January 25, 2010 by sangsabda

Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, 

Pada hari ini, Senin tanggal 25 Januari 2010,  ‘Penutupan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani’ ditutup. Pada hari ini, Gereja juga merayakan ‘Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rasul’, sebuah peristiwa penting yang menentukan arah selanjutnya dari sejarah Gereja. 

Catatan tentang pertobatan Santo Paulus ini dapat kita baca di Kis 9:1-22 (bacaan pertama Misa Kudus hari ini) dan/atau bagian-bagian lain di Kis, dan juga Gal. Dalam kesempatan ini saya mau mengajak saudara-saudari sekalian mendengarkan apa yang dikatakan oleh Paulus sendiri tentang pertobatannya ini: 

“…aku menegaskan kepadamu, Saudara-saudaraku bahwa Injil yang kuberikan itu bukanlah injil yang berasal dari manusia. Karena aku tidak menerimanya dari manusia dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya melalui pernyataan Yesus Kristus. Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: Tanpa batas, aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. Di dalam agama Yahudi pun aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. Tetapi sewaktu Allah, telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh anugerah-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. Tetapi aku tidak melihat seorang pun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus. Di hadapan Allah kutegaskan: Apa yang kutuliskan kepada mu ini benar, aku tidak berdusta. Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia. Tetapi rupaku tetap tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. Mereka hanya mendengar bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman yang pernah hendak dibinasakannya. Lalu mereka memuliakan Allah karena aku. …” (Gal 1:11-24; Bacaan Ibadat Harian untuk hari ini). 

“… tiba-tiba, …, pada tengah hari aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang daripada cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menentang Dia yang berkuasa atasmu. Tetapi aku menjawab: Siapa Engkau, Tuhan? Kata Tuhan: Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari Aku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti. Aku akan menyelamatkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan. …” (Kis 26:13-18; Bacaan singkat Ibadat Pagi: Kis 26:16b-18). 

DOA: Allah, cahaya dunia, dengan pewartaan rasul Paulus telah Kauajar seluruh dunia. Semoga kami dengan merayakan pertobatannya berbalik kepada-Mu seturut teladannya dan menjadi saksi kebenaran-Mu bagi dunia. Amin. 

Selamat meneladani pahlawan Gereja yang hebat ini. Bersama ini saya kirimkan juga bacaan Injil dan renungannya untuk hari Kamis tanggal 28 Januari 2010. Berkat Allah Tritunggal bagi Saudara-saudari sekalian. 

Salam persaudaraan, 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 
 
(Bacaan Misa, Peringatan S. Thomas Aquinas, Imam & Pujangga Gereja, Kamis 28-1-10) 

Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Mungkinkah orang membawa pelita supaya ditempatkan di bawah tempayan atau di bawah tempat tidur? Bukankah supaya ditaruh di atas kaki pelita? Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Lalu Ia berkata lagi, “Perhatikanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanyalah akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa  pun juga yang ada padanya akan diambil” (Mrk 4:21-25). 

Perumpamaan Yesus tentang seorang penabur telah sungguh menyentuh hati sejumlah pendengar-Nya sehingga mereka tetap bersama Yesus untuk beberapa waktu dan meminta kepada-Nya agar diberikan lebih banyak lagi pengajaran (lihat Mrk 4:10-11). Yesus menangkap adanya hasrat besar mereka untuk memperoleh pengajaran yang lebih mendalam, maka Dia pun dengan gembira menyediakan waktu ekstra bagi mereka. Kita hanya bisa membayangkan Dia minta kepada Roh Kudus agar menunjukkan kepada-Nya cara terbaik untuk membuka hati orang-orang ini bagi lebih banyak lagi kebenaran-Nya. Melalui perumpamaan-perumpamaan seperti ‘perumpamaan seorang penabur’, ‘perumpamaan tentang pelita’ dan ‘perumpamaan tentang ukuran’, Yesus mengibaratkan Kerajaan Allah dengan kegiatan-kegiatan sehari-hari, sehingga orang-orang dapat lebih siap menangkap pengajaran-Nya. 

Yesus sangat senang apabila orang meminta kepada-Nya untuk diajar secara lebih mendalam lagi. Dia juga senang menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dan memberikan kepada mereka hikmat-Nya. Kesenangan luarbiasa inilah yang berada di belakang kata-kata-Nya: “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu: (Mrk 4:24). Orang-orang yang lebih banyak menyediakan waktu pada kaki Yesus mengalami lebih banyak kasih Allah serta berkat-berkat-Nya; mereka pun lebih siap untuk mengikuti jejak-Nya. “Ukuran yang kita pakai” adalah cara kita memperhatikan sabda Yesus. “Ukuran yang kita pakai” berurusan dengan kebebasan dan kehidupan yang kita terima ketika mendengar sabda-Nya dan mengikuti jejak-Nya.  

