“Kami bersyukur kepada-Mu karena sebagaimana dengan perantaraan Putera-Mu, Engkau telah menciptakan kami, demikian pula karena kasih-Mu yang kudus, yang telah Engkau berikan kepada kami, Engkau telah membuat Dia, yang sungguh Allah dan sungguh manusia, lahir dari Santa Maria yang tetap perawan, yang mulia dan amat berbahagia; dan oleh salib, darah dan wafat-Nya, Engkau mau menebus kami, orang tawanan” (AngTBul XXIII:3).

Petikan tulisan Santo Fransiskus ini bukanlah sebuah pernyataan doktrin teologis, namun sebuah ekspresi rasa syukur orang kudus ini atas misteri Inkarnasi. “Firman telah menjadi manusia” (Yoh 1:14), sehingga Dia dapat memberitakan kepada kita sampai berapa jauh cinta kasih Allah kepada kita semua sebagai pribadi-pribadi yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya. Cinta-kasih inilah yang memimpin Yesus, yang dalam kerendahan-Nya menerima kematian-Nya di kayu salib demi keselamatan kita. Santo Paulus menulis:

… Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp 2:5-8).

Kalau kita ingin merefleksikan “Misteri Inkarnasi Allah”, maka kita pun harus merenungkan aspek-aspek perendahan diri Allah ……… “pengosongan-diri Allah”.

Tulisan ini mau sedikit mengungkapkan apa arti Natal bagi Santo Fransiskus dan Santa Klara dari Assisi. Kita akan sedikit mendalami makna dari “misteri Inkarnasi”, kemudian kita akan melihat adanya keterkaitan erat antara Inkarnasi dan Ekaristi seperti dipahami oleh kedua orang kudus ini, di mana “pengosongan-diri Allah” merupakan inti-pokoknya. 


PERAYAAN NATAL YANG MENGALAMI DISTORSI

Bagi kebanyakan orang modern, termasuk banyak orang Kristiani tentunya, perayaan Natal dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan yang sangat jauh menyimpang dari peringatan akan sebuah peristiwa sejarah yang terjadi kurang lebih 2.000 tahun lalu di Betlehem, tanah Yehuda. Bagi mereka masa Natal adalah masa liburan (holiday season), masa untuk berbelanja (shopping) secara khusus menjelang datangnya hari Tahun Baru, masa untuk berpesta – mulai dari pesta keluarga yang sederhana dan kecil-kecilan sampai pesta-pora besar-besaran dengan label Christmas Party. Menghadiri kebaktian (misalnya Misa Kudus Natal bagi yang Katolik) memang sudah dicatat, namun seringkali hanya merupakan unsur kecil dalam keseluruhan agenda masa Natal. Bagi para suster Klaris yang sehari-harinya berada dalam keheningan dan suasana doa di biara Pacet, Jawa Barat ini, tentunya apa yang saya catat di atas hampir tak dapat dipercaya, sulit dipercaya atau bahkan dirasakan berkelebihan. Namun hal inilah yang sesungguhnya terjadi pada masa menjelang Natal/Tahun Baru seperti sekarang, misalnya di dua kota besar yang mengapit Kabupaten Cianjur, yaitu Jakarta dan Bandung. Pelbagai kegiatan di pusat-pusat pembelanjaan di dua kota ini sudah sungguh “ramai”, jauh lebih dari biasanya. Pusat-pusat pembelanjaan itu pun sudah penuh berhiaskan pernak-pernik Natal dan Tahun Baru! Dan … … semua ini terjadi pada waktu sebagian besar penduduk mengalami banyak sekali kesulitan hidup.

Bagaimana dengan kita, para pengikut Santo Fransiskus dan Santa Klara dari Assisi? Apakah arti Natal bagi kita? Yang terbaik bagi kita dalam menghayati perayaan Natal ini, tentunya dengan kembali kepada apa yang telah dicontohkan oleh kedua orang kudus ini selama mereka hidup di dunia.

NATAL BAGI FRANSISKUS DAN KLARA: INKARNASI ADALAH EKARISTI

Meskipun bagi Fransiskus “Natal adalah Pesta dari segala Pesta”, kenyataan historis telah menunjukkan bahwa orang kudus ini dan juga Santa Klara samasekali tidak merayakan pesta Natal seperti kebanyakan orang-orang dunia di zaman modern ini. Bagi kedua orang kudus ini, Natal adalah “misteri Inkarnasi” yang sangat mendalam dan agung: “sang Firman menjadi manusia”. Misteri Inkarnasi ini membuat kedua orang kudus ini takjub dan terkesima, lahir dan batin, karena menyangkut kerendahan/kedinaan dan kemurahan-hati Allah – yang dalam diri Kristus – mengosongkan diri-Nya. 

