2.000 tahun silam mayoritas pengikut Kristus adalah non-Yahudi. Berlebihankah apabila kita – umat Kristiani – merasa adanya ikatan batin dengan para majus tersebut? Gambaran-gambaran ‘penyembahan orang majus’ sudah menghiasi dinding-dinding bawah-tanah katakombe-katakombe sejak awal abad kedua. Pada masa itu Gereja masih merupakan gereja di bawah tanah, masih dikejar-kejar dan dianiaya oleh penguasa Romawi. Berabad-abad lamanya ‘penyembahan orang majus’ merupakan gambaran Natal yang populer dalam kesenian Kristiani, jauh di atas popularitas gambaran dari Injil Lukas: gambaran bayi Yesus di dalam palungan yang dikunjungi para gembala (lihat Luk 2:16-20). Hari ini pun kita menghormati secara khusus para majus. Dalam ‘Korona Fransiskan’ (semacam rosario dengan 72 butir untuk ‘Salam Maria’ dan tujuh peristiwa yang biasa didoakan oleh anggota keluarga besar Fransiskan), sukacita Bunda Maria pada saat menghunjukkan bayi Yesus untuk disembah oleh para majus ini merupakan peristiwa keempat yang didoakan dengan penuh syukur, setelah peristiwa ‘kelahiran Yesus’ dan sebelum peristiwa ‘Yesus ditemukan dalam Bait Allah’.

Kita mengenang orang-orang majus pada hari Natal, dan teristimewa pada HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (EPIFANI), pada saat mana kita merayakan manifestasi kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus. Natal di Gereja Timur malah dirayakan pada hari Epifani ini. Sepanjang pengetahuan saya, nama lain yang biasa digunakan di Amerika Serikat untuk ‘Hari Raya Tiga Raja’ ini adalah the twelfth day of Christmas yang ditandai dengan saling-memberi hadiah dan kegiatan-kegiatan silaturahmi lainnya. Di New York City,  misalnya, setiap tanggal 6 Januari para anggota komunitas Latino menyelenggarakan pawai sangat meriah. Kita dapat melihat ‘tiga raja’ dalam ukuran raksasa memimpin pawai yang juga diikuti oleh unta-unta dari kebun binatang di sana, juga anak-anak sekolah yang mengenakan baju orang majus. Pawai ini sesungguhnya merupakan gambaran bersifat grafis yang menunjukkan bahwa para majus adalah ‘model’ bagi kita semua dalam melakukan perjalanan batin kita sendiri untuk sampai kepada Allah. Kita patut meniru iman, ketekunan, keberanian dan teristimewa kerendahan hati mereka yang jauh-jauh melakukan perjalanan dari Timur sampai ke Betlehem

Apa yang dikatakan Kitab Suci tentang orang Majus? Kitab Suci tidak banyak berbicara tentang keberadaan orang majus. Kisah orang-orang majus dari Timur terdapat dalam Mat 2:1-12. Permenungan atas ke dua belas ayat itu dapat saja menimbulkan dalam batin kita rasa berhutang kepada para majus itu. Hal itu sah-sah saja. Mereka seakan-akan orang-orang asing yang melakukan tindakan lebih daripada yang dituntut dari mereka, yang menolong seseorang yang anda kasihi ketika anda sendiri tidak berada di TKP. Mereka menggantikan anda!

Siapa orang-orang majus itu? Mereka adalah ahli ilmu falak/astronomi (Mat 2:2) yang melakukan perjalanan dari Timur (Mat 2:1), Mereka mempersembahkan kepada Yesus tiga benda berharga, yaitu emas, dupa dan mur (Mat 2:12). Orang-orang Kristiani pada umumnya memberi julukan ‘Tiga Raja’ kepada para majus yang datang menyembah bayi Yesus di dalam gua di Betlehem. Kita perlu mencatat bahwa Injil Matius tidak pernah menamakan mereka raja. Juga karena para majus yang datang menyembah bayi Yesus itu menghaturkan tiga buah persembahan, maka ada asumsi bahwa yang hadir adalah tiga orang … jadilah istilah ‘Tiga Raja’; padahal Injil Matius tidak juga tidak pernah menyebut jumlah mereka. Ada tradisi yang mengatakan ada dua, empat, delapan, bahkan dua belas orang majus yang datang ke Betlehem. Sebutan ‘raja’ muncul sebagai akibat permenungan Kristiani atas nas-nas dalam Kitab Yesaya dan Mazmur: “Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur YHWH” (Yes 60:6). “… kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya! … Hiduplah ia! Kiranya dipersembahkan kepadanya emas Syeba! Kiranya ia didoakan senantiasa, dan diberkati sepanjang hari!”(Mzm 72:10-11.15).

Ada banyak tradisi sehubungan dengan orang-orang majus dari Timur ini. Salah satunya adalah penjelajah/petualang Venezia yang terkenal, Marco Polo (1254-1324), yang menyatakan bahwa orang-orang majus berasal dari Persia dan dia telah mengunjungi makam-makam mereka, 80 km sebelah barat-daya kota Teheran. Tradisi Eropa yang lebih luas menyatakan bahwa makam para majus ini malah ada di Katedral Köln (Cologne), Jerman.

Apa yang dapat kita pelajari dari orang-orang majus? Injil menamakan mereka majus, atau magoi dalam bahasa Yunani, sepatah kata kuno yang mungkin merujuk pada sebuah suku imam di Persia barat. Pada zaman Yesus istilah ‘majus’ itu cukup lentur. Dapat berarti tukang sihir, dukun dan sejenisnya (lihat Kis 8:9-24 dab 13:6-11), namun juga para ilmuwan sejati, ahli ilmu falak dan pencari hikmat-kebijaksanaan. Orang-orang majus dalam Injil Matius adalah mereka yang termasuk golongan yang disebut belakangan (yang baik-baik). Tidak seperti Raja Herodes, para majus dalam Injil Matius ini tidak memiliki perwahyuan yang terdapat dalam Kitab Suci Yahudi (lihat Mat 2:4-6). Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang haus akan kebenaran. Allah bertemu dengan mereka ketika mereka mempelajari astrologi yang pada zaman itu tidak dibedakan dengan astronomi. Selagi mereka menyelidiki angkasa di malam hari, mereka mulai memusatkan perhatian pada sebuah bintang yang penuh tanda tanya. Apakah itu supernova? Komet Halley? Pendekatan yang jarang sekali terjadi antara Yupiter, Saturnus atau Mars? Atau gejala perbintangan lainnya? Para ahli astronomi sekarang pun masih menghadapi teka-teki yang sama. Kerinduan para majus akan kebenaran diungkapkan dengan melakukan suatu perjalanan panjang yang sangat sulit ‘dari Timur’. Apakah yang dimaksud di sini Babel yang dikenal sebagai pusat studi astronomi? Ataukah mereka berasal dari Persia (sekarang: Iran) karena kata ‘majus’ itu sendiri, dan seperti juga pandangan banyak para Bapa Gereja? Dalam kesenian Kristiani awal, para majus digambarkan berbusana sebagai orang Persia. Namun para sejarawan kesenian mengatakan bahwa ini adalah hal yang standar untuk menggambarkan siapa saja yang datang dari Timur, apakah Persia atau bukan.