Hari ini pun tetap Yesus berkeinginan untuk terus mengajar kita. Begitu banyak hal yang dapat diajarkan-Nya kepada kita, kalau saja setiap hari kita setia menyediakan waktu untuk membaca sabda-Nya dalam Kitab Suci dan merenungkannya, dalam suasana doa. Dalam ‘suasana doa’ berarti kita beristirahat di hadapan hadirat Allah selagi kita masukkan satu atau dua ayat saja dari bacaan kita ke dalam pikiran kita. Hal ini berarti menanti di hadapan-Nya dalam keheningan sampai Dia berbicara kepada kita. Dengan demikian kita memperkenankan sabda-Nya mengendap dalam hati kita. Secara pribadi kita juga dapat melakukan studi Alkitab dengan melakukan riset kecil-kecilan, misalnya mencari tahu tentang sejarah atau latar-belakang teks yang sedang kita baca lewat pembacaan keterangan dalam buku tafsir ringan dan/atau kamus Alkitab yang tersedia, atau dengan memanfaatkan berbagai cross-reference yang terdapat dalam catatan kaki Alkitab. Dalam hal ini pun doa tak boleh pernah dilupakan. Kalau kita melakukan studi Alkitab ini secara regular – misalnya seminggu sekali – maka upaya ini akan membantu membuka pikiran kita terhadap kepenuhan dan kekayaan isi Kitab Suci. 

Merenungkan dan mempelajari sabda Allah dalam Kitab Suci seperti diuraikan di atas adalah sesuai dengan kehendak Allah, apabila kita mempercayakan upaya-upaya kita pada pertolongan Roh Kudus yang pada akhirnya akan membawa kita kepada kebenaran sejati. Dia adalah Parakletos: pendamping, pengacara, pembela kita. Dia bersama kita setiap kali kita membuka Alkitab. Apabila kita bertekun dalam melakukan upaya-upaya seperti diuraikan di atas, maka kita sebenarnya  memberikan kepada Allah  segenap perhatian kita sehingga Dia pun dapat membuat ‘mukjizat’ dalam diri kita. Kata-kata sang pemazmur tetap memiliki nilai kebenaran pada hari ini juga: “Taurat YHWH itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan YHWH itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah YHWH itu tepat, menyukakan hati; perintah YHWH itu murni, membuat mata mata bercahaya” (Mzm 119:8-9). 

Marilah kita mohon lebih lagi dari Allah dengan menyediakan lebih banyak lagi waktu setiap harinya untuk membaca, merenungkan dan mempelajari sabda-Nya. Setiap kali kita memutuskan untuk mohon lebih lagi dari Allah, maka sebenarnya kita mengetuk pintu surga; dan Allah telah berjanji untuk selalu menjawab kita (Mat 7:7-8). 

DOA: Yesus yang baik, ucapkanlah sabda kehidupan-Mu kepadaku. Perkenankanlah sabda-Mu menerangi jalanku setiap hari sehingga aku dapat mengikuti jejak-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat untuk memberikan kepada-Mu suatu ‘ukuran diriku yang penuh’ selama waktu-waktu doa serta penyembahanku, dan pelayananku kepada orang-orang lain. Amin. 

Cilandak, 25 Januari 2010 (Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rasul [Penutupan Doa Sedunia])
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 
 
(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Santa Angela Merici, Rabu 27-1-10)

Pada suatu kali Yesus mulai mengajar lagi di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Ia mengajarkan banyak hal dalam  perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka, “Dengarlah! Adalah seroang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanam-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Sebagian jatuh di tanah yang baik, sehingga tumbuh dengan subur dan berbuah. Hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” Lalu kata-Nya, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu bertanya kepada-Nya tentang perumpamaan itu. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun memang melihat, mereka tidak memahami, sekalipun memang mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan diberi pengampunan.” Lalu Ia berkata kepada mereka, “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu mereka segera murtad. Yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri; itulah yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat” (Mrk 4:1-20). 

Dengan perumpamaan ini, Markus menunjukkan satu pengajaran Yesus yang indah. Sebelum perikop ini Markus memusatkan perhatian pada banyak kerja dan mukjizat yang dilakukan oleh Yesus. Sekarang, melalui perumpamaan ini penulis Injil mulai menyoroti cara Yesus mengajar. Yesus menggunakan perumpamaan untuk mengilustrasikan kemurahan-hati Allah yang berlimpah-limpah. Bapa surgawi selalu menaburkan benih-benih firman-Nya, mengundang kita untuk mengenal dan mengalami kasih dan kerahiman-Nya. Dia selalu mengulurkan tangan-tangan-Nya kepada kita.  Mengetahui bahwa kita memiliki seorang Bapa yang tidak pernah membelakangi atau menolak kita, maka seharusnya hal ini memberikan kepada kita damai-sejahtera dan pengharapan. 

Setiap benih yang jatuh pada tanah yang baik akan bertumbuh. Benih yang ditanam oleh Bapa surgawi tentunya akan bertumbuh manakala bertemu dengan hati yang terbuka bagi-Nya. Ini adalah janji Allah. Namun bagaimana kita menentukan apakah hati kita itu baik? Apa beberapa butir acuan: 

  • Apakah keragu-raguan dan rasa tidak-percaya langsung mencuri damai-sejahtera yang dibawa oleh firman Allah? (lihat Mrk 4:15).
  • Apabila kesusahan atau penderitaan datang karena iman kita, apakah kita berdiri dengan kokoh dalam iman kita atau apakah kita jatuh dalam kompromi (lihat Mrk 4:16-17).
  • Apakah kita terlalu dibebani dengan pengurusan hal-ikhwal dunia? Apakah kesenangan karena harta-kekayaan dan berbagai hasrat akan ‘kenikmatan-kenikmatan’ mengambil tempat yang lebih besar dalam hati kita ketimbang kehadiran Yesus? (lihat Mrk 4:18-19). 
Kita seharusnya tidak berputus-asa atas tanah yang berbatu-batu atau semak duri dari ketidak-percayaan, pelanturan-pelanturan atau rasa takut yang menghalangi firman Allah untuk kuat-mengakar dalam hati kita. Yesus senang sekali mengubah hati kita, asal saja dengan tulus-ikhlas kita mohonkan hal itu kepada-Nya. Yesus memiliki kesabaran yang sangat luarbiasa dengan kita masing-masing, seperti apa yang telah dicontohkan-Nya ketika membimbing/mengajar para murid-Nya yang bebal-bebal itu. Dia juga sangat senang untuk menjelaskan kepada kita mengenai ‘rahasia Kerajaan Allah’ selagi kita memperkenankan sabda firman-Nya bertumbuh dalam diri kita. 