Fransiskus begitu terpesona dan terpikat hatinya oleh tanda cinta-kasih mendalam dari Yang Maha Tinggi terhadap umat manusia ini. Ia menulis dalam suratnya yang kedua kepada kaum beriman:

“Firman Bapa itu, yang begitu luhur, begitu kudus dan mulia, telah disampaikan dari surga oleh Bapa Yang Mahatinggi, dengan perantaraan Gabriel malaikat-Nya yang kudus, ke dalam kandungan Perawan Maria yang kudus dan mulia. Dari kandungannya, firman itu telah menerima daging sejati kemanusiaan dan kerapuhan kita. Dia, sekalipun kaya melampaui segala-galanya, mau memilih kemiskinan di dunia ini, bersama bunda-Nya, perawan yang amat berbahagia” (2SurBerim 4-5).

Jelas kelihatan dari kutipan ini, bahwa unsur “pengosongan-diri” dari Inkarnasi inilah yang telah “menangkap” Fransiskus dan memimpinnya kepada suatu titik ketakjuban akan kerendahan/kedinaan dan kemurahan-hati Allah. Status ilahi Putera Allah dan perendahan diri-Nya sungguh memenuhi diri Fransiskus dengan rasa takjub yang luarbiasa. Sehubungan dengan hal ini Beato Thomas dari Celano menulis: “Dalam renungan terus-menerus dia mengingat-ingat sabda-sabda-Nya dan dalam permenungan yang tajam dia memikirkan lagi karya-karya-Nya. terutama kedinaan penjelmaan-Nya dan cinta kasih dalam sengsara-Nya memenuhi ingatannya begitu rupa, sehingga dia tidak mau memikirkan sesuatu lainnya” (1Cel 84). Fransiskus dan Klara memang mengerti sekali, bahwa pengosongan-diri Yesus tidak dimulai di Kalvari, tetapi di Betlehem. Dalam suratnya yang keempat kepada Agnes dari Praha, Klara menulis:

“Perhatikanlah bagian pertama cermin yang terpasang itu, ialah kemiskinan. Dia yang terletak di palungan terbedung dengan lampin. O kerendahan yang patut dikagumi! O kemiskinan yang mentakjubkan! Raja segala malaikat, Tuhan langit dan bumi, dibaringkan di palungan” (4SurAg 19-21).

Santa Klara begitu menekankan pentingnya makna kemiskinan dan kerendahan/kedinaan Yesus. Mengapa? Jawabannya dapat kita lihat dalam suratnya yang pertama kepada Agnes dari Praha:

“O kemiskinan yang bahagia, yang memberikan kekayaan kekal kepada mereka yang mencintai dan memeluknya. O kemiskinan yang suci, kepada mereka yang memiliki dan menginginkannya, dijanjikan oleh Allah, Kerajaan Surga dan pasti diberikan kemuliaan kekal dan hidup bahagia. O kemiskinan yang berbakti, yang mau diutamakan dan dipeluk oleh Tuhan Yesus Kristus, yang dahulu dan sekarang memerintah langit dan bumi, yang pernah berkata, maka terjadilah semua. Sebab Ia berkata: Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetap Anak manusia, ialah Kristus, tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya, tetapi dengan menundukkan kepala-Nya, Ia menyerahkan Roh. Jadi Tuhan yang sebesar dan semulia itu berkenan datang ke dalam kandung perawan yang papa dan miskin mau tampak di dunia, supaya manusia yang sangat miskin dan papa, amat kekurangan akan makanan surgawi, oleh Dia dijadikan kaya dengan memperoleh kerajaan surgawi” (1SurAg 15-20). 