Tulisan paling awal adalah dari Santo Yustinus Martir yang sekitar tahun 160 mengatakan, bahwa para majus itu datang dari Arabia. Yustinus mengemukakan hal tersebut sebanyak sembilan kali dalam risalat yang ditulisnya. Yustinus mungkin mempunyai akses langsung kepada orang-orang Yahudi Kristiani di Palestina yang memiliki tradisi-tradisi tertulis, karena dia tinggal di Nablus. Seorang ahli Kitab Suci zaman modern, almarhum Pater Raymond Brown SS, mengatakan bahwa kalau Perjanjian Baru berbicara mengenai ‘orang-orang dari Timur’, maka pada umumnya sebutan itu merujuk kepada padang gurun Arab yang memiliki reputasi baik dalam bidang hikmat-kebijaksanaan. Kita tahu juga bahwa tiga buah benda yang dipersembahkan kepada Yesus, semuanya adalah produk-produk Arabia. Sangat menariklah kalau benar orang-orang Arab yang pertama-tama menyembah Mesias orang Yahudi.

Dari mana pun mereka berasal, ketekunan dan kesungguhan hati mereka dalam melakukan penyelidikan, membuat para majus sebagai ‘cambuk’ bagi kita semua untuk terus bergerak menuju Yesus. Contoh yang mereka tunjukkan merupakan tantangan bagi kita dalam membuat pilihan. Apakah kita mau terjebak dalam rutinitas, paradigma lama, kenyamanan/kenikmatan pribadi dalam perjalanan kita menuju Allah? Sebaliknya, apakah kita tetap siap dan mau untuk memanggul salib kita sehari-hari dan berjalan di jalan sempit menuju kehidupan? Injil Matius mengindikasikan bahwa orang-orang majus mencari kebenaran dengan berbagai cara – melalui tanda-tanda alam, konsultasi dengan orang-orang lain dan juga Kitab Suci – bahwa Allah akan memampukan mereka untuk mengenali Dia yang mereka cari ketika menemukan-Nya. Santo Bernardus dari Clairvaux menggambarkan penemuan penuh sukacita para majus itu sebagai berikut: “Mereka tersungkur untuk bersembah sujud, mereka menghormati-Nya sebagai seorang raja, mereka menyembah-Nya sebagai Allah. Ia yang memimpin sampai ke tempat bayi Yesus itu telah menginstruksikan mereka untuk berlaku seperti itu. Dia yang mendorong mereka dengan menggunakan sebuah bintang sebagai sarana, Dia sendiri pula yang mengajar mereka dalam batin mereka.”  Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita terbuka bagi bimbingan Roh Allah? Apakah kita siap untuk membuat komitmen seperti saudara-saudara kita para majus?

Benda-benda yang dipersembahkan kepada Yesus adalah persembahan yang terbaik pada zaman itu. Dalam permenungan mereka atas ketiga persembahan para majus itu, para Bapa Gereja seringkali menafsirkan benda-benda itu sebagai simbol-simbol dari apa yang seharusnya dipersembahkan setiap orang Kristiani kepada Allah: emas cintakasih dan pekerjaan-pekerjaan baik, kemenyan dari doa dan iman, mur dari penderitaan yang memurnikan dan percaya akan kebangkitan. Emas adalah tanda yang menyangkut martabat seorang raja, sebuah penyeimbang terhadap makhkota duri yang akan dikenakan pada kepala-Nya kelak; kemenyan adalah lambang pujian-pujian kepada Yang Ilahi, sebuah penyeimbang segala cemoohan dan olok-olok keji yang akan diterima-Nya kelak; mur untuk menyembuhkan dan menyejukkan mengingatkan kita pada kematian-Nya kelak.

Dalam masa Adven/Natal ini, baiklah kita membuat pertimbangan-pertimbangan untuk mempersembahkan hal-hal yang sama. Memang tidaklah salah bagi kita untuk datang kepada Allah dan menghaturkan permohonan-permohonan kita. Namun dalam kesempatan langka pada masa yang penuh berkat ini, baiklah kita pertimbangkan untuk memberikan apa yang terbaik yang kita miliki … untuk Allah.

Waktu Yesus datang ke dunia, para majus ini adalah wakil-wakil kita, karena kita belum lahir. Sekarang tergantung kepada kita semua. Setiap hari kita dapat menyambut-Nya, menghormati-Nya, dan melayani Yesus dalam diri orang-orang lain yang kita temui. Dengan meneladan para majus, kita dapat melakukan hal-hal lebih daripada yang dituntut dari diri kita, kita mencari Dia terus dengan penuh sukacita, dan dengan sepenuh hati kita merangkul peran kita dalam rencana Allah untuk menyelamatkan dunia ini. 

Catatan Penutup. Yesus datang pada waktu yang tidak disangka-sangka dan di tempat yang tidak disangka-sangka pula. Hal ini benar tatkala Dia dilahirkan di sebuah kandang-gua di Betlehem,  dan juga benar pada hari ini. Mengikuti pemikiran Uskup Agung New York, Mgr. Fulton J. Sheen (The Life of Christ), saya berani mengatakan bahwa  hanya ada dua jenis manusia yang dapat menemukan bayi Yesus, yaitu para gembala dan para majus; orang-orang sederhana dan bersahaja dan mereka yang memiliki ilmu; orang-orang yang mengerti bahwa mereka tidak tahu apa-apa dan orang-orang yang mengerti bahwa mereka tidak mengetahui segala sesuatu. Orang bodoh tidak akan pernah melihat Dia, juga orang-orang yang menganggap diri mereka tahu segalanya. Bahkan Allah pun tidak dapat mengajarkan sesuatu kepada orang yang congkak. Hanya orang yang rendah hati saja yang dapat menemukan-Nya. Jadi penyebut yang sama (common denominator) antara para gembala dan para majus adalah kerendahan hati.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi kalau orang-orang majus itu tidak mau turun dari unta mereka masing-masing dan juga tidak mau menundukkan kepala ketika memasuki kandang-gua di mana bayi Yesus itu terbaring di dalam palungan. Banyak dari kita sudah tidak seperti gembala lagi, karena banyak dari kita sudah menyandang begitu banyak gelar akademis, misalnya S1 di bidang ekonomi, S2 di bidang bisnis, S3 di bidang humaniora, dan seterusnya. Oleh karena itu para majuslah yang harus menjadi paradigma kita. Kalau kita tidak mau turun dari ‘unta’ yang kita tunggangi dan kalau kita tidak mau menundukkan kepala kita, maka kita tetap tidak akan dapat menemukan Dia. Oleh karena itu, marilah kita belajar dari para majus yang mengandalkan diri pada bimbingan Allah lewat bintang-Nya. 

Di bawah bimbingan Roh-Nya, kita sendiri pada zaman sekarang dapat berpegang pada Dia yang adalah terang itu, seperti ada tertulis: “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1:4-5). Yesus juga berfirman, “Akulah terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan” (Yoh 8:12). Janganlah sampai kita berpisah dari diri-Nya! Selamat Natal tahun 2009 dan Tahun Baru 2010!