Santa Angela Merici (1474-1540) yang kita peringati hari ini adalah seorang pribadi manusia yang membuka diri-Nya sehingga firman Allah berakar dengan kuat dalam dirinya. “Hidup di tengah-tengah dunia, tetapi bukan dari dunia itu.” Inilah cita-citanya yang sederhana, namun sangatlah sulit terlaksana tanpa hidup dalam Roh dan dipimpin oleh Roh sehari-harinya. Angela adalah pendiri sebuah ordo biarawati besar dalam Gereja, yaitu Ordo Santa Ursula (OSU) yang sekian ratus tahun lamanya berkarya terutama dalam bidang pendidikan bagi para anak perempuan di banyak penjuru dunia. 

DOA: Roh Kudus Allah, siapkanlah hati kami untuk menerima firman Allah, lebih dan lebih banyak lagi. Nyatakanlah kepada kami hasrat mendalam dari Yesus untuk mengajar kami tentang ‘rahasia Kerajaan Allah’, dan juga betapa besar kasih-Nya serta kesabaran-Nya dalam menghadapi segala kelemahan kami. Tolonglah kami agar dapat sungguh berbuah bagi Kerajaan Allah.

Cilandak, 22 Januari 2010
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 
 
(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup, Selasa 26-1-10) 

Dari Paulus, rasul Kristus Yesus atas kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus. Kepada Timotius, anakku yang terkasih: Anugerah, rahmat dan  damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.

Aku mengucap syukur kepada Allah yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan aku selalu mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. Apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan aku yakin hidup juga di dalam dirimu. Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu melalui penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi, janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah (2Tim 1:1-8).

Bacaan Injil: Mrk 3:31-35. 

Pada hari ini Gereja memperingati secara khusus Timotius dan Titus, dua orang rekan-kerja Paulus dalam mewartakan dan menyebarkan Injil. Timotius adalah putera dari seorang ayah Yunani dan ibu Yahudi yang soleha. Para penulis biasanya melihat Timotius sebagai seseorang yang jauh lebih muda dari Paulus. Ia bergabung dengan Paulus pada perjalanan misionernya yang kedua, menolong sang rasul mendirikan gereja di Filipi dan menjadi seorang pemimpin gereja di Efesus (Kis 16:1-5; 1Tim 1:3). Di sisi lain Titus adalah seorang tangan-kanan Paulus yang paling dipercaya; peranannya instrumental dalam gereja-gereja Korintus dan Kreta (2Kor 8:16.23; Titus 1:5). 

Kedua orang ini menjadi orang kudus bukan karena mereka adalah manusia-manusia sempurna.  Misalnya saja Timotius; dia belum berpengalaman dan tidak yakin kepada dirinya sendiri dalam berurusan dengan orang-orang lain. Paulus harus mengingatkan Timotius bahwa Yesus telah menganugerahkan kepadanya suatu roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban yang lebih dari cukup untuk mengatasi kelemahan alamiah seseorang (2Tim 1:7). Kelihatannya Timotius juga memiliki perut (pencernaan) yang sering lemah (1Tim 5:23). Namun di sisi lain Timotius juga memiliki hati yang mengasihi Yesus. Dalam menempatkan kepentingan Yesus Kristus di atas segalanya, Paulus memandang tinggi sekali Timotius, seperti ditulisnya kepada jemaat di Filipi: “… tidak ada seorang pun padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia” (Flp 2:20). 

Apakah anda memiliki hati yang sungguh mengasihi Yesus? Apabila anda dapat menjawab “ya”. Maka sesungguhnya anda dapat membawa Kristus kepada orang-orang lain, seperti yang telah dilakukan oleh Timotius dan Titus. Kita semua tidak perlu menjadi orator atau pengkhotbah ulung untuk mewartakan Kabar Baik-Nya. Kita tidak perlu secara sempurna membersihkan diri dari segala dosa atau masalah dalam kehidupan kita, meski pun pertobatan batiniah tetap merupakan syarat utama. Yang kita perlukan adalah hati yang dapat diajar, hati yang mengasihi Yesus dan ingin melayani Dia dan orang-orang lain yang kita hadapi. 

Sayangnya, ada begitu banyak orang yang memandang diri mereka masing-masing tidak dalam suatu terang yang positif, melainkan dalam terang yang negatif. Orang-orang itu memusatkan perhatian mereka pada segala hal yang menurut pandangan mereka adalah penghalang-penghalang dalam hidup Kristiani mereka. Apabila hal yang begitu merupakan kecenderungan pada diri kita, maka pantaslah kita mohon kepada Yesus agar kita mampu memandang diri kita sendiri seperti Dia memandang kita. Ingatlah selalu bahwa Yesus sangat mengasihi kita masing-masing – Dia menebus kita, membersihkan kita oleh darah-Nya, memenuhi diri kita dengan Roh-Nya dan melengkapi kita semua sebagai agen-agen yang dinamis bagi kerajaan-Nya. Pesan Paulus tetap relevan sampai hari ini: “Janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita” (2Tim 1:8). 