Klara memahami, bahwa kemiskinan Injili yang sejati berakar dalam Allah sendiri. Oleh karena itu dia mengajar Agnes dari Praha, bahwa kemiskinan itu membahagiakan/ terberkati (blessed) dan kemiskinan itu suci. Dia merasa takjub pada kemiskinan dan kerendahan/kedinaan, karena Tuhan Yesus Kristus yang memerintah langit dan bumi, yang berfirman maka semua pun terjadi, merendahkan diri-Nya untuk memeluk kemiskinan sebelum segalanya yang lain. Klara memandang alam semesta dengan takjub dan penuh rasa syukur dan dia tahu bahwa Kristus adalah Tuhan (Kyrios; lihat Flp 2:11); namun Ia tidak ragu sedikit pun untuk mengosongkan diri-Nya sehingga menjadi manusia seperti kita; meskipun hal tersebut membuat status keilahian-Nya menjadi dipertanyakan oleh banyak orang. Bagi manusia, semua ini sungguh tak terbayangkan. Dalam iman, Klara ditarik ke dalam misteri kerendahan/kedinaan dan kemiskinan. Ini adalah misteri yang menangkap hatinya dan menarik dirinya kepada cermin Kitab Suci. Dalam mengkontemplasikan Kristus, kerendahan/kedinaan diri-Nya seperti dimanifestasikan dalam Inkarnasi  merupakan suatu hal yang sangat mengagumkan bagi Klara. Orang kudus ini mengalami Allah sebagai pemberi anugerah dan belaskasihan tanpa henti, dengan demikian kepada-Nya harus dihaturkan rasa/ucapan syukur kita (WasKl 2). Dengan penuh kekaguman Klara melihat, bahwa Allahini tidak hanya bersedia menanggung kemiskinan umat manusia, tetapi juga “Anak Allah telah menjadi bagi kita JALAN” (WasKl 5).[1]  Secara intuitif dan melalui doa-doanya Klara mengetahui, bahwa dia dipanggil untuk merangkul suatu cara hidup yang dibangun atas dasar fondasi kerendahan/kedinaan dan kemiskinan, seturut teladan Fransiskus dari Assisi. Inilah sebabnya mengapa perayaan Inkarnasi Allah begitu istimewa bagi diri Santa Klara.

Dari kata-kata yang digunakan oleh Santa Klara dalam dua petikan di atas (4SurAg 19-21; 1SurAg 15-20), kita dapat merasakan betapa tinggi apresiasi “puteri-terbaik-Fransiskan” ini terhadap pengosongan-diri Kristus seperti terwujud dalam Inkarnasi-Nya. Klara dan Fransiskus mengkontraskan kemiskinan Kristus dengan status ilahi-Nya. Kata-kata yang ditulis Klara di atas (4SurAg 15-20) sebenarnya merupakan gema dari apa yang ditulis oleh Fransiskus dalam suratnya kepada seluruh Ordo (terutama ayat 27):

(26) “Hendaklah seluruh diri manusia gemetar, seluruh dunia bergetar dan langit bersorak-sorai, apabila Kristus, Putera Allah yang hidup hadir di atas altar dalam tangan imam! (27) O keagungan yang mengagumkan dan kesudian yang menakjubkan! O perendahan diri yang luhur! O keluhuran yang merendah! Tuhan semesta alam, Allah dan Putera Allah, begitu merendahkan diri-Nya, sampai Ia menyembunyikan diri dalam rupa roti yang kecil, untuk keselamatan kita!  (28) Saudara-Saudara, pandanglah perendahan diri Allah itu dan curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya. Rendahkanlah dirimu, agar kamu ditinggikan oleh-Nya” (SurOr 26-28).

Fransiskus begitu terkesima penuh ketakjuban terhadap kemiskinan Bayi Yesus dan dia pun tidak pernah kehilangan ketakjubannya terhadap kerendahan/kedinaan Allah dalam Ekaristi. Itulah yang diungkapkan Fransiskus dalam bagian suratnya kepada seluruh Ordo seperti dikutip di atas. 

Sesungguhnya Fransiskus dan Klara menghubungkan misteri Inkarnasi dengan Ekaristi karena dalam kedua hal itu mereka mengalami kerendahan/kedinaan dan kemurahan-hati Allah seperti dimanifestasikan dalam diri Kristus. Mereka melihat, bahwa misteri Inkarnasi itu berlangsung terus setiap hari dalam perendahan diri Tuhan di tengah-tengah umat dalam bentuk roti dan anggur Ekaristi. Oleh karena itu ada yang menulis, bahwa bagi Fransiskus “setiap hari adalah Natal.” Tentu demikian pula halnya dengan Klara. Apa konsekuensinya bagi kita setelah kita memahami misteri Inkarnasi dan Ekaristi sebagai “jalan perendahan” diri Allah? Seperti Fransiskus dan Klara, kita juga dengan penuh kesadaran harus mengikuti “jalan perendahan” ini. Ingatlah selalu akan apa yang ditulis oleh Klara: “Anak Allah telah menjadi bagi  kita JALAN!” (WasKl 5).