Cilandak, 16 Desember 2009

*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

 
 
Catatan dari Seminar The Catholic Way, Aula Katedral 13 Desember 2009

Berikut adalah catatan saat bedah buku “The Catholic Way” yang diadakan oleh Komisi KOMSOS KAJ   tanggal 13 Desember 2009 dari pk 9.00 sd pk 13 di aula Katedral Jakarta. Selain menampilkan Mgr Suharyo sang narasumber, juga disampaikan Pandangan dari Romo Simon L. Cahyadi Pr, dosen STF Driyarkara, dan Bpk Raymond L Toruan, Pemred Majalah HIDUP. J, dengan panduan moderator mbak Melly G. Tan .

Pandangan mengenai buku The Catholic Way dari Romo Simon Lilik Cahyadi:

Perspektif Umum

Ingat seorang filsuf German Immanuel Kant yang mengatakan kesibukan pemikiran kita diarahkan pada 3 pertanyaan dasar: apa yang bisa ku ketahui, wajib aku lakukan dan apa yang boleh aku harapkan. 3 pertanyaan ini menyentuh pertanyaan paling dasar siapakah aku ini manusia. Waktu membaca the Catholic Way di kepala saya ada 3 pertanyaan itu dan 1 pertanyaan pokok, apa yang bisa saya ketahui tentang Katolik dari buku ini, apa yang baik atau wajib kita lakukan sehabis membaca buku ini apa yang boleh kita harapkan. Pertanyaan lalu dimodifikasi untuk memasuki bedah buku ini.

Apa itu Kekatolikan?

Halaman 19-20 Mgr. Haryo mengatakan Katolik tak pertama-tama menunjuk sekelompok orang yang terbatas melainkan lebih-lebih Roh yang hadir dan berkarya di mana-mana, menjiwai seluruh dunia dengan daya Roh itu serta mengangkat kekayaan seluruh umat manusia. Jadi kata Katolik pertama-tama berkata tentang kegiatan Roh yang kita imani berhembus ke mana Dia mau dan kita meyakini kehadiran-Nya yang menjiwai seluruh karya umat manusia. Maka kata Katolik adalah paham dinamis, suatu yang bergerak sampai pada kepenuhan-Nya. Dengan hakekat kekatolikan ini kita bisa masuk ke dalam 3 pertanyaan yang tadi diajukan.

Pertama-tama sebagai katolik kita percaya pada kehadiran Roh Kudus yang berhembus ke mana Dia mau dan menyertai kita. Dalam Matius 28:20 Yesus bersabda: Aku menyertaimu sampai akhir zaman, penyertaan itu hadir dalam Roh. Catholos berarti menyeluruh, keyakinan ini menjadi pegangan bagi saya untuk menjawab 3 pertanyaan yang saya ajukan.

Bagaimana mengetahui kehadiran Roh yang menjadi hakekat Kekatolikan kita?

Dalam buku ini meskipun secara sporadis Mgr. Haryo menunjukkan dengan jelas bahwa itu ada dalam 2 hal yang bisa kita kenali dalam istilah tradisional disebut sebagai sumber iman, bagaimana mengenali Roh Kudus hadir dalam seluruh dinamika kehidupan manusia, dalam gereja.

Kitab Suci : Sabda Allah yang dibahasakan dalam bahasa manusia, love sotry cinta Tuhan untuk mengungkapkan cinta-Nya. Allah mencintai kita Yoh 3:16. Itu seluruh love story dari Kitab Suci Allah pada kita maka Kitab Suci mengungkapkan karya Roh Kudus yang menyelamatkan dan mendampingi kita. (Hlm 34 dst) Kitab Suci sendiri ternyata tak bisa menjadi satu-satunya sumber. Kitab Suci adalah salah satu sumber, maka iman Katolik punya sumber yang lain juga yaitu tradisi gereja. Didalamnya ada wewenang mengajar dari gereja untuk umatnya. Ini 2 sumber iman yang membuat kita punya kekhasan bahwa iman kita tak hanya berdasarkan Kitab Suci tapi juga tradisi gereja. Tradisi gereja adalah apa yang dihayati dan diimani oleh gereja sepanjang perjalanan hayatnya dari dulu sampai sekarang. Dalam bahasa Latin ada semboyan Sola Scriptura, Alone the Scripture, gereja Katolik mengatakan bukan hanya Kitab Suci tapi juga tradisi gereja. Dan ini sesuai dengan Kitab Suci. Ini adalah 2 sumber iman kita, maka kita agak berbeda.

Orang Protestan biasa merujuk segalanya pada Kitab Suci, kita bisa saja ada tradisi yang tak langsung disebut tapi bukan berarti tak disinggung atau tak ada inspirasinya maka tak bertentangan. Ini perbedaan sumber iman yang menjiwai cara kita menghayati iman, bertindak, berelasi dengan dunia, budaya atau inkulturasi maka Kitab Suci tak bisa jadi satu-satunya sumber.

Secara ilmiah, Kitab Suci adalah salah satu dalam tradisi gereja yaitu dalam bentuk yang tertulis. Banyak tradisi gereja yang tertulis, macam-macam tulisan, praktek-praktek hidup, ini tak bisa dirangkum dalam Kitab Suci, maka Kitab Suci adalah salah satu tradisi gereja, tradisi tertulis sehingga tak bisa jadi satu-satunya sumber.

Dengan bekal ini kita masuk ke dalam beberapa inti yang oleh Mgr. Haryo ditunjukkan dalam tradisi, misalnya penghormatan pada orang Kudus, ibu Maria, kepercayaan pada purgatorium, yang oleh Mgr. Haryo dikatakan sebagai pencucian. Purgatorium sebenarnya tempat, tempat pentahiran, pencucian. Bukan berarti tak ada dalam Kitab Suci, ada acuannya dalam Kitab Suci yaitu dalam 1 Korintus, bahwa Paulus mengatakan ada orang yang diselamatkan seolah-olah dari api, lalu dari situ asosiasi muncul purgatorium, tempat pencucian yang lalu dihubungkan dengan api pencucian. Dalam Kitab Suci tak ditunjuk secara langsung tapi tak melawan melainkan cocok.

Apa yang wajib dilakukan?

Buku ini tak hanya memuat masukan teologis tapi juga tindakan yang perlu kita lakukan dalam kehidupan iman kita. Banyak hal menyangkut relasi dengan lingkungan hidup, hubungan dengan orang kecil, dialog dengan orang yang punya kepercayaan lain.