Oleh karena itu marilah kita memberi kesempatan kepada Yesus agar bekerja lewat diri kita hari ini juga. Lupakan dulu segala keterbatasan kita dan pikirkanlah apa yang dapat dilakukan-Nya melalui diri kita. Kita masing-masing mohon kepada-Nya agar diberikan kesempatan untuk bertemu atau berada dalam suatu situasi, dimana kita dapat mensyeringkan kasih-Nya dengan orang lain. Kita boleh yakin bahwa apa yang kita lakukan itu menyenangkan hati-Nya. 

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban, sama seperti yang telah Dikau anugerahkan kepada Timotius dan Titus. Berikanlah kepadaku keberanian untuk mengatasi keraguan apa saja yang ada dalam diriku untuk menjadi pelayan-Mu. Amin. 

Cilandak, 20 Januari 2010 (Peringatan S. Jean-BaptisteTriquerie, Imam Martir (+1794), OFMConv.) 
Sdr. F.X. Indrapradja. OFS
 
 
(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Senin 25-1-10) 
(Penutupan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani) 

Sementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supay, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?” Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Teman-teman seperjalanannya pun termangu-mangu karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang pun. Saulus bangkit berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Selama tiga hari ia tidak dapat melihat  dan selama itu juga ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan, “Ananias!” Jawabnya, “Ini aku, Tuhan!” Firman Tuhan, “Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Jawab Ananias, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagipula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.” Tetapi firman Tuhan kepadanya, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.” Seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Setelah ia makan, pulihlah kekuatannya.

Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata, “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan siapa saja yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?” Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias (Kis 9:1-22).

Bacaan Injil: Mrk 16:15-18. 

Pada hari ini kita merayakan pertobatan Santo Paulus. Pertobatannya ini tidak hanya mengubah kehidupan seorang anak manusia yang bernama Saulus, yang kemudian berganti menjadi Paulus. Lebih dari itu! Menjawab pertanyaan Saulus tentang siapa Dia, Yesus menjawab: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (Kis 9:5). Kata-kata Yesus ini memberikan kepada Paulus dan juga kepada kita, suatu perwahyuan indah tentang apa artinya menjadi anggota tubuh Kristus. Sebelum itu Yesus bertanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis 9:4), Di sini Dia mengindikasikan bahwa serangan terhadap siapa saja yang adalah anggota tubuh-Nya, merupakan serangan terhadap diri-Nya. 

Kita adalah anggota-anggota tubuh Kristus, yang digabungkan dengan Dia dalam baptis. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada salah satu dari kita yang tidak berpengaruh pada Yesus. Tidak ada satu pun rasa sakit dan penderitaan seorang pengikut-Nya akan luput dari perhatian-Nya karena Dia sesungguhnya berpartisipasi dalam rasa sakit dan penderitaan tersebut. Yesus bahkan merasakan kesedihan dan ‘sakit-kepala’ yang kita rasakan, karena Dia berdiam dalam diri kita. Kita tidak dapat mengabaikan kebenaran ini. Apabila orang-orang lain mencemooh atau menyerang kita karena iman-kepercayaan kita, Yesus satu dengan kita: Dia juga merupakan pihak yang dicemoohkan dan diserang. Sejalan dengan itu, perilaku kita  terhadap orang-orang lainpun mempengaruhi Yesus secara langsung. Maka bagaimana kita dapat mengumpat seorang saudara atau saudari, apabila kita mengetahui bahwa dengan demikian kita juga menyakiti Yesus? Bagaimana kita dapat merobek-robek sesama anggota tubuh-Nya, apabila kita sadar bahwa tindakan destruktif kita itu secara langsung menyerang hati Yesus sendiri? Walaupun kita merasa pantas untuk melakukan hal seperti itu karena ada just cause di belakangnya, tanggapan kita selalu harus diperlunak sebab kenyataannya adalah bahwa kita berbagi kesatuan dalam Kristus dengan ‘pihak lawan’ kita.  Ambillah satu menit untuk merenungkan hal yang sungguh serius ini. Sebelum kita berbicara tentang hal ini dalam ruang lingkup lintas-gereja, sebelum berbicara tentang bagaimana inter-aksi kita dalam gereja kita sendiri, pada tingkat paroki/wilayah/ lingkungan; bagaimana dengan inter-aksi dalam keluarga/komunitas kita sendiri?  Oleh iman kita yakin bahwa tidak ada satu pun situasi yang tidak dapat direkonsiliasikan, apabila kita menerima kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus. Bahkan Paulus, seorang pengejar dan pembunuh para pengikut Kristus, pada akhirnya mengabdikan hidupnya bagi Yesus. Apabila bersama Paulus kita menghormati ‘Tubuh Kristus’, maka bayangkanlah efek kesatuan kita itu terhadap dunia: kuasa Kristus ‘mendaging’ di tengah-tengah kita, menyadi suatu kekuatan yang sungguh nyata. 

DOA: Tuhan Yesus, kami mohon pengampunan-Mu karena kami telah menyakiti-Mu oleh ketiadaan kasih kami kepada anggota-anggota tubuh-Mu yang lain. Satukanlah kami sebagai satu tubuh – satu Gereja, mempelai-Mu. Amin.