Keyakinan Fransiskus mengenai tak terpisahkannya misteri Inkarnasi Natal dengan Ekaristi dibuktikannya pada tahun 1223, pada waktu dia dan para saudara yang lain dan penduduk Greccio merayakan Natal yang dramatis dan unik itu. Pada perayaan Natal malam itu disediakan “Palungan Ekaristis” (Eucharistic Manger); yaitu palungan yang berfungsi sebagai altar untuk perayaan Ekaristi. Inilah yang ditulis oleh Bapak Serafik kita tentang hubungan erat antara dua misteri tersebut: 

“Lihatlah, setiap hari Ia merendahkan diri, seperti tatkala Ia turun dari takhta kerajaan ke dalam rahim Perawan; setiap hari Ia turun dari pangkuan Bapa ke atas altar di dalam tangan imam” (Pth I:16-17).

Betlehem berarti “Rumah Roti” dan bagi Fransiskus, Natal – di atas segalanya – adalah kedatangan Dia yang adalah “Roti Kehidupan” yang turun dari surga (lihat Yoh 6:25 dsj). Kata Natal dalam bahasa Inggris CHRISTMAS berasal dari dua patah kata Anglo-Saxon: CHRISTES MAESSE  yang berarti Misa Kristus. Dengan demikian kata CHRISTMAS mengingatkan kita semua, bahwa perayaan Natal yang agung adalah liturgi Ekaristi untuk merayakan kelahiran Tuhan Yesus. Maka tidak mengherankanlah kalau bagi Fransiskus dan Klara antara kedua misteri itu terdapat hubungan yang tak terpisahkan.

CATATAN KHUSUS NATAL SANTA KLARA

Ada catatan menarik yang terdapat dalam Legenda Santa Klara[2]yang berkisah mengenai Natal terakhir dalam hidup orang kudus ini (1252). Pada waktu itu Klara ditinggalkan sendirian di ruangannya karena sedang menderita sakit dan para susternya sedang pergi beribadat Matutinum dan menghadiri Misa Malam Natal di Basilika Santo Fransiskus. Jarak antara biaranya dan basilika memang tidak jauh, namun suara nyanyian dalam basilika tidak sampai terdengar ke dalam ruangannya. Tetapi Kristus menjenguk puteri yang dikasihi-Nya itu! Ketika Klara memikirkan dan membayangkan Bayi Yesus dan muncul dalam dirinya rasa sedih karena tidak dapat berpartisipasi dalam memuji-muji Tuhan Allah, dia berdoa: “Tuhan Allah, lihatlah bagaimana aku ditinggalkan sendirian di tempat ini bagi-Mu!” Tiba-tiba paduan suara indah di basilika dapat didengar oleh telinganya, dia pun dapat mendengar pendarasan mazmur oleh para saudara dina yang sungguh indah, semua lagu-lagu lainnya serta segala bunyi-bunyian yang keluar dari alat-alat musik yang dipakai. Dia pun dianugerahkan karunia khusus sehingga dapat melihat kandang tempat kelahiran Kristus. Pada pagi harinya para suster datang mengunjunginya. Klara berkata kepada mereka: “Terpujilah Tuhan Yesus Kristus, yang tidak meninggalkan daku setelah saudari-saudari pergi. Pada kenyataannya, oleh rahmat Kristus, aku mendengar semua perayaan malam tadi dalam gereja Santo Fransiskus” (LegKl 29). Peristiwa inilah yang mendorong Paus Pius XII pada tanggal 14 Februari 1958 untuk mengumumkan Santa Klara sebagai orang kudus pelindung televisi dalam surat apostoliknya, Miranda prorsus.

Pada tahun 1253, Klara menulis suratnya yang keempat kepada Agnes dari Praha. Pengalaman Inkarnasi ini merupakan suatu pengalaman mistik atas kerendahan/kedinaan dan kemiskinan Kristus dan suatu konfirmasi  (peneguhan) ilahi atas cara hidupnya yang telah dihayatinya untuk selama 42 tahun di San Damiano.