Imperative bisa diringkas dalam 2 kategori

1. Halaman 42, baik kalau kita mempunyai mata iman, yang melihat semua itu sebagaimana Tuhan melihat, bahwa Tuhan baik pada setiap orang. Dia memberikan sinar matahari pada setiap mahluk, Dia mencintai dunia dan mengutus Yesus, dosa tak dikehendaki-Nya, cinta-Nya bisa dinikmati oleh setiap orang. Kita perlu melihat hidup kita dalam terang iman, ada Tuhan yang berkarya dalam kehidupan kita. Dulu Tuhan dibawa oleh para misionaris kepada kita sekarang harus dibalik, dalam negara kita ditemukan Tuhan, pada mereka Tuhan harus ditemukan, pada yang kecil, Matius 25 misalnya, jadi penting melihat dengan mata Tuhan

2. Kita punya respek terhadap

a. Diri sendiri. Respek diri sendiri kita lebih kaya daripada apa yang ditawarkan, tak hanya ikut mid-night sale.

b. Terhadap pihak lain. Prinsip fairness, dialog penuh penghargaan pada orang yang punya keyakinan lain.

c Terhadap alam. Tidak memanipulasi alam begitu saja, alam dieksploitasi habis-habisan. Dalam Kejadian Tuhan mau kita menguasai dan menaklukkan dunia, Tuhan menempatkan kita untuk menjadi walinya, kita menjadi wali alam. Keserakahan dan kemarukan mengakibatkan kecelakaan dan kehancuran alam yang pada gilirannya menghancurkan kita.

Apa yang boleh kuharapkan

Keutamaan pengharapan kita percaya bahwa Tuhan nanti menyempurnakan karya kita. Kita wajib dalam kewenangan dan kemampuan bahwa kita punya kepercayaan bahwa Dia yang sudah memulai perbuatan baik akan menyempurnakannya pada akhirnya. Lihat Aku membangun serba baru yang lama sudah lewat yang baru sudah datang. Harapan ini tak membuat kita patah semangat, kita membawa optimisme, percaya pada jaminan sabda Allah maka dengan penuh kesabaran kita mau terus bekerja, berdoa dan membangun dunia ini menjadi dunia yang lebih baik, lebih manusiawi di mana setiap orang menerima cinta-Nya.

RAYMOND TORUAN

Buku kecil ini diberi judul The Catholic Way, subjudul kekatolikan dan keindonesiaan kita. Ketika membaca buku ini ada 2 nama yang langsung muncul di kepala. Yang satu adalah seorang pastor, (maaf namanya sulit dieja) sosiolog, pastor keturunan Irlandia tapi tinggal di Chicago, membuka pusat sosiologi mengenai Katolik, pastor Jesuit satu ini menghasilkan buku yang berkaitan tentang kekatolikan, puluhan bukunya termasuk novel dan bagus-bagus. itu yang pertama teringat.

Nama kedua adalah Mgr. Sugiyopranoto 100% Katolik 100% Indonesia, saya agak bingung judulnya kalau diindonesiakan menjadi cara hidup Katolik atau cara katolik, berbeda dengan being Katolik, beriman Katolik. Buku ini semacam panduan untuk orang Katolik, tindakan apa yang harus dilakukan.

Daftar isi memuat pengantar, tak kurang dari 20 artikel. Kebanyakan judul artikel barbahasa Indonesia, tapi ada 3 berbahasa Inggris. Saya coba menyatukan berbagai pemikiran Mgr. Suharyo yang sebelumnya berserakan. Buku ini merupakan kumpulan tulisan berbagai hal. Ukuran dan isinya macam-macam. ada 3 tulisan diantara 20 tulisan yang agak panjang, lebih dari 25 halaman. Lainnya pendek-pendek.

Buku ini kalau saya yang sunting akan dibagi dalam tiga kategori:  tulisan mengenai iman Katolik, being a catholic, tentang menjadi Katolik Indonesia, hanya 1 artikel yang paling panjang memuat itu. Tentang cara hidup Katolik, Catholic Way, di sini ada 15 artikel. Kategori lain-lain adalah sisanya.

Kategori pertama

Halaman 9-26 merupakan ringkasan dari iman Katolik. Uraian tentang apa saja yang kita percaya sebagai orang Katolik, mau dikatakan bahwa iman Katolik adalah syahadat para rasul, aku percaya, itulah iman kita. Hanya saja dalam artikel ini ditambah beberapa hal lainnya yang juga khas Katolik, penghormatan pada Bunda Maria, Para Kudus, Kitab Suci, sebagai sumber. Dalam artikel pertama yang panjang yang menurut saya dasar dari buku ini, ada sisipan mengenai perpecahan gereja. Buat saya artikel pertama ini menjadi Katolik Indonesia adalah katekismus teringkas yang pernah saya baca, karena ada katekismus Indonesia, iman Katolik dsb.

Pada dasarnya kategori pertama ini berbicara tentang penerimaan dan pengakuan kita sebagai orang Katolik akan kebenaran tertentu.

Loncat ke kategori 3,

Ada 3 artikel 203-208 berbicara tentang budaya instan, atau gejala kecenderungan orang sekarang mencari jalan pintas, lalu artikel hal ihlwal uskup 215-230 menceritakan gelar dan wewenang uskup serta artikel masa kecil yang membentuk, lebih biografi Mgr. dan keluarga. Sebagai kisah sangat enak dibaca karena menginspirasikan tapi masuk dalam kategori lain-lain maka Catholic Way harus dicari pada 15 artikel lain berurutan dari depan ke belakang

Kategori kedua

15 artikel dalam kumpulan kedua lebih menjawab pertanyaan seputar Catholic way, bagaimana harus bertindak sebagai Katolik, di rumah, jalan, masyarakat terhadap bumi dst. Inilah inti dari buku ini. 15 artikel ini paling perlu dibaca dan disimak. Tak ada yang baru dalam tulisan-tulisan itu. 2 diantaranya cukup panjang, Pancasila dan bonum commune. Hlm 47 dan 70, yang lain lagi Dialog antar Agama 71-100. Ini panjang tapi sangat baik untuk disimak. Yang lain lebih pendek. Secara keseluruhan ke 15 artikel bisa menjadi panduan bagaimana menghayati iman Katolik dalam kehidupan sehari-hari. Yang harus dibaca dulu adalah artikel Pancasila dan bonum commune dan Dialog antar Agama

Halaman 118 Mgr menegaskan hal beriman tak sekadar menerima dan mengakui kebenaran-kebenaran tertentu. Beriman berarti menjadi murid Yesus, melanjutkan pengutusan yang dilakukan oleh Yesus sendiri, ke 15 artikel merupakan bentuk perutusan murid-murid Yesus secara Katolik. Dalam hal menerjemahkan bentuk perutusan, buku kecil ini sungguh menunjukkan Mgr yang pawai dalam memahami kitab-kitab gereja yang rumit.

Beliau dalam buku ini tak bersikap sebagai ahli teologi biblis, membaca buku ini seperti tak membaca tulisan Mgr, namun mendengarkan langsung tutur sapanya. Dan memang sungguh sulit untuk tidak terpesona ketika membacanya. Bagaimana kumpulan Ajaran Sosial Gereja itu dituturkan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dengan konteks masa kini dalam kehidupan nyata kita. Alur diteruskan dalam beberapa artikel, cukup jelas beliau menuturkan bagaimana alur itu dituliskan dalam serangkaian surat-surat gembala KWI terutama selama 10 tahun terakhir yang berkaitan dengan keadilan sosial. Dengan santai beliau bisa menohok Fukuyama, tapi surprisingly menuturkan model ekonomi alternatif, teologi biblis membahas ekonomi alternatif.