Cilandak, 10 Januari 2010
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 
 
(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa III, Minggu 24-1-10) 
(Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani) 

Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar. 

Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Lalu tersebarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia. 

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Kitab Suci. Kepada-Nya diberikan kitab Nabi Yesaya dan setelah membuka kitab itu, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”  Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” Luk 1:1-4; 4:14-21 

Yesus datang ke Nazaret. Ia pergi ke sinagoga pada hari Sabat. Ia berdiri untuk membaca Kitab Suci. Kepada-Nya diberikan kitab Nabi Yesaya. Ia mengambil bacaan yang familiar, yang barangkali sudah dihafal luar kepala oleh umat karena menggemakan kerinduan mereka akan Sang Mesias yang akan datang memerdekakan mereka. Namun ternyata umat yang hadir belum tahu bahwa yang tengah berdiri di hadapan mereka itu adalah Dia yang dirindukan kedatangan-Nya itu. 

Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Sang Mesias, Dia yang diurapi Roh Kudus untuk membebaskan umat Allah dari dosa. Dia berdiri di tengah-tengah mereka sebagai Kabar Baik itu sendiri, yang datang kepada ‘orang-orang miskin’, ‘wong cilik’, yang semuanya membutuhkan penyelamatan. Dia membawakan kesembuhan lewat kata-kata-Nya dan jamahan-Nya, dan berkat dari Bapa dicurahkan atas semua orang yang menerima Dia. 

Seperti pada waktu Dia berdiri di depan umat dalam sinagoga pada hari itu, Yesus sekarang juga berdiri di hadapan kita masing-masing seraya berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya”(Luk 4:21). Apakah kita mengenali-Nya? Dapatkah kita memindahkan fokus pandangan mata kita, dari diri kita sendiri kepada Yesus, Harapan kita? Setiap hari Dia menawarkan kepada kita karya Roh Kudus yang telah ditawarkan-Nya kepada para kudus terbesar sepanjang masa. 

Karena kematian dan kebangkitan Yesus, Roh Kudus telah datang berdiam dalam diri kita guna membawa kepada kita kebebasan dari dosa dan keakraban dengan Allah, Bapa kita. Dia telah datang untuk menyembuhkan hati kita dan tubuh kita. Dia telah datang untuk menyatakan kepada kita cinta kasih Bapa surgawi. Dia telah datang untuk memenuhi diri kita dengan sukacita di tengah-tengah banyak pencobaan yang kita hadapi. Dia menawarkan kepada kita semua hikmat-Nya dan kekuatan-Nya selagi kita berusaha untuk menyenangkan Tuhan. Selagi Roh Kudus memenuhi diri kita lebih dan lebih lagi, Dia dapat mengalir keluar – melalui kita – ke dunia di sekeliling kita, memberikan kuat-kuasa kepada kita atas dosa dan kejahatan, tidak hanya dalam diri kita, tetapi orang-orang yang ada di sekeliling kita juga. 

DOA: Roh Kudus Allah, kami merasa takjub bahwa Dikau akan datang dan hidup dalam diri kami! Kami membuka hati kami bagi-Mu dan mohon kepada-Mu agar berkarya dalam diri kami dan melalui kami. Terima kasih untuk cintakasih-Mu, penyembuhan-Mu dan kuasa-Mu. Amin. 

Cilandak, 10 Januari 2010 
Sdr. F.X. Indrapradja
 
 
(Bacaan Injil Misa Kudus, Pekan Biasa II, Sabtu 23-1-10) 
(Hari Keenam Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani) 

Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Orang banyak datang lagi berkerumun, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi  (Mrk 3:20-21). 

Tentunya sangat sulit bagi keluarga Yesus dan para sahabat untuk memahami perilaku-Nya. Dia hampir selalu dikerumuni oleh kumpulan orang banyak, terlibat konflik dengan para pemuka agama Yahudi dan bekerja serta berdoa lama sampai tengah malam. Bacaan kali ini memberikan kepada kita satu contoh lagi betapa keras Yesus bekerja. Sementara Dia kembali dari atas bukit bersama para rasul yang baru ditunjuk-Nya, Yesus menuju sebuah rumah, dan yang didapati-Nya adalah kerumunan orang banyak lagi yang sedang menunggu Dia. Tergerak oleh belarasa, Yesus melayani orang banyak ini sampai membuat diri-Nya dan para rasul-Nya juga begitu sibuk, sehingga untuk makan pun kelihatannya mereka tak mempunyai waktu. 

Keluarga Yesus dan para sahabat, yang selama ini mengamati gerak-gerik Yesus, mulai menjadi prihatin jangan-jangan Yesus bekerja tanpa menggunakan akal sehat. Mungkin saja Dia juga sudah tidak waras. Akan tetapi, meski keluarga-Nya kuatir dan takut  bahwa Yesus tidak berkarya seperti para rabi lainnya, Yesus memiliki keprihatinan tak tergoyahkan sehubungan dengan Kerajaan Allah. Yesus dengan penuh kemauan mengambil risiko menantang berbagai rutinitas dan tradisi orang-orang Yahudi demi Kerajaan Allah ini. Hati-Nya berkobar-kobar dengan suatu hasrat untuk melakukan kehendak Bapa dengan menolong siapa saja yang datang kepada-Nya dengan berbagai macam kebutuhan. 

