Picture
Hal-hal terindah dan terbaik di dunia tak dapat dilihat atau disentuh, mereka hanya dapat dirasakan dengan hati (Helen Keller).

Kisah hidup Helen Keller yang saya kutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Helen_Keller adalah sebagai berikut. Ia dilahirkan normal pada tahun 1880, tetapi pada usia 19 bulan ia diserang penyakit misterius yang menyebabkannya buta dan tuli, sejak itu ia menjadi liar dan tidak dapat diajar. Bagaimanakah mengajar anak yang buta dan sekaligus tuli ? Rasanya memang tidak dapat kita bayangkan, tetapi guru pribadi Helen yang bernama Johanna (Anne) Mansfeld Sullivan Macy sejak usia 7 tahun mampu mengajar Helen.

Annie mengajar Helen dengan sabar dan tekun; ia memegang tangan Helen dan meletakkannya ke dalam air, lalu dengan bahasa isarat, ia mengucapkan "A-I-R" di tangan yang lain. Saat Helen memegang tanah, Annie mengucapkan "T-A-N-A-H" dan ini dilakukan sebanyak 30 kata per hari.

Dengan bimbingan Annie, Helen dapat membaca dengan huruf Braille, lalu Annie juga mengajar Helen untuk berbicara lewat gerakan mulut, sehingga Helen dapat berkata. Helen juga kemudian belajar bahasa Perancis, Jerman, Yunani, dan Latin lewat Braille. Sedangkan untuk menerima masukan dari orang lain, ia melakukan komunikasi melalui sentuhan2 pada tangannya.

Pada usia 20 tahun, Helen kemudian kuliah dan lulus dalam waktu empat tahun dengan predikat magna cum laude. Ia meninggal pada tanggal 1 Juni 1968 pada usia 87 tahun. Selama hidupnya ia menulis banyak artikel serta buku-buku terkenal, diantaranya The World I Live In dan The Story of My Life, yang menjadi literatur klasik di Amerika dan diterjemahkan ke dalam 50 bahasa. Ia berkeliling ke 39 negara untuk berbicara dengan para presiden, mengumpulkan dana untuk orang-orang buta dan tuli.

Nah … walaupun Helen menderita cacat buta dan tuli, tetapi ia memiliki hati untuk merasakan berbagai hal. Hal terindah dan terbaik di dunia menurut Helen tidak dapat dilihat atau disentuh, tetapi hanya dapat dirasakan dengan hati. Dengan berbagai keterbatasannya ternyata ia dapat belajar berbagai hal dan menjadi orang yang luar biasa.


This is your new blog post. Click here and start typing, or drag in elements from the top bar.
 
 
 
 
Picture
Setelah melakukan yang terbaik tidak penting lagi menang atau kalah. Kemenangan adalah melakukan semua yang dapat dilakukan secara maksimal untuk mencapai hasil terbaik.

Ada orang yang mementingkan hasil tanpa mempedulikan proses. Baginya yang penting adalah menang, tidak peduli untuk itu ia harus melakukan berbagai kecurangan yang mungkin banyak merugikan orang lain. Kali ini memang dia berhasil dan menang, tetapi apakah hasil yang telah diperolehnya memberikan makna bagi kehidupannya pada masa mendatang? Rasanya tidak, karena orang-orang yang telah dirugikannya tidak akan membiarkan diri mereka ditipu untuk kedua kalinya. Hati-hatilah dengan orang seperti ini.

Di sisi lain ada orang yang dalam prosesnya selalu melakukan yang terbaik; bagi dia hasil tidak terlalu penting. Dengan melakukan yang terbaik, maka ia telah belajar dengan baik, sehingga semakin lama dirinya pun menjadi semakin hebat. Dalam hubungan dengan orang lain pun ia tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain, karena ia menerapkan prinsip win – win.

Mungkin betul kali ini dia tidak menang, tetapi dengan peningkatan diri yang diperolehnya dan prinsip selalu melakukan proses dengan baik, maka kemenangan itu hanya tinggal menunggu waktu baginya. Orang-orang yang pernah bekerjasama dengannya pun pasti puas, sehingga bersedia bila diajak untuk bekerja sama kembali.