Dari buku ini ada sisi lain dari Mgr. Haryo, sisi seorang magister dalam arti yang sesungguhnya, magister itu guru, dengan bahasa yang sangat populer. Buku ini menarik sebagai bacaan, ajaran sosial gereja yang tebal bisa teringkas dalam buku ini.

Ekonomi berbagi, rasanya di Jakarta perlu dicoba model ini.

Buku ini banyak typo error, yang perlu diperhatikan. Masih ada kutipan-kutipan yang membuat kalimat yang menggantung, ada kata yang hilang entah bagaimana atau tak masuk, hanya beberapa kalimat yang menggantung, ini catatan untuk Kanisius sehingga lebih cermat kalau mau cetak ulang, dibersihan dulu.

Catatan lain mengenai bagaimana buku ini dikelola, saya merasa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan seluruh artikel, sebetulnya tiap artikel diawali dengan pertanyaan, pertanyaan ada yang koheren tapi ada yang agak tercampur aduk, beberapa pertanyaan itu sepertinya menggurui, lebih enak membaca tuturan Mgr daripada membaca pertanyaannya.

Ada pertanyaan pada Mgr dari Raymond, kalau jadi uskup KAJ yang dikukuhkan apa masih tetap berpegang pada kalimat: Perutusan yang diterima adalah mewartakan pengharapan, jika ini dipertahankan, Jakarta bakalan hebat karena pekerjaan Rm Harry sebagai penanggungjawab komsos menjadi lebih ringan. Mewartakan pengharapan bukan pekerjaan mudah. Dua hal menjadi penting: bagaimana dia berkomunikasi, mewartakan pengharapan tapi juga menunjukkan hidupnya bahwa Mgr juga memberikan harapan

Pertanyaan pak Raymond

Model ekonomi berbagi apa bisa diterapkan lalu pembahasan mengenai perpecahan gereja kok sampai dibahas di buku ini, dan tugas perutusan untuk mewartakan pengharapan.

MGR. SUHARYO

Economic of sharing, ekonomic of communion, dalam buku ini ditunjukkan sekian ratus perusahaan yang sudah mempraktekkan tidak di Indonesia, baru ada satu di Indonesia yaitu di toko KAS. Saya baca buku kiara lubing, saya ketemu teman-teman vocolare dan sangat tertarik pada gagasan seperti ini karena konsep seperti ini belum ada dalam teksbuk ekonomi dnamun gagasan yang dilemparkan oleh kiara yang aslinya guru taman kanak-kanak yang menjadi pemimpin vocolare diimplementasikan oleh orang-orang yang bergerak dalam bidang ekonomi dan mereka menjiwai bidang pekerjaan mereka dengan iman yang sangat radikal. Kuncinya ada di iman yang radikal sehingga muncullah macam-macam perusaahaan yang dikelola dengan cara ini. Kalau tidak salah sudah ada 3 disertasi ilmiah yang dibuat di Filipina mengenai ekonomic of share. Ada satu perusahaan kecil di salatiga yang mencoba mengaktualisasikan gagasan ini.

Keadaan gereja yang terpecah-pecah. saya menulis karena memang ditanya, namun kalau mencoba untuk mengembangkannya lebih jauh, salahsatu dari sifat gereja yang paling dasar adalah kesatuan. Maka gereja dalam Konsili Vatikan II khususnya diberi judul communio, persekutuan, sulit diterjaemahakan dalam bhs Indonesia. Intinya adalah persekutuan, persatuan. Kalau inti gereja persekutuan dan persatuan, maka salah satu yang langsung berlawanan dengan hakekat gereja adalah perpecahan. Yesus berdoa supaya para muridnya menjadi satu; tapi para muridnya pecah terus menerus. Ini langsung menohok hakekat gereja.

Maka kalau saya ditanya pastoral gereja sekarang yang paling pokok itu apa, atau ciri tanda pastoral berhasil atau tidak jawabannya ada disitu. Apa yang paling membahagiakan bagi uskup? Adalah kalau umatnya tak berkelahi dan pastornya juga tak berkelahi. Apa yang paling menjadi beban berat seorang uskup jawabannya sama kalau umat atau pastornya berkelahi, yang lain bekerja tak terlalu sulit paalagi dengan kerjasama sekian banyak umat yang rela bertanggungjawab dalam kehidupan gereja. In ilangsung menyangkut inti gereja.

Mewartakan pengharapan. Dari satu pihak, kata pengharapan dokumen resmi gereja baik dari vatikan maupun dari KWI, dan kalau kita baca dokumen-dokumen lain dari Komisi Wali Gereja tempat lain, kata ini meurpakan refrain terus diulang dari satu pihak itu. Salahsatu dari sinoede para uskup yang berlangsung di Vatikan 2001 judulnya berkaitan dengan mewartakan pengharapan sebagai tugas para uskup. Saya hanya mengutip sdari sinoede para uskup. Dari satu pihak tertulis bsebagai dokumen.

Dari lain pihak sharing pribadi Mgr: itu merupakan pergumulan pribadi, dari pengalaman sendiri dan berbagi pengalaman dengan orang lain yang sungguh bekerja keras untuk kebaikan bersama tak jarang orang lelah, habis, putus asa karena bekerja 24 jam sehari membanting tulang dsb. Kelihatannya dunia tak berubah, sama saja jeleknya. Di negara kita sejak reformasi 2008 sampai sekarang tak ada yang berubah dalam arti apa yang ada dalam Pancasila tentang kesejahteraan masyarakat. Pertimbangan manusiawi kita bekerja keras, maka seperti saudara kita seperti yang orasi dari Pemalang, semangat, seolah-olah dunia akan menjadi lebih baik, dengan datang ke Jakarta, akhirnya diantar pulang sudah menjadi jenazah.

Justru dalam perjuangan yang entah berhasil atau tidak menurut perhitungan manusiawi yang namanya pengharapan menjadi inspirasi iman. Pejuang perdamaian Vietnam di Amerika, banyak yang masuk rumah sakit jiwa karena industri senjata terus menjual senjata, perjuangan mereka tak ada hasil, mental habis, rohani tak punya, fisik lelah membuat mereka terdampar di rumah sakit jiwa. Maka dikatakan oleh Rm. Simon saya membuat perbedaan yang sangat hitam putih antara optimisme dan harapan

Optimisme, muncul atas siasat naluri, atau pertimbangan manusiawi. Misalnya, rupiah semakin kuat 5 tahun lagi ekonomi makin baik ini optimisme, kalau pada waktunya yang dioptimiskan tak jadi habislah dia, optimisme berubah menjadi pesimisme.