Seperti Fransiskus, Klara dibentuk oleh keajaiban Inkarnasi dan misteri ini mempunyai dampak sangat konkrit atas perkembangan spiritualnya:[3]

Pertama, Klara mengakui martabat setiap pribadi manusia karena Kristus – sang Firman yang menjadi manusia – hidup di tengah-tengah mereka. Setiap orang adalah ikon Kristus yang menyatakan beberapa segi dari pribadi Kristus. Hal inilah yang memimpinnya untuk menghormati setiap orang.

Kedua, melalui misteri Inkarnasi Klara memandang panggilannya sebagai panggilan untuk melahirkan Kristus dalam kehidupannya. Dia menulis kepada Agnes dari Praha mengenai hal ini dalam suratnya yang ketiga. Dalam suratnya ini Klara memusatkan perhatian secara istimewa pada peranan Maria dalam melahirkan Kristus dan mengajar, bahwa kita pun harus melakukan hal yang sama dalam kehidupan kita:

“Seperti perawan segala perawan yang mulia membawa Dia secara badaniah, demikian pun dengan mengikuti jejak-jejak-Nya, khususnya kerendahan dan kemiskinan-Nya, anda pasti dapat selalu membawa Dia secara rohaniah dalam badan anda yang murni dan perawan. Maka anda menampung Dia yang menampung anda dan segala sesuatu. Dan anda memiliki sesuatu yang lebih akan anda miliki, dari pada milik sementara dunia ini yang lain” (3SurAg 24-26).

Ini adalah buah Inkarnasi; yaitu bahwa kita harus secara serius berupaya untuk melahirkan Kristus dalam kehidupan kita masing-masing. Sikap penuh perhatian terhadap Sabda Allah yang ditunjukkan oleh Klara merupakan sebuah contoh yang mengagumkan. Orang kudus ini tidak hanya memeditasikan Sabda (Firman), namun membentuk tindak-tanduknya  sedemikian rupa sehingga dia dapat menjadi seorang saksi sang Sabda di dunia.

Ketiga, pengakuannya terhadap rahmat Inkarnasi memampukan Klara untuk melihat Kristus yang hadir dan berkarya di mana-mana dalam dunia. Dia merasakan kedekatan Kristus dan akan selalu siap untuk bertemu dengan-Nya. Dalam iman, Klara tahu bahwa Kristus selalu siap untuk melimpahkan cinta kasih-Nya yang penuh perhatian kepada kita semua. 

CATATAN PENUTUP

Selagi kita semua, para pengikut Santo Fransiskus dan Santa Klara,  merayakan misteri Inkarnasi pada masa Adven/Natal kali ini, marilah kita masing-masing mengindahkan kata-kata Santa Klara yang mendesak kita untuk “dengan sebulat hati mencintai Dia yang menyerahkan diri-Nya seluruhnya untuk dicintai oleh kita. Kemolekan-Nya dikagumi matahari dan bulan, pahala-Nya dan nilai serta besarnya pahala tidak terhingga. Dia adalah Anak Allah Yang Maha Tinggi, yang dilahirkan oleh Perawan yang setelah kelahiran-Nya tetap perawan” (lihat 3SurAg 15-17).

Dunia membutuhkan orang-orang yang siap untuk mengikuti jejak Kristus yang menjadi JALAN bagi kita. Kesaksian terbaik yang dapat kita berikan berkaitan dengan iman-kepercayaan kita kepada Sang “Firman yang telah menjadi daging” adalah dengan melahirkan Dia dalam kehidupan kita sendiri dan upaya serius kita masing-masing untuk bertemu dan berinter-aksi dengan orang-orang lain dalam cinta-kasih. 

Selamat Natal 2008, Saudari-Saudariku!

KEPUSTAKAAN
1.     Regis Amstrong OFMCap., J.A. Wayne Hellmann OFMConv. & William Short OFM (Editors), FRANCIS OF ASSISI – EARLY DOCUMENTS – THE SAINT Volume I), New York, NY: NewCity Press, 1999.

2.     Regis J. Amstrong OFMCap. & Ignatius C. Brady OFM, FRANCIS AND CLARE – THE COMPLETE WORKS (Preface by John Vaughn OFM), New York: Paulist Press, 1982.

3.     Regis J. Amstrong OFMCap. (Editor), CLARE OF ASSISI – EARLY DOCUMENTS (Preface by Mother Veronica Namoyo OSC) – Revised & expanded, Saint Bonaventure, NY: Franciscan Institute Publications, Saint Bonaventure University, 1993.