Jadi marilah kita melakukan segala sesuatu dengan prinsip terbaik, lakukan dengan jujur tanpa merugikan orang lain, maka hasil terbaik segera akan dapat kita peroleh. Amin.

This is your new blog post. Click here and start typing, or drag in elements from the top bar.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Picture
Jangan berharap menerima lebih banyak dari yang diberikan dan jangan pernah bekerja lebih sedikit dari yang dapat dikerjakan. Itulah kunci pembuka pintu kesejahteraan.

Memberi atau menerima dulu? Sebagian besar orang memiliki prinsip : “terima dulu dong, baru nanti saya mau memberi”. Hal ini sesuai dengan prinsip “take and give”, padahal lebih baik “give and take”. Bahkan pak Mario Teguh merevisinya menjadi lebih baik lagi menjadi “give and receive”, memberi baru menerima, bukannya mengambil (to take).

Bila kita lihat hubungan kita dengan Tuhan, maka siapakah yang memberi lebih dulu ? Tuhan memberikan kepada kita, umat yang dikasihiNya, berbagai fasilitas di dunia ini : sinar matahari, hujan, udara dll. Semua disediakanNya secara gratis bagi semua orang, tanpa pandang bulu. Sekarang marilah kita lihat sikap kita terhadap Tuhan, seringkali kita meminta terlalu banyak padaNya padahal relatif kita tidak member apa-apa kepadaNya.

Marilah kita perbaiki bila ada prinsip yang salah, mulai sekarang marilah kita menjadi sukarelawan dan dermawan. Berilah dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan apa pun; bila kita menerima imbalan, maka itu merupakan suatu anugerah. Kalau kita bekerja di perusahaan memang sudah menjadi hak kita untuk memperoleh gaji atau honor, tetapi janganlah mengeluh tentang besar gaji atau honor tersebut. Bila kita rasa imbalan tersebut terlalu kecil mengapa kita tidak mencari pekerjaan di tempat lain? Janganlah menggerutu, karena dampaknya kita bekerja tidak optimal akibat merasa dirugikan perusahaan.

Bekerjalah secara optimal dan lakukan yang terbaik sehingga kita pun merasa puas dengan pekerjaan tersebut. Biarlah orang lain, termasuk atasan, yang menilai hasil pekerjaan kita, dan bila mereka pun merasa puas maka pasti mereka mencatat prestasi kita. Demikian juga hubungan kita dengan Tuhan, lakukanlah yang terbaik untukNya, tentu saja hal ini kita wujudkan dengan memberi yang terbaik juga untuk sesama. Amin

Jangan berharap menerima lebih banyak dari yang diberikan dan jangan pernah bekerja lebih sedikit dari yang dapat dikerjakan. Itulah kunci pembuka pintu kesejahteraan.

Memberi atau menerima dulu? Sebagian besar orang memiliki prinsip : “terima dulu dong, baru nanti saya mau memberi”. Hal ini sesuai dengan prinsip “take and give”, padahal lebih baik “give and take”. Bahkan pak Mario Teguh merevisinya menjadi lebih baik lagi menjadi “give and receive”, memberi baru menerima, bukannya mengambil (to take).

Bila kita lihat hubungan kita dengan Tuhan, maka siapakah yang memberi lebih dulu ? Tuhan memberikan kepada kita, umat yang dikasihiNya, berbagai fasilitas di dunia ini : sinar matahari, hujan, udara dll. Semua disediakanNya secara gratis bagi semua orang, tanpa pandang bulu. Sekarang marilah kita lihat sikap kita terhadap Tuhan, seringkali kita meminta terlalu banyak padaNya padahal relatif kita tidak member apa-apa kepadaNya.

Marilah kita perbaiki bila ada prinsip yang salah, mulai sekarang marilah kita menjadi sukarelawan dan dermawan. Berilah dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan apa pun; bila kita menerima imbalan, maka itu merupakan suatu anugerah. Kalau kita bekerja di perusahaan memang sudah menjadi hak kita untuk memperoleh gaji atau honor, tetapi janganlah mengeluh tentang besar gaji atau honor tersebut. Bila kita rasa imbalan tersebut terlalu kecil mengapa kita tidak mencari pekerjaan di tempat lain? Janganlah menggerutu, karena dampaknya kita bekerja tidak optimal akibat merasa dirugikan perusahaan.