Pengharapan itu berbeda, ada pada tingkatan inspirasi, pada tingkatan iman, kalau tak berhasil, Tuhan tak akan pernah gagal, Ia yang telah memulai pekerjaan yang baik akan menyelesaikan juga pada waktunya. Mungkin saja diwujudkan lewat orang lain, dalam masa yang lain juga. Kalau omong berdasarkan Kitab Suci, kalahkan kejahatan dan kebaikan, kalaupun saya gagal Allah tak pernah gagal . Dengan harapan seperti itu saya bisa bekerja mati-matian tanpa merasa putus asa kalau saya gagal. Kalaupun gagal ya mulai lagi, begitu seterusnya. Sebaliknya saya tak merasa sombong kalau yang saya kerjakan itu berhasil, karena semuanya adalah dari Allah yang telah memulai karya yang baik. Begitu besar tantangan dan usaha yang harus kita buat, hal-hal yang baik tak akan tampak dalam waktu dekat maka harapan, ketahanan menjadi kekuatan iman yang bukan main dahsyatnya.

PERTANYAAN RM. SIMON

Antara tradisi dan Kitab Suci harus dijelaskan. Dalam tradisi ada unsur yang belum disinggung dalam buku, yang bisa jadi klenik, tahyul. Ada catatan dari seorang teolog gereja protestan punya percatum per defectum, terlalu sedikit Kitab Suci tak bisa bicara. Dalam Katolik percatum per excestum, terlalu banyak, orang bisa jadi kafir. Bagaimana kaitan Kitab Suci dan tradisi. Protestan jelas hanya Kitab Suci.

Tanggapan Mgr.

Relasinya baik-baik saja. Pentingnya magisterium, kuasa mengajar gereja. Memang kalau kita menjadi warga gereja Katolik, penafsiran-penafsiran yang bermacam-macam kalau menjadi pokok iman, yang memutuskan adalah kuasa mengajar gereja, Paus dalam persatuan dengan kolegium para uskup sementara yang lain bisa menjadi pendapat teolog, kalau dalam sekolah macam-macam teologi macam-macam, tapi kalau jadi pokok iman tak didiskusikan lagi. Bahwa didiskusikan dalam rangka teologi ya, tapi pokok iman yang tak dipersoalkan dalam isi iman, kuasa mengajar gereja, magisterium akan sangat hati-hati untuk mengambil keputusan ini atau itu sebagai ajaran iman. Dan gereja dinamis, saya yakin pelan-pelan gereja akan berkembang dan berubah dalam dinamika yang ditutur oleh Roh Kudus. Bahwa ada perbedaan pendapat nyatanya ada.

Percaya atau tidak Konsili Vatikan II dibimbing oleh Roh Kudus, Roh Kudus membimbingnya dengan cara mana? Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II lolos tidak ada yang mulus, semua pakai voting, ada sekian ribu uskup, dokumen ini diterima atau tidak? Tidak ada satupun dokumen Konsili Vatikan II yang lolos dengan suara penuh, semua dengan voting. Itulah caranya Roh Kudus membimbing gereja. Kalau tahu sejarah konsili, ketika mereka berada dalam ruang konsili, mereka berdiskusi di antara mereka. Begitu keluar ruang konsili, mereka membuat lobbi-lobbi di antara para teolog.

MGR. SUHARYO

Saya ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada saya sama sekali tak menduga bahwa buku ini akan menjadi bahan diskusi di ibukota Republik Indonesia, dulu hanya mendapat pertanyaan, judulnya tak seperti ini. Pertanyaan saya jawab semampunya dengan melihat dokumen ini dan itu dan saya senang akhirnya bahwa pertanyaan dan jawaban ini ketika dilempar menimbulkan pemikiran-pemikiran yang selanjutnya, ini hakekat sebuah tulisan. Mungkin yang saya maksud berbeda dengan yang ditangkap pembaca , ini bagus karena akan memunculkan pemikiran-pemikiran. Dalam buku ini, yang menjadi harga mati hanyalah kutipan-kutipan dokumen gereja. Yang lain adalah pemikiran-pemikiran yang selalu bisa dikembangkan dan dipakai untuk bahan diskusi. Saya sangat hati-hati dalam memberikan jawaban-jawaban. Karena dulu waktu mulai menjawab, yang memberi pertanyaan mengatakan bahwa ini akan menjadi acuan bagi pemahaman-pemahaman kekatolikan. Oleh karena itu tak berani saya menjawab sembarangan, akan jauh lebih mudah untuk berbicara saja. Bahayanya apakah itu resmi Katolik atau pendapat seorang desa yang sekarang masuk ibukota. Maka saya sungguh-sungguh hati-hati untuk menjawab pertanyaan untuk mengutuip yang universal dan resmi dikeluarkan oleh KWI.

Sebetulnya judulnya bahasa Jawa bukan Inggris, Katolik wae. Dengan pengantar itu dan ucapan terimakasih pada Rm. Simon dan pak Raymond atas penelisikan pada buku ini saya ingin menyampakikan 1 atau 2 hal, bukan isi, mengenai isi silahkan baca bukunya.

Pertama

Kalau mengambil subjudul kekatolikan dan keindonesiaan kita. Kita semua tahu bahwa kekatolikan dan keindonesiaan bukan sekadar konsep tapi itu adalah kehidupan, konrit pilihan-pilihan keputusan-keputusan yang menyangkut kehidupan. Oleh karena itu, saya ingin, menampilkan 1 atau 2 tokoh yang menghidupi keKatolikan dan keindonesiaan. Supaya bisa meskipun tak sekaliber mereka kita tahu apa kerangkanya supaya bisa sampai pada kehidupan itu.

rm Vanlith. Misionaris Belanda di jateng, pada awal abad 20, ia istimewa karena diberi julukan, waktu itu belum ada indoneisia, karena tahun 1920 an ia diberi julukan orang Belanda yang berhati jawa. Untuk, membedakan dengan orang jawa yang berhati Belanda, berarti penjajah. Bisa dibayangkan dari sebutan itu seperti apa dia. Saya kutipkan salah satu tulisannya ketika harus berhadapan dengan penjajah yang sebangsanya. Setiap orang sekarang tahu kami, para misionaris, ingin bertindak sebagai penengah. Itu konfilik antara penjajah yang dijajah. Tapi setiap orang tahu juga bahwa seandainya terjadi perpecahan meskipun tak diharapkan sedangkan kami terpaksa memilih kami akan berdiri di pihak pgolongan pribumi, golongan yang dijajah dan dihisap. Ini jelas pemihakan, pilihan sikap ketika berhadapan dengan situasi konkrit dengan inspirasi iman mewartakan kerajaan Allah, rm Vanlith memilih orang-orang setempat tak memilih orang-orang Belanda meskipun dia adalah orang Belanda. Waktu itu belum bisa dikatakan keindonesisaan, tapi jiwanya ada di situ. Yang juga stgt menarik, rm Vanlith, yang adalah pastor, yang adalah Belanda, dicalonkan oleh partai sarikat Islam untuk menjadi anggota volkstraat waktu itu, orang Belanda dicalonkan menjadi anggota DPR oleh partai sarikat Islam. Waktu itu terjadi karena keberpihaknnya itu.