Cerita semacam ini mengungkapkan betapa dalam Allah mengasihi kita semua. Yesus tidak malu melayani orang banyak yang berkerumun di luar rumah. Demikian pula, Dia tidak akan malu melayani kita apabila kita datang kepada-Nya dengan segala kelemahan kita. Yesus adalah ‘Sang Sabda yang menjadi Daging’, ‘Firman yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita’ (Yoh 1:14), sehingga dengan demikian Dia dapat menyembuhkan kita. Dalam cintakasih, Dia tidak menolak kita, tetapi merangkul kelemahan-kelemahan kita. Keluarga-Nya yang sejati adalah semua orang yang datang kepada-Nya dengan iman, yang percaya bahwa Dia telah datang dari Bapa surgawi untuk menyelamatkan kita dari semua dosa dan kegelapan. 

Sebagai contoh, harapan kita untuk bersatu dengan saudara-saudari Kristiani yang lain kelihatannya meragukan – malah terasa tidak mungkin – kalau semua dilihat, dipikirkan dan diikhtiarkan secara manusiawi belaka. Namun kita akan memperoleh jawabannya kalau kita memandang dengan mendalam kepada hati Kristus dan memperkenankan Dia membebaskan kita dari sikap-sikap dan pandangan-pandangan yang menyebabkan kita – orang-orang Kristiani – terpisah satu sama lain selama ini. 

Hanya apabila kita mau datang menghadap Yesus seperti orang banyak yang diceritakan dalam Injil di atas, kita dapat bertumbuh dalam pemahaman kita akan niat-niat-Nya sehingga dengan demikian kita semua dapat dipimpin oleh-Nya menuju persatuan dan kesatuan yang lebih mendalam lagi, teristimewa karena Dia sendiri sangat mendambakan persatuan dan kesatuan di antara para pengikut-Nya (lihat Yoh 17:1-26). 

DOA: Bapa surgawi, ajarlah kami untuk dapat lebih dekat lagi kepada Yesus, Anak Tunggal-Mu,  yang telah menjadi manusia seperti kami. Tolonglah kami untuk berjalan dalam roh belarasa, kesabaran dan persatuan, bersama dengan para saudara-saudari Kristiani lainnya, sampai tiba saatnya  kami dapat bertatap muka dengan-Mu. Amin. 

Cilandak, 10 Januari 2010 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 
 

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pekan Biasa II, Jumat 22-1-10) 

(Hari Kelima Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani)

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang, yang juga disebut-Nya rasul-rasul, untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia (Mrk 3:13-19). 

Kita dapat membayangkan betapa hati kedua belas murid yang dipanggil oleh Yesus itu terbakar oleh kegembiraan penuh gairah. Belum lama mereka bersama Yesus, namun Yesus telah memanggil nama mereka satu persatu, “… untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan”  (Mrk 3:14-15). Sungguh suatu keistimewaan luar biasa untuk diberikan peranan sedemikian. Akan tetapi, masih banyak yang mereka harus pelajari mengenai arti sesungguhnya menjadi murid Yesus. 

Kita lihat juga bahwa Yesus sungguh tidak mengenal favoritisme; para rasul yang dipanggil-Nya berasal dari berbagai macam segmen masyarakat, ada nelayan, ada pemungut pajak, ada (mantan) anggota gerakan ‘revolusioner’  (Zeloti) dari Galilea, dan lain-lain. Pokoknya Dia tidak pandang bulu! 

Di bagian kemudian Injil ini, Markus menceritakan suatu diskusi yang terjadi di antara para murid, yakni mengenai siapa di antara mereka yang paling besar (Mrk 9:33). Yesus mengetahui perdebatan yang terjadi di antara para murid dan Dia pun sadar akan konsekuensi perpecahan di antara mereka. Oleh karena itu Yesus mengajarkan kepada mereka suatu pelajaran yang fundamental tentang apa artinya menjadi murid-murid-Nya. Kedua belas murid ini telah saling membandingkan diri satu sama lain, barangkali didasarkan atas gagasan mengenai kekudusan/kesucian diri: berapa banyak mukjizat yang dilakukan, perbuatan baik apa saja yang dilakukan dan seterusnya. Yesus menghalau perbandingan-perbandingan seperti itu dengan mengatakan kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”  (Mrk 9:35). 

Teguran halus dari Yesus itu dimaksudkan untuk mengingatkan para murid-Nya untuk tidak mencari-cari kemuliaan seturut standar atau ukuran dunia ini, tetapi agar menjadi seperti anak-anak kecil, yang penuh keinginan untuk menerima rahmat dan berkat dari Allah yang mahamurah. Menimba dari Bapa surgawi dalam segala hal akan mengajar kedua belas murid itu bahwa pada dasarnya, ‘kemuridan’ (discipleship) adalah mengakui Yesus sebagai pokok anggur, dalam Dia-lah para murid menimba kehidupan (lihat Yoh 15:5). Segala mukjizat dan tanda heran yang dilakukan mereka sesungguhnya hanyalah buah dari hubungan mereka dengan Yesus. Jadi jangan sampai para murid-Nya mencuri kemuliaan Allah, sehingga ‘bernasib’ sama seperti Musa yang karena kesalahannya sampai dihukum tak dapat masuk ke tanah terjanji (baca: Bil 20:2-13, teristimewa 20:10-12). Bukan kuasa Musa yang berhasil mengeluarkan pancaran air dari bukit batu, melainkan kuasa YHWH sendiri. Peristiwa  di Masa dan Meriba ini (lihat kel 17:1-7) sepantasnya diingat terus oleh para hamba Allah sepanjang masa, para pelayan Sabda atau para pewarta mimbar yang ‘hebat-hebat’, yang nyaris disanjung-sanjung oleh umat, jangan  sampai mereka sendiri tidak diperkenankan untuk sampai ke tanah terjanji surgawi. Oleh karena itu, jangan sampai seorang pun dari kita ini mencuri kemuliaan Yesus! 