4.     Thomas dari Celano, ST. FRANSISKUS DARI ASISI (Riwayat Hidup yang Pertama & Riwayat Hidup yang Kedua (sebagian) –terjemahan P.J. Wahjasudibja OFM), Jakarta: Sekafi, 1981.

5.     Charles Finnegan OFM, THE ADVENT-CHRISTMAS MYSTERY: A FRANCISCAN REFLECTION, dalam TAU – A Journal of Research into the Vision of Francis, Vol. XXV No. 4, December 2000.

6.     Cletus Groenen OFM, SANTA KLARA ASISI DAN HAL-IHWAL WARISAN ROHANINYA, Jakarta: SEKAFI,  1992.

7.     Marion Habig OFM (Editor), ST. FRANCIS OF ASSISI – OMNIBUS OF SOURCES, Fourth Revised Edition, Quincy, Illinois: Franciscan Press –Quincy College, 1991.

8.     Madge Karecki SSJ-TOSF, THE GENEROSITY OF GOD, dalam TAU – A Journal of Research into the Vision of Francis, Vol. XXVI No. 4, December 2001.

9.     Madge Karecki SSJ-TOSF, INCARNATIONAL MYSTICISM, dalam TAU – A Journal of Research into the Vision of Francis, Vol. XXVII No. 4, December 2002.

10.  Madge Karecki SSJ-TOSF, THE POVERTY & HUMILITY OF THE INCARNATION, dalam TAU – A Journal of Research into the Vision of Francis, Vol. XXIX No. 4, December 2004.

11.  Mgr. Leo Laba Ladjar OFM (Penerjemah, pemberi pengantar dan catatan), “KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI”, Jakarta: SEKAFI, 2001.

12.  Gerald Lobo OFM, THE BIRTH OF GOD IN THE FLESH: EUCHARIST AS CHRISTMAS,  dalam TAU – A Journal of Research into the Vision of Francis, Vol. XXV No. 4, December 2000.

*) Disusun oleh Sdr. F.X. Indrapradja OFS untuk dipersembahkan sebagai “Hadiah Natal 2008” bagi para Suster Ordo Sancta Clara di Biara Klaris Pacet. Jakarta, Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, 8 Desember 2008.
[1] Teks lengkap dari WasKl 5 adalah sebagai berikut:“Anak Allah telah menjadi bagi kita jalan  sebagaimana dengan kata dan teladan telah diajarkan kepada kita oleh bapa kita Fransiskus, seseorang yang sungguh-sungguh menjadi pencinta dan penurut Anak Allah.”
[2] Legenda ini terdapat dalam Regis J. Amstrong OFMCap., CLARE OF ASSISI – EARLY DOCUMENTS, hal. 246-308.
[3] Uraian ini banyak mengambil pemikiran yang ada dalam Madge Karecki SSJ-TOSF, THE POVERTY & HUMILITY OF THE INCARNATION.
9/6/2010

If you don’t learn to think when you are young, you may never learn. By <a href="http://www.airjordans.cc/air-jordan-1-1/">air jordan 1</a>

Reply

Great info, thanks

Reply
3/21/2012

nice post

Reply
3/27/2012

Great info, thanks

Reply

will come back soon

Reply
7/10/2012

Thanks for producing the honest attempt to speak about this. I believe really robust approximately it and want to read a lot more. If it is OK, as you gain more in depth wisdom, would you thoughts adding extra articles similar to this 1 with additional information? It may well be incredibly helpful and valuable for me and my friends.

Reply

If your friend does not answer, you can leave a video message. You'll be able to Pay Per Click or the Pay Per Impression.

Reply

You will uncover some fascinating points in time in this post but I do not know if I see all of them center to heart. There�s some validity but I will take hold opinion until I appear into it further. Fantastic post , thanks and we want significantly a lot more! Added to FeedBurner too

Reply
7/14/2012

This post gives the light in which we can observe the reality. This really is extremely nice 1 and gives in-depth data. Thanks for this good post.

Reply

Some genuinely nice stuff on this internet web site , I adore it.

Reply
4/2/2013

Thanks for the helpful content. It is also my opinion that mesothelioma cancer has an incredibly long latency phase, which means that signs of the disease would possibly not emerge right until 30 to 50 years after the preliminary exposure to mesothelioma. Pleural mesothelioma, that is certainly the most common type and influences the area within the lungs, could cause shortness of breath, chest pains, along with a persistent cough, which may bring on coughing up our blood.

Reply



Leave a Reply.