Tabah Helmi NonakaDecember 23, 2009
Para devosioner ,

kali ini kami mempersembahkan kepada anda, tulisan yg
kami petik dari buku "Devosi kepada Kerahiman Ilahi"
karangan Bapak Stefan Leks.

(Nihil Obstat: F. Hartono SJ ~ Jogjakarta , 25 Maret 2008
Imprimatur : J. Pujasumarta, Pr,Vikjen~ 29 Maret 2008 )

Selamat Membaca !


Intisari Devosi kepada Kerahiman Ilahi (Part one)

1. Mengandalkan Tuhan –

Inilah sikap yang menentukan relasi manusia dengan Allah. Sikap ini mencakup kerpercayaan, pengharapan, ketekunan, juga peneyesalan atas semua dosa. Inilah sikap seorang anak yang dalam situasi apa pun tanpa batas mengandalkan kasih penuh belas kasih dan kekuasaan Bapa surgawi.

Sikap mengandalkan Tuhan ini merupakan intisari devosi kepada kerahiman ilahi. Tanpa sikap ini tiada pula devosi itu, sebab syarat pertama dan utama dalam menghormati kerahiman ilahi ialah mengandalkan Tuhan. Sikap ini saja ( tanpa mempraktekkan bentuk2 devosi ini ) sudah menjamin tercurahnya rahmat Tuhan pada manusia.

”Rahmat-rahmat yang tak tepahami-janji Yesus –ingin Aku berikan kepada jiwa-jiwa yang mengandalkan kerahiman-Ku (BH SFK 687).

Hendaknya mereka mendekati lautan kerahiman itu dengan penuh pegharapan: orang-orang berdosa akan dibenarkan, sedangkan orang-orang benar akan diteguhkan dalam kebaikan. Siapa saja yang telah mengandalkan kerahiman-Ku pada saat ajal akan Kuisi jiwanya dengan damai ilahi” (BH SFK 1520).

Mengandalkan Tuhan bukan hanya intisari ataupun ’jiwa” devosi ini melainkan syarat untuk menimba rahmat-rahmatnya.

”Rahmat dari kerahiman-Ku sabda Yesus kepada Faustina-ditimba dengan satu wadah, yaitu kepercayaan. Semakin manusia percaya, semakin banyak akan dia terima. Jiwa-jiwa yang percaya tanpa batas, sangat menghibur Aku, sebab ke dalam jiwa-jiwa yang demikian Aku menuangkan semua harta rahmat-ku Aku gembira jika mereka meminta banyak ( BH SFK 1578).

Jiwa yang telah mengandaklam kerahiman-Ku paling berbahagia sebab Aku sendiri memeliharanya (BH SFK 1273).

Tiada jiwa yang pernah memanggil kerhiman-Ku dikecewakan ataupun dipermakukan. Aku berkenan secara khusus pada jiwa-jiwa yang mengandalkan kebaikan-Ku” (BH SFK 1541).




Leave a Reply.