Bapak Kasimo, seorang pejuang politik. Dia berjuang dalam politik bukan hanya sebagai politikus biasa tapi sebagai politikus yang berinspiras iman Katolik, dalam iman ketika ia diwawancarai mengenai sikap dasar berpolitkik pertama sederhana, ekdua jujur, yang ketiga tidak semata2 perjuangan duniawi (ini mengesankan). Kalau kita bahasakan dengan bahasa kita demi Kerajaan Allah lalu bidsa dijelaskan ka seperti apa?

Mgr. Sugiyopranoto, orang istimewa, beberapa hal dalam kehidupan beliau yang belum banyak diketahui selain 100% Katolik 100% Indonesia, ketika ibukota pindah dari Jakarta ke Yogya, romo Sugiyopranoto memindahkan keuskupan dari Semarang ke Yogya. Bukan karena semarang gedungnya rusak tapi karena dia ingin menunjukkan pada seluruh dunia, pada rakyat indonesia bahwa gereja Katolik adalah bagian dari bangsa indonesia yang mempertahankan kemerdekaannya. Ini tindakan kenabian yang bukan main berartinya. Semarang terkenal dengan perang 5 hari, jepang menyerang, Inggris datang, semarang akan dihanguskan, Sugiyopranoto menjadi penengah pendamai, antara jendral jepang dan Inggris.

Slamet Riyadi, Ign Slamet Riyadi. Pada usia 23 tahun, dia menjadi wakil pemerintah indonesia untuk menerima penyerahan kota Solo dari penjajah Belanda. Masih sangat muda pangkatnya overste, ketika komandan Belanda ketemu geleng-geleng kepala, ini tokh anak yang mencelakakan kami terus, tak pernah bisa ditangkap. Dalam posisi yang setinggi itu dalam karir militer kenegaraan, waktu itu belum Katolik, akhirnya ia memutuskan untuk menjadi Katolik, biasanya sekarang terbalik untuk mencari jabatan Katolik ditinggalkan. Selamet riyadi terbalik, ketika ingin menyempurnakan aktualisasi  dirinya sebagai manusia dia memberikan dirinya untuk dibaptis, ini istimewa sekali. Sehingga ia dikhianati dan ditembak mati sebagai orang Katolik, sempurnalah pengabdiannya pada nusa dan bangsa. Nama baptisnya Ignatius dan ia dibaptis sekitar bulan desember …aneh kalau dia mendapat nama baptis Ignasius karena Ignasius 31 Juli. Berhubung dia tentara dan Ignasius juga tentara, kelihatannya dia memilih nama itu rupanya.  Ia memilih nama ignatius untuk menyempurnakan pengabdiannya sebagai manusia beriman kristiani. Itulah contoh2 yang bagi saya sangat inspiratif untuk menampilkan bahwa keKatolikan dan keindonesia bukan sekadar konsep tapi kehidupan.

Catatan kedua

Tadi orang-orang besar, lalu kita apa bisa mengejawantahkan konsep kekatolikan dan keindonesiaan? Harus bisa, menurut kadar yang berbeda-beda. tak usah bercita-cita menjadi tokoh yang besar. Saya ingin menampilkan atau menawarkan suatu kerangka, refleksi, kerangka berpikir, bahan-bahan yang sudah diulaskan oleh pak Raymond bisa dimasukkan dalam kerangkat itu. Ada 3 kata kunci yaitu iman, mediasi atau jalan, sarana, bisa pendidikan, kesehatan perusahaan, perdagangan, guru , wartawan dsb, apa yang kita pilih sebagai mediasi untuk mewujudkan iman. Dan ketiga adalah perubahan sosial. Ini bahasa yang biasa kita pakai bahasa salehnya adalah datangnya kerajaan Allah.

Iman, inspirasi iman. Iman memuat sekurangnya 2 hal yang pertama adalah pengetahuan, maka tadi ditunjukkan bagian 1 praktis pertanyaan seputar pengetahuan iman. Dan rupanya pengetahuan iman umat Katolik masih sungguh banyak harus ditingkatkan. Selama ini bapak kardinal selalu berbicara hal itu dan karena pengamatan beliau kira-kira sama maka pastor-pastor dihimbau setiap bulan sekali homili diganti dengan pengajaran iman. Ada banyak contoh yang meyakinkan saya bahwa pengetahuan iman memang harus diekmbangkan. Salah satu contoh yang lucu, pada satu pertemuan orang muda lintas agama, Katolik, Protestan, Islam, dsb yang Islam bertanya pada yang kristen, teman, apa beda Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tak ada yang jawab, sesudah beberapa waktu OMK berdiri dengan sangat percaya diri dan mengatakan Perjannjian Baru adalah cetakan yang paling Baru dari Perjanjian Lama.

Pengalaman iman. Soal pengalaman, pengetahuan ada dikepala, moga-moga turun ke hati menjadi pengalaman myang menggerakkan kehidupan. Untuk menunjukkan dengan sederhana faham tentang iman sangat berpengaruh dalam kehidupan. Dongeng anak kecil ingin makan permen. Didik namanya, dia ingin makan permen yang dia tahu ibunya punya banyak, dia tak berani karena paling-paling dimarahi, maka dia ambil tanpa minta ijin, dikiranya ibunya tak melihat, ternyata ibunya melihat, sesudah ambil dia ditanya oleh ibunya, ketika kamu curi kamu tahu tidak Allah ada di situ, dengan tenang didik menjawab tahu. Apa yang dikatakan Tuhan? jawab didik Tuhan menyuruh saya ambil dua.

Dongeng kecil ini bisa menjelaskan bahwa ada gambaran tentang Allah itu yang bisa berbeda-beda. ibu dalam dongeng itu gambarannya Allah terus mengawasi, kalau ketangkap dihukum maka dia menakuti anaknya dengan kehadiran Allah. Jadi Allah seperti itu kita akan susah, sementara anak kecil punya gambaran dan pengalaman yang sangat berbeda bagi dia Allah bukan yang mengawasi, Allah itu maha baik, maha kasih maka dia ingin satu disuruh ambil dua.

Pertanyaan kita adalah apakah pengetahuan iman yang banyak itu sungguh-sungguh bisa kita serap menjadi pengalaman oleh karena itu kalau ditanya silahkan menjelaskan Tritunggal jawaban saya Tritunggal tak bisa dijelaskan kalau jelas bukan Tritunggal. Ada mahasiswi univ negri, dia ditantang kalau bisa menjelaskan Tritunggal saya akan jadi Katolik, mahasiswi menjawab ringan bapak jadi Katolik dulu nanti akan tahu Tritunggal siapa. Kalau saya akan menjawab Tritunggal adalah pemikiran teologi yang nantinya mengarah pada satu kesatuan dimana Allah adalah kasih. Masalah nya Allah yang adalah kasih itu diimaniatau tidak. Ini pertanyaannya, perlu usaha terus menerus harus diperjuangankan dalam doa dsb. Iman itu harus diujudkan maka dipilih mediasi.

kedua.

Mediasi, Vanlith seorang imam, mendirikan sekolah.  Sugiyopranoto imam, Kasimo politikus, itulah mediasi, bagaimana iman itu diujudkan. Dalam mewujudkan iman, yang namanya ajaran-ajaran Katolik, ajaran iman dipegang maka ada etika poliktk Katolik, ada etika bisnis dab dalam meujudkan mediasi pilihan ketika mewujudkan iman, di mana-mana ada sekolah Katolik, Rumah Sakit Katolik,  ini adalah pilihan yang diambil untuk mewujudkan iman itu.

Ketiga,

Perubahan sosial macam apa yang ingin kita ujudkan dengan inspirasi iman, mediasi yang kita pilih yang mau dicapai itu apa. Rm Vanlith dulu mengambil mediasi pendidikan. Karena dia melihat bahwa dengan pendidikan orang dibebaskan dari penjajah, maka di sekolah yang dia dirikan orang-orang yang masuk ke sana diberi pelajaran bahasa Belanda bukan supaya orang itu menjadi kebelanda-belandaan tapi supaya anak-anak pribumi yang kemudian menjadi orang Indonesia bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan orang Belanda, jangan-jangan dimaki-maki pakai bahasa Belanda dijawab terimakasih, ketika anak-anak di situ tahu bahasa Belanda selain bisa belajar ilmu macam-macam dia bisa duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, itu kesamaan sosial, datangnya kerajaan Allah, orang bodoh dibebaskan dan bisa mengaktualisasikan diri. Tadi dikatakan macam-macam hal pendidikan kesehatan dan lingungan hidup semua bisa dimasukkan dalam kerangka perubahan sosial.

Yang terakhir. PERUBAHAN SOSIAL

Perubahan sosial sebetulnya adalah bidang dari Ajaran Sosial Gereja, gereja tak hanya mengajarkan dogma, ajaran iman tapi gereja juga punya ajaran sosial, terjemahan tebal, baca pasti tak selesai karena sudah lelah sebelum selesai dan bahasanya sulit. Saya coba merangkum ajaran sosisal gereja dalam beberapa rumusan singkat.

Ajaran sosial gereja, sebetulnya bisa dikatakan hanya 2 isinya.

sebagai orang beriman kita diajak, bukan pertama-tama ajaran tapi sebetulnya ajaran sosial gereja mengandalkan gerakan maka dikatakan ajaran untuk melibatkan diri pada masalah-masalah aktual dan mengangkat masalah-masalah itu sebagai masalah iman. Kalau sekarang ada masalah tentang perubahan iklim, ini bukan sekadar masalah iklim saja tapi tantangan iman bagi orang beriman, kalau ada masalah hukum, ini adalah tantangan iman bukan sekadar masalah hukum. Ajakan untuk melibatkan diri pada masalah-masalah sezaman dan mengangkatnya menjadi tantangan iman, kita melihat dari kacamatqa iman meskipun seperti pak Kasimo, melihat masalah politik tak sekadar politik melainkan lebih dari itu.
Karena ajaran sosial gereja adalah gerakan maka pertanyaan kedua adalah apa yang dapat dan hendaknya dibuat supaya hidup manusia dalam lingkungan kita dapat berlangusng lebih manusiawi? Tak usah pikir yang luas-luas. ketika orang kekurangan air, kita bisa memberi air. Tapi memberi air lama-lama tak cukup, kita perlu mencarikan sumber air. Ketika orang tak bisa sekolah apa yang diperbuat? Mengumpulkan beasiswa. Apa yang bisa kita buat supaya hidup di lingkungan kita menjadi manusiawi. Banyak hal besar atau kecil sudah dikerjakan. Di KAJ akan didirikan sebuah sekolah khusus dengan syaratnya satu, harus miskin. Ini pilihan iman ketika melihat di KAJ banyak anak-anak yang tak bisa sekolah mencapai pendidikan yang sebaik-baik nya karena kemiskinannya. Moga-moga bisa terlaksana sebelum akhir zaman.


Untuk masuk ke dalam 2 hal itu, melibatkan diri sebagai persoalan masalah iman dan menjawab apa yang kita buat diperlukan kompetensi etis.

Kompetensi untuk berbelarasa, bukan skill tapi kemampuan untuk berbela rasa, compassion, semakin sering digunakan 10-15th lalu. Intinya sederhana, seorang yang berbela rasa mengatakan masalahmu masalahku, kecemasanmu kecemasanku, kegembeiraanmu adalah kegembiraan ku, kegembeiraan dan pengharapan, kecemasan dan keresahan masyarakat adalah kegembiraan dan kecemasan murid-murid Kristus. Dan yang amat penting adalah ringkasan Injil. Ada sabda Yesus yang disampaikan pada kita dalam 2 versi, Matius 5:48 bunyuinya hendaklah kamu sempurna seperti bapamu di surga sempurna. Versi Lukas lain 6:36 hendaklah kamu berbelarasa seperti bapamu di surga berbelarasa. Dalam teks ini bunyinya murah hati, tapi sebetulnya kata yang paling tepat untuk murah hati hadalah belarasa. Kalau kedua versi ini dibandingkan kesimpulannya jelas kesempurnaan terletak pada belarasa, a sama dengan b, b sama dengan c, maka a sama dengan c. Maka belasrasa satu anak kecil meluruskan seluruh jiwa Yesus yang diharapkan menjadi komptensi etis bagi setiap orang yang menjadi murid-murid-Nya.

Kalau belarasa itu dilakukan sendiri-sendiri habislah kita, tak kuat menghadapi tantangan, maka kompetensi etis kedua adalah kemampuan untuk melibatkan orang lain. Ini kemampuan. Bisa dilatih, tapi kalau tak dilatih bisa sebaliknya. Bukan orang ikut, malah menjauh; maka harus dilatih, kompetensi melibatkan orang lain dan bersama kita bisa. Yesus mengatakan kalau ada 2 atau 3 orang sependapat berkumpul, Aku di antara kamu. Seringkali dibaca kalau ada 2 atau3 orang berkumpul itu kurang, mestinya kalau ada 2 atau 3 orang berkumpul dan sehati, itu kadang tak dibaca. Karena kita mempunyai kecenderungan tidak untuk bersehati tapi untuk berkelahi.

Mencari jalan dan menentukan tindakan untuk menentukan sesuatu. 2 hari lalu saya ikut rapat panitia bakti dwi abad KAJ. Salah satu tindakan menawarkan Tempat Penitipan Anak khususnya untuk buruh, ketika kedua ortu bekerja, anak-anak mereka siapa yang memperhatikan maka panitia yang dulu dibentuk sesudah perayaan dwi abad KAJ bekerjasama dengan WK, memilih membuat TPA. Tidak perlu buat bank baru, tapi bertindak untuk melakukan hal kecil jelas sekali, akan membuat lingkungan hidup saudara-saudara  kita lebih manusiawi. Kalau itu terjadi moga-moga terjadilah perubahan sosial, berlandaskan iman sehingga kerajaan Allah semakin ditegakkan.

belimbingku@gmail.com

Jakarta, 13 Desember 2009 

 
 
Start blogging by creating a new post. You can edit or delete me by clicking under the comments. You can also customize your sidebar by dragging in elements from the top bar.