Bekerjalah secara optimal dan lakukan yang terbaik sehingga kita pun merasa puas dengan pekerjaan tersebut. Biarlah orang lain, termasuk atasan, yang menilai hasil pekerjaan kita, dan bila mereka pun merasa puas maka pasti mereka mencatat prestasi kita. Demikian juga hubungan kita dengan Tuhan, lakukanlah yang terbaik untukNya, tentu saja hal ini kita wujudkan dengan memberi yang terbaik juga untuk sesama. Amin
Picture
 
 
Picture
Dominikus Agus GoenawanJanuary 13
Hidup harus menganut prinsip BHB - bigger, higher, better, yaitu suatu progres untuk mencapai hasil yang prima, optima dan ultima (Jansen Sinamo).


Di dunia ini yang tetap hanyalah perubahan, artinya yang lain tidak ada yang tetap dan yang tetap terjadi setiap saat adalah perubahan. Bila lingkungan kita berubah sedangkan diri kita tetap saja tidak mengalami perubahan, dari segi pengetahuan, ketrampilan, perilaku dan lain-lain, maka jelas kita akan hancur karena kalah bersaing dengan orang-orang lain yang telah berubah mengikuti perkembangan jaman.

Janganlah statis tetapi berubahlah menjadi lebih besar (bigger), lebih tinggi (higher), dan lebih baik (better) dalam segala hal. Dari segi pengetahuan dan ketrampilan, kita perlu terus belajar setiap saat agar kita dapat mengantisipasi segala perubahan yang terjadi. Perilaku kita pun perlu berubah menyesuaikan dengan budaya masyarakat, perubahan teknologi, dan perkembangan jaman, sehingga kita tetap dapat beradaptasi dengan perubahan dan juga dapat terus berjuang untuk memenangkan persaingan. Demikian juga dari segi emosi, kita pun perlu menjadi semakin sabar dan semakin dapat mengendalikan diri.

Secara umum kita perlu terus berkembang ke arah yang positip sehingga tetap dapat bersaing dan terus berjuang untuk mendapatkan hasil terbaik yang prima, optima, dan ultima.

 
 
Picture
Dominikus Agus Goenawan wrote
Mengenali orang lain: suatu intelligence, mengenal diri sendiri adalah kebijakan sejati.
Menguasai orang lain adalah kekuatan, menguasai diri sendiri adalah kekuatan sejati (Loa Tzu).

Banyak hal yang kita alami sebenarnya berasal dari diri kita sendiri, tetapi seringkali kita menyatakan penyebabnya berasal dari luar atau dari orang lain. Ini semua karena manusia secara pribadi tidak mengenali dirinya sendiri. Sebenarnya dengan dapat mengenali dan menguasai diri sendiri maka kita telah memiliki kelebihan yang luar biasa dibandingkan dengan orang lain.

Untuk mengenali orang lain memang dibutuhkan intelligence untuk mendapatkan berbagai informasi terselubung mengenai orang tersebut, tetapi untuk mengenali diri sendiri, termasuk kelemahan dan kekuatan, dibutuhkan kebijakan sejati. Artinya dalam hal ini dibutuhkan suatu kesadaran diri dan kerendahan hati untuk mengakui segala kekurangan sehingga kita dapat memperbaikinya, dan juga mengetahui kekuatan sehingga kita dapat menggunakannya secara optimal untuk pengembangan diri kita sendiri dan juga bagi orang lain.

Banyak orang berpendapat juga bahwa bila kita menguasai orang lain, maka kita memiliki kekuatan atau kekuasaan yang menyebabkan orang tersebut tergantung pada kita. Hal tersebut memang benar, tetapi kekuatan sejati terwujud bila kita dapat menguasai diri kita sendiri. Pada saat kita kecewa, sedih, ataupun mau marah, kita mampu meredam semua emosi yang akan muncul tersebut. Coba anda lihat, apa yang terjadi bila anggota DPR yang terhormat tidak dapat mengendalikan emosi? Dari mulutnya keluar kata-kata kotor yang sebenarnya tidak pantas untuk diucapkan.

Bila emosi ini meledak, maka yang rugi dan hancur adalah diri kita sendiri. Jadi penguasaan diri merupakan suatu hal yang sangat penting dan merupakan suatu kekuatan sejati, setuju ?