Yesus telah membuka jalan bagi kita dan telah memanggil kita masing-masing untuk menjadi murid-murid-Nya. Yesus tidak lagi menyapa kita sebagai orang asing, akan tetapi sahabat dan saudara-saudari. Kepada kita masing-masing Yesus telah memberikan hak istimewa untuk mengenal Dia secara pribadi. Kepada kita masing-masing Ia telah memberikan anugerah-anugerah unik untuk membangun Gereja-Nya di atas muka bumi ini. Marilah kita tetap waspada agar jangan sampai tergoda untuk membandingkan diri kita dan berbagai bagai karunia atau anugerah yang ada pada kita dengan orang-orang lain. Marilah kita tolak kesombongan yang meletakkan diri kita pada tempat yang lebih tinggi daripada saudara-saudari kita yang berlainan gereja (bahkan mereka yang beriman-kepercayaan lain), yang hanya akan menyebabkan timbulnya kecurigaan dan perpecahan. Martabat kita tidak terletak pada berbagai kemampuan kita, tetapi dalam kenyataan bahwa Yesus telah memanggil kita dengan nama kita masing-masing. Secara khusus, ‘Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani’ yang sedang kita jalani ini adalah saat yang cocok  untuk merenungkan hal yang baru saja disebutkan tadi, dan merenungkannya secara sangat-sangat serius. 

DOA: Bapa surgawi, kami menghadap-Mu hari ini sebagai anak-anak kecil, yang perlu dipenuhi dengan hidup-Mu sendiri. Oleh Roh-Mu, ajarlah kami untuk bekerja sama membawa terang-Mu ke dalam dunia. Amin.

Cilandak, 10 Januari 2010 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 
 
(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Santa Agnes, Pekan Biasa II, Kamis 21-1-10) 
(Hari Keempat Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani) 

Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya, juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon. Mereka semua datang kepada-Nya, karena mendengar segala hal yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menyentuh-Nya. Setiap kali roh-roh jahat melihat Dia, mereka sujud di hadapan-Nya dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia  (Mrk 3:7-12). 

Di tengah-tengah serangkaian cerita yang penuh dengan tindakan nyata tentang siapa Yesus sesungguhnya dan apa artinya menjadi murid-Nya, Markus berhenti sejenak untuk memberikan waktu bagi para pembaca guna melakukan refleksi. Markus menggunakan kesempatan ini untuk membuat ringkasan tentang apa yang selama ini telah dikatakannya mengenai Yesus: kedaulatan-Nya, kuasa-Nya atas roh-roh jahat, dan identitas-Nya sebagai Putera (Anak) Allah. Markus ingin menunjukkan bahwa Yesus pada waktu itu (dan sampai sekarang juga) sungguh memikat sehingga menarik banyak orang dari seluruh muka bumi untuk datang kepada-Nya. 

Yesus tidak dapat pergi ke mana saja tanpa diikuti banyak orang. Apa yang dilakukan oleh-Nya hanyalah meninggalkan sinagoga dan menuju danau dengan para murid-Nya, dan dengan cepat orang banyak sudah berkumpul di sekeliling-Nya. Ada yang datang dari daerah yang jauh jaraknya, mereka melakukan perjalanan beratus-ratus kilometer jauhnya karena telah mendengar tentang berbagai mukjizat dan penyembuhan yang telah dilakukan oleh Yesus. Mereka semua ingin agar Yesus menjamah mereka. Mereka tidak dapat menunggu agar dapat dekat dengan-Nya, sehingga mereka mulai berdesak-desakan. Rasa lapar dan haus mereka akan cintakasih Allah begitu intens sehingga mereka memang harus berada bersama Yesus. 

Apakah kita memiliki rasa lapar dan haus yang sama akan Allah? Apakah kita rindu untuk mengenal cintakasih-Nya dan kehadiran-Nya sedemikian rupa, sehingga kita tidak akan membiarkan apa pun yang menghalangi kita untuk datang kepada-Nya? Marilah kita tidak memperkenankan penghalang-penghalang seperti perasaan tak layak atau perasaan gagal merintangi kita untuk dapat datang kepada-Nya. Sebaliknya, marilah kita mengambil contoh orang banyak dalam bacaan di atas, baiklah kita berdesak-desakan mendekati-Nya. Santo Paulus menulis, “Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”  (Rm 8:38-39). 

Orang Kudus yang kita peringati hari ini, Santa Agnes, adalah seseorang yang mengimani bahwa siapa dan apapun saja tidak akan dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah yang ada dalam Yesus Kristus. Ketika masih gadis berumur 13 tahun, Agnes berani memilih dipenjarakan oleh penguasa Romawi dan dihukum berat daripada mengkhianati iman-kepercayaannya kepada Kristus. Di dalam penjara dia dirayu oleh beberapa orang pemuda sahabat Kaisar dan salah seorang mengajaknya nikah agar dapat diselamatkan, dan  tentunya sementara itu untuk menyangkal imannya juga. Jawaban Agnes: “Maaf, saya sudah mempunyai kekasih. Ia mengasihiku dan saya pun mengasihi-Nya. Dia adalah Yesus Kristus”. Agnes menjadi saksi Kristus dalam bentuk tindakan nyata dan pernyataan iman yang begitu singkat-jelas, bukannya ulasan teologis rumit dan ‘ribet’, bukan pula khotbah yang panjang-panjang dan ‘ngalor-ngidul’ dari atas mimbar. Agnes wafat sebagai seorang martir (+ 304), mati ditusuk pedang ketika dibakar hidup-hidup. Ini adalah martyria (kesaksian) dalam arti sesungguh-sungguhnya. 

Karena kita mempunyai Allah yang penuh kasih, yang tidak akan pernah menolak siapa pun, marilah kita pergi menghadap-Nya dengan hati yang terbuka lebar agar dapat menerima anugerah apa saja yang ingin diberikan-Nya kepada kita. Dia rindu untuk memberikan kepada kita masing-masing setiap berkat dan rahmat-Nya. Dia rindu untuk menarik orang-orang dari keempat penjuru dunia dan membawa mereka ke hadapan hadirat-Nya, dan untuk memberkati mereka dengan cintakasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami tidak menginginkan apa pun juga kecuali Dikau. Tak ada sesuatu pun yang dapat memuaskan rasa dahaga dan lapar kami, kecuali Dikau sendiri. Ajarlah kami untuk mendekati-Mu dengan berdesak-desakan bersama saudara-saudari kami yang lain, guna menerima cintakasih-Mu dan kuasa penyembuhan-Mu dalam hidup kami. Tuhan peluklah kami erat-erat di dekat hati-Mu yang mahakudus. Amin.

 Cilandak, 10 Januari 2010 
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
 
 
(Bacaan Injil Misa Kudus, Pekan Biasa II, Rabu 20-1-10)
(Hari Ketiga Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani)

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia (Mrk 3:1-6).

Inkarnasi Yesus menandakan: (1) sudah berlalunya hukum dosa serta maut dan (2) datangnya kerajaan Allah. Yesus adalah Anggur yang baru, …. hidup baru. Allah telah lama mempersiapkan umat-Nya untuk menerima hidup baru ini. Akan tetapi, meskipun Yesus memberikan kepada orang banyak kesembuhan, pengampunan dan cintakasih, para pemimpin agama memandang dan memperlakukan Dia sebagai lawan dan obyek cemoohan.

Konflik itu, yang dimulai ketika Yesus menyembuhkan seorang lumpuh (Mrk 2:1-12), malah meningkat ketika Dia menyembuhkan seorang lain yang tangannya mati sebelah (Mrk 3:1-6). Sampai saat ini, orang-orang Farisi selalu melontarkan kritik dan mempertanyakan tindakan-tindakan Yesus. Sekarang, Yesus ganti bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, yang menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”(Mrk 3:4). Orang-orang Farisi diam saja. Mereka tetap mempertahankan kedegilan hati mereka di hadapan kebaikan Allah. Tidak adanya tanggapan dari mereka membuat Yesus marah dan sekaligus sedih. Dalam kerahiman-Nya, Yesus menyembuhkan tangan si sakit, sekali lagi menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:27-28). Orang-orang Farisi marah sekali karena Yesus telah melanggar pembatasan-pembatasan hari Sabat. Oleh karena itu mereka pun mulai bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk menghancurkan Yesus (Mrk 3:6).

Mengapa sampai ada orang yang mau membunuh Yesus yang justru datang melakukan kebaikan? Sikap mandiri yang salah dan ketergantungan pada pemikiran manusia semata-mata seringkali membutakan kita terhadap kebenaran Allah dan malah menyebabkan kita menentang Dia, bahkan pada saat kita tidak menyadari apa yang kita perbuat. Kodrat manusia yang cenderung jatuh ke dalam dosa selalu menghindari sikap penyerahan diri kepada Allah. Akan tetapi, seperti kita tahu, untuk menerima keselamatan, kita harus berserah kepada-Nya. Kalau kita menolak kebaikan Allah, maka kita – seperti juga orang-orang Farisi – akan menilai lebih tinggi berbagai aturan, ketimbang kebutuhan-kebutuhan saudara-saudari kita. Sikap mandiri yang keliru akan menghalangi kita untuk mengakui Yesus sebagai Juruselamat dan membatasi pengalaman kita akan kehadiran-Nya.

Sebaliknya, kalau kita bersikap seperti anak-anak, kita akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan demikian kita pun akan mampu menerima kerahiman-Nya dan hidup baru-Nya. Yesus akan mengubah hati dan pikiran kita sehingga hasrat-hasrat-Nya dan pikiran-pikiran-Nya menjadi hasrat-hasrat dan pikiran-pikiran kita. Dia akan mengajarkan kepada kita jalan-Nya dan memberdayakan kita agar supaya taat kepada firman-Nya. Kalau anak-anak Allah terbuka untuk menerima kebaikan dan kerahiman Tuhan, maka Dia dapat menyembuhkan segala perpecahan yang ada di antara mereka, sehingga bersama-sama mereka akan mencerminkan kepenuhan kemuliaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ubahlah hati kami, dari kantong kulit tua yang keras menjadi kantong kulit baru yang lunak, sehingga kami dapat menerima anggur hidup baru yang Dikau ingin berikan kepada kami. Amin.

Cilandak, 10 Januari 2010
Pesta Pembaptisan Tuhan